Ch.2 Awal Bertemu
“Khansa, bisa antar ini ke meja nomor tujuh?” Perempuan dengan mata kucing memanggil Khansa yang memang baru saja kembali dari mengantar pesanan.
“Tentu saja. Hanya ini?” Melihat kembali pada nampan yang baru saja beralih pada genggamannya, Khansa merunduk untuk menatap mata tajam bocah kecil di bawahnya.
“Vano, duduk di sini bersama Mommy Dira dulu, key?”
Bocah kecil yang sedari tadi mengekor kemana pun Khansa pergi hanya merengut dengan wajah tertekuk tak suka. “Vano ikut moma thaja.”
“Vano bersama mommy saja.” Kali ini Dira yang membujuk seraya menyamakan tinggi badannya dengan Vano. Tapi jangan harap hasil yang ia dapat adalah anggukan kepala, Vano itu kepala batu!
“Moma hanya sebentar. Vano tidak lelah?” Khansa terpaksa menyerahkan nampan tadi pada salah satu rekannya yang tengah senggang. Membujuk anaknya ini butuh perjuangan keras.
Anaknya?
Ya. Bocah lima tahun ini adalah anaknya, bayi kecil yang dulu masih bergelung nyaman di dalam rahimnya.
“Vano tidak lelah.” Kilauan mata itu membuat Khansa tersenyum lembut. Bayi yang dulu ia perjuangkan mati-matian kini telah tumbuh menjadi bocah mungilnya. Malaikat kecilnya kini sudah bisa berbicara dan berjalan, bahkan sudah bisa merasakan bagaimana perasaannya.
“Anak moma, duduk tenang di belakang meja counter dulu ya. Cafe Aunty Dira tengah ramai, moma tidak mau Vano kenapa-napa.” Usapan lembut Khansa pada pipi gembil anaknya membuat Vano mengerti.
Mengalah, Vano berjalan pelan untuk duduk di belakang meja kasir. Memanjat kursi kecil di sana lalu melipat tangan di atas meja. Tersenyum kecil pada ibunya dan meminta wanita itu untuk mendekat padanya. “Moma, mendekat thebentar.”
Cup.
“Themangat! Jika moma lelah beri tau Vano, key.” Setelah mencium pipi ibunya, Vano tersenyum hingga mata bulan sabit itu menular pada Khansa.
“Tolong jaga Vano sebentar.” Menitip anaknya pada Dira, Khansa kembali melayani pengunjung Cafe dengan sebuah buku menu di dekapan dadanya.
-Flashback On-
Khansa tidak tau apa yang terjadi, yang jelas saat ia membuka mata sudah ada seorang wanita dengan mata tajam berbingkai eyeliner yang menatap khawatir padanya.
“Kau pusing? Ingin minum?”
Pertanyaan itu membuat Khansa tersenyum kecil seraya menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja. Apa yang terjadi padaku?” Tanya Khansa cemas. Meraba perut datarnya dengan segala permohonan pada Yang Kuasa agar bayinya baik-baik saja.
“Aku tidak tau, jujur saja. Pagi ini aku menemukanmu tergeletak begitu saja di depan Cafe milikku.”
Khansa meringis, benar-benar jadi gembel ia semalam? “Maafkan aku. Aku tidak tau.” Terkekeh pelan, Khansa memamerkan deretan gigi kelincinya. Merasa tak enak, tapi ia saja tidak sadar dengan kegembelan yang baru saja ia lakukan semalam. Sungguh kasihan sekali anaknya.
“Hm, maaf sebelumnya. Kau ingin pergi kemana?” Gadis di depan Khansa ini bertanya dengan wajah yang tampak khawatir.
Sedetik.
Dua detik.
Tig-
“Ah, maafkan aku. Sebelumnya perkenalkan namaku Anindira Kiyoko Safira.” mengulurkan tangannya, gadis bernama Dira itu tersenyum hingga matanya melengkung membentuk bulan sabit yang indah.
“Eh? Ah! Perkenalkan namaku Khansa Zhafira Auristela.”
Canggung.
Suasana di dalam ruangan ini benar-benar canggung, membuat Khansa menggaruk tengkuknya dengan kaku.
Sret.
“Sebelumnya maaf karena sudah merepotkanmu nona. Aku akan pamit sekarang dan terima kasih. Maaf tidak bisa memberimu apa-apa.”
“Tunggu. Kau hamil bukan? Tujuanmu mau kemana?”
Khansa melongo bodoh, ini mereka baru bertemu tapi seakan-akan wanita ini adalah ibunya. Cerewet dan Khansa suka itu, walau ia belum pernah bertemu ibu kandungnya setidaknya ia pernah berdebat dengan ibu panti tempat ia tinggal dulu.
“Iya, baru empat minggu. Hehe. Dan tidak tau.” Masih sempat terkekeh pelan, Khansa menyengir lucu dengan sudut mata yang sudah berair.
Aneh memang, mulutnya tertawa, tapi hati dan matanya menangis deras.
Sret.
Dira membawa Khansa dalam pelukannya, ia rasa ia tau apa masalah gadis ini. Terbaca jelas walau sedari tadi Khansa tertawa ringan. Mengelus belakang kepala Khansa lalu berbisik kecil bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Hks.”
“Tak apa, menangis saja.”
“Aku tidak tau harus kemana, bagaimana dengan nasib anakku nanti. Hks.”
Dira terdiam sebentar, apartemennya yang satu lagi kosong. Ia rasa ia bisa meminjamkannya pada gadis ini. Tak masalah dengan uang bulanan. Kekasihnya kaya raya ini, bisa diperas hingga miskin. Walau mustahil ia bisa miskin.
“Ingin tiggal di Apartementku? Kau bisa membayarnya kapan saja.” Melepas pelukannya, Khansa mengusap pipi berisi anak kecil ini. Lucu! Bisa Dira angkat menjadi adik.
Menggeleng, Khansa masih terisak pelan. “Aku merepotkanmu. Hks.”
“Tidak, apartement yang itu memang kosong. Kau bisa tinggal di sana dan sekalian menjadi adikku. Mau?”
Khansa mengerjapkan matanya lucu, dia akan punya kakak? Mengangguk pelan, hanya ini yang bisa Khansa lakukan sekarang. Demi malaikat kecilnya yang bahkan belum bisa berputar di dalam rahim sana.
“Terima kasih banyak.”
-Flashback Off-
Dira tersenyum senang saat melihat Vano yang tengah belajar di sebelahnya. Khansa menolak jika si kecil ini harus masuk taman kanak-kanak sekarang, alasan ibu muda itu selalu soal umur. Vano masih terlalu kecil, tunggu sebentar lagi. Kecil pantatnya!
Dira kadang kesal juga dengan Khansa, kepala batu! Sama seperti anaknya. Persis!
“Mommy, Vano lapar.”
Segala macam umpatan yang tadinya Dira tujukan pada Khansa terhenti begitu saja. Keponakan tampannya ini butuh asupan nutrisi. “Vano ingin makan apa?” Bertanya lembut sembali mengusap sayang kepalaVano.
“Thothith gurita dan ayam goreng.”
Dira mengangguk setuju, memanggil salah satu kokinya dan meminta apa yang baru saja Vano katakan. Kasir sedang tidak ada yang jaga jadi Dira tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
Kling.
Lonceng tanpa ada pelanggan lain berbunyi, spontan saja seluruh kepala yang berada di dalam Cafe langsung melihat kearah pintu masuk. Dan...
“Vanooo! Sayangku!” Pria bertubuh mungil langsung saja berlari menuju Vano yang sudah memasang tampang datar andalannya. Sungguh, Vano kadang ingin marah saja pada salah satu pamannya ini. Suka bikin malu!
“Papa jangan dekat-dekat Vano. Vano malu.”
Dira langsung terbahak begitu saja. “Makan itu sayang!” Olok Dira dengan tangan yang mengacak gemas kepala Vano. Entah belajar dari siapa si kecil milik Khansa ini, yang jelas itu bukan sifat Khansa.
“Ugh, hatiku rasanya berdarah saat ini.”
Arvin Malviano Parviz.
Papa yang entah berasal darimana, yang jelas ia sudah mendedikasikan dirinya sebagai papa sejak detik pertama Vano keluar dari rahim ibunya.
Arvin ini seorang dokter yang waktu itu membantu segala macam kebutuhan Khansa saat ia sedang dalam masa hamil besarnya. Trio maut bersama Dira dan satu sepupunya lagi, Arion Delvin Faresta.
Pertemuan mereka tentu bukan sesuatu yang tak disengaja. Dira memperkenalkan dua sepupu itu pada adik angkatnya yang waktu itu belum Dira beri tau namanya. Dan tebak bagaimana reaksi dua sepupu itu?
Heboh sekali!
-Flashback On-
Tuut... tuut... tuut...
“Hellow, Anak setan!” Sapaan dari seberang sana membuat Dira hampir saja membanting ponsel mahalnya. Kurang ajarnya tidak main-main!
“Cepat datang ke Apartement lama milikku.” Suruh Dira tanpa basa-basi. Tidak ada gunanya basa-basi dengan si kurcaci satu itu. Buang-buang waktu!
“Untuk apa? Bukannya kau sekarang satu gedung dengan kekasihmu?”
“Tidak usah banyak tanya, Arvin Malviano Parviz! Minta juga pada Rion untuk membuat banyak makanan! Jika kau protes aku potong kebanggaanmu yang tak seberapa itu!”
Tut.
Tanpa basa-basi lagi. Dira langsung saja mematikan telfon yang memang percakapannya sudah mencapai pada tujuannya. “Khansa, hanya duduk manis di atas sofa.” Dira bergacak pinggang saat melihat Khansa yang baru saja akan mengambil tangkai sapu.
“Hanya menyapu tidak akan kenapa-napa.” Lirih Khansa dengan wajah tertekuk lucu.
“Hanya duduk dan tunggu saja para babu yang akan datang sebentar lagi.”
Khansa diam dengan senyum manisnya. Menurut saja untuk saat ini. Dira ini kejam, bisa-bisa Khansa di dorong hingga terjun bebas dari balkon nanti. “By the way, Sistaaaa. Bukannya kau punya kekasih?” Tanya Khansa.
Dira diam sejenak, “benar juga. Aku punya kekasih. Tapi dia sibuk dengan urusan perusahaan. Biarkan saja.”
Khansa tersenyum tipis, sibuk dengan urusan perusahaan itu Kaenan sekali. Terkadang jika belum Khansa jemput, pria itu belum akan pulang. Untungnya kebiasaan buruk itu sudah mulai berkurang.
“Hoi!” Dira berteriak dengan suara jantannya, keras sekali.
“Berisik!” Dengus Khansa.
Entahlah, padahal mereka baru berinteraksi pagi tadi, tapi mereka sudah seperti manusia yang saling kenal dekat. Tadi saja hampir lempar-lempar pisau saking kesalnya.
“Kau melamun, hati-hati kemasukan!”
“Mana ada yang berani memasukiku, kau macam macan begini!”
Perempatan siku-siku sudah tercetak jelas di dahi Dira. Apa katanya?! Macam macan?! Memang benar-benar sialan calon ibu muda ini!
“Kemari kau, Kelinci bunting!”
Baru saja Dira akan mencekik leher Khansa, pintu apartement sudah terbuka lebih dulu. Membuat dua wanita yang tengah baku hantam itu saling tatap sebelum akhirnya kembali bersikap normal.
“Dia... siapa?” Yang bertubuh tinggi bertanya seraya membawa masuk satu kotak besar yang berisi makanan, Rion. Sebelum Dira menelfon mereka memang tengah masak besar.
Khansa yang merasa terpanggil langsung saja berdiri dari duduknya dan tersenyum manis, manis sekali malahan. “Salam kenal, namaku Khansa Zhafira Auristela.”
Krik.
Krik.
Krik.
Kriuuuk.
Bunyi perut Khansa menyelamatkan mereka semua dari suasana canggung ini. Mereka selamat, Khansa yang makin malu saat ini. “Untung ada bayi, jika tidak sudah aku maki ini perut.” Bisik Khansa pada dirinya sendiri.
“Ayo ke meja makan. Ada yang sudah kelaparan.” Rion terkekeh seraya mengusak pelan kepala Khansa hingga gadis itu bersemu merah. Mau di taruh dimana wajahnya setelah ini?
Ya Tuhan.
“Anywaybussway, kau tengah hamil?” Si mungil bertanya seraya menunjuk perut Khansa yang masih rata seperti jalan tol baru diaspal. Sebut saja inisialnya Arvin.
Dira dan Khansa saling tatap, demi apa pun! Dira belum membocorkan pada satu orang pun tentang berita kehamilan Khansa ini. Jangankan berita kehamilan, Khansa ada di dekatnya saja baru dua manusia ini yang tau.
“Jangan heran, cara pandang dokter memang berbeda.” Menyombong sudah si kurcaci dari Goa Jepang ini. “Cara paling jelas dan turun-temurun adalah pinggul orang hamil biasanya sedikit berbeda.” Jelas Arvin sungguh-sungguh.
“Dasar cabul, kau memperhatikan pinggulnya?!” Maki Dira murka. Tidak menyangka bahwa ia punya sahabat yang sungguh otak selangkangan begini. “Ya Tuhan, ampuni dosa Arvin.”
“Heh, bodoh juga ada batasnya asal kau tau. Mata dokter itu jeli, aku yakin Rion juga berpikiran sama denganku.” Menyikut Rion yang hanya mengangguk seraya memperhatikan Khansa yang tengah makan dengan lahap.
“Jangan makan junk food, hindari juga makanan panas karena itu bisa menggugurkan kandunganmu.” Rion menambahkan beberapa brokoli di piring Khansa. Mengusap pipi berisi itu hingga Khansa hanya bisa memerah malu dengan perlakuan manis Rion padanya.
“Makanan panas yang baru saja Rion maksud bukan makanan yang baru keluar dari penggorengan, kau mengerti?” Arvin yang memberi wejengan kali ini. “Hindari makanan berwujud buah sejenis nanas.”
Khansa mengangguk paham. Diam-diam mencatat di dalam memori otaknya yang memang tidak seberapa.
“Berapa umurmu?” Rion memang tipikal manusia spontanitas kadang-kadang.
Bukan hanya Arvin yang memasang telinga, tapi Dira juga. Jujur saja ia belum sempat menanyai berapa umur bocah ini. Sedikit merasa bodoh Dira sekarang.
“D... delapan belas tahun.”
“Uhuk.”
Rion, Arvin, dan Dira langsung terbatuk. “Sungguh?!”
“Kau baru lulus Senior High Scholl?” Rion bertanya lagi.
Anggukan Khansa beri, pada kenyataannya ia memang benar-benar baru lulus dua setengah bulan yang lalu. Dan itu bertepatan dengan Kaenan yang pertama kali melakukan itu padanya.
Kepala Rion dan Arvin langung menegak sempurna, bagaimana bisa?!
“Kau... bagaimana bisa?” Mata Rion memicing tak suka. Bukan, ia bukannya membenci Khansa. Hanya saja ada rasa tak terima dari sudut terkecil hatinya.
Khansa hanya bisa menundukan kepalanya, malu tentu saja. Tatapan Rion itu seakan menghakimi dirinya, walau Khansa tau ia pantas untuk mendapatkan itu.
“Sudah, sudah, makan lagi. Kasian babynya, jangan terlalu dipikirkan.” Mengusap kepala Khansa, Dira tersenyum lembut. Dia wanita dan pasti sedikit-banyak Dira juga merasakan apa yang Khansa rasakan.
“Maafkan aku, hm.” Rion ikut kepala Khansa yang hanya dibalas anggukan oleh gadis kecil itu.
Hening.
Hanya suara denting sendok yang terdengar, mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Entah apa, yang jelas Arvin terlihat mengerikan dengan senyum lebarnya yang menatap Khansa dengan sorot mata cerahnya.
“Mulai detik ini, aku mendedikasikan diriku sebagai papa dari si baby. Key.”
“KEY!”
-Flashback Off-
“Pesanan Anda, Tuan muda.” Salah satu karyawan Khansa datang dengan sepiring nasi beserta ayam dan sosis gurita pesanan Vano. Di sini Vano memang mendapat perlakuan istimewa dari semua pegawai.
Khansa melarang tentu saja, tapi itu pastinya tidak akan berpengaruh. Pesona Vano itu luar biasa, bagaimana bisa mereka mengabaikan Vano. Itu sangat-sangat sulit.
**
Jam menunjukan pukul satu lewat tiga puluh menit, menandakan jam istirahat sudah berakhir sekitar setengah jam lalu, itu artinya Cafe Dira bisa sedikit lebih santai saat ini. Merenggangkan tulang-tulang yang rasanya kaku sekali karena sedari tadi digunakan untuk berkeliaran mengantar makanan, memasak, mencuci piring, dan sebagainya. Dira yang hanya menjadi pengamat saja menghela nafas kecil saking ramainya Cafe hari ini.
“Ingin tutup lebih awal?” Dira bersuara agak keras agar semua bisa mendengarnya. Sekali-kali tak apa bukan memberikan jam bebas untuk pegawainya? Tidak akan bangkrut dia ini.
“Bukan ide buruk, tapi kami baik-baik saja sebenarnya. Vano sudah memberikan banyak vitamin pada kami.”
Khansa melirik pada Vano yang saat ini tengah duduk tenang di atas pangkuannya, sungguh. Anaknya ini benar-benar sesuatu sekali. Meski dibuang ayahnya sendiri, seluruh dunia serasa menerima anaknya dengan senyum cerah. Dan Khasa bangga tentu saja. Anaknya banyak menerima cinta dari semua orang.
“Oke, yang ingin istirahat silahkan. Yang ingin makan bisa masak di belakang. Pengunjung juga tidak terlalu ramai, silahkan gunakan waktu kalian.” Yosh! Memang bos terbaik sepanjang masa Dira ini.
Vano langsung berbalik badan dan memeluk erat leher momanya. Mengusak kepalanya pada leher Khansa yang hanya bisa terkekeh geli. Mata bulan sabit anaknya membuat Khansa ikut tersenyum senang.
“Ada apa?” Tanya Khansa lembut. Mengusap dahi Vano dan memijit pelan kedua alis anaknya.
“Moma tidak lelah? Tidak ingin tidur thebentar?” Suara cadel Vano membuat Khansa tergelak pelan. Kenapa anaknya ini lucu sekali?!
“Moma sudah tidak lelah, ada Vano yang menjadi vitamin moma di sini.”
Yang lain hanya bisa menatap iri, sungguh mereka juga ingin memeluk Vano. Sebentar saja tak apa. Tapi sayang, Vano lebih memilih untuk menempel pada ibunya. Bermanja-manja seraya memberi senyum manis penuh gula pada semua orang di Cafe. Sungguh pandai sekali anak Khansa ini.
“Kalian tidak kembali ke rumah sakit?” Dira melempar dua bersaudara yang tengah makan besar dengan kulit kacang yang entah kenapa bisa ia dapat.
“Sudah selesai.” Arvin menjawab seadanya, mulutnya sibuk mengunyah ini. Rion mana mau menjawab kalau bukan Vano yang bertanya.
“Sampai kapan kalian akan duduk di sini?” Lagi. Dira melempar pertanyaan, bukan tanpa sebab ini pertanyaannya.
“Sampai jam kerja kalian habis, mungkin.” Dan tentu Arvin lagi yang menjawab. Rion sibuk menyuapkan beberapa lauk untuk masuk ke dalam mulut Khansa yang masih menggendong Vano. Bocah kecil itu manja juga terkadang.
“Sudah, Kak Rion makan saja dengan tenang. Aku akan makan nanti.” Tolak Khansa saat Rion akan kembali menyuapkan sesendok nasi padanya.
Tatapan Rion berubah datar, tetap memarkirkan sendoknya di depan mulut Khansa yang sedang mencebik kesal. Memberi kode dengan lirikan mata agar gadis kecil itu segera melahap yang tengah ia sodorkan.
Hap.
“Apa susah sekali membuka mulut? Aku tau kau tidak akan sempat makan nanti. Vano sering mengadu padaku.” Rion mulai mengomel singkat seraya memasukan makanan ke dalam mulutnya sendiri.
Khansa melirik Vano yang saat ini tengah berpura-pura memainkan pita yang terdapat pada bagian lengan bajunya, “dasar pengadu.” Dengus Khansa seraya menggesekan kedua hidung mereka. Vano tentu saja tertawa.
“Memang kenyataannya theperti itu.” Vano memulai ilmu bela diri yang baru saja ia dapatkan dari ajaran Arvin.
“Bisa kalian antar Khansa dan Vano pulang nanti? Aku harus membeli beberapa bahan dapur.”Dira menatap Arvin dan Rion bergantian. Sebenarnya naik taksi atau bus bisa, tapi Dira tidak akan membiarkan itu terjadi! Tidak akan!
“Biar aku saja yang pe-”
“Biar kami antar nanti.” Ini baru suara Rion, menatap tajam Khansa yang hendak protes lalu menatap Arvin yang juga tengah mengangguk setuju. “Tidak kasihan dengan Vano?” Tanya Rion seraya melanjutkan acara makan siangnya yang tertunda.
“Aku bisa pergi sendiri, Vano bisa langsung pulang.” Suara Khansa mengecil saat Rion kembali menatap tajam padanya. Dari tiga manusia itu memang Rion yang paling ketat menjaganya. Entahlah karena apa.
“Tidak, kau harus langsung pulang. Istirahat.” Mutlak. Ucapan Rion adalah yang paling mutlak. Selain jarang berbicara, aura tegas milik Rion selalu membuat orang yang berbicara padanya langsung mengangguk patuh.
Vano saja bahkan lebih patuh pada Rion jika bisa dibilang.
Khansa hanya diam seraya mengutuk dalam hati, menurunkan Vano dari pangkuannya lalu hendak pergi sebelum tangan Rion mencegahnya untuk angkat kaki.
“Duduk.”
“Aku harus kembali bekerja.”
“Masih ada lima belas menit lagi. Yang lain juga masih istirahat. Jadi, duduk.”
Arvin hanya terkekeh pelan, memang rasanya Khansa akan lebih mudah stress jika berada di dekat Rion. Rion itu sebenarnya orang yang otoriter, cocok dengan pekerjaan kantoran. Tapi entah kenapa pria itu malah memilih menjadi dokter seperti dirinya. “Sudah, turuti saja.”
Khansa makin merengut, mendekat pada Vano yang saat ini tengah menerima suapan dari Arvin. Memeluk ganas malaikat kecilnya itu hingga Vano menjerit keras, tidak bisa bernapas katanya.
Dira? Sudah terlalu sering dia melihat tiga manusia itu seperti itu. Rion yang memerintah, Khansa yang terpaksa patuh, dan Arvin yang mendapat bagian sebagai tukang bully. Vano? Pengamat. Tapi sesekali ikut menyudutkan momanya juga.
Semua berjalan normal saat tiba-tiba saja ponsel Dira berdering dan membuat gadis itu harus sedikit menjauh karena suara teriakan Vano yang benar-benar tidak manusiawi! Khansa terus saja menjahili si kecil dengan jemari panjang yang menggelitik pinggang si kecil.
“MOMA! SUDAH, AHAHAHA. AMPUN, MOMAAA.”
**
“Masih ingat jika kau punya pacar?” Dira langsung saja menyembur yang kekasih yang hanya terkekeh pelan dari seberang sana.
“Sorry, Honey. Kau di Cafe sekarang?”
“Hm.”
“Aku akan ke sana, ingin aku bawakan apa?”
“Makanan saja. Pegawaiku juga sedang istirahat.”
Terkekeh, sang kekasih hanya berdehem seraya menyelesaikan urusan yang memang tinggal ksedikit lagi.
“Khriss.” Suara Dira terdengar meragu.
“Ada apa?”
“Sudah tau siapa pelakunya.” Suara Dira sedikit memelan.
“Maafkan aku.”
Dan dua kata itu sudah membuat Dira menurunkan kedua bahunya, ini sudah lima tahun dan mereka belum juga tau siapa yang telah melakukan hal keji itu pada Khansa. Khansa juga benar-benar hanya tutup mulut dan tak mau bicara. Dia selalu mengalihkan topik jika salah satu dari mereka bertanya tentang siapa yang telah menjadi ayah Vano selama ini.
“Baiklah, hati-hati di jalan, key.” Dan sambungan Dira putus begitu saja. Kembali mendekat pada orang-orang terdekat dihidupnya dan mencium sekilas kepala Vano yang hanya mengeryit tak terima.
“Khriss akan mampir, perut kalian masih muat untuk menampung makanan bukan?” Dira menyenderkan tubuhnya pada Arvin yang tengah menyesap jus dengan rasa masam sedikit manis, buah berbentuk segitiga lonjong berwarna merah berbintik kuning. Pikir sendiri saja itu apa.
“Daddy akan datang?” Vano berseru senang. Melompat ke pangkuan Dira lalu mencium pipi wanita itu. Memang sudah agak lama Vano tidak bertemu dengan pria tinggi tampan itu.
“Merindukan daddy?” Tiba-tiba saja suara bariton itu terdengar begitu dekat, membuat Vano langsung menoleh ke pintu masuk dan benar saja. Khriss ada di sana, menenteng beberapa plastik besar berisi makanan lalu memberikan beberapa pada pegawai Dira yang memang masih beristirahat.
“DADDY!” Pekik Vano senang. Berlari menuju pelukan Khriss lalu tertawa keras saat Khriss malah memutar-mutar tubuh mereka berdua.
“Makanlah, Dira pasti sangat kejam.” Khriss terkekeh seraya memberikan tiga plastik besar pada salah satu pria yang Khriss tau bernama Tom.
“THANK YOU, SIR.”
“Akan aku potong tiga puluh persen gaji kalian bulan ini.” Dengus Dira.
“Yaaah.” Suara protesan terdengar, tidak keras tapi cukup untuk sampai pada gendang telinga Dira. Kejam, huh? Belum tau saja mereka bagaimana kejamnya Dira yang sesungguhnya.
“Jangan khawatir, akan aku tambah lima puluh persen.” Khriss sungguh pintar sekali mengambil hati orang-orang. Dira sungguh kesal! Benar-benar kesal!
“Apa mommy berubah menjadi macan tadi?” Tanya Khriss pada Vano. Membawa tubuh kecil itu untuk duduk di pangkuannya dan meletakan satu kantong plastik besar di tengah-tengah meja. “Makanlah.”
“Mommy tidak berubah menjadi macan, tapi momma yang menjadi macan.” Vano mengadu seraya menjulurkan lidahnya untuk mengejek Khansa yang tengah menahan diri agar tidak benar-benar berubah menjadi macan.
“Lihat, taring momma sudah muncul.” Ini Rion yang bersuara. Kurang ajar memang!
Khriss terkekeh pelan, mengusap sudut bibir Vano dan menyikut bahu Dira yang saat ini tengah bersandar manja pada bahu lebarnya. “Aku jadi teringat bagaimana dulu Khansa pertama kali bertemu denganku.” Skala kekehan Khriss makin meningkat. Sungguh, wajah Khansa lawak sekali.
“Jangan diingat lagi, Ya Tuhan.” Wajah Khansa sudah memerah malu. Ia saja tidak sanggup jika harus mengingat itu. Dark pastnya itu.
-Flashback On-
“Khansa, perkenalkan. Ini kekasihku, Khriss Veanho Shaquille.” Dira memperkenalkan Khansa pada kekasihnya yang tengah tersenyum tipis sebagai ganti ucapan salam kenal.
Hening.
Hening.
Hening.
Khansa menatap Khriss dengan tatapan polosnya yang sungguh lucu. Ia rasa ia pernah melihat wajah ini, terasa faimiliar, tapi dimana ya? Tanpa sadar, ia memiringkan kepalanya dengan dahi yang berkerut. Masih mencoba mengingat kira-kira siapa pria di depannya ini.
“Khansa.” Panggil Dira, takut kelinci bunting ini kemasukan jin kamar sebelah. Ngeri saja begitu.
“Khansa.” Oke, ini tidak akan berakhir baik. Menghela nafas pelan. Dira berjalan mendekati Khansa, berbisik dengan nada sensual dan desahan yang mengiringi setelahnya. “Sayaanghh, apa yang kau pikirkan, hmm?”
“Ya Tuhan, ampuni dosaku, aku mohon!” Khansa langsung berjengit kaget dan melompat menjauhi Dira. Sungguh Dira ini tidak baik untuk jantungnya. “Kau tidak lesbian bukan? Kau tidak memendam rasa padaku bukan?” Panik Khansa. Oh Tuhan, jangan sampai!
Khriss tertawa lepas, lucu sekali dua wanita di depannya ini. “Perkenalkan, aku Khriss Veanho Shaquille.” Khriss tersenyum tipis. sungguh tampan sekali.
“Dia pacarmu? Boleh untukku?” Khansa dengan tidak tau dirinya bertanya seperti itu pada Dira yang sudah memerah marah.
Plak.
“Lawan dulu macan dalam diriku.” Menggeplak belakang Khansa, Dira kembali berdiri di samping kekasihnya dan tersenyum sinis pada Khansa. Makan itu rasa panas cemburu atau tak terima!
“Perkenalkan namaku Khansa Zhafira Auristela.” Khansa tersenyum kecil, rasa malu juga dia memang. “Wajahmu terasa familiar, tapi dimana aku melihatnya ya.” Dan ya, Khansa akhirnya bertanya juga. Rasa penasarannya benar-benar sudah tidak terbendung lagi.
“Majalah bisnis?” Khriss mencoba membantu. Mengusap kepala Dira yang hanya memutar malas bola mataya.
“Mungkin, entahlah.” Dengan begitu, Khansa berlalu pergi menuju dapur. Babynya lapar dan ia harus segera makan.
“Hoi! Suruh masuk dulu!” Pekik Dira kesal.
“Ini rumahmu, Pintar! Masuk saja!” Khansa balas memekik dari dapur. Emosi juga dia lama-lama.
-Flashback Off-
“Untung aku tidak langsung mengambil tindakan dengan melempar kepalamu menggunakan centong nasi.” Sungut Dira menjadi-jadi.
“Aku hanya terlalu penasaran, Kak Khriss juga tidak mempermasalahkan.” Khansa hendak melampar Dira dengan tulang ayam yang baru saja selesai ia emut hingga pucat pasi.
“Jadi pergi belanja nanti?” Khriss bertanya pada Dira yang tengah mengusili Vano dengan menarik-narik kecil telinga pria kecil itu.
“Tentu saj-”
“Kau pulang bersama kami.” Suara Rion penuh penekanan, memang tidak seru sekali si Telinga peri ini.
“Daddy, Vano boleh ikut?” Menatap Khriss dengan binar polos miliknya, katakan pada Khriss bagaimana cara ia menolak permintaan malaikatnya ini? Mengangguk, Khriss mencium kepala Vano lalu mendudukan si kecil tepat di sebelahnya.
“Vano ikut, aku juga ingin.” Khansa bercicit pelan pada Arvin yang hanya melirik Rion. Bos hari ini adalah Rion, jadi jika Rion menganggukan kepala, Arvin tentu akan setuju juga. Jika tidak ya sudah, langsung pulang saja dan tidur bergelung di atas kasur.
“Pulang dan langsung tidur.”
“Yang Mulia Raja Rion sudah bertitah, Hamba bisa apa?” Dengan kesal, Khansa hendak kembali memeluk brutal Vano yang sudah kembali naik ke pangkuan Khriss. Tertawa kencang dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Khriss.
“Daddy, moma akan berubah menjadi macan lagi.” Adu Vano dengan suara tawa melengkingnya yang khas.
“Vano, moma sedih.” Khansa mulai mendrama.
Pluk.
“Hentikan akting jelekmu.”
**
