Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Ch.4 Bertemu Kembali

“Khansa! Kau gadai pada siapa anakmu, hah?” Dira bersungut-sungut saat hampir sudah setengah hari ini ia belum memeluk Vano walau sekali pun. Dan itu membuat Dira stres! Pria kecil itu biasanya akan berkeliaran di sudut-sudut Cafe hingga para pengunjung memekik gemas.

“Aish! Dia bersama papanya! Biarkan saja!” Khansa balas bersungut kesal. Dira yang statusnya hanya orang luar saja bisa sebegitu frustasi karena belum melihat Vano. Apa kabar dengan Kkhansa yang mengandungnya selama sembilan bulan? Membawanya kemana-mana? Berjuang untuk melahirkannya? Sudah hampir mati Khansa karena merindukan pria kecilnya itu.

“Papanya yang mana?” Dira dengan lesu menghitung lembar-lembar uang yang baru saja pengunjung bayar padanya. Efek Vano memang luar biasa!

“Papa Rionnya tentu saja!” Khansa jika mengingat itu benar-benar kesal jadinya, Rion benar-benar harus segera Khansa depak sejauhnya. Vano terlalu menempel pada pria itu.

“Aku akan mencincang kepalanya nanti! Lihat saja!” Amuk Dira dengan berapi-api. Itu adalah harga terendah bagi Rion karena sudah berani menculik Vano darinya.

“Vano kemana? Aku rindu.”

“Cafe sunyi sekali rasanya.”

“Ugh, aku akan mati muda jika belum juga melihat senyum Vano.”

Khansa memutar malas bola matanya, terdengar berlebihan memang. Tapi Khansa juga merasakan hal yang sama. Tenang saja. “Dampak Vano besar sekali pada Cafe ini.” Gumam Khansa pada bunga mawar yang baru saja ia ganti tadi pagi.

“Jika Rion mengajakmu menikah bagaimana?” Pertanyaan random itu sukses membuat Khansa membeku. Dira ini tidak ada otak atau bagaimana?!

“Omong kosong macam itu, Sialan!” Maki Khansa tak tanggung-tanggung. Yang benar saja!

“Hei, kau perhatikan coba. Vano hanya menurut dan paling menurut pada Rion. Jadi wajar saja jika Rion berniat mengajakmu menikah dalam waktu dekat, hati Vano sudah dapat, mendapatkan hatimu tentu mudah.”

Khansa terdiam, tidak salah memang. Tapi tidak benar juga. Ia kira masalah hati ini hanya sebatas mencampurkan garam dan gula dalam satu wadah? Lalu beri sedikit perasan air lemon dan tadaaa, celupkan ikannya. Hell no! Konyol memang! “Bermimpi saja kau, Maung.”

Dira tersenyum kecil, mencoba menahan emosi dan mencoba menahan tangannya agar tidak melempar Khansa dengan botol air mineral di sebelahnya. “Harus sabar, aku harus sabar. Jangan biarkan amarah ini meledak dan menimbulkan kerutan di wajah. Seminggu lagi aku akan menikah.” Gumam Dira dengan tangan yang mengelus dada.

“Dadamu kecil, besarkan sedikit lagi coba.”

“YAK! SIALAN!” Hehe, gagal ternyata.

**

“Ingin makan siang bersama, Tuan Khriss?”

Khriss tentu saja mengangguk dengan senyum kecil penuh wibawa. “Di Cafe milik tunanganku bagimana?” Mana tau setelah membawa selusin pria berdompet tebal masuk ke dalam Cafenya, Dira akan memberinya hadiah bukan? Tidak usah muluk-muluk, kecupan di pipi saja sudah cukup.

“Tidak masalah, kita jalan sekarang?”

“Tentu.”

“Aku tau apa yang ada di dalam otakmu itu.” Bisik Kaenan kesal. Mau bagaimanapun, perusahaan yang saat ini berada di bawah kuasanya menjalin kerja sama dengan Khriss, jadi ya begitu. Ia harus ikut rapat singkat basa-basi ini.

