Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Ch.8 Dugaan

Dira diam memperhatikan interaksi Khansa dan Rion di bawah sana. Wahai teman, walau Dira harus melayani tamu undangan tapi matanya tidak akan lepas dari Khansa. Ini acara besar dan jujur saja Dira penasaran setengah mati dengan ayah kandung Vano. wajahnya terasa tidak asin, tapi Dira tidak tau siapa yang pastinya.

“Apa yang kau perhatikan?” Khriss bertanya tanpa melihat istrinya. Matanya berkelilingan kesana-kemari untuk memperhatikan seseorang yang dua hari ini membuatnya gondok setengah mati.

Bukan setengah mati, tapi memang benar-benar gondok.

“Aku mencari tau siapa ayah Vano. Wajahnya terasa sangat familiar.” Dira juga tidak terlalu peduli. Menjawab pertanyaan suaminya masih dengan tangan yang memegang gelas minuman. Haus.

“Semoga menemukannya.” Bisik Khriss acuh tak acuh. Senang saja dia melihat wajah Dira yang serius seperti ini.

“Kau sudah tau ya?!” Tuding Dira.

Khriss menunjuk dirinya sendiri, menatap Dira dengan wajah tak percaya. “Tuduhan macam apa itu? Kejam sekali?!” Khriss tidak terima jika ia disalahkan.

Mendengus tidak percaya, Dira melongos begitu saja. Ingin menemui anak tampannya yang pasti sedang bersama momanya. Khriss? Biarkan saja si tua satu itu.

Sret.

“Jangan berpikir untuk kabur, Buaya betina. Tugasmu di sini menemaniku menerima tamu undangan acara kita.” Khriss langsung menjepit kepala Dira diantara lengannya. Ini acara berdua dan bagaimana bisa wanita gila itu meninggalkannya di sini sendiri?

“Kita usir saja bagaimana? Lalu kita yang akan menikmati acara tanpa harus ada yang tunggu lagi. Aku ingin bertemu Vano, vitaminku yang satu itu aku merindukannya.” Dira menepuk keras punggung Khriss yang sungguh tidak berperasaan menjepit batang lehernya.

Jika ia mati sebelum malam pertama bagaimana? Sia-sia acara mewahnya nanti!

**

Vano menatap momanya yang sedang duduk diam disebelah Papa Rionnya, hanya diam dengan tangan yang memegang gelas dengan sedikit gemetar. “Moma? Ingin pulang saja?” Tawar Vano.

Khansa terenyuh. Anaknya perhatian sekali, astaga. “Moma baik-baik saja sayang.”

“Siapa nama anakmu, Kaenan?” Rion menatap gadis kecil yang saat ini duduk di pangkuan Kaenan dan tengah menatap Khansa dengan penuh harap. Entah kenapa.

“Kau bisa memanggilnya Aurora.” Kaenan mengusap pelan rambut gadisnya. Memeluk singkat saat ia rasa anaknya sedikit kaget dengan gerakan yang baru saja ia lakukan.

“Vano.” Arvin datang dengan sepiring cake yang berbeda dari yang Vano ambil tadi. Kali ini penuh dengan coklat dimana tentu saja Vano sangat suka.

“Waah, terima kathih papa.” Vano langsung saja melonjat ke pangkuan Arvin yang baik-baik saja dengan itu. Bagaimanapun, Vano dekat juga dengan papanya yang satu itu.

“Tunggu di sini sebentar tidak apa? Daddy ingin mengangkat telfon sebentar.” Kaenan berbisik pada Aurora yang hanya mengangguk dan duduk tenang dengan kepala yang tertunduk.

**

Rion memperhatikannya, Khansa yang tak henti-hentinya melirik Kaenan dan Aurora yang sedari tadi melirik Khansa. Bukankah ini aneh? Bukan, lebih tepatnya Rion bertanya-tanya, apa Khansa pernah bertemu Kaenan? Pernah dekat?

Memperhatikan wajah Vano yang saat ini tengah duduk bersama Arvin dan memperhatikan lagi wajah Kaenan yang baru saja ia temui. “Tidak jauh beda.” Rion bergumam pelan. Ini hanya kebetulan bukan?

Rion tersenyum hangat, mencolek tangan Aurora yang bertaut di atas lututnya sendiri. Gadis itu pemalu sekali. “Cantik, ingin duduk di sini?” Rion menepuk pangkuannya. Merentangkan tangan lebar jika saya Aurora bersedia dan mau.

