Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3. Pagi yang buruk

HOTEL TRUMP, INTERNATIONAL HOTEL WAIKIKI

Pagi menjelang siang matahari sudah berada 90 derajat dari tempat peraduannya, jam sudah menunjukan pukul 9 pagi, sinar matahari mulai menerobos masuk melalui sela-sela gorden putih yang tidak tertutup sempurna dan menerangi kamar hotel, kamar hotel yang besar dan indah yang memiliki pemandangan indah jika dilihat dari balkon, karena menghadap langsung kearah bibir pantai yang memiliki pemandangan yang sangat indah.

Hembusan udara hangat menyapu punggung anita di pagi hari membuatnya tidak nyaman sehingga membuat anita memalingkan tubuhnya, namun anita kesulitan ketika ia ingin membalikkan badannya karena ada sesuatu yang menimpah tubuhnya. Ketika ia membuka matanya betapa terkejutnya anita karena ada sebuah tangan kekar yang sedang melingkar di perutnya dan kaki seseorang yang menimpah kakinya, kondisinya sekarang seperti guling yang sedang dipeluk.

Seketika anita terbangun dan mengerjapkan mata-nya beberapa kali karena melihat tangan yang memeluknya erat tanpa menoleh, anita pikir mungkin tangan yang memeluknya itu tidak nyata. Namun, setelah beberapa kali anita mengerjap-ngerjapkan matanya tangan itu tetap melingkar di perutnya dan tambah erat memeluknya.

Seketika anita-pun langsung membalik badannya menghadap orang yang sedang memeluknya itu, betapa terkejutnya ia melihat siapa orang yang memeluknya itu, orang itu terlihat sangat damai dan nyenyak dalam tidurnya.

“Ahhhhhhhhhhhh,,,,” Teriak anita seketika.

“Apa–apaan sih, pagi-pagi udah main teriak-teriak aja, ganggu orang lagi tidur aja” Bentak dimas yang masih setengah sadar dengan mata yang masih terpejam.

“DIMASSSSS,,,, " Teriak anita "K-kau a-apa yang sudah terjadi? A-apa yang kau lakukan disini….” ucap anita dengan terbata-bata di dalam kamar hotel.

Dimas yang mendengar namanya dipanggil-pun seketika membuka matanya, karena suara yang memanggil namanya sangat familiar ditelinganya. Dan betapa terkejutnya dimas melihat sosok yang ada dihadapannya itu, seketika ia langsung membulatkan kedua matanya.

Sejenak keduanya saling melempar tatapan tajamnya satu sama lain.

“K-kau apa yang kamu lakukan di kamar ku hah?” Tanya dimas heran.

“Apa yang kau katakan hah? Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau bisa ada dikamar ku dim?” anita bertanya balik dengan wajah kesal.

“Apa maksudmu anita, aku tidur dikamar ku sendiri, jadi kenapa kau marah-marah kepadaku.” Jawabnya santai.

Dengan amarah yang tidak bisa lagi dibendung, dengan sekuat tenaga anita menendang dimas menggunakan kedua kaki nya hingga dimas jatuh dari ranjang dan tersungkur dilantai.

“ANITAAA,,,,, apa-apan kau ini, apa kau sudah gila? kenapa kau menendangku?” Teriak dimas geram.

“Kau yang sudah gila dim, kau masuk dan juga tidur dikamarku tanpa izin, dan kau juga memelukku.” Teriak anita tak kalah kerasnya dengan dimas.

Sejenak dimas mulai mencerna setiap perkataan dari anita, dan mulai mengingat-ingat kejadian yang terjadi padanya tadi malam. Seketika wajahnya berubah, buru-buru ia mengambil ponselnya dari saku celananya dan menghubungi seseorang.

Anita yang masih kesal hanya melihat dimas dengan tatapan tajam, yang menyorot padanya yang menyiratkan banyak pertanyaan dari tatapannya itu, wajahnya masih terlihat sangat kesal dan marah pada dimas. Pagi hari yang buruk bagi keduanya.

Bagaimana anita tidak marah jika saat ia terbangun tiba-tiba ada seorang pria asing yang memeluknya dan tidur bersamanya, meskipun mungkin tidak terjadi apapun di antara mereka, tapi tetap saja membuat anita menjadi tak nyaman dan kesal bukan main.

Pagi ini dira sudah pulang duluan ke Indonesia, karena dira mendapat telephon dari perusahaan yang mengharuskannya untuk segera kembali ke Indonesia karena urusan kantor, dira tidak sempat berpamitan kepada adik-adiknya, dira hanya berpamitan kepada dika karena memang seharusnya dika yang kembali bukannya dira, tapi karena dira bosan tidak ada kegiatan jadi ia mengajukan diri untuk menggantikan dika dan kembali ke Indonesia. Selain itu dira juga ingin agar adiknya dimas itu tidak terlalu kaku dengan tunangan kakaknya itu.

Dikamar, dika sudah selesai mandi dan bersiap untuk pergi kekamar anita dan mengajaknya untuk sarapan serta menghabiskan waktu liburan mereka hari ini karena besok pagi mereka harus pulang ke Indonesia.

“Toktok,,,toktok,,,,toktok,,,,,” Suara pintu diketuk.

Mendengar suara pintu diketuk dimas yang masih berada dikamar anita gelagapan. Dimas dan anita yang terkejut saling melemparkan tatapan mereka, seolah mereka saling bertanya apa yang harus mereka lakukan sekarang. Dengan buru-buru anita merapikan dirinya begitu juga dengan dimas.

Dimas mengusap wajahnya kasar dan mematikan sambungan telephon-nya, dengan langkahnya yang gontai ia memberanikan diri untuk membuka pintu “Kakak....."

Melihat dimas yang membukakan pintu membuat dika membulatkan kedua matanya sempurna.

Hal itu sontak membuat dika sangat terkejut, bagaimana tidak tunangan yang sangat ia cintai berada satu kamar dengan pria lain meskipun pria itu adalah adiknya sendiri, namun dadanya tetap terasa sakit dan sesak.

“Apa yang kau lakukan di kamar anita, dim?” Tanya dika dengan tatapan yang susah diartikan oleh dimas, suaranya sangat datar tapi tersirat kemarahan dari pertanyaan yang di lontarkannya.

Sepersekian detik anita muncul dari balik tubuh dimas“Siapa yang datang dim, kenapa kamu diam aja?” Tanyanya tanpa melihat siapa yang datang.

“S-sayang...” anita sangat terkejut dengan kedatangan dika“Sayang,,, ini tidak seperti yang kau pikirkan, k-kami tidak melakukan apapun sayang, percayalah” Jelas anita dengan mata yang berkaca-kaca.

Tanpa mendengarkan penjelasan dimas dan juga anita, dika pergi meninggalkan mereka berdua. Hatinya sakit melihat hal itu, ia mencoba untuk tidak egois dan ingin mendengar penjelasan mereka namun dadanya terasa sangat sesak, hingga akhirnya ia memilih untuk pergi.

Dengan cepat dimas mengejar dika dan ingin menjelaskan semuanya, namun tubuh dika masuk kedalam lift dan ketika dimas mendekat pintu lift sudah tertutup.

Dikamar kini anita tidak bisa lagi membendung air matanya, tangisnya pecah ketika dirly mendatanginya dan bertanya apa yang terjadi. Anita menceritakan semuanya kepada dirly, ia hanya mengangguk-kan kepala seperti mengerti dan mencoba untuk menghubungi manajer hotel.

Setelah menghubungi manajer hotel akhirnya dirly pergi keruang kendali untuk melihat rekaman CCTV yang ada untuk mengetahui kebenarannya. Setelah mereka melihat CCTV dan mengetahui kebenarannya, dirly mencoba untuk menghubungi dika tapi ponselnya tidak aktif, akhirnya dirly memilih untuk menghubungi dimas.

Beberapa saat akhirnya dimas mengangkat telephone dari kakaknya “halo,, kak, ada apa?”

“Kau dimana dim, kami mencoba menghubungi kak dika tapi ponselnya tidak aktif.” Tanya dirly datar.

”Aku sedang mengejar kak dika tetapi aku kehilangan jejaknya kak.” Sahutnya.

“Cepat kembali,kak dika pasti akan baik-baik saja, kak dika bukan orang yang bodoh dan akan mencelakai dirinya sendiri.” Suruh dirly pada dimas “Baik kak aku akan pulang sekarang.” Sahutnya.

Disisi lain kini dika sedang duduk termenung dipinggir pantai sambil memandangi ombak pantai yang berdesir menghempas hamparan pasir putih di sepanjang bibir pantai. Ia bingung harus bagaimana pikirannya melayang jauh membayangkan hal apa yang dilakukan oleh dimas dan juga anita di dalam kamar. Untuk beberapa saat ia mengingat kembali kebersamaannya dengan anita selama ini.”Apakah aku terlalu egois, karena memilih pergi daripada mendengar penjelasan mereka berdua.”Batinnya dengan menghela nafas dalam.

“Apaaaaa, jadi aku sudah…”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel