Pustaka
Bahasa Indonesia

Our Story

60.0K · Tamat
Ndaa
43
Bab
546
View
9.0
Rating

Ringkasan

Khansa harus berjuang hidup setelah dibuang oleh kekasihnya yang mengetahui jika ia tengah mengandung buah hati mereka. Memutuskan untuk bertahan karena bayi kecilnya yang tidak tau apa-apa. ** Kaenan seperti mendapat karma instan karena sudah membuang kekasih dan buah hatinya. Setelah tiga tahun mencoba melupakan dua orag yang menghantui hidupnya, mereka tak sengaja bertemu di pesta pernikahan sepupunya dan kembali menjadi cinta dengan rintangan tentunya

RomansaBillionairePerselingkuhanPengkhianatanPernikahanSweetTuan Muda

Ch.1 Pergi

“Apa kau harus sekejam ini, Kaenan?”

“Apa kau bisa memberikan bukti padaku?”

Bersedekap dada, pria berjas dengan dasi hitam itu bersedekap dada memandang rendah perempuan di depannya. Iya, perempuan yang beberapa waktu lalu masih menjadi kekasihnya.

“Aku tidak serendah itu, kau tau bagaimana aku selama ini. Hks.” Isakan itu keluar juga. Sesak yang sedari tadi ia tahan sudah menumpuk hingga menggerogoti jantungnya.

“Khansa, jangan terlalu mendrama. Jika memang benar itu anakku, gugurkan saja. Aku sudah muak denganmu, jangan memperlihatkan wajah itu lagi di depanku.” Kaenan berujar santai sambil kembali duduk pada singgasana kekuasaannya. Mengabaikan perempuan yang masih diam mematung dengan linangan air matanya.

Khansa diam, meremat ujung bajunya lalu mulai berlutut. Mengabaikan semua harga diri yang ia punya, karena bagaimanapun semenjak menjadi kekasih Kaenan rasanya harga diri itu sudah hilang dan lenyap dari dirinya.

“Kau sudah berjanji akan selalu bersamaku. Hks. Kau berjanji akan bertanggung jawab.” Suara Khansa melirih dengan kepala yang tertunduk. Bahunya bergetar. Rasa pusing mulai menyapa kepalanya.

“Ck. Sudah aku katakan, berhenti bermain drama. Gugurkan dan segera angkat kaki dari ruanganku!” Kaenan berdecak kesal, sedetik kemudian membentak Khansa yang bahkan hanya bisa tertunduk memikirkan bagaimana nasib ia dan anaknya kelak.

Sret.

“Akh.” Menggigit bibirnya, Khansa meringis saat tangan besar Kaenan yang dulu terasa hangat kini malah menarik kencang lengan atasnya. Menyeretnya menuju pintu lalu membantingnya begitu saja keluar ruangan.

“Pastikan dia tidak menampakan mukanya lagi di depanku.” Kaenan berseru pada dua pria berbadan besar yang selalu setia menjaga pintu ruangannya. Memandang Khansa sebentar lalu berdecih dan kembali masuk ke dalam sana.

Blam.

Pintu terbanting kencang menyisakan Khansa yang hanya tersenyum miris. Memegang perut ratanya dan menggigit makin kencang belah mungil itu. “Moma akan membesarkanmu sendiri, jangan takut.” Membisik kecil berharap si bayi mendengar lirihannya.

“Nona.”

“Jangan menyeretku, aku bisa sendiri. Aku tak apa.” Khansa menahan dua pria yang memang selama ini ia kenal cukup baik. Kepercayaan Kaenan yang akan menjaganya jika Kaenan sedang sibuk dengan urusannya.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku baik-baik saja, hks.”

Bohong.

Khansa bahkan tidak punya tempat pulang lagi, selama ini yang menjadi rumahnya adalah Kaenan, tapi rumah yang selama ini ia jadikan tujuan hidup malah mengusirnya begitu saja. Membuangnya bagai sampah. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang?

Menyedihkan!

Itu adalah kata yang cocok untuk penggambarannya saat ini. Bagaimanapun ia berharap, Kaenan tidak akan mau memandangnya lagi. Ia sudah rusak dan Kaenan tidak suka barang rusak.

Harusnya ia tau dari awal.

Kaenan itu sempurna. Kesempurnaan adalah satu-satunya teman akrab bagi pria itu. Bagaimana bisa ia membiarkan sesuatu yang cacat berkeliaran di dekatnya? Itu mustahil.

Dan sekarang Khansa harus mulai terbiasa dengan keadaan yang mewajibkannya untuk mulai melupakan pria itu. Membungkus habis perasaan cinta yang selama ini ia junjung tinggi lalu menyimpannya di dalam sudut kecil hatinya yang sudah tak berbentuk lagi.

“Tolong ingatkan aku jika aku suatu saat nanti bertemu dengan Kaenan. Katakan padaku bahwa aku bukan sosok yang cocok untuk mengimbangi kesempurnaan yang ada padanya. Ingatkan padaku agar aku tak kembali jatuh pada dirinya lagi.” Bisik Khansa. Menatap lekat sebuah kalung berbandul cincin silver yang menggantung di leher indahnya.

Pemberian Kaenan.

Melepas kalung sederhana namun elegan itu lalu memberinya pada Mark, orang kepercayaan Kaenan yang selalu menjaganya.

“Tolong berikan ini pada Kaenan. Aku bukan lagi tuannya.”

**

Khansa mengemas semua pakaiannya yang memang ia beli dengan uangnya sendiri. Meninggalkan semua pemberian Kaenan di dalam kamar mereka dan menatap sekeliling kamar mewah itu dengan tatapan sendu.

Menerawang kembali pada setiap kejadian yang sudah ia lalui bersama Kaenan di kamar ini. Mulai dari hanya berpelukan hangat sepanjang akhir pekan, pembicaraan setiap akan tidur, pertengkaran kecil, dan kejadian yang membuatnya bisa mengandung anak Kaenan saat ini.

“Miris memang, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja pada hidupku. Baby juga harus melihat dunia yang membuatnya bisa hadir di dalam sini.” Mengusap perut ratanya sekali lagi, Khansa tersenyum.

Meraih tas sandang dengan ukuran tak seberapa karena memang, baju miliknya sendiri tidak seberapa. Cukup mengenang masa-masanya bersama Kaenan. Ini sudah lebih dari cukup untuk mengobati rindunya yang akan datang untuk bertahun-tahun lamanya.

“Kisah kita sampai di sini, selamat tinggal. Terima kasih sudah memberiku malaikat kecil ini. Aku akan memperjuangkannya.”

**

Kaenan terdiam dengan beberapa berkas yang masih terbuka lebar di depan wajahnya. Ini bukan tanggal satu april, kenapa ia merasa bahwa ia baru saja mendapat kejutan yang benar-benar mengguncang jiwanya.

Tok... tok... tok...

“Masuk.”

“Tuan Malvhin, titipan dari Nona Khansa.” Mark memberikan sebuah kalung yang ia desain khusus untuk Khansa.

Kaenan terkekeh sinis, merampas kalung yang menggantung di depannya lalu memasukan begitu saja pada laci samping meja kerjanya. Lucu. Perempuannya benar-benar lucu.

“Dia tidak akan bisa lepas begitu saja dariku.” Desis Kaenan.

Ia ingat, sangat ingat bagaimana ia menemukan gadis kecilnya yang tersesat sendirian di tengah jalan gelap. Menangis sesenggukan dengan wajah memerah berlinangan air mata.

-Flashback On-

“Hiks, pergi.”

Kaenan terganggu dengan isakan tengah malam yang ia dengar samar-samar dari balik gelapnya malam. Ini bukan kisah horor di film yang terputar di bioskop bukan?

“Pergi, hks. Please.”

“Aish, ini bukan waktu yang tepat untuk siapapun itu yang menangis sesenggukan.” Kesal Kaenan. Ia berniat jalan-jalan di pagi buta seperti ini karena ia merasa jenuh dengan berkas perusahaan yang tidak ada habis-habisnya.

Ia muak, jujur saja.

“Jangan. Ibu... tolong. Hks.”

“Hoi, Sampah.”

Kaenan menghela nafas dalam, harusnya ia membiarkan saja hal ini terjadi sebagaimana mestinya. Tapi sisi lain dari dirinya menolak. Ia memang manusia es, tapi masih ada kehangatan yang tersisa di sudut hati batunya ini.

“Berlagak menjadi pahlawan?”

Kaenan rasanya ingin sekali menembak kepala si Botak plontos ini. Tapi sayang ia tidak membawa pistol kesayangannya. Beruntung memang si buncit satu ini!

“Jangan hanya bicara, malu dengan kepala tak berambutmu itu!”

Dan ya, semua terjadi begitu saja. Baku hantam tak terelakan, lumayan sebagai pelampiasannya karena sang ibu yang memaksanya untuk menikah dan sang ayah yang merecokinya dengan berkas kerja sama tak berguna! Ia bisa berdiri sendiri!

“Masih kuat? Ayo! Aku masih belum puas ini!”

Terima kasih pada kakaknya yang mengajarkan bicara omong kosong di saat tak terduga seperti ini. Masih kuat apanya?! Napasnya tinggal satu-dua ini, bagaimana bisa ia akan selamat jika memang si preman ini kembali menantangnya baku hantam?

“Hoi! Sudah aku katakan aku belum puas, Sialan!” Maki Kaenan. Rada kesal juga memang, ini tangannya sudah gores-gores. Tapi si Botak malah sudah lari tunggang-langgang.

“Ganti saja celanamu dengan rok mini, Bangsat!”

“Hks.”

Oh? Kaenan hampir lupa dengan si mungil yang masih meringkuk di tepi gang dengan tangan yang melindungi kepalanya. Ini kasus kekerasan seksual namanya. Perlu masuk penjara itu si Buncit botak plontos!

“Jika terjadi lagi jangan hanya menangis. Kau bisa berteriak, melawan jika kuat, minimal menendang juniornya hingga tak berbentuk. Menangis tidak akan menyelamatkanmu.” Dengus Kaenan.

Melepas jas navy bluenya, Kaenan membantu gadis itu berdiri setelah menyampirkan jas tadi pada bahu sempitnya. Kasihan, seharusnya wanita setidaknya bisa bela diri walau hanya memukul tanpa arah.

“Aku antar kau hingga rumahmu.”

Tak biasanya iblis macam Kaenan menawarkan kebaikan bagai malaikat. Apa hidupnya tinggal satu kali senja lagi?

“Terima kasih dan maaf, hks.” Cicit gadis di sebelahnya ini. Suaranya kecil sekali bagai tikus terjepit kusen pintu. Kaenan jampir saja menjadi orang tuli karenanya.

-Flashback Off-

“Kita lihat, sampai mana kau akan bertahan, Khansa Zhafira Auristela.”

**

Jujur saja Khansa tidak tau arah tujuannya sekarang. Ia bukan dari golongan kaya raya seperti Kaenan. Bukan juga dari golongan menengah. Bahkan ia tidak bisa masuk dalam golongan bawah.

Ia benar-benar dari golongan kerak bumi!

Hidupnya sudah tidak jelas sejak ia terlahir, tak tau siapa ayahnya, tidak melihat bagaimana rupa ibunya, dan ia hidup selama ini hanya di Panti asuhan dan terakhir bersama Kaenan.

Rasanya air mata Khansa sudah tidak ada lagi, sepanjang jalan ia menangisi Kaenan. Menangisi betapa bodoh dirinya karena bisa jatuh pada Kaenan, menangisi betapa bodohnya ia hingga ia bisa menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Kaenan dan berakhir dengan menyedihkan seperti ini.

Kaenan Azura Malvhin.

Pria pertama yang berhasil merebut hatinya. Merebut mahkota yang seharusnya ia jaga hingga ia menikah nanti. Sungguh, Kaenan benar-benar membuat Khansa menjadi gadis bodoh sepanjang sejarah bumi ini berdiri.

Berani membayangkan bagaimana masa depannya dengan Kaenan tanpa berpikir ulang apa ia pantas bahkan hanya untuk berdiri di belakang pria itu? Khansa bodoh karena ia tidak mengukur bayang-bayang dirinya.

Kaenan itu anak emas.

Kebanggaan keluarga Malvhin.

Anak bungsu pula.

Dan Khansa? Cih, hanya anak tak jelas asal-usulnya.

“Baik Khansa, berhenti memikirkan Kaenan. Kau harus mulai berjuang dengan tanganmu sendiri seperti waktu itu. Kau pasti bisa. Semangat!” Menyemangati dirinya sendiri, Khansa kembali melanjutkan perjalanan tanpa arahnya. Mana tau ada yang berbaik hati menawarkan tempat berlindung untuknya. Ah, dan bayinya.

Khansa merogoh sebuah batangan putih dengan garis dua yang tertera jelas di sana. Bukti bahwa ia tengah membawa nyawa lain di dalam tubuhnya. Sungguh, Khansa tidak menyesal.

Ia hanya merasa kasihan dengan anaknya nanti. Apa anaknya akan kuat seperti dirinya nanti? Bagaimana jika umur Khansa tidak panjang dan terpaksa meninggalkan anaknya nanti? Apa anaknya akan baik-baik saja?

-Flashback On-

Khansa berlari dengan tujuan kamar kecil beserta sebelah tangan yang menutup mulutnya. Beberapa hari belakangan ini Khansa merasa ada yang tak beres dengan tubuhnya. Ia merasa sering kelelahan, mual, dan pucat.

“Hoeek... hoeek. Uhuk.” Khansa memuntahkan kembali cemilan yang baru saja beberapa waktu yang lalu memasuki perutnya.

“Hks. Sakit.” Khansa tidak membual saat perutnya terasa keram karena dipaksa untuk mengeluarkan isinya yang bahkan sudah tidak ada lagi.

Perih.

“Hks, Kaenan. Sakit.” Adu Khansa pada orang yang bahkan beberapa hari ini tidak berada di negara yang sama dengannya.

Kaenan.

Pria yang baru saja ia sebut namanya tengah berada di bagian bumi lain untuk menghadiri rapat perusahaan. Meninggalkan Khansa dengan seorang penjaga yang ia percayakan untuk gadisnya.

“Kaenan, kapan pulang? Aku merindukanmu, hks.”

Dan satu lagi fakta, Khansa merasa bahwa dirinya makin cengeng saja akhir-akhir ini. Jika biasanya ia akan menangis jika Kaenan marah saja padanya, akhir-akhir ini bahkan ia bisa menangis meski ia hanya melihat seorang kucing yang berlalu-lalang tak tentu arah di tengah jalanan ramai.

“Nona, maaf jika lancang. Tapi ada baiknya Anda mencoba ini.” Mark datang dengan sebuah benda putih di tangannya.

Test pack.

Khansa tidak perlu menjadi seorang jenius jika hanya untuk menganali benda satu itu. Mengambil dengan tangan bergetar, Khansa menatap takut-takut pada Mark yang hanya tersenyum kecil padanya.

“Aku takut, hks.” Isak Khansa.

“Tidak akan terjadi apa-apa. Nona tenang saja.”

Dan dengan itu, Khansa berjalan masuk kembali ke dalam kamar kecil untuk mencoba test pack yang baru saja Mark berikan. Jujur saja Khansa merasa harap-harap cemas dengan hasil yang akan benda ini berikan. Ia takut jika Kaenan akan kecewa pada akhirnya.

Entah kecewa karena apa, intinya Khansa takut saja.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

Empat menit.

Dan pada hitungan menit diangka lima. Khansa mulai mengintip hasilnya. Air mata Khansa jatuh begitu saja, ada kehidupan lain yang berkembang di perutnya.

Garis dua.

Itu artinya ia akan menjadi ibu dalam kurun waktu kurang dari satu tahun ini.

“Mark. Hks, aku akan menjadi ibu.” Isak tangis Khansa makin menjadi-jadi. Kali ini bukan karena takut atau perasaan tak jelas lainnya, tapi karena bahagia. Ia akan puunya tanggung jawab lebih besar mulai dari sekarang.

Bayinya.

“Mari beri kejutan pada ayahmu nanti, Baby.”

-Flahback Off-

Bukannya Kaenan yang terkejut, tapi malah dirinya sendiri yang hampir mati jantungan! Bukannya pelukan hangat yang ia dapat, malah perintah pembunuhan yang keluar dari ayah bayinya.

Tapi sekali lagi, Khansa tidak menyesal dan ia juga tidak menyalahkan Kaenan. Mungkin prianya itu belum siap. Hanya dia saja yang bodoh tidak berani menolak permintaan Kaenan waktu itu.

“Semoga kita tidak akan bertemu lagi.”

Dan semoga semua malaikat mengamini apa yang baru saja Khansa ucapkan.

**