Rion tidak bisa membiarkan yang gemas-gemas seperti ini menganggur. Rion lemah.

“Apa boleh?” Suara kecil itu membuat Khansa menoleh. Memperhatikan wajah itu yang masih tertunduk walau tetap mencuri-curi pandang untuk melirik kearahnya. Khansa tersenyum lembut, jiwa keibuannya menguar begitu saja.

“Tentu saja boleh. Ayo.” Rion memindahkan Aurora pada pangkuannya dan meminta Aurora untuk memilih apa saja yang dia mau. Dan ya... gadis itu meminta cake yang baru saja Arvin bawa.

Sialnya adalah yang baru saja masuk kedalam mulut Vano adalah potongan terakhir. Tidak bisa melihat orang lain sedih adalah kelemahan Vano. Maka dari itu, Vano dengan inisiatif yang tinggi menggeret Arvin untuk kembali mancari cake yang sama persis.

“Ayo papa, temani Vano mencari cake untuk adik dan makanan untuk moma.” Tidak sempat menolak, Arvin langsung ditarik paksa oleh Vano berkeliling ballroom hotel yang Dira sewa untuk acara mewahnya ini.

Sret.

Khansa hampir saja menepis tangan kecil yang menyentuh punggung tangannya. Dia kaget tentu saja. Melihat senyum manis dari anak Kaenan membuat Khansa mau tidak mau juga ikut tersenyum. “Ada yang bisa aunty bantu, Cantik?”

“Boleh Rora meminta peluk?”

Permintaan sederhana itu membuat Khansa mengangguk antusias. Ia masih ingat dengan Rion dan Arvin yang hampir saja adu mekanik untuk menjadi ayah di akta kelahiran Vano. “Tentu boleh.”

Rion membawa Aurora untuk masuk dalam pelukan Khansa yang langsung di sambut tawa kecil dari anak Kaenan itu. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Khansa, Aurora merasa jika ini yang ia butuhkan selama ini.

“Terima kasih.”

Khansa tersenyum manis. Memeluk erat tubuh kecil Aurora dan menggoyangkannya kekanan-kiri. “Aurora sangat cantik. Baik-baik ya.” Khansa tersenyum manis. Mencubit pelan ujung hidung Aurora yang hanya mengangguk singkat.

Tap... tap... tap...

“Aaahh, Moma.” Vano datang dengan Arvin yang sudah tertawa terbahak-bahak. Apa lagi yang pria itu lakukan pada anaknya?

“Ada apa, Sayang?” Rion tertawa pelan. Memang keterlaluan sepupunya yang satu ini.

“Papa Arvin menjahili Vano. Kata papa dia akan menjual Vano pada penguthaha kaya raya karena thudah merepotkan moma.” Vano mengadu tanpa pikir panjang. Mencari pembelaan pada papanya yang satu lagi untuk memastikan agar ia benar-benar tidak akan dijual. “Papa tidak akan menjual Vano bukan?”

“Tentu tidak, Jagoan. Kenapa papa harus menjual Vano? Vano saja harta terbesar papa.” Jawaban Rion membuat Khansa tertawa pelan. Benar, jika suatu saat Rion menikah, maka anaknya akan mendapat papa yang luar biasa.

“Moma tidak akan menjual Vano bukan?’ Kali ini meminta kepastian dari moma tersayangnya. Siapa tau momanya dan Papa Arvin sudah bersekongkol untuk menjual dirinya bukan?

“Tentu tidak sayang. Jika moma melakukan itu, moma yang akan dijual oleh Papa Rion nanti.” Khansa memasang wajah sedih. “Padahal moma juga ingin menjual Vano.” Khansa tertawa saat Vano memeluk erat leher Rion. Sangat erat hingga Khansa yakin jika Rion bisa saja mati hanya karena di peluk seerat itu oleh Vano.

“AAAAAH PAPAAA.”

**

“Apa aku sudah boleh tau tentang siapa Aurora?” Dira bertanya pada suaminya. Selama ini ia bertanya pada Khriss, tapi yang selalu Dira dapatkan hanya belum saatnya kau tau. “Apa sekarang sudah saatnya?”

“Dengar baik-baik.” Khriss menatap Dira yang saat ini mengangguk antusias. Ini rahasia yang selama ini ia tunggu-tunggu.

**

Dira diam memperhatikan interaksi Khansa dan Rion di bawah sana. Wahai teman, walau Dira harus melayani tamu undangan tapi matanya tidak akan lepas dari Khansa. Ini acara besar dan jujur saja Dira penasaran setengah mati dengan ayah kandung Vano. wajahnya terasa tidak asin, tapi Dira tidak tau siapa yang pastinya.

“Apa yang kau perhatikan?” Khriss bertanya tanpa melihat istrinya. Matanya berkelilingan kesana-kemari untuk memperhatikan seseorang yang dua hari ini membuatnya gondok setengah mati.

Bukan setengah mati, tapi memang benar-benar gondok.

“Aku mencari tau siapa ayah Vano. Wajahnya terasa sangat familiar.” Dira juga tidak terlalu peduli. Menjawab pertanyaan suaminya masih dengan tangan yang memegang gelas minuman. Haus.

“Semoga menemukannya.” Bisik Khriss acuh tak acuh. Senang saja dia melihat wajah Dira yang serius seperti ini.

“Kau sudah tau ya?!” Tuding Dira.

Khriss menunjuk dirinya sendiri, menatap Dira dengan wajah tak percaya. “Tuduhan macam apa itu? Kejam sekali?!” Khriss tidak terima jika ia disalahkan.

Mendengus tidak percaya, Dira melongos begitu saja. Ingin menemui anak tampannya yang pasti sedang bersama momanya. Khriss? Biarkan saja si tua satu itu.

Sret.

“Jangan berpikir untuk kabur, Buaya betina. Tugasmu di sini menemaniku menerima tamu undangan acara kita.” Khriss langsung menjepit kepala Dira diantara lengannya. Ini acara berdua dan bagaimana bisa wanita gila itu meninggalkannya di sini sendiri?

“Kita usir saja bagaimana? Lalu kita yang akan menikmati acara tanpa harus ada yang tunggu lagi. Aku ingin bertemu Vano, vitaminku yang satu itu aku merindukannya.” Dira menepuk keras punggung Khriss yang sungguh tidak berperasaan menjepit batang lehernya.

Jika ia mati sebelum malam pertama bagaimana? Sia-sia acara mewahnya nanti!

**

Vano menatap momanya yang sedang duduk diam disebelah Papa Rionnya, hanya diam dengan tangan yang memegang gelas dengan sedikit gemetar. “Moma? Ingin pulang saja?” Tawar Vano.

Khansa terenyuh. Anaknya perhatian sekali, astaga. “Moma baik-baik saja sayang.”

“Siapa nama anakmu, Kaenan?” Rion menatap gadis kecil yang saat ini duduk di pangkuan Kaenan dan tengah menatap Khansa dengan penuh harap. Entah kenapa.

“Kau bisa memanggilnya Aurora.” Kaenan mengusap pelan rambut gadisnya. Memeluk singkat saat ia rasa anaknya sedikit kaget dengan gerakan yang baru saja ia lakukan.

“Vano.” Arvin datang dengan sepiring cake yang berbeda dari yang Vano ambil tadi. Kali ini penuh dengan coklat dimana tentu saja Vano sangat suka.

“Waah, terima kathih papa.” Vano langsung saja melonjat ke pangkuan Arvin yang baik-baik saja dengan itu. Bagaimanapun, Vano dekat juga dengan papanya yang satu itu.

“Tunggu di sini sebentar tidak apa? Daddy ingin mengangkat telfon sebentar.” Kaenan berbisik pada Aurora yang hanya mengangguk dan duduk tenang dengan kepala yang tertunduk.

**

Rion memperhatikannya, Khansa yang tak henti-hentinya melirik Kaenan dan Aurora yang sedari tadi melirik Khansa. Bukankah ini aneh? Bukan, lebih tepatnya Rion bertanya-tanya, apa Khansa pernah bertemu Kaenan? Pernah dekat?

Memperhatikan wajah Vano yang saat ini tengah duduk bersama Arvin dan memperhatikan lagi wajah Kaenan yang baru saja ia temui. “Tidak jauh beda.” Rion bergumam pelan. Ini hanya kebetulan bukan?

Rion tersenyum hangat, mencolek tangan Aurora yang bertaut di atas lututnya sendiri. Gadis itu pemalu sekali. “Cantik, ingin duduk di sini?” Rion menepuk pangkuannya. Merentangkan tangan lebar jika saya Aurora bersedia dan mau.

Rion tidak bisa membiarkan yang gemas-gemas seperti ini menganggur. Rion lemah.

“Apa boleh?” Suara kecil itu membuat Khansa menoleh. Memperhatikan wajah itu yang masih tertunduk walau tetap mencuri-curi pandang untuk melirik kearahnya. Khansa tersenyum lembut, jiwa keibuannya menguar begitu saja.

“Tentu saja boleh. Ayo.” Rion memindahkan Aurora pada pangkuannya dan meminta Aurora untuk memilih apa saja yang dia mau. Dan ya... gadis itu meminta cake yang baru saja Arvin bawa.

Sialnya adalah yang baru saja masuk kedalam mulut Vano adalah potongan terakhir. Tidak bisa melihat orang lain sedih adalah kelemahan Vano. Maka dari itu, Vano dengan inisiatif yang tinggi menggeret Arvin untuk kembali mancari cake yang sama persis.

“Ayo papa, temani Vano mencari cake untuk adik dan makanan untuk moma.” Tidak sempat menolak, Arvin langsung ditarik paksa oleh Vano berkeliling ballroom hotel yang Dira sewa untuk acara mewahnya ini.

Sret.

Khansa hampir saja menepis tangan kecil yang menyentuh punggung tangannya. Dia kaget tentu saja. Melihat senyum manis dari anak Kaenan membuat Khansa mau tidak mau juga ikut tersenyum. “Ada yang bisa aunty bantu, Cantik?”

“Boleh Rora meminta peluk?”

Permintaan sederhana itu membuat Khansa mengangguk antusias. Ia masih ingat dengan Rion dan Arvin yang hampir saja adu mekanik untuk menjadi ayah di akta kelahiran Vano. “Tentu boleh.”

Rion membawa Aurora untuk masuk dalam pelukan Khansa yang langsung di sambut tawa kecil dari anak Kaenan itu. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Khansa, Aurora merasa jika ini yang ia butuhkan selama ini.

“Terima kasih.”

Khansa tersenyum manis. Memeluk erat tubuh kecil Aurora dan menggoyangkannya kekanan-kiri. “Aurora sangat cantik. Baik-baik ya.” Khansa tersenyum manis. Mencubit pelan ujung hidung Aurora yang hanya mengangguk singkat.

Tap... tap... tap...

“Aaahh, Moma.” Vano datang dengan Arvin yang sudah tertawa terbahak-bahak. Apa lagi yang pria itu lakukan pada anaknya?

“Ada apa, Sayang?” Rion tertawa pelan. Memang keterlaluan sepupunya yang satu ini.

“Papa Arvin menjahili Vano. Kata papa dia akan menjual Vano pada penguthaha kaya raya karena thudah merepotkan moma.” Vano mengadu tanpa pikir panjang. Mencari pembelaan pada papanya yang satu lagi untuk memastikan agar ia benar-benar tidak akan dijual. “Papa tidak akan menjual Vano bukan?”

“Tentu tidak, Jagoan. Kenapa papa harus menjual Vano? Vano saja harta terbesar papa.” Jawaban Rion membuat Khansa tertawa pelan. Benar, jika suatu saat Rion menikah, maka anaknya akan mendapat papa yang luar biasa.

“Moma tidak akan menjual Vano bukan?’ Kali ini meminta kepastian dari moma tersayangnya. Siapa tau momanya dan Papa Arvin sudah bersekongkol untuk menjual dirinya bukan?

“Tentu tidak sayang. Jika moma melakukan itu, moma yang akan dijual oleh Papa Rion nanti.” Khansa memasang wajah sedih. “Padahal moma juga ingin menjual Vano.” Khansa tertawa saat Vano memeluk erat leher Rion. Sangat erat hingga Khansa yakin jika Rion bisa saja mati hanya karena di peluk seerat itu oleh Vano.

“AAAAAH PAPAAA.”

**

“Apa aku sudah boleh tau tentang siapa Aurora?” Dira bertanya pada suaminya. Selama ini ia bertanya pada Khriss, tapi yang selalu Dira dapatkan hanya belum saatnya kau tau. “Apa sekarang sudah saatnya?”

“Dengar baik-baik.” Khriss menatap Dira yang saat ini mengangguk antusias. Ini rahasia yang selama ini ia tunggu-tunggu.

**

Dira diam memperhatikan interaksi Khansa dan Rion di bawah sana. Wahai teman, walau Dira harus melayani tamu undangan tapi matanya tidak akan lepas dari Khansa. Ini acara besar dan jujur saja Dira penasaran setengah mati dengan ayah kandung Vano. wajahnya terasa tidak asin, tapi Dira tidak tau siapa yang pastinya.

“Apa yang kau perhatikan?” Khriss bertanya tanpa melihat istrinya. Matanya berkelilingan kesana-kemari untuk memperhatikan seseorang yang dua hari ini membuatnya gondok setengah mati.

Bukan setengah mati, tapi memang benar-benar gondok.

“Aku mencari tau siapa ayah Vano. Wajahnya terasa sangat familiar.” Dira juga tidak terlalu peduli. Menjawab pertanyaan suaminya masih dengan tangan yang memegang gelas minuman. Haus.

“Semoga menemukannya.” Bisik Khriss acuh tak acuh. Senang saja dia melihat wajah Dira yang serius seperti ini.

“Kau sudah tau ya?!” Tuding Dira.

Khriss menunjuk dirinya sendiri, menatap Dira dengan wajah tak percaya. “Tuduhan macam apa itu? Kejam sekali?!” Khriss tidak terima jika ia disalahkan.

Mendengus tidak percaya, Dira melongos begitu saja. Ingin menemui anak tampannya yang pasti sedang bersama momanya. Khriss? Biarkan saja si tua satu itu.

Sret.

“Jangan berpikir untuk kabur, Buaya betina. Tugasmu di sini menemaniku menerima tamu undangan acara kita.” Khriss langsung menjepit kepala Dira diantara lengannya. Ini acara berdua dan bagaimana bisa wanita gila itu meninggalkannya di sini sendiri?

“Kita usir saja bagaimana? Lalu kita yang akan menikmati acara tanpa harus ada yang tunggu lagi. Aku ingin bertemu Vano, vitaminku yang satu itu aku merindukannya.” Dira menepuk keras punggung Khriss yang sungguh tidak berperasaan menjepit batang lehernya.

Jika ia mati sebelum malam pertama bagaimana? Sia-sia acara mewahnya nanti!

**

Vano menatap momanya yang sedang duduk diam disebelah Papa Rionnya, hanya diam dengan tangan yang memegang gelas dengan sedikit gemetar. “Moma? Ingin pulang saja?” Tawar Vano.

Khansa terenyuh. Anaknya perhatian sekali, astaga. “Moma baik-baik saja sayang.”

“Siapa nama anakmu, Kaenan?” Rion menatap gadis kecil yang saat ini duduk di pangkuan Kaenan dan tengah menatap Khansa dengan penuh harap. Entah kenapa.

“Kau bisa memanggilnya Aurora.” Kaenan mengusap pelan rambut gadisnya. Memeluk singkat saat ia rasa anaknya sedikit kaget dengan gerakan yang baru saja ia lakukan.

“Vano.” Arvin datang dengan sepiring cake yang berbeda dari yang Vano ambil tadi. Kali ini penuh dengan coklat dimana tentu saja Vano sangat suka.

“Waah, terima kathih papa.” Vano langsung saja melonjat ke pangkuan Arvin yang baik-baik saja dengan itu. Bagaimanapun, Vano dekat juga dengan papanya yang satu itu.

“Tunggu di sini sebentar tidak apa? Daddy ingin mengangkat telfon sebentar.” Kaenan berbisik pada Aurora yang hanya mengangguk dan duduk tenang dengan kepala yang tertunduk.

**

Rion memperhatikannya, Khansa yang tak henti-hentinya melirik Kaenan dan Aurora yang sedari tadi melirik Khansa. Bukankah ini aneh? Bukan, lebih tepatnya Rion bertanya-tanya, apa Khansa pernah bertemu Kaenan? Pernah dekat?

Memperhatikan wajah Vano yang saat ini tengah duduk bersama Arvin dan memperhatikan lagi wajah Kaenan yang baru saja ia temui. “Tidak jauh beda.” Rion bergumam pelan. Ini hanya kebetulan bukan?

Rion tersenyum hangat, mencolek tangan Aurora yang bertaut di atas lututnya sendiri. Gadis itu pemalu sekali. “Cantik, ingin duduk di sini?” Rion menepuk pangkuannya. Merentangkan tangan lebar jika saya Aurora bersedia dan mau.

Rion tidak bisa membiarkan yang gemas-gemas seperti ini menganggur. Rion lemah.

“Apa boleh?” Suara kecil itu membuat Khansa menoleh. Memperhatikan wajah itu yang masih tertunduk walau tetap mencuri-curi pandang untuk melirik kearahnya. Khansa tersenyum lembut, jiwa keibuannya menguar begitu saja.

“Tentu saja boleh. Ayo.” Rion memindahkan Aurora pada pangkuannya dan meminta Aurora untuk memilih apa saja yang dia mau. Dan ya... gadis itu meminta cake yang baru saja Arvin bawa.

Sialnya adalah yang baru saja masuk kedalam mulut Vano adalah potongan terakhir. Tidak bisa melihat orang lain sedih adalah kelemahan Vano. Maka dari itu, Vano dengan inisiatif yang tinggi menggeret Arvin untuk kembali mancari cake yang sama persis.

“Ayo papa, temani Vano mencari cake untuk adik dan makanan untuk moma.” Tidak sempat menolak, Arvin langsung ditarik paksa oleh Vano berkeliling ballroom hotel yang Dira sewa untuk acara mewahnya ini.

Sret.

Khansa hampir saja menepis tangan kecil yang menyentuh punggung tangannya. Dia kaget tentu saja. Melihat senyum manis dari anak Kaenan membuat Khansa mau tidak mau juga ikut tersenyum. “Ada yang bisa aunty bantu, Cantik?”

“Boleh Rora meminta peluk?”

Permintaan sederhana itu membuat Khansa mengangguk antusias. Ia masih ingat dengan Rion dan Arvin yang hampir saja adu mekanik untuk menjadi ayah di akta kelahiran Vano. “Tentu boleh.”

Rion membawa Aurora untuk masuk dalam pelukan Khansa yang langsung di sambut tawa kecil dari anak Kaenan itu. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Khansa, Aurora merasa jika ini yang ia butuhkan selama ini.

“Terima kasih.”

Khansa tersenyum manis. Memeluk erat tubuh kecil Aurora dan menggoyangkannya kekanan-kiri. “Aurora sangat cantik. Baik-baik ya.” Khansa tersenyum manis. Mencubit pelan ujung hidung Aurora yang hanya mengangguk singkat.

Tap... tap... tap...

“Aaahh, Moma.” Vano datang dengan Arvin yang sudah tertawa terbahak-bahak. Apa lagi yang pria itu lakukan pada anaknya?

“Ada apa, Sayang?” Rion tertawa pelan. Memang keterlaluan sepupunya yang satu ini.

“Papa Arvin menjahili Vano. Kata papa dia akan menjual Vano pada penguthaha kaya raya karena thudah merepotkan moma.” Vano mengadu tanpa pikir panjang. Mencari pembelaan pada papanya yang satu lagi untuk memastikan agar ia benar-benar tidak akan dijual. “Papa tidak akan menjual Vano bukan?”

“Tentu tidak, Jagoan. Kenapa papa harus menjual Vano? Vano saja harta terbesar papa.” Jawaban Rion membuat Khansa tertawa pelan. Benar, jika suatu saat Rion menikah, maka anaknya akan mendapat papa yang luar biasa.

“Moma tidak akan menjual Vano bukan?’ Kali ini meminta kepastian dari moma tersayangnya. Siapa tau momanya dan Papa Arvin sudah bersekongkol untuk menjual dirinya bukan?

“Tentu tidak sayang. Jika moma melakukan itu, moma yang akan dijual oleh Papa Rion nanti.” Khansa memasang wajah sedih. “Padahal moma juga ingin menjual Vano.” Khansa tertawa saat Vano memeluk erat leher Rion. Sangat erat hingga Khansa yakin jika Rion bisa saja mati hanya karena di peluk seerat itu oleh Vano.

“AAAAAH PAPAAA.”

**

“Apa aku sudah boleh tau tentang siapa Aurora?” Dira bertanya pada suaminya. Selama ini ia bertanya pada Khriss, tapi yang selalu Dira dapatkan hanya belum saatnya kau tau. “Apa sekarang sudah saatnya?”

“Dengar baik-baik.” Khriss menatap Dira yang saat ini mengangguk antusias. Ini rahasia yang selama ini ia tunggu-tunggu.

**

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel