Ch.9 Yang Sebenarnya
Acara Dira berjalan lancar. Kali ini mereka tengah duduk melingkar di kamar hotel yang memang sengaja Dira pesan malam ini untuk teman-temannya. Hanya ada dirinya, Khansa, Kaenan, dan Arvin. Vano? Di culik daddynya untuk pamer pada rekan kerja pria itu.
“Aku punya pertanyaan untuk dirimu nanti.” Tunjuk Dira melayang kasar pada batang hidung Khansa yang langsung memundurkan kepalanya takut tercongkel oleh kuku monyet itu.
“Kalian sudah bertemu dengan pembawa keranjang bunga dan pemmbawa cincinku bukan?” Pertanyaan retoris. Tak apa, itu namanya pemancing untuk berita yang lebih besar.
“Satunya aku sangat kenal.” Khansa menjawab apa adanya. Memang anaknya, Tentu Khansa kenal luar dan dalam. Sembilan bulan di dalam perutnya itu. Kemana-mana selalu Khansa bawa.
“Diam kau.” Dira menunjuk Khansa tepat pada batang hidungnya. Membuat Khansa spontan langsung saja memundurkan kepalanya takut jika tercongkel oleh kuku monyet yang panjang-panjang itu. “Aurora yang aku maksud.”
Khansa, Rion, dan Arvin langsung mengangguk santai. Tadi mereka juga sudah satu meja.
“Ini ada hubungnnya denganmu, Khansa Zhafira Auristela.” Dira kembali menunjuk batang hidung Khansa yang tak seberapa itu. “Kalian tau jika Aurora anak Kaenan bukan?”
Lagi. Tiga manusia itu mengangguk serempak.
“Itu bukan anak kandungnya. Itu anak kakak Kaenan. Aidan Malvhin Aezhra.”
-Flashback On-
“Itu keponakan Kaenan. Bukan anak kandungnya.” Ucapan Khriss membuat Dira mematung bodoh.
“Hah?”
“Aidan Malvhin Aezhra. Sepupuku itu sudah menikah. Saat Aurora akan terlahir, istrinya membuat kesepakatan dengan Aidan. Selamatkan Aurora jika ia tidak bisa hidup setelah melahirkan. Atau rawat Aurora dengan baik, jika wanita itu selamat mereka akan bercerai dan pergi dengan selingkuhannya.”
“Intinya, mau bagaimanapun juga wanita itu tidak ingin merawat Aurora. Karena apa? Pernikahan mereka hanya simbolis untuk penggabungan perusahaan. Awalnya Aidan memang terpaksa, namun seiring berjalan waktu dia mulai jatuh cinta. Bukan hanya sekedar kontrak di atas kertas.”
“Dan ya, Aurora lahir sehat. Istrinya selamat, tapi meninggalkan Aidan untuk pergi dengan selingkuhannya. Sebulan pertama Aidan terlihat baik-baik saja. Maish bisa menjaga putrinya dengan bantuan Kaenan dan aku. Memasuki bulan ketiga, Aidan mulai tidak beres. Semua yang dia kerjakan berantakan. Perusahaan hampir bangkrut, Aurora hampir saja mati konyol, dan puncaknya pada malam natal Aidan sudah mati dengan Aurora yang menangis keras di sebelahnya.”
“Saat itu yang menelfonku Kaenan, menjelaskan semua yang ia lihat dan ya. Aidan bunuh diri begitu saja meninggalkan anaknya untuk Kaenan rawat bersama kekasihnya.”
“Kaenan memiliki kekasih?” Dira bertanya tak percaya. Manusia batu tak berperasaan itu memiliki kekasih?
“Ya. Khansa Zhafira Auristela.”
“Sial! Khansa? Khansa kita maksudmu?” Dira hampir saja memporak-porandakan pestanya sendiri jika tidak di tahan Khriss saat itu juga.
“Ya, Khansa. Dan otak pintarmu pasti tau siapa ayah Vano bukan?” Khriss memancing respon Dira. Menunggu bagaimana gadis itu akan menanggapi spill the tea yang baru saja ia katakan.
“Kaenan? Dia mengurus anak kakaknya tapi tidak mengurus bayinya sendiri? Bajingan!”Dira mengepalkan tangannya. Masih ingat bagaimana Khansa berjuang seorang diri di ruang bersalin dengan harapan masih bisa hidup bersama anaknya nanti.
“Damn, dengar. Aku tau Kaenan salah, tapi apa kau tidak berpikir bahwa dia menerima karma instan karena meninggalkan Khansa dan bayinya?” Khriss sebenarnya juga kesal dengan Kaenan, tapi mengingat lagi bagaimana perjuangan Kaenan membesarkan Aurora membuatnya sedikit luluh.
“Dan kau tau darimana? Kapan?” Ini pertanyaan penting, jika pria itu tau kenapa tidak langsung mengatakan padanya atau kepada Rion dan Arvin? Mereka bisa kangsung menebas kepala Kaenan bukan?
“Dua hari yang lalu. Aku mengambil sampel rambut Kaenan dan rambut Vano. Dan voila, aku tau semuanya. Bahkan nama lengkap Vano yang sengaja Khansa samarkan.”
-Flashback Off-
Khansa terdiam kaku. Matanya bergerak gelisah. Belum lagi dengan Rion yang menatapnya tak berkedip. Meminta penjelasan rinci karena ia yakin, pria itu akan mengamuk saat ini juga.
“Daevano Xavier M.Xander yang kau maksud itu berarti Daevano Xavier Malvhin Xander?” Rion bertanya dengan harapan Khansa yang akan menjawab semuanya. Tapi bukannya Khansa, malah Dira yang mengangguk semangat.
“Kenapa?” Rion bertanya santai, tapi Khansa yakin jika salah pemilihan satu kata saja pria itu bisa langsung menyuntik dirinya dan menjauhkan Vano dari Khansa.
“Aku... aku hanya tidak ingin mengingatnya lagi. Aku sudah cukup baik-baik saja dengan tanpa Kaenan 5 tahun ini.” Khansa menjawab ala kadarnya. Menjawab sebisa yang ia jawab dan bagaimana keadaan sebenarnya. Percuma juga berbohong dengan Rion, pria itu terlalu pintar untuk Khansa bodohi.
“Tapi kau tau kami mencari keberadaan pria yang berstatus sebagai ayah Vano bukan? Apa saat Kaenan datang ke cafe bersama Khriss kau juga tau? Itu sebabnya kau bersikeras ingin pergi membeli bahan makanan?” Dira tak habis pikir. Ia dan yang lain mati-matian mencari pria bajingan itu, tapi ternyata Khansa sendiri yang menyembunyikan keberadaannya.
“Kau sendiri tau jika teman dan rekan kerja Khriss berkunjung ke cafe aku selalu keluar bukan? Terlepas dari ada Kaenan atau tidak, aku awalnya tidak tau jika pria itu datang bersama suamimu.” Suara Khansa mulai terdengar sumbang, ia takut membahas ini. Ia takut jika harus memikirkan Kaenan akan mengambil Vano darinya.
Ia juga takut jika Rion akan menjauhkan Vano darinya. Khansa takut dengan semuanya, khansa takut jika Vano tidak bersamanya lagi.
Arvin hanya memilih diam, ia tau jika Khansa memikirkan semuanya sendiri selama ini. Hak wanita itu juga jika tidak ingin mengungkit masa lalu kelamnya, tidak mau siapapun tau tentang ayah kandung Vano.
“Sudah, sekarang kita sudah tau. Hanya perlu mengawasi Vano lebih ekstra lagi, berjaga-jaga jika Kaenan nantinya akan mengambil Vano. Tak ada yang perlu disalahkan di sini, Khansa berhak menutup masa lalunya karena kita juga tau jika dia tidak ingin kejadian seperti ini.” Arvin buka suara. Sedikit kasihan melihat Khansa yang hanya tertunduk diam dengan bahu yang sedikit bergetar menahan tangis.
“Khriss juga benar, Kaenan sudah mengambil karmanya bukan?’
**
Khriss dan Kaenan duduk berdua di cafe 24 jam yang memang kebetulan berdiri kokoh di depan hotel yang Khriss booking untuk pestanya. Bukan hanya berdua tentu saja, dengan Vano dan Aurora.
Kurang baik apa Khriss? Mempertemukan ayah bajingan ini dengan anak yang dia buang lima tahun lalu.
“Bagaimana? Rasanya bertemu dengan duplikat dirimu?’ Khriss bertanya santai dengan membiarkan Vano memakan makanannya. Tak masalah asal anak itu senang.
“Kau tau darimana?’ Kaenan tidak ingin terpancing. Walau ia tau jika itu adalah anaknya, tetap saja Kaenan harus berhati-hati.
“Kau ingat saat aku menarik rambutmu? Itu aku mengambil sampel untuk tes DNA. Kau pikir tidak aneh jika anak ini memiliki paras yang sama denganmu? Dia juga tidak bisa menyebut ‘S’ dengan benar. Ku pikir aku sangat kenal dengan orang yang seperti itu.” Khriss menjawab tak mau ambil pusing. Memang kenyataan bukan? Kaenan juga pasti ingat, secara ia menarik kuat rambut sepupunya itu hingga menrontokan lebih banyak dari yang ia butuh.
“Fuck.” Kaenan berbisik pelan. Masih tidak ingin membuat dua bayi ini mendengar kata-kata kotor primitif itu.
“Karma bukan? Kau membuang dia dan ibunya, tak lama setelah itu kau kehilangan kakak tersayangmu. Tak ingin menjelaskan sesuatu atau meminta maaf pada Khansa?’ Khriss tak ingin lagi menutupi nama Khansa, biar saja Vano tau dan pria kecil itu yang akan memangkas habis kebanggaan ayahnya itu.
“Moma?’ Vano bereaksi seperti yang diharapkan.
“Vano pernah bertanya dimana popa bukan? Ingin tau?’ Khriss tersenyum kecil. Bukan bermaksud jahat, hanya saja ia rasa Vano lebih dewasa dari umurnya bukan? Mari kita coba peruntungan.
“Kata Papa Rion, popa masih mencari uang. Vano tidak ingin mengganggu.” Jawaban singkat itu membuat Kaenan merasa sedikit terima. Papa Rion? Sedekat apa mereka berdua hingga nama pria itu yang anaknya sebut papa?
“Tidak apa, mama Rora juga pergi dengan papa baru. Dan papa Rora suda di surga menunggu Rora.” Aurora tersenyum manis, memberi Vano sebagain ice creamnya yang rasa coklat. Anak kecil pasti suka coklat bukan?
“Jika daddy beri tau apa Vano akan senang?” Khriss tidak bisa jika ini mengambang sampai di sini. Semuanya harus selesai ada atau tanpa Khansa. Bagaimana juga Vano butuh tau siapa ayah biologisnya.
“Itu bukan hal yang buruk.”
Nice.
“Dia, Kaenan Azura Malvhin. Popa Vano.” Khriss menunjuk Kaenan yang wajahnya sudah tidak bisa di tebak akan seperti apa.
“Daddy popa Vano? Apa Rora akan menjadi kakak Vano?’ Respon Aurora bahkan lebih antusias. Memeluk Vano yang saat ini membalas pelukannya dengan sekuat tenaga. Tapi tidak bereaksi apa-apa.
“Daddy, ayo ketempat moma. Vano mengantuk.”
**