“Sudah diam, kau ikut saja.” Menjepit kuat leher Kaenan dengan lengannya hingga pria itu mendesis kesal. Tentu saja! Jalur masuk udara dalam paru-parunya terhambat.

**

Ting.

“Selamat datang.”

Dira yang tengah duduk di belakang meja kasir dengan ponsel di tangannya tentu saja tak begitu peduli pada siapa saja yang datang. Yang jelas siapa yang mau keluar harus melewati mejanya ini dulu untuk membayar.

“Meja untuk sembilan orang.”

“Tentu, silahkan ke sebelah sini, Tuan.”

Masih sama, Dira sibuk dengan ponselnya. Mengumpati Rion yang katanya sebentar lagi akan menapakan kaki di Cafe, tapi bahkan setelah sepuluh menit berlalu pria itu masih saja belum sampai. Pesannya juga tak di balas! Bagaimana Dira tidak kesal?!

“Mati kau di tanganku, Rion!”

Plak.

“Kau dulu yang akan mati! Itu calon suamimu, mantan calon suamiku datang, Pintar!” Sungut Khansa setelah menggeplak kepala Dira cukup keras. Bodoh sekali pemilik Cafe yang satu ini.

“Mana?” Dira menatap Khansa tanpa tatapan kemusuhan kali ini. Mungkin saja Khriss memang datang bukan?

“Di sana. Tapi sebelum kau pergi, beri dulu uang padaku. Ada beberapa bahan yang harus aku beli.”

Dira hanya mengeryit heran, uang? Sungguh? Membeli apa? “Membeli apa kau?” Desis Dira. Bukannya tak percaya, hanya saja ya... di saat ada banyak pria tampan yang datang, ibu muda itu selalu mencari alasan untuk bisa keluar dari Cafe.

“Membeli apa pun asal kau tidak akan bisa menggadaiku lagi pada kenalanmu.” Sungut Khansa lalu berlalu begitu saja menuju pintu keluar. Lebih baik ia pergi sebelum Khriss memanggil namanya.

“Berapa lama lagi Vano akan datang?!” Teriak Dira tanpa tau malu. Khriss juga pasti akan maklum saja itu.

“Telfon papanya!”

Dira mendengus lalu beranjak menuju meja tempat Khriss berada. Tersenyum kecil lalu membungkuk singkat sebagai ganti ucapan selamat datang.

“Vano mana?” Khriss melarikan matanya pada seluruh sudut Cafe dan tetap, tidak ada Vano di dalam sini. Apa putranya itu sedang keluar?

“Papanya menculiknya.” Dira mendudukan dirinya di sebelah Khriss lalu tersenyum sinis pada adik sepupu Khriss, sebut saja namanya Kaenan. Entah kenapa, setiap melihat wajah Kaenan, Dira rasanya ingin membunuh pria satu itu saja.

“Khansa?” Dan lagi, kemana pula ibu muda itu?

“Membeli bahan makanan yang sungguh bukan aku yang menyuruhnya.”

**

Kaenan hampir saja mati jantungan saat Khriss dengan santainya menyebut nama Khansa di depannya. Entah kenapa jantung Kaenan rasanya berdetak tak karuan, memang yang bernama Khansa itu bukan berarti hanya nama mantan kekasihnya saja, tapi tetap efek yang timbul pada jantung Kaenan selalu seperti dulu.

Berdebar-debar.

Ting.

Pintu yang terbuka itu mengalihkan semua atensi penghuni Cafe, Kaenan salah satunya. Terlebih saat melihat seorang anak kecil yang berlari dengan semangat menuju meja yang saat ini ia tempati.

“Daddy.”

Bruk.

“Jalan-jalan?”

“Iya, Papa membelikan banyak ithe thream.”

Kaenan menatap dalam pada bocah yang baru saja menubruk Khriss dengan pelukan eratnya. Entah kenapa wajah itu terasa sangat familiar di matanya. Sangat!

“Daddy thudah makan?”

“Sedang menunggu pesanan. Vano sudah makan?”

Okey, Kaenan bisa menangkap jika pria kecil itu bernama Vano. Tapi, kenapa malah memanggil Khriss dengan sebutan daddy? Apa Dira itu janda? Tapi setau Kaenan, gadis itu belum pernah melahirkan.

“Thudah, daddy makan yang banyak. Vano mau bermain dulu dengan papa.” Kaki kecil itu turun dari pangkuan Khriss dan melewati Kaenan begitu saja.

Tidak.

Sempat melirik Kaenan lebih tepatnya, dan jujur saja itu sukses membuat jantung Kaenan kembali berdebar tak karuan. Ini bukan berarti jika Kaenan gay bukan? Terlebih pada anak kecil?! Apa iya Kaenan pedofil?!

“Khriss, itu bukan anakmu dengan Dira atau dengan gadis lain bukan?” Pertanyaan Kaenan sukses membuat Dira naik darah. Hampir saja sebuah mangkuk kecil mendarat manis di kepala Kaenan jika Khriss tidak menahannya.

“Bukan, tapi memang itu anakku.” Jawaban macam apa ini sebenarnya? Otak pintar Kaenan tidak bisa menangkap maksudnya.

Melihat raut bingung dari Kaenan tentu saja membuat Khriss terkekeh singkat. Memang ya, manusia yang jarang mengeluarkan ekspresi wajah sekalinya keluar malah wajah penuh kebodohan. “Sudah, rahasiaku terlalu besar untuk manusia macam dirimu.”

“Nikmati pesanan kalian, maaf tidak bisa menemani. Aku sibuk, sekian. Terima kasih.”

Khriss terkekeh singkat, untung para koleganya ini tidak terlalu ambil pusing dengan tingkah Dira yang sungguh tidak berakhlak. Dan untungnya mereka sudah sangat terbiasa dengan Dira yang suka seenaknya.

“Wajahnya terasa tidak asing.” Bisik Kaenan.

**

Dira, Rion, dan Vano tentu saja tengah duduk manis di belakang meja kasir. Iya, yang jaga kasir sekarang mereka bertiga. Dengan Vano yang berperan penting sebagai bendahara, Dira sebagai asisten satu, dan Rion sebagai asisten dua.

“Mommy, Moma Vano kenapa tidak terlihat?” Vano menatap Dira yang tengah memotong buah untuknya. Perlu cacatan bahwa selama ada Dira dan dua papanya yang lain, maka kesejahteraan perut Vano akan terjamin dengan sebaik-baiknya.

“Pergi membeli sesuatu sebentar, kenapa?” Dira memberikan mangkuk kecil beserta garpu buah tepat di hadapan Vano. Menyisakan sampah-sampah kulitnya untuk Rion makan atau untuk sekedar pria itu bereskan.

“Tidak ada, Vano hanya rindu.”

Okey, Khansa yang mendapat titipan rindu, tapi Dira yang merasa berdebar tak karuan. Sungguh efeknya luar biasa sekali. “Say-”

“VANO SAYANGKU!”

“CINTAKU!”

“BUNGA MATAHARIKU!”

“AKU RINDU!”

Dira memejamkan matanya sesaat, baru saja ia akan bermesra-mesraan dengan Vano berdua, para budak cinta yang lain malah sudah datang. Apa harus Dira mengusir karyawannya ini? Mengganggu saja!

“Minta pel-”

“Kembali pada tugas kalian masing-masing. Cafe masih ramai.” Okey, Dira sepertinya memang benar-benar berniat untuk menjauhkan Vano dari karyawannya selama satu hari ini.

“Tap-”

“Kemb-”

Ting.

“MOMAAAA.”

“Yaaah.” Dira dan yang lainnya langsung mendengus lesu, jika sudah ada Khansa jelas saja mereka semua akan terasingkan. Mereka punya hak apa jika itu sudah berhadapan dengan Khansa?

Hanya butiran debu mereka itu.

“Bagaimana jalan-jalannya?” Khansa mendekati Vano dana memeluk malaikat kesayangannya itu. Mencium seluruh wajah Vano hingga si kecil tertawa geli lalu kembali memeluknya. Sungguh, Khansa benar-benar merindukan anaknya ini.

“Theru, Papa Rion membelikan banyak ithe theam.”

Rion menelan kasar air liurnya seraya menatap kesembarang arah, asal jangan menatap Khansa saja intinya. Wanita itu terlihat menyeramkan sekarang. “Kita telah sepakat untuk tidak membicarakan hal itu, Sayang.” Tegur Rion dengan lirikan mata yang tertuju pada Vano.

“Upth, maafkan Vano, Pa. Vano lupa, hehe.” Cengiran seperti itu bagaimana bisa Rion untuk marah? Belum lagi mata bulan sabit yang menggoda Rion untuk segera ia cium.

Menghela kecil, Rion membuang muka. “Besok jangan mengajak papa untuk jalan-jalan lagi. Papa tidak mau.” Ancaman yang sungguh kekanakan sekali bagi Vano. Jangan berharap jika pria kecil itu akan takut. Malah, ia tertawa keras bersama momanya sekarang.

“Tidak mathalah, Papa Arvin dan Daddy Khrithth mathih ada.”

Siiip! Hati Rion official sakit sekarang.

**

Kaenan sedari tadi memperhatikan bocah kecil yang berhasil menarik perhatiannya. Entah kenapa rasanya Kaenan seperti berkaca. Wajah itu, mata itu, bibir itu, dan rahang itu seperti miliknya. Belum lagi dengan tatapan tajamnya.

Dan satu lagi, wanita dengan rambut di bawah bahu itu juga menarik perhatian Kaenan. Sayang, orang-orang di sana menghalangi Kaenan untuk mengintip sedikit siapa sosok yang juga terasa familiar baginya itu.

“Tidak mungkin itu dia bukan? Dunia benar-benar sempit jika memang iya.” Gumam Kaenan seraya mengaduk-ngaduk Coffe latte miliknya.

Diam.

Pikiran Kaenan melayang kembali pada lima tahun yang lalu. Saat ia dengan santainya mengusir kekasihnya dan menghinanya murahan secara tidak langsung. Kaenan tentu jelas tau jika yang tengah Khansa bawa dalam perutnya itu adalah buah dari benih yang ia tanam sebelumnya. Hanya saja, dengan keadaannya yang saat itu tengah menghadapi banyak masalah, ia tidak sadar malah mengusir pujaannya hatinya.

Awalnya Kaenan berpikir jika Khansa akan kembali ke rumah mereka paling lambat besok harinya. Tapi tiga hari berlalu, satu minggu sudah terlewati dan gadis itu tak juga muncul menampakan wajah kecilnya. Kaenan sedikit panik tentu saja. Tapi kembali lagi pada egonya yang sebesar bumi, Kaenan membiarkan masalah itu tanpa berniat menyelesaikannya.

Membiarkan Khansa yang akan merangkak sendiri kembali padanya. Memohon tempat berteduh untuk dirinya sendiri dan si bayi.

Iya, harapan Kaenan tentu saja itu. Tapi, lihat sekarang! Gadis itu bahkan tak Kaenan ketahui rimbanya sekarang. Dan juga anak mereka, apa Khansa benar-benar menggugurkannya atu malah merawatnya seorang diri.

Sungguh, Kaenan tidak tau sama sekali

Bukan karena orang-orangnya yang tidak becus mencari informasi, masalah terbesarnya di sini adalah Kaenan itu sendiri yang tidak berkeinginan untuk mencari keberadaan si mungil.

Brengsek memang!

Mengenang kembali masa lalunya, Kaenan sudah kehilangan selera makannya. Sungguh menguras banyak energi sekali mengenang mantan ya.

Sret.

“Aku duluan. Terima kasih makan siangnya.” Membungkuk singkat, Kaenan berlalu menuju pintu keluar dengan tangan yang memegang ponsel. Ada panggilan masuk dari gadisnya ternyata.

“Akan aku jemput, tunggu di sana.”

**

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel