Ch.7 Akhirmya Kita Bertemu
Ceklek.
“Sayang-sayangku! Kalian sudah selesai?” Arvin dengan segala tingkah ajaibnya memasuki apartement Khansa dan membuat keributan dengan suara besarnya. Sungguh, lain kali rasanya Khansa harus mengganti sandi apartement biar Arvin tidak bisa masuk sesuka hatinya.
“Jangan membuat keributan!” Khansa datang dengan balutan gaun putih semata kaki miliknya. Sungguh, macan betina satu ini cantik juga jika seperti ini.
“Morning, Jagoan.” Sapa Rion pada Vano yang baru keluar dari dapur dengan segelas susu coklat di tangan kanannya.
“Morning, Papa.” Pagi ini Vano terlihat lebih kalem dari biasanya. Entah karena apa dan itu sukses membuat urat-urat penasaran Rion bermunculan ke permukaan bumi.
“Ada apa dengan jagoan kecilku?” Tanya Rion pada Khansa yang tengah memasang sepatu hak tinggi miliknya. Sungguh, pasangan ibu dan anak ini terlihat lebih berpetir dari biasanya.
“Terlambat bangun dan kami belum sempat sarapan. Vano merengek untuk bisa tidur lebih lama dan perutku merengek untuk segera mendapat asupan.” Adu Khansa. Memang pada kenyataannya ia dan Vano terlambat bangun, itu karena semalam mereka bercerita dari setelah makan malam hingga tak sadar jika waktu sudah menunjukan pukul satu pagi. Dan sialnya, tumben-tumbennya mata Vano masih bisa terbuka lebar saat jam sudah menunjukan pukul sembilan lewat satu menit. Biasanya jam sembila tepat Vano sudah berselancar ria di alam mimpinya.
“Kalian bisa lanjut tidur di mobil dan ada beberapa makanan juga di sana. Sekarang ayo kita berangkat.” Ajak Arvin yang sedikit merasa kasihan. Kantung mata dua manusia itu memang terlihat jelas ngomong-ngomong.
“Sayang, ayo papa gendong.” Ajak Rion saat melihat Vano sudah selesai meminum susu coklatnya. Rion merasa kasihan melihat mata anaknya yang sudah terkatup-katup sayu itu. Ingin Rion tertawakan, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Mungkin lain kali.
**
Rion dan Arvin saling pandang.
Hening.
Khansa benar-benar langsung tidur setelah memakan beberapa roti isi buatan Rion pagi ini. Duduk tenang dengan sebuah bantal leher yang menyangga kepala agar tidak terantuk-antuk.
Vano? Anak itu bahkan sudah tertidur dalam gendongan Rion saat masih dalam perjalanan menuju mobil. Memang ajaib kelakuan ibu dan anak ini.
“Rion, selagi mereka tertidur, aku ingin bertanya tentang sesuatu padamu.” Arvin mulai buka suara seraya menginjak rem saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah.
Rion mendengung dengan tangan yang sesekali mengusap kepala Vano agar tidurnya lebih nyaman. Ini adalah alasan kenapa bisa Arvin yang menyetir sekarang. Vano tidak mau lepas dari gendongan papanya ini.
“Kau yakin tidak memiliki rasa terhadap Khansa?” Arvin mengetuk-ngetukan jarinya di stir mobil. Ia rasa lampu lalu lintas akan berubah sekitar empat puluh detik lagi.
Kekehan Rion terdengar, “ini sudah pertanyaan yang berulang kali kau ajukam, Arvin. Dan kau masih belum puas dengan jawabanku yang tetap sama?” Tanya Rion. Lucu juga sepupunya yang satu ini.
“Aku tidak yakin! Kau sangat perhatian pada Vano.” Arvin tidak cukup puas hanya dengan jawaban tidak tanpa penjelasan apa-apa.
“Lantas? Hubungannya dengan Khansa apa?” Ini juga, ia perhatian pada Vano. Apa korelasi yang tepat untuk perasaannya terhadap Khansa?
“Masa iya kau tidak menaruh perasaan apa pun pada ibu muda itu. Buka lebar-lebar matamu! Khansa itu cantik, baik, ramah, dan yang terpenting kau sudah mendapat bonus jika menikahi Khansa.” Ok, yang satu ini memang sedikit kurang ajar.
Ingin rasanya Rion tertawa keras saat ini. Apa maksudnya ini? Bonus? Vano? Pemikiran sepupunya ini dangkal sekali. “Khriss juga perhatian pada Vano. Apa itu berarti ia juga harus menyukai Khansa dan meninggalkan Dira yang akan menjadi istrinya beberapa jam lagi?”
Arvin diam. Mendengus kesal dengan kaki yang mulai menginjak pedal gas. Memang pintar sekali mencari alasan si Tiang bendera ini. “Mau bagaimanapun juga, aku belum yakin dengan jawabanmu itu. Aku benar-benar akan memata-mataimu.” Arviin terdengar bersungguh-sungguh. Tapi manurut Rion itu tetap saja lucu.
“Silahkan lakukan apa saja yang kau mau.” Balasan singkat Rion makin membuat Arvin panas. Jika tidak ingat dengan acara pernikahan Dira, sudah Arvin pastikan rambut dan pakaian pria itu acak-acakan karena jambakan mautnya.
“Eungh, apa masih lama, Papa?” Vano mengucek matanya dengan kepalan kecil tangan kanannya. Menggemaskan sekali.
“Belum, jika sudah sampai nanti papa bangunkan.” Bisik Rion dengan tangan yang kembali mengusap-ngusap punggung serta kepala Vano. Mengantarkan anak itu agar tidak tersesat menuju mimpi indahnya.
“Cih, yang seperti itu tidak ada rasa pada ibunya? Bad liar.” Sungut Arvin menggebu-gebu.
“Menyetir yang benar ya, Sepupuku. Haha.”
**
Rion menatap Vano dan juga Khansa secara bergantian. Dua manusia ini masih tidur nyenyak dalam duduk mereka. Menghela napas kecil, Rion memutuskan untuk keluar lebih dulu dari mobil dan membuka pintu penumpang yang tepat berada di sebelah Khansa.
Ceklek.
“Khansa, silahkan bangun, Tukang tidur.” Mengusap kepala Khansa dengan lembut. Rion mulai melepas bantak keher yang meyangga kepala gadis kecil ini.
“Duluan atau tinggalkan?” Arvin yang baru saja mengambil kado dari bagasi mobil datang seraya menenteng kotak besar di sebelah tangannya.
“Duluan saja.” Dan dengan begitu, Arvin benar-benar pergi meninggalkan Rion yang sibuk mengurus dua bayi beruang yang tengah berhibernasi.
“Rasakan sensasinya.” Bisik Arvin dengan kekehannya.
Rion tertawa pelan, benar-benar! Dua manusia ini benar-benar! “Khansa Zhafira Auristela. Ingin aku tinggalkan di mobil?”
Hening.
Hening.
Hening.
“MOMA! PAPA MEMANGGIL!”
“Ou yes?”
Rion berjengit kaget. Sungguh, teriakan Vano ini tidak main-main. Belum lagi ia berteriak tepat sebelah di telinga Rion, alamat langsung menuju THT Rion setelah ini. Dan ajaibnya lagi, Khansa merespon dengan tubuh yang langsung terduduk tegap.
“Sudah bangun? Silahkan turun dari mobil dan kita akan masuk ke dalam gedung resepsi.” Rion mengulurkan sebelah tangannya untuk membantu Khansa yang saat ini masih antara sadar dan tidak sadar.
“Ugh.” Berdengung saat ia melihat Vano yang tengah bergelung nyaman dalam dekapan Rion. Khansa rasanya ingin tidur lagi, ia masih mengantuk. Sangat mengantuk.
Sret.
Mengusap sudut mata Khansa yang berair karena menahan kantuk, Rion mengusap pelan kepala gadis kecil itu. “Tahan sebentar kantukmu, key.” Ujar Rion.
Khansa mengangguk lemah, rasanya ia baru tidur lima lemit yang lalu. Kenapa sudah di bangunkan saja? Turun dari mobil dengan pelan, Khansa langsung saja menggait lengan Rion untuk dia gandeng. Butuh tompangan setelah urang tidur teman-teman.
Sebelum masuk kedalam ruang resepsi, Rion dan Khansa menyempatkan diri dulu untuk mengijakan kaki kedalam ruangan milik Khriss dan Dira. Untuk membuat masalah tentu saja.
Ceklek.
“Kau sudah makan seporsi besar tadi pagi dan sekarang kau datang hanya untuk merampas makanan milik pengantin?” Rion tak habis pikir. Seberapa besar lambung sepupunya ini?
“Diam kau. Mereka juga tidak akan makan. Lebih baik busuk di perut agar tidak rugi. Jika busuk di luar bagaimana?” Arvin dan segala alasannya yang memang lumayan masuk akal.
“Mommy cantik. Daddy juga tampan.” Vano mengatakan hal yang memang sebenarnya ia lihat, tapi entah kenapa respon Dira sangat berlebihan. Mata wanita itu sudah berkaca-kaca siap akan menangis hanya karena pujian kecil yang bisa saja itu basa-basi semata.
“Make Up bodoh! Tidak usah berlebihan, Vano hanya kasihan karena kau tidak ada yang memuji sedari tadi.”
Mendegar itu Rion terpelatuk. “Jadi apa yang kau lakukan sedari tadi menginjakan kaki di sini?”
“Makan tentu saja bodoh.”
**
Pintu ruangan sudah terbuka lebar dan tubuh kecil Vano membuat tamu undangan menjerit gemas. Belum lagi dengan senyum manisnya yang sungguh keterlaluan membuat siapa saja bisa langsung jatuh cinta.
Dan oh ada gadis kecil yang berdiri anggun di sebelah Vano. Sama-sama membawa keranjang berisi kelopak bunga yang akan mereka taburkan di sepanjang jalan yang akan Dira lewati.
Ah, Dira juga sudah menahan jeritan gemas melihat dua anakan bonsai itu di depannya. Lucu sekali, Dira tidak tahan dengan yang lucu seperti itu.
Langkah kecil Vano memulai acara. Menabur pelan kelopak mawar yang ia bawa beserta gadis kecil di sebelahnya. Vano tersenyum makin lebar saat melihat moma dan dua papanya berdiri dengan tangan melambai semangat.
“Go baby.” Arvin memberi semangat. Dengan senyuman penuh bangga melepas anaknya seakan-akan Vano akan pergi jauh untuk mengejar cita-citanya yang tertunda.
Rion? Karena dia yang paling tinggi diantara dua cebol itu, Rion mendapat tugas sebagai pemegang kamera. Merekam malaikat kecil mereka yang terlihat makin tampan hari ini. Dira? Terserah perempuan itu sajalah, dia sudah memiliki staff sendiri itu.
Kalian tau apa? Selama acara tangan Khansa tidak pernah lepas dari gandengan tangan Rion. Saat merekam malaikat kecil mereka saja Rion hanya menggunakan tangan kanan. Arvin bukan panas, hanya saja ia merasa gerah. Kalau memang sama-sama mau, mereka bisa langsung menyusul bukan? Pakaian mereka juga sudah cocok ini.
“... ya saya bersedia.”
Arvin menganga tak percaya. Karena memperhatikan dua manusia bodoh ini, ia jadi tertinggal mendengar pemberkatan temannya. “Ah, sial.”
“Badan memang di sini, pikiran entah kemana.” Khansa dengan tak tau dirinya menyindir Arvin terang-terangan. Menggeleng prihatin dan mencibir saat ia tau Arvin akan meledak sebentar lagi.
“Lihat, pangeran kecil kita datang dengan membawa cincin.” Rion menunjuk Vano yang kembali berjalan santai dengan sekotak cincin yang berada dalam genggaman tangannya.
Itu cincin untuk Dira, untuk Khriss juga dibawakan oleh gadis kecil yang bersama dengan Vano tadi. Jangan kalian pikir jika acara mewah ini akan terasa seperti taman hiburan karena adanya dua anak kecil yang ikut serta. Ini bahkan sangat menarik.
Pendosa-pendosa seperti mereka seperti dinetralkan oleh dua malaikat kecil yang bahkan belum tau dengan pahitnya dunia.
**
“Moma, di sana ada cake. Boleh Vano ambil?” Vano datang dengan mata berbinar penuh harap. Bagaimana Khansa bisa menolaknya?
“Tentu, sebagai reward karena Vano sudah membantu mommy dan menjalankan tugas dengan baik. Vano boleh makan apapun. Tapi tetap harus berhati-hati, mengerti?” Khansa menyamakan tingginya dengan Vano, mengusap pelan pipi anaknya yang entah baru saja diberi makan apa oleh Dira.
“Mengerti.” Anggukan Vano berikan sebagai balasan. Berjalan menjauh dengan sangat hati-hati tidak ingin menyenggol dan tidak ingin tersenggol. Tujuannya hanya ingin mengambil cake.
Vano terdiam sebentar, apa meja jamuannya harus setinggi ini? Jika seperti ini bukannya lebih baik ia mengajak momanya juga tadi? Menatap sekeliling, Vano menemukan satu orang yang mungkin saja dapat membantunya dalam mengatasi masalah pelik ini.
**
Sret.
“Permisi, Tuan.”
Kaenan menundukan pandangan saat merasa jika seseorang tengah menarik celanya. Ini... anak yang waktu itu bertemu dengannya bukan? “Ya?”
“Maaf, boleh tolong ambilkan cake? Terima kathih.” Tersenyum manis, Vano menunjuk tumpukan penuh warna-warni itu dengan semangat. Ia ingin mengambil empat, dua untuk papanya dan dua untuk dia dan momanya.
“Tentu saja. Siapa namamu kecil?” Kaenan mengambil piring kecil yang tersedia di sana. Menatap si mungil yang matanya masih tertuju pada tumpukan menggiurkan itu. Menggemaskan.
“Vano, tolong ambilkan empat. Boleh?” Menatap Kaenan lagi dengan mata penuh binar harap, Vano menyajikan senyum terbaiknya. Empat bukan untuk dirinya sendiri, ingat?
Deg.
Jantung Kaenan berdetak cepat. Nama itu, “Daevano Xavier Malvhin Xander?” Kaenan menatap mata Vano dan yang ia dapatkan adalah anggukan antusias. Mata itu, rahang itu, wajah itu, dan nama itu tentu saja Kaenan tau. Itu nama yang sudah ia dan Khansa siapkan seminggu sebelum mereka memproduksi Vano.
“Vano.” Khansa datang dengan senyum ramah sebelum matanya menangkap sosok Kaenan yang tengah bersama dengan anaknya. Iya, anak Khansa seorang diri. Dia sendiri yang membuat Vano dengan bantuan resep tepung, telur, dan margarin dari bibi tetangga sebelah dulu.
“Vano ambilkan empat. Dua untuk papa dan dua untuk kita.” Vano mengutarakan isi hatinya yang sungguh lembut. Menatap Khansa dengan binar cerahnya yang bagaimana bisa Khansa tolak?
Dengan senyum lembut, Khansa menggandeng tangan Vano. Ingin membawa anaknya pergi sebelum diambil Kaenan yang bisa saja memiliki niat busuk. Rencanya memang seperti itu sebelum Rion datang dan mengacaukan semuanya.
“Kaenan? Apa kabar? Lama tidak bertemu.” Rion berbasa-basi layaknya lelaki yang bertemu teman lama. Entah apa itu gunanya bahu di tempelkan berdua? Pengganti kecupan pipi kanan dan pipi kiri?
“Baik tentu saja, aku sedikit sibuk belakangan ini.” Kaenan menanggapi dengan santai sambil sesekali menatap Vano yang sudah akan memakan cake keduanya tanpa rasa bersalah. Membiarkan momanya mati ketakutan karena beberapa hal.
Rion memperhatikan gadis kecil yang bersama Vano saat tabur bunga dan membawa cincin tadi berjalan menuju mereka. Tidak, mendekati Kaenan lebih tepanya. “Anakmu?’
“Ya. Ini anakku.” Kaenan menatap Khansa yang ternyata juga tengah menatapnya.
Khansa tau ini bukan lagi urusannya, terserah Kaenan akan menikah dengan siapa. Khansa sudah tidak peduli lagi, sungguh. Tapi kenapa umur gadis kecil itu tidak beda juah dengan umur Vano? apa memang niat awal Kaenan hanya ingin bermain-main dengannya?
“Moma baik?”
Perhatian Rion terpecah saat mendengar suara Vano yang terdengar khawatir. Belum lagi dengan wajah Khansa yang memucat dan mata yang berkaca-kaca. “Ingin pulang saja?” Tawar Rion?
Khansa menggeleng, Dira pasti mengamuk dan mengutuk dirinya nanti jika ia pulang saat ini. “Aku baik. Jangan khawatir.”
**
