Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Ch.5 Drama Dua Bayi

Khansa menatap kosong pada pintu keluar yang baru saja terbuka. Menampilkan punggung tegap, langkah tegas, serta tinggi badan yang sudah Khansa hafal dari dulu. Postur tubuh itu benar-benar postur tubuh Kaenan.

“Apa mungkin Kaenan datang ke sini?” Khansa membathin dengan jantung yang kembali berdebar kencang. Debaran ini bukan lagi debaran yang Khansa sukai seperti dulu. Ini lebih seperti nada pengantar mimpi buruk untuknya.

Dan semoga mimpi buruk itu tidak benar-benar terjadi padanya, dan juga Vano.

“...Sha!”

“...Ansha!”

“Woi! Khansa! Kau tuli?!” Teriak Dira dengan emosi yang membabi-buta. Dira khawatir tentu saja! Jika Khansa meninggal di Cafenya tentu ia yang akan mendapat pertanyaan macam-macam dari bapak polisi yang terhormat. Oh, tentu Dira tidak akan mau!

“Ck! Apa?” Khansa mencoba merespon dengan santai walau nyatanya napas yang ia hembuskan mulai terlihat memburu.

“Kau kemasukan atau bagaimana?”

“Sudah aku katakan, selagi kau masih berada di dekatku, tidak akan ada yang berani memasukiku! Kau itu maung!”

Oke, Dira sabar. Jika bukan karena Vano. Pasti wanita bernama Khansa ini sudah tidak bernyawa dari beberapa jam yang lalu. Murka sekali Dira rasanya. “Banyak-banyaklah beramal sebelum aku mencabut nyawamu.”

Khansa hanya mengangguk tak peduli. Biar saja wanita tua yang akan menikah ini berbicara seenaknya. Umur tidak ada yang tau. Jika dia sudah tidak bernyawa nanti, Khriss bisa Khansa culik untuk menjadi miliknya bukan.

Hehe.

“Kapan kau akan mengurus persiapan pernikahanmu. Acaramu tinggal seminggu lagi, Pintar!” Khansa bertanya seraya mengelus rambut Vano yang sudah mulai tertidur di pangkuannya. Terlalu lelah berjalan-jalan dengan Rion, mungkin?

“Hampir saja aku lupa. Mulai besok Cafe aku titip padamu. Dan ini undangan untuk kalian. Jangan lupa membawa kado yang besar.” Dira memberikan dua buah undangan yang sudah tertera nama Khansa dan Rion di atasnya.

“Arvin biar aku berikan nanti.”

Sip, dulu Khansa pernah berharap untuk dapat membuat undangan seperti ini. Tentunya dengan namanya dan juga nama Kaenan di atasnya. Itu dulu! Sebelum Kaenan mendepaknya dari kisah cinta mereka berdua.

“Tak masalah. Dan lagi aku lebih bisa menculik Vano untuk diriku sendiri. Ehe.” Sudah terbayang bagaimana hari-hari tenangnya dengan sang buah hati jika itu memang benar-benar terjadi. Pasti dunia rasanya damai sekali.

“Jangan senang dulu kau! Vano akan aku bawa sekalian berjalan-jalan bersama.” Dira tersenyum manis saat melihat wajah tak terima milik Khansa. Sungguh bagus sekali timing yang Dira ambil untuk menghancurkan angan-angan sederhananya.

“Tidak! Cuckup Kak Rion saja yang sudah menculik anakku.” Tolak Khansa. Dia tidak ingin berjauhan lagi dengan anak tampannya yang satu ini. Khansa berasa hidup enggan mati pun segan.

“Itu tidak ad-”

“Tidak adil mana denganku? Aku yang berjuang melahirkan malah kalian yang menculik anakku.” Lirih Khansa dengan bibir yang mengerucut kesal. “Lebih tidak adil mana dengan aku berjuang untuk hidup dan mati anakku, tapi keluarnya malah lebih mirip dengan ayahnya yang bajingan itu?”

Rion dan Dira terdiam kaku, benar juga. Dari sekujur tubuh Vano yang mirip dengan Khansa hanya segelintir kecil bagian saja. Jika Vano tumbuh sedikit lebih besar, maka mereka yakin mereka bisa menemukan ayah kandung dari Vano.

“Benar. Bagian mana yang Vano ambil dari dirimu? Aku rasa tidak ada. Uwahaha.” Olok Dira tanpa rasa kasihan. Tidak tau apa jika mama muda ini tengah merasa gundah? Kurang ajar memang!

“Akan aku hancurkan Cafe ini besok.” Sungut Khansa.

“Tak masalah, ada Khriss yang akan dengan suka rela membangun ulang gedung ini untukku.”

**

“Moma.”

“Moma.”

“Moma.”

Vano meribut dari kursi meja makan, memperhatikan sang moma yang tengah memasak makan malam untuk mereka berdua. Sesekali terkekeh kecil saat wanita kebanggaannya itu mendengus kesal dan mengancam akan melempar spatula padanya.

“Moma, Vano thayang moma.”

Khansa terkekeh kecil, meninggalkan penggorengannya dan menubruk Vano dengan pelukan eratnya. Sungguh Khansa gemas sekali dengan anak tunggal semata wayangnya ini. “Moma lebih menyayangi Vano. Sangat menyayangi Vano malah.”

“Moma, mathih lama? Vano kelaparan. Ehe.” Vano tidak ingin mati kehabisan napas karena pelukan ibunya, mengerti? Khansa itu jika sudah memeluknya bisa membuat Vano hampir kehilangan nyawa saat itu juga.

“Besok tidak usah ikut dengan Dira ya? Bersama moma saja. Dira menyebalkan, nanti di jual ke pasar gelap oleh si rubah satu itu.” Khansa mencoba menghasut Vano. Berharap jika otak anaknya akan menerima dan setuju dengan bujuk rayunya yang sudah terlatih ini.

Meski sudah terlatih tapi anehnya kenapa ia masih juga dibuang ya?

“Mommy tidak akan sekejam itu pada Vano.” Dan ya, jawaban Vano membuat angan-angan Khansa langsung lenyap ditelan pahitnya kehidupan.

Menatap anaknya penuh harap, Khansa merasa terkhianati. “Moma sedih Vano.” Bersungut tak terima, Khansa membuang muka. Lebih memilih untuk kembali melanjutkan membuat ayam mentega miliknya yang memang kesukaan Vano dan juga... Kaenan.

Ah, si bajingan itu lagi.

“Atau moma ikut saja besok. Ajak Papa Rion dan Papa Arvin juga. Ah apa kita juga akan mencari baju, Moma?’ Vano bertanya antusias. Bahkan si kecil sudah langsung memanjat kursi meja makan karena terlalu bersemangat.

Khansa mengangguk pelan, benar juga. Ia dan Vano tentu harus mencari pakaian juga. Khansa tidak semiskin itu ngomong-ngomong. Dira memberinya uang lebih sebagai bayaran dan tabungan penuh atas nama Vano. Anaknya kaya raya sekarang.

“Tentu kita juga harus mencari baju. Anak moma harus terlihat tampan. Benar?!” Menunjuk Vano dengan spatulanya, Khansa menunggu jawaban Vano yang harusnya juga antusias.

“Iya! Papa Rion juga tampan, jadi Vano tidak boleh kalah tampan.” Jawaban sialan. Kenapa harus berlayar pada perkataan Papa Rion? Khansa sudah yakin jika Arvin yang meracuni otak anaknya ini.

“Kenapa Papa Rion? Kenapa tidak Khriss Daddy atau Papa Arvin?”

Tuk.

Menaruh hasil masakan di atas meja, Khansa mulai mengambil nasi dan lauknya untuk diri sendiri tentu saja. Vano sudah besar jadi tidak perlu ia ambilkan lagi. Vano juga tidak terima jika terus-terusan dimanja oleh dirinya.

“Hanya Papa Rion yang tampan. Papa Arvin juga tampan, tapi kadang menyebalkan. Vano malath. Khrithth daddy thebentar lagi akan menikah, jadi tidak mungkin dengan moma.” Uraian panjang yang sungguh mampu membuat hati Khansa tertohok pedih. Sakit sekali teman-teman. Mulut anaknya tajam sekali.

Tersenyum manis, Khansa mencoba untuk bersikap ramah. Menunjuk Vano dengan garpunya yang tersangkut sosis. Khansa menggeleng dramatis, “jatah sosis Vano moma potong hingga minggu depan.”

Vano menganga tak percaya, sosis yang baru saja masuk kedalam mulutnya terjatuh kembali keatas piring. Kembali menunjuk Khansa dengan garpunya disertai tatapan tak percaya yang tersakiti, Vano menggeleng lebih dramatis. Meremat dada kirinya, “thungguh kejam ibu tiri ini.”

**

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel