Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Ch.3 Dimana Popa

“Momaaaa.”

Baru saja Khansa membuka pintu, suara teriakan Vano sudah menggema memenuhi apartement tempat tinggal mereka berdua. Memeluk tubuh Khansa, Vano mulai mencium kedua pipi Khansa dan terkekeh pelan saat Khansa hanya menggesekan kedua hidung mancung mereka.

“Kami sudah mengembalikan malaikat kecilmu, kami balik dulu. Bye.” Dira menguak rambut Vano dan tersenyum saat si kecil melambai bahagia padanya.

“Terima kathih, Mom, Dad.”

“Byee.”

Ceklek.

Blam.

Menutup pintu, Khansa membimbing Vano untuk menuju ruang tamu dan mendudukannya di sana. Sudah ada beberapa kantong oleh-oleh yang diberikan oleh Dira dan Khriss tadi. Katanya sebagai permintaan maaf karena sudah menculik Vano sore tadi.

“Bagaimana jalan-jalan tadi?” Tanya Khansa seraya mengusap pelan surai putranya.

Vano menatap Khansa dan memeluk erat leher momanya, terkekeh pelan lalu mencium pipi Khansa, lagi. Khansa heran, apa yang terjadi dengan anaknya ini? Apa tadi Dira memberikannya makanan yang salah? Kenapa Vano terkesan ingin bercerita, tapi ragu begitu?

“Moma, Vano boleh bertanya thethuatu?” Tanya Vano seraya merebahkan dirinya di atas sofa dengan menjadikan paha Khansa sebagai bantalan empuknya, Vano menatap tepat pada kedua mata Khansa.

“Boleh, tentu saja.” Balas Khansa seraya mengusap surai legam putra tunggalnya.

“Apa Vano tidak punya popa?” Pertanyaan polos Vano membuat jantung Khansa berdetak tak karuan. Ini sakit, selama lima tahun Vano bersamanya, ini adalah pertanyaan kedua yang Vano lontarkan tentang ayahnya.

“Tentu saja Vano punya, kenapa, hm?” Kini giliran Khansa yang bertanya. Kenapa tiba-tiba?

“Vano hanya ingin tau. Kenapa thelama ini Vano tidak pernah melihat popa? Apa moma juga tidak punya fotonya?”

Hati Khansa mencelos sakit, Khansa tidak punya. Ia meninggalkan semua barang pemberian Kaenan di apartement pria itu. Meninggalkan semua kenangan yang ia buat bersama Kaenan tanpa membawanya barang sedikit pun.

“Maafkan moma, moma tidak punya.” Menahan air mata yang kapan saja bisa terlepas dari matanya, Khansa mengusap sayang kepala Vano. Selama lima tahun ini, ia bertahan, mencoba kuat untuk malaikat kecil tak bersalah miliknya. Melewati semuanya seorang diri, merawat Vano, mengajaknya bicara, mengajarinya cara berjalan, dan cara bagaimana menggunakan sendok. Semua Khansa tahan seorang diri, berharap agar Vano tidak merasa kekurangan apa pun.

Tapi sayang, Khansa terlalu bodoh untuk anaknya yang jenius sebelum waktunya. Bagaimanapun juga, Vano tentu memerlukan sosok ayahnya yang selama ini tak pernah muncul di depan matanya. Mencari sosok pria yang tak pernah memberinya kado ulang tahun apa pun selama hampir lima tahun hidupnya.

Vano mengangguk mengerti, dengan mata berkaca-kaca Vano memeluk erat leher momanya. Sedih, entah kenapa Vano merasa sedih saja. Ia merasa jika ada sesuatu yang tidak beres dengan keluarga kecilnya. Ia merasa momanya tidak baik-baik saja saat ia bertanya tentang popa yang memang selama ini ia cari-cari.

“Tidak apa, Vano baik-baik thaja tanpa popa. Moma thudah cukup untuk Vano.”

Vano memang berkata seperti itu, tapi Khansa bisa merasakan bahu anaknya yang bergetar pelan menahan tangis. Berusaha kuat agar momanya tidak lebih sedih dari ini dan Khansa merasa jika ia benar-benar sudah gagal menjadi orang tua tunggal untuk Vano.

“Vano sudah makan malam?” Khansa berusaha mengalihkan topik yang membuat atmosfer mereka mengharu-biru seperti ini.

“Thudah, moma ayo gothok gigi dan cuci kaki. Vano mengantuk.” Menarik kecil tangan ibunya yang hanya mengangguk pelan, Vano membawa Khansa menuju kamar mereka dan memilih piyamanya sendiri untuk ia kenakan.

Khansa benar-benar mendidik Vano dengan benar, membuat anak itu mengerti dengan keadaan dan mulai belajar hal-hal kecil agar tak merepotkan ibunya yang memang sudah sibuk itu.

Sibuk mencari uang untuk biaya hidup mereka, sibuk membuat Vano bahagia, dan sibuk menyembunyikan lukanya seorang diri.

**

Ini sudah tengah malam dan Khansa belum luga bisa masuk kedalam alam mimpinya. Matanya masih sibuk menatap wajah terlelap anaknya yang benar-benar mirip dengan seseorang. Jiplakan sekali.

Rasanya sungguh tidak adil, pria itu hanya menyumbang benih. Sedangkan yang membawa kemana-mana selama sembulan bulan lebih itu Khansa, yang merawat dengan sepenuh hati itu Khansa, dan kenapa cetakannya malah lebih mirip pria itu dibandingkan dengan Khansa?

Kenapa Tuhan tidak adil sekali?

Mengusap pelan wajah Vano yang berada tepat di depan wajahnya, Khansa tersenyum tipis. Putranya memang tumbuh menjadi pria kecil kebanggaannya. Manis, mata tajam, bibir tipis, rahang tegas, dan kulit seputih susu itu benar-benar salinan dari Kaenan.

Jujur saja, setiap Khansa menyebut nama itu walau hanya di dalam hatinya. Letupan meyenangkan itu tetap ada, rasanya menyenangkan seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya. Tapi untuk sekarang tentu saja ada rasa sakit juga yang Khansa rasakan. Rasa sakit karena penolakan waktu itu tentu saja berbekas.

Mengingat bagaimana wajah angkuh Kaenan saat menyuruhnya untuk membunuh Vano benar-benar masih terekam jelas di benak Khansa. Yang membuat Khansa takut sekarang adalah bagaimana jika suatu saat nanti Kaenan datang dan meminta Vano padanya?

Khansa tentu saja bisa menolaknya, tapi manusia berkuasa penuh harta seperti Kaenan pasti akan tetap mengambil Vano darinya. Jika itu benar-benar terjadi, Khansa rasanya lebih baik mati saja. Alasannya untuk tetap bertahan hingga saat ini tentu saja karena Vano yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Saat Vano pergi, alasan apa lagi yang harus Khansa gunakan untuk tetap menetap di dunia yang sudah kotor ini?

Tidak ada.

“Jangan tinggalkan moma, okey? Moma mohon.”

**

Ting tong...

Ting tong...

Rasanya baru beberapa menit yang lalu Khansa memasuki dunia mimpinya dan sekarang manusia mana yang dengan kurang ajarnya malah membunyikan bel apartemen?

Ting tong...

Ting tong...

Mengerang kesal, Khansa bangkit dari atas tempat tidur dan melirik ke samping. Vano sudah hilang tertelan pintu. Pasti anaknya itu tengah menonton kartun kucing dan tikus yang jika bertemu dipastikan akan ada adegan baku hantam.

“Vano, sudah moma katakan. Jangan terlalu sering menonton kartun, kau bisa bodoh seperti Papa Arvin kesayanganmu itu nanti.” Khansa bergumam dengan wajah yang masih tertekuk. Jujur saja ia masih ingin tidur.

Ceklek.

“Kau tidak bekerja, Mama muda?” Rion datang dengan wajahnya yang super tampan di pagi hari. Kemasukan setan mana manusia satu ini?

“Pertanyaan yang sama. Kak Rion tidak bekerja?” Khansa membuka makin lebar pintu rumahnya. Membiarkan Rion masuk dan menemani anaknya selagi ia memasak sarapan di dapur.

“Hari ini pertukaran jadwal, seseorang meminta padaku untuk jaga malam.” Duduk di sebelah Vano, Rion mengusap kepala si kecil dan di balas dengan senyuman lebar oleh kesayangan Khansa yang satu itu.

Khansa melirik dua pria berbeda usia itu lalu mulai mengeluarkan beberapa bahan masakan. Anaknya masih dalam masa pertumbuhan dan Khansa harus memastikan bahwa nilai gizi anaknya tercukupi. Lebih dari cukup juga tak masalah. Asal jangan terlalu berlebihan saja.

“Papa, apa nanti kita jadi jalan-jalan?” Vano menatap Rion yang saat ini tengah memangkunya.

“Jagoan papa ingin pergi ke tempat seperti apa?” Rion mencium kepala Vano sekilas lalu kembali fokus pada serial kartun mereka. Sesekali berkomentar agar Vano tidak meniru tingkah kurang ajar si kucing. Rion tidak rela jika anaknya harus mendapat kontaminasi keburukan sifat manusia penuh dosa yang tak sadar jika ia berdosa.

Terdiam sebentar, Vano melirik pada sang moma yang sepertinya sudah mulai sibuk dengan dunia dapur miliknya. Dan lagi Vano niatnya juga akan berbisik, jadi tak apa. Momanya juga tidak akan bisa dengar. “Kita tunggu moma pergi dulu, okey?”

Alis Rion tertukik heran. Menunggu Khansa pergi? Kenapa harus menunggu Khansa pergi dulu? Apa ini sesuatu yang bersifat rahasia? Dan lagi, tumben sekali Vano ingin bermain rahasia-rahasiaan dengan si moma.

“Okey.” Rion memilih untuk mengangguk saja. Mungkin memang ada sesuatu yang ingin anaknya katakan.

“Berhenti berbisik dan segera angkat kaki untuk makan ke sini.” Khansa mulai menaruh nasi, beberapa potong ayam, telur gulung, dan sayur yang pastinya akan membuat Vano merengut sebal.

“Moma, Vano tidak menemani moma ke Cafe tidak apa?” Vano menunggu Khansa yang tengah membuat susu untuknya. Rada berat juga membiarkan momanya pergi sendiri.

“Eh? Vano ingin tinggal di rumah saja?” Khansa duduk di sebelah Vano dan mulai mengambilkan makanan untuk anaknya. Menatap Vano yang sedikit terlihat merasa bersalah, mungkin?

“Vano ingin pergi berthama Papa Rion.”

Menatap Rion yang hanya tersenyum kecil, Khansa memicingkan matanya. “Kak Rion tidak bekerja?” Umur memang sudah menua ini, jadi wajar jika ia tiba-tiba amnesia.

“Di pintu masuk sudah papa katakan jika papa shift malam, moma tidak ingat?” Rion menatap Khansa dengan alis yang naik-turun lalu tertawa kecil.

Merengut kesal, Khansa mulai mengambil piring Rion dan mengisinya dengan berbagai makanan yang memang sudah Khansa buat sebelumnya. Dia kesal jika Rion sudah mulai membercandainya seperti tadi. “Pulang jam berapa?”

“Pulang kerja tentu saja pag-”

“Pulang jalan-jalan! Vano, tolong tahan moma. Moma kesal dengan Papa Rion Vano ini.” Adu Khansa dengan menunjuk kecil Rion yang duduk di depannya. Vano peduli? Tentu tidak. Ayamnya lebih menggoda.

Wajah Khansa berubah datar. Ini tidak ada manusia yang ingin berkongsi dengannya? Kenapa kejam sekali sih?

Sret.

“Sebelum matahari terbenam Vano sudah akan kembali padamu.” Mengusak rambut Khansa. Rion kembali dengan senyum teduhnya. Sungguh, jika seperti ini terus Khansa bisa-bisa jatuh cinta juga pada si dokter muda satu ini.

Hening.

Khansa mulai merasa ada sesuatu yang aneh, merasa jika sebentar lagi akan terjadi sesuatu? Tapi itu bukan sesuatu yang bisa Khansa atasi.

“Moma?”

“Eh? Okey, tapi janji Vano tidak akan jauh-jauh dari papa. Bagaimana?”

“Bukan mathalah bethar.”

**

“Hati-hati.” Khansa keluar dari mobil Rion setelah mencium kepala Vano. Melambai singkat dengan senyum hangatnya seperti biasa.

“Moma, themangat! Nanti Vano jemput pulang. Key.”

Tersenyum, Khansa mengangguk semangat. Setelah mobil Rion menjauh, Khansa mulai melarikan tangan kanan pada jantungnya yang berdetak tak karuan. Perasaan yang mengganggunya sedari tadi benar-benar membuat jantungnya berdetak tak karuan. Ini bukan sesuatu yang baik.

“Semoga semua akan baik-baik saja.”

Ting.

“Mana Vano?”

**

“Papa, choco vanilla.”

Dan di sini mereka berdua sekarang, di kedai ice cream langganan Rion. Mengangguk pelan, Rion mengikuti Vano dengan matanya. Memastikan tempat duduk mana yang anaknya itu tempati.

“Choco vanilla, Choco mint, dan Rainbow cake ini satu.” Mengeluarkan kartu kreditnya, Rion berbalik untuk memastikan Vano yang tengah duduk tenang dengan tangan melambai padanya. Anak Khansa ini memang sesuatu sekali.

“Pesanan Anda, Tuan.”

“Terima kasih.”

Tap.

Meletakan pesanan mereka di atas meja, Rion memberikan mangkuk milik Vano dan tentu saja tanpa basa-basi langsung masuk ke dalam mulut Vano tanpa butuh waktu lama.

Rion tersenyum, kali ini bukan senyum lebar, bukan juga senyum tipis penuh kehangatan, tapi lebih pada senyum miris. Entah kenapa rasanya hati Rion penuh dengan luka sekarang. Terlebih saat melihat senyum lebar Vano dengan mata berlapis selaput tipis air mata.

Dari yang awalnya ia duduk di depan Vano, kini pria dewasa itu berpindah duduk ke sebelah Vano. Membawa pria kecilnya masuk ke dalam pelukan yang memang selama ini menjadi salah satu pelukan terbaik bagi Vano.

“Hks.”

Mengusap pelan punggung serta kepala Vano, Rion berbisik dengan kata-kata penenang yang ia punya. “Tak apa.”

Bahu kecil itu terus bergetar dengan sesekali isakan yang ikut terdengar, memeluk pelan pinggang Rion, Vano masih sesenggukan di sana. Duduk nyaman di pangkuan sosok yang selama ini ia panggil papa.

“Hks, Papa.”

“Hm? Jagoan papa sakit?”

Rion mengusap wajah sembab Vano yang saat ini tengah mendongak melihat padanya, mencium sekilas dahi si kecil sebelum Rion kembali memeluknya erat. Rasa-rasanya pagi tadi bahkan sebelum berpisah dengan momanya, Vano masih baik-baik saja. Lalu sekarang kenapa?

“Papa, apa Vano tidak punya popa?”

Okey, jika pertanyaan ini bagaimana cara Rion harus menjawabnya? Karena sejujurnya saja Rion juga tidak tau sosok seperti apa ayah kandung si kecil ini. Jika pun tau, sudah dari dulu Rion seret agar segera mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“Kenapa Vano bertanya seperti itu? Apa ada sesuatu yang terjadi?”

“Hanya ingin, thelama ini Vano tidak pernah memanggil popa. Moma juga tidak pernah membahath popa, dan yang thering datang ke rumah hanya Daddy Khrithth, Papa Rion, dan Papa Arvin.” Menatap mata Rion, Vano sudah mulai berhenti menangis sekarang. Tapi tetap saja, hidung merah dan mata sembab itu masih terlihat jelas.

“Tentu Vano punya.” Rion menjawab seadanya. Karena secara logika, bagaimana mungkin Khansa tiba-tiba melendung tanpa ada sosok yang berperan sebagai penyumbang benih? Malangnya Khansa malah mendapat penyumbang benih yang sungguh brengsek sekali akhlaknya.

“Mana?”

Satu kata yang sukses membuat Rion menjadi orang paling bodoh di dunia. Hanya satu kata dan Rion tidak bisa mendapatkan jawabannya bahkan dari lembar-lembar buku tebal yang selama ini menjadi temannya hingga mengantarkannya menjadi dokter muda. Sungguh, penggal saja kepalanya!

“Popa Vano sedang bekerja. Ingin menunggu sedikit lebih lama?” Rion tersenyum kecil saat Vano seperti akan melontarkan pertanyaan mematikan lainnya. Rion tidak ingin mati berulang kali, okey.

“Berapa lama lagi?”

Khansa, anakmu terlalu cerdas untukku yang berotak ikan teri! Maki Rion dalam hati. “Hingga uang Popa Vano cukup untuk membawa Vano dan moma jalan-jalan.” Terdengar sedikit meragukan, tapi Rion tetap harus yakin pada jawabannya. Setidaknya untuk saat ini.

“Baiklah.”

Rion yakin, sangat yakin bahwa sehari ini binar cantik yang selama ini bersemayam di dalam mata Vano akan redup hingga ia bertemu dengan momanya nanti. “Papa akan membantu mencari popa, tapi jangan mengatakan ini pada moma, okey? Ini hanya rahasia kita berdua saja, bagaimana?”

Anggukan Vano berikan, hanya anggukan lemah. Dan itu cukup untuk membuat Rion mengeryit heran. “Ada apa?”

“Themalam Vano bertanya tentang popa pada moma, tapi moma terlihat seperti akan menangis. Vano tidak tega, jadi jika popa tidak ada, Vano akan baik-baik thaja athal berthama moma.”

Memeluk kencang tubuh mungil Vano, Rion tersenyum haru. Entah bagaimana cara Khansa membesarkan anaknya ini hingga Vano menjadi pria kecil kesayangan semua orang. Khansa benar-benar beruntung, sangat beruntung.

“Anak papa benar-benar pintar, terima sudah tumbuh hingga sebesar ini.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel