Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Ch.6 Menghabiskan Uang Papa

Yap.

Setelah bujuk rayu Vano yang sungguh luar biasa, akhirnya Khansa berhasil ikut dengan mereka. Mereka? Iya mereka, Rion dan Arvin sebagai tambahan anggota. Dan lagi itu terjadi akibat bujuk rayu Vano yang sungguh kuat sekali.

Apa yang kalian harapkan? Rion dan Khansa akan semobil berdua?

Cih!

TENTU SAJA! Dua manusia itu hanya berdua di mobil yang sama. Dengan Rion yang menyetir dan Khansa yang duduk di sebelahnnya dengan setoples penuh cemilan yang memang biasa Rion siapkan di dalam mobilnya.

“Ini kita langsung mencari baju atau bagaimana, Kak?” Khansa bertanya pada Rion yang entah kenapa terlihat tampan berkali-kali lipat hari ini. Sial.

“Dira tidak mengatakan apapun? Dia sudah memesankan baju untukmu. Kita hanya akan menjemputnya sekarang lalu jalan-jalan.” Rion mengambil cup kopi miliknya dengan tangan kanan. Sedikit kesulitan karena lalu lintas ramai sekali siang ini.

Sret.

“Sudah, menyetir saja. Biar aku yang pegang. Aku belum ingin mati muda.” Membantu Rion dengan minumannya, Khansa menatap dalam wajah Rion yang entah ia sadar atau tidak.

“Thank you honey.” Rion mengusap rambut Khansa sebagai ucapan terima kasih. Jangan lupakan dengan senyum manisnya yang membuat Vano langsung jatuh cinta.

“Apa itu barusan?” Khansa berlagak akan muntah. Sepertinya pria dewasa ini salah makan tadi pagi. Atau mungkin ketempelan arwah rumah sakit? “Kakak tidak lelah? Bukannya kemarin shift malam? Kenapa kita tidak bersama Kak Arvin dan Vano saja tadi?” Khansa memborong semua pertanyaan yang otaknya pertanyakan.

“Tak masalah. Siapa yang tega menolak permintaan pangeran kecil kita?”

Pertanyaan simpel Rion membuat Khansa termenung diam. Pangeran kecil kita? Kenapa tidak Kaenan yang mengatakan itu? Kenapa harus orang lain? Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul di kepala Khansa. Membuat matanya berkaca-kaca siap untuk menangis.

Rion melirik heran. Memutuskan untuk menepikan mobilnya dan menatap Khansa yang bahkan masih belum sadar. Membawa ibu satu anak itu masuk kedalam pelukannya karena Rion tau. Pasti perkataan konyolnya tadi berefek besar pada Khansa.

“Sudah, tidak usah dipikirkan. Aku tau apa yang otak kecil ini pertanyakan sekarang.”

**

Arvin sedikit melongokan kepalanya untuk memastikan apa yang baru saja ia lihat. Iya, rencana awal memang ia dan Vano akan satu mobil berdua. Tapi karena ia mendadak malas untuk menyetir, ia dan Vano memilih untuk mengungsi menjadi penumpang di mobil Khriss.

Khriss dan Arvin saling tatap melalui kaca spion tengah. Tentu Khriss juga melihatnya. Ini berita bagus sebenarnya, hanya saja entah kenapa rasanya ini juga sulit. Khansa tidak mungkin menyukai Rion bukan? Lebih tepatnya menutup hati untuk semua laki-laki yang akan masuk kedalam hidupnya.

Entah untuk singgah atau untuk menetap.

“Daddy, setelah ini apa kita boleh membeli banyak makanan?” Vano mencolek bahu Khriss yang duduk tepat disebelahnya. Dira dipindahkan ke kursi tengah bersama Arvin. Lihat, sesayang apa mereka pada anak Khansa itu.

“Tentu saja boleh. Vano boleh membeli apapun, biar daddy yang akan membayarnya.” Mengusap kepala Vano, Khriss menyempatkan diri untuk mencubit kecil hidung mancung yang sungguh, Khriss familiar sekali dengan itu.

“Boleh kita makan berat dulu? Moma belum thempat tharapan tadi karena Vano sedikit membuat ulah.” Arvin dan Dira seketika langsung tertarik dengan cerita Vano.

“Ulah? Memang apa yang Vano lakukan?” Khriss masih dengan perannya sebagai wartawan dadakan.

“Vano tidak thengaja menyenggol tharapan moma hingga jatuh dan mangkoknya pecah. Vano thudah menawarkan untuk makan berdua, tapi moma tidak mau. Kata moma nanti Vano tidak kenyang.” Vano bercerita seakan itu adalah masalah terbesar yang ia hadapi seumur hidupnya. Bahkan seperti Vano berpikir jika Khansa tidak akan dapat menyelesaikan masalah sepele itu.

Dira dan Arvin tertawa kencang. Ini lucu!

Mendengar itu Vano langsung saja menoleh kebelakang dan mendapati dua orang dewasa itu sudah tertawa seperti setan gila yang tidak dapat dihentikan. Vano tidak terima tentu saja, ia sedih. Dan tentu yang lebih parah ia merasa bersalah sekarang.

“Daddy, bitha kita buang dua orang dewatha ini?”

**

“Sial, Dira! Apa yang kau lakukan? Ingin memerasku?” Khansa berseru tak terima. Ini gaun yang bahkan dia hanya akan mengenakan baju itu sekali seumur hidupnya, kenapa malah menembus 49 juta?!

Tiga pria dewasa dengan satu pria kecil hanya duduk diam di kursi tunggu memperhatikan mereka berdua seraya memakan ice cream. Dilerai juga tidak akan berpengaruh. Sama-sama kepala batu.

“Uang milikku banyak tidak perlu memeras uangmu.” Dira hampir saja menendang bokong Khansa jika tidak ingat jika wanita itu terkadang masih menggemaskan. Ekornya yang menggemaskan, bukan dia.

Vano tentu saja, menurut kalian siapa? Khansa?! Amit-amit.

“Untuk apa jika semahal ini. Ini juga akan aku kenakan sekali saja.” Khansa masih melanjutkan aksi protesnya. Lebih baik ia gunakan untuk keperluan Vano saja. Gila memang baju saja harganya hampir menembus harga dirinya.

“Protes terus seperti rakyat kau! Sudah diam saja.” Dira mengibas rambutnya tak peduli. Masih ingin melanjutkan protesnya mengenai gaun yang ia pesan kenapa bisa sempit seperti ini?! Apa Dira bertambah besar?

Khansa menatap Vano, meminta pertolongan. Tapi ternyata Vano mengkhianti dirinya. Dengan santai pria kecil itu menengadahkan tangannya pada Rion dan... tara. Kartu hitam Rion sudah keluar berada di dalam genggaman tangan Vano.

“Mathalah thelethai.”

**

Khansa memperhatikan Vano yang saat ini tengah berada di gendongan Rion. Mengapit erat kakinya pada leher Rion yang tak merasa terbebani oleh itu. Melihat itu Khansa merasa bersalah. Baik pada anaknya dan juga Rion.

Bagaimana jika ternyata Rion memiliki gadis incaran dan harus putus karena gadis itu salah paham dengan hubungan Vano dan Rion. Jika Khansa meminta anaknya untuk menjauhi Rion, ia yakin Vano pasti akan sedih.

Khansa merasa jika ia egois sekarang. Rion pasti punya kehidupan pribadi juga. Bukan hanya Rion. Arvin, Dira, dan juga Khriss pasti. Apa Khansa menjauh perlahan saja ya? Agar Vano juga terbiasa nantinya?

Duk.

Khansa berhenti sejenak. Mengelus dahinya yang mencium hangat punggung lebar Rion di depannya. “Aduh, sakit ih.” Khansa protes tak terima. Apa susah jika ingin berhenti memberi tanda dulu? Aba-aba misalnya?!

“Ingin berhenti memikirkan hal bodoh atau Vano yang akan aku bawa tinggal di rumahku dan kau tidak boleh bertemu dengannya?” Rion bertanya tenang, tapi Khansa tau jika suara seperti itu Rion tidak akan segan-segan untuk melakukan apa yang ia katakan barusan.

Memikirkan saja sudah membuat Khansa frustasi, bagaimana jika Rion memang benar-benar akan menjauhkan Vano dari hidupnya? Ibu kandung Vano ‘kan Khansa!

“JAHAT!” Khansa berteriak tak terima. Hampir saja menjambak kepala Rion jika Vano tidak segera datang dengan seember ice cream coklat dan vanila kesukaan mereka berdua. “Vanooo, Papa Rion Vano menyebalkan.” Khansa mengadu pada anaknya.

Memeluk Vano dengan erat seraya terisak pura-pura agar anaknya prihatin. Tapi kembali lagi, ini adalah Vano dan Rion. Dimana ada Rion maka Vano akan menjadi budak cinta setengah mati hanya untuk papanya itu.

“Moma ingin makan apa? Hari ini kita gunakan kartu Papa Rion. Kita mneghabiskan uang Papa Rion saja.” Vano menjilat ice cream yang memang sengaja ia beli dengan ukuran kecil agar yang besar bisa ia makan nanti.

“Vano, bukan itu topik masalahnya sayang.” Khansa lelah. Ia berjuang saat melahirkan, sayangnya keterlaluan malah pada Rion. Kenapa harus Rion? Khansa merasa salah saing.

Mendelik kesal pada Rion, Khansa langsung membawa Vano pergi dari sana. Menyisakan Rion seorang diri dengan segala kebingungan yang ia miliki. “Kita ada masalah apa ya kak? Atau kita saling kenal?” Rion bergumam pelan dengan kaki yang tetap mengikuti sepasang ibu dan anak itu.

“Menggemaskan sekali.”

**

“Dimana saudaraku, Upik abu?” Arvin bertanya pada Khansa yang baru saja datang dengan Vano di sebelahnya.

“Aku buang. Dia menyebalkan.” Tanpa pikir panjang, Khansa langsung saja duduk di sebelah Khriss dan meletakan Vano di sebelahnya kanannya.

Cup.

“Tidak boleh seperti itu lain kali pada calon suami, kay?” Rion dengan kurang ajarnya datang dan langsung mengecup puncak kepala Khansa yang mambatu saat itu juga.

Apa itu barusan? Yang akan menikah Khriss dengan Dira, kenapa yang tebar pesona malah Rion di sini? Apa dia cemburu Dira akan segera menikah? “Apa kau sebenarnya menyukai Dira ya?” Tuding Khansa seraya menunjuk batang hidung Rion.

Khriss yang awalnya santai saja langsung memicingkan mata tak terima. Ini baru praduuga, tapi tetap saja membuat hatinya panas. “Kau ingin aku cincang?”

Sementara keributan antara empat orang itu tetap berlanjut, Arvin dan Vano langsung angkat kaki memesan makanan dengan menggunakan kartu hitam yang tadi Rion berikan pada Vano. Sekalian saja bukan? Tidak akan habis seratus juta juga. Santai saja, Rion kaya raya.

“Ingin yang mahal dan enak?” Tanya Arvin.

“Yeth, Pleathe.”

**

Yap.

Setelah bujuk rayu Vano yang sungguh luar biasa, akhirnya Khansa berhasil ikut dengan mereka. Mereka? Iya mereka, Rion dan Arvin sebagai tambahan anggota. Dan lagi itu terjadi akibat bujuk rayu Vano yang sungguh kuat sekali.

Apa yang kalian harapkan? Rion dan Khansa akan semobil berdua?

Cih!

TENTU SAJA! Dua manusia itu hanya berdua di mobil yang sama. Dengan Rion yang menyetir dan Khansa yang duduk di sebelahnnya dengan setoples penuh cemilan yang memang biasa Rion siapkan di dalam mobilnya.

“Ini kita langsung mencari baju atau bagaimana, Kak?” Khansa bertanya pada Rion yang entah kenapa terlihat tampan berkali-kali lipat hari ini. Sial.

“Dira tidak mengatakan apapun? Dia sudah memesankan baju untukmu. Kita hanya akan menjemputnya sekarang lalu jalan-jalan.” Rion mengambil cup kopi miliknya dengan tangan kanan. Sedikit kesulitan karena lalu lintas ramai sekali siang ini.

Sret.

“Sudah, menyetir saja. Biar aku yang pegang. Aku belum ingin mati muda.” Membantu Rion dengan minumannya, Khansa menatap dalam wajah Rion yang entah ia sadar atau tidak.

“Thank you honey.” Rion mengusap rambut Khansa sebagai ucapan terima kasih. Jangan lupakan dengan senyum manisnya yang membuat Vano langsung jatuh cinta.

“Apa itu barusan?” Khansa berlagak akan muntah. Sepertinya pria dewasa ini salah makan tadi pagi. Atau mungkin ketempelan arwah rumah sakit? “Kakak tidak lelah? Bukannya kemarin shift malam? Kenapa kita tidak bersama Kak Arvin dan Vano saja tadi?” Khansa memborong semua pertanyaan yang otaknya pertanyakan.

“Tak masalah. Siapa yang tega menolak permintaan pangeran kecil kita?”

Pertanyaan simpel Rion membuat Khansa termenung diam. Pangeran kecil kita? Kenapa tidak Kaenan yang mengatakan itu? Kenapa harus orang lain? Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul di kepala Khansa. Membuat matanya berkaca-kaca siap untuk menangis.

Rion melirik heran. Memutuskan untuk menepikan mobilnya dan menatap Khansa yang bahkan masih belum sadar. Membawa ibu satu anak itu masuk kedalam pelukannya karena Rion tau. Pasti perkataan konyolnya tadi berefek besar pada Khansa.

“Sudah, tidak usah dipikirkan. Aku tau apa yang otak kecil ini pertanyakan sekarang.”

**

Arvin sedikit melongokan kepalanya untuk memastikan apa yang baru saja ia lihat. Iya, rencana awal memang ia dan Vano akan satu mobil berdua. Tapi karena ia mendadak malas untuk menyetir, ia dan Vano memilih untuk mengungsi menjadi penumpang di mobil Khriss.

Khriss dan Arvin saling tatap melalui kaca spion tengah. Tentu Khriss juga melihatnya. Ini berita bagus sebenarnya, hanya saja entah kenapa rasanya ini juga sulit. Khansa tidak mungkin menyukai Rion bukan? Lebih tepatnya menutup hati untuk semua laki-laki yang akan masuk kedalam hidupnya.

Entah untuk singgah atau untuk menetap.

“Daddy, setelah ini apa kita boleh membeli banyak makanan?” Vano mencolek bahu Khriss yang duduk tepat disebelahnya. Dira dipindahkan ke kursi tengah bersama Arvin. Lihat, sesayang apa mereka pada anak Khansa itu.

“Tentu saja boleh. Vano boleh membeli apapun, biar daddy yang akan membayarnya.” Mengusap kepala Vano, Khriss menyempatkan diri untuk mencubit kecil hidung mancung yang sungguh, Khriss familiar sekali dengan itu.

“Boleh kita makan berat dulu? Moma belum thempat tharapan tadi karena Vano sedikit membuat ulah.” Arvin dan Dira seketika langsung tertarik dengan cerita Vano.

“Ulah? Memang apa yang Vano lakukan?” Khriss masih dengan perannya sebagai wartawan dadakan.

“Vano tidak thengaja menyenggol tharapan moma hingga jatuh dan mangkoknya pecah. Vano thudah menawarkan untuk makan berdua, tapi moma tidak mau. Kata moma nanti Vano tidak kenyang.” Vano bercerita seakan itu adalah masalah terbesar yang ia hadapi seumur hidupnya. Bahkan seperti Vano berpikir jika Khansa tidak akan dapat menyelesaikan masalah sepele itu.

Dira dan Arvin tertawa kencang. Ini lucu!

Mendengar itu Vano langsung saja menoleh kebelakang dan mendapati dua orang dewasa itu sudah tertawa seperti setan gila yang tidak dapat dihentikan. Vano tidak terima tentu saja, ia sedih. Dan tentu yang lebih parah ia merasa bersalah sekarang.

“Daddy, bitha kita buang dua orang dewatha ini?”

**

“Sial, Dira! Apa yang kau lakukan? Ingin memerasku?” Khansa berseru tak terima. Ini gaun yang bahkan dia hanya akan mengenakan baju itu sekali seumur hidupnya, kenapa malah menembus 49 juta?!

Tiga pria dewasa dengan satu pria kecil hanya duduk diam di kursi tunggu memperhatikan mereka berdua seraya memakan ice cream. Dilerai juga tidak akan berpengaruh. Sama-sama kepala batu.

“Uang milikku banyak tidak perlu memeras uangmu.” Dira hampir saja menendang bokong Khansa jika tidak ingat jika wanita itu terkadang masih menggemaskan. Ekornya yang menggemaskan, bukan dia.

Vano tentu saja, menurut kalian siapa? Khansa?! Amit-amit.

“Untuk apa jika semahal ini. Ini juga akan aku kenakan sekali saja.” Khansa masih melanjutkan aksi protesnya. Lebih baik ia gunakan untuk keperluan Vano saja. Gila memang baju saja harganya hampir menembus harga dirinya.

“Protes terus seperti rakyat kau! Sudah diam saja.” Dira mengibas rambutnya tak peduli. Masih ingin melanjutkan protesnya mengenai gaun yang ia pesan kenapa bisa sempit seperti ini?! Apa Dira bertambah besar?

Khansa menatap Vano, meminta pertolongan. Tapi ternyata Vano mengkhianti dirinya. Dengan santai pria kecil itu menengadahkan tangannya pada Rion dan... tara. Kartu hitam Rion sudah keluar berada di dalam genggaman tangan Vano.

“Mathalah thelethai.”

**

Khansa memperhatikan Vano yang saat ini tengah berada di gendongan Rion. Mengapit erat kakinya pada leher Rion yang tak merasa terbebani oleh itu. Melihat itu Khansa merasa bersalah. Baik pada anaknya dan juga Rion.

Bagaimana jika ternyata Rion memiliki gadis incaran dan harus putus karena gadis itu salah paham dengan hubungan Vano dan Rion. Jika Khansa meminta anaknya untuk menjauhi Rion, ia yakin Vano pasti akan sedih.

Khansa merasa jika ia egois sekarang. Rion pasti punya kehidupan pribadi juga. Bukan hanya Rion. Arvin, Dira, dan juga Khriss pasti. Apa Khansa menjauh perlahan saja ya? Agar Vano juga terbiasa nantinya?

Duk.

Khansa berhenti sejenak. Mengelus dahinya yang mencium hangat punggung lebar Rion di depannya. “Aduh, sakit ih.” Khansa protes tak terima. Apa susah jika ingin berhenti memberi tanda dulu? Aba-aba misalnya?!

“Ingin berhenti memikirkan hal bodoh atau Vano yang akan aku bawa tinggal di rumahku dan kau tidak boleh bertemu dengannya?” Rion bertanya tenang, tapi Khansa tau jika suara seperti itu Rion tidak akan segan-segan untuk melakukan apa yang ia katakan barusan.

Memikirkan saja sudah membuat Khansa frustasi, bagaimana jika Rion memang benar-benar akan menjauhkan Vano dari hidupnya? Ibu kandung Vano ‘kan Khansa!

“JAHAT!” Khansa berteriak tak terima. Hampir saja menjambak kepala Rion jika Vano tidak segera datang dengan seember ice cream coklat dan vanila kesukaan mereka berdua. “Vanooo, Papa Rion Vano menyebalkan.” Khansa mengadu pada anaknya.

Memeluk Vano dengan erat seraya terisak pura-pura agar anaknya prihatin. Tapi kembali lagi, ini adalah Vano dan Rion. Dimana ada Rion maka Vano akan menjadi budak cinta setengah mati hanya untuk papanya itu.

“Moma ingin makan apa? Hari ini kita gunakan kartu Papa Rion. Kita mneghabiskan uang Papa Rion saja.” Vano menjilat ice cream yang memang sengaja ia beli dengan ukuran kecil agar yang besar bisa ia makan nanti.

“Vano, bukan itu topik masalahnya sayang.” Khansa lelah. Ia berjuang saat melahirkan, sayangnya keterlaluan malah pada Rion. Kenapa harus Rion? Khansa merasa salah saing.

Mendelik kesal pada Rion, Khansa langsung membawa Vano pergi dari sana. Menyisakan Rion seorang diri dengan segala kebingungan yang ia miliki. “Kita ada masalah apa ya kak? Atau kita saling kenal?” Rion bergumam pelan dengan kaki yang tetap mengikuti sepasang ibu dan anak itu.

“Menggemaskan sekali.”

**

“Dimana saudaraku, Upik abu?” Arvin bertanya pada Khansa yang baru saja datang dengan Vano di sebelahnya.

“Aku buang. Dia menyebalkan.” Tanpa pikir panjang, Khansa langsung saja duduk di sebelah Khriss dan meletakan Vano di sebelahnya kanannya.

Cup.

“Tidak boleh seperti itu lain kali pada calon suami, kay?” Rion dengan kurang ajarnya datang dan langsung mengecup puncak kepala Khansa yang mambatu saat itu juga.

Apa itu barusan? Yang akan menikah Khriss dengan Dira, kenapa yang tebar pesona malah Rion di sini? Apa dia cemburu Dira akan segera menikah? “Apa kau sebenarnya menyukai Dira ya?” Tuding Khansa seraya menunjuk batang hidung Rion.

Khriss yang awalnya santai saja langsung memicingkan mata tak terima. Ini baru praduuga, tapi tetap saja membuat hatinya panas. “Kau ingin aku cincang?”

Sementara keributan antara empat orang itu tetap berlanjut, Arvin dan Vano langsung angkat kaki memesan makanan dengan menggunakan kartu hitam yang tadi Rion berikan pada Vano. Sekalian saja bukan? Tidak akan habis seratus juta juga. Santai saja, Rion kaya raya.

“Ingin yang mahal dan enak?” Tanya Arvin.

“Yeth, Pleathe.”

**

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel