4. Ada Syaratnya
"Simona punya potensi besar sebagai direksi. Ivanna tidak seharusnya mencampurkan urusan pribadi atau rasa cemburunya ke dalam pekerjaan. Itu tidak profesional. Bagaimana kalau kau yang turun tangan dan memberikan posisi itu pada Simona?"
Victor menghela napas panjang, tampak mulai termakan omongan istrinya, sementara Simona berdiri di belakang ibunya sambil memasang wajah sedih. Jika ada penobatan arti oscar, Simona pasti menang karena jago akting.
"Kau benar, Adrianna. Bisnis adalah bisnis. Besok aku akan bicara pada Ivanna agar dia memberikan kursi direksi itu untuk adiknya."
*****
Ivanna yang mendengar itu di balik pintu yang terbuka sedikit hanya menaikkan alisnya. "Pelacur itu mau coba-coba bekerja di Luxe Agency? Jangan mimpi." Dia langsung berkelebat masuk ke kamar, menguncinya, dan meraih ponselnya. Ada satu panggilan tak terjawab dari Leon.
"Baiklah, Leon, kita lihat. Apa kau benar-benar berkuasa untuk membantuku menjatuhkan dua orang itu?" Ivanna mendial nomor Leon.
Leon yang sedang menikmati Macallan 1926 Fine and Rare di gelas kristalnya, tersenyum tipis melihat nama Ivanna muncul di layar.
"Ada apa, Sayang? Dari mana saja? Katanya minta ditelepon?" Suara beratnya terdengar seksi di telinga Ivanna.
"Ayahmu akan memaksamu memasukkan Simona ke jajaran direksi besok, bukan?" tebak Leon tenang.
"Bagaimana kau tahu?"
"Aku tahu segalanya. Biarkan saja dia masuk. Berikan dia divisi pengadaan atau promosi besar, biarkan dia merasa di atas angin."
"Kau gila? Itu sama saja memberinya panggung."
"Bukan panggung, Ivanna. Itu jebakan. Aku akan mengirimkan tim audit pribadiku untuk mengawasi setiap sen yang dia pakai. Begitu dia melakukan kesalahan atau korupsi sekecil apa pun untuk menutupi hutang keluarga Matteo, kita akan langsung memotong lehernya secara legal."
"Lalu bagaimana dengan Matteo?"
"Keluarga Romano butuh suntikan dana dariku tiga hari yang lalu. Aku akan memberikan syarat agar Matteo menyerahkan seluruh saham pribadinya sebagai jaminan. Saat dia sudah miskin dan Simona masuk penjara, mereka akan saling membunuh satu sama lain tanpa kita perlu mengotori tangan."
"Kejam sekali. Aku suka cara mainmu, Leon."
"Itu harga yang harus mereka bayar karena telah menyentuh milikku."
"Terima kasih, Leon. Tapi aku tahu ini pasti tidak gratis, kan?"
Ivanna menyandarkan tubuhnya ke pintu kamar yang terkunci rapat, telinganya masih panas mendengar ambisi ibu tirinya di bawah tadi. Ia menunggu jawaban Leon, tahu betul bahwa pria sekuat dia tidak pernah memberikan bantuan cuma-cuma tanpa ada bayaran yang setimpal.
Leon mengocok perlahan gelas kristalnya, membiarkan es batu beradu sebelum menyesap whiskey mahalnya. Ia terkekeh rendah, suara yang mengirimkan getaran sekaligus mendebarkan ke saraf Ivanna.
"Cerdas. Aku tidak butuh uangmu, Ivanna. Aku hanya ingin kesetiaan total—dan mungkin, kau harus membiasakan diri untuk selalu berada di dalam jangkauanku, kapan pun aku menginginkannya."
Pagi itu di ruang makan, aroma kopi menyeruak. Victor berdeham, menatap Ivanna yang sibuk dengan tabletnya. Di sampingnya, Adrianna dan Simona duduk dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
"Ivanna, soal pembicaraan semalam. Ayah ingin Simona mulai bekerja di Luxe Agency. Masukkan dia ke jajaran direksi, dia perlu belajar mengelola bisnis keluarga," ujar Victor.
Ivanna menyesap kopinya pelan, lalu meletakkan cangkir itu dengan denting halus. Ia menatap Simona yang tampak sudah sangat percaya diri.
"Tentu, Ayah. Aku akan tetap menyetujuinya," jawab Ivanna, membuat binar kemenangan muncul di mata Simona.
"Tapi," Ivanna lalu menatap serius ke arah adik tirinya. "Untuk posisi direksi, kita tetap butuh formalitas demi menjaga kredibilitas di depan pemegang saham lain. Aku butuh berkas lamaran lengkap, terutama transkrip nilai terakhirmu."
Wajah Simona seketika kaku. Ia melirik ibunya dengan gelisah.
"Ivanna, bukankah itu berlebihan? Kita ini keluarga," sela Adrianna dengan nada keberatan.
"Ini justru demi kebaikan Simona. Bagaimana pun, dia adalah influencer penuh kontroversi. Karena kau tidak cukup pintar untuk lulus kuliah, setidaknya biarkan aku melihat apa yang bisa aku 'poles' dari riwayat pendidikanmu yang berantakan itu agar direksi lain tidak terlalu memandang rendah padamu."
Ivanna tersenyum tipis.
"Aku hanya tidak ingin orang-orang di kantor menganggapmu hanya sekadar pajangan yang tak punya otak, Sayang. Jadi, mana transkrip nilaimu?"
"Aku akan mencarinya nanti dan mengirimkannya ke emailmu," ucap Simona gugup. Pikirannya kalut membayangkan transkrip nilainya yang hancur berantakan, penuh dengan nilai merah dan catatan alpa yang tak terhitung jumlahnya.
"Tentu. Jangan lupa surat lamaran yang formal ya, Sayangku," balas Ivanna sembari menepuk bahu Simona lembut. "Aku berangkat dulu, ada rapat."
Simona merasa ada yang ganjil. Biasanya, saat hubungan mereka masih baik-baik saja, Ivanna selalu punya seribu alasan untuk menolaknya. Namun kini, setelah dikhianati mentah-mentah, kakak tirinya itu justru memberikan kursi direksi dengan begitu mudah—meski tetap menuntut prosedur resmi yang menyulitkan.
"Bagaimana ini, Ayah?" Simona merengek pada Victor begitu Ivanna menghilang dari balik pintu. "Kenapa Ayah tidak membantuku langsung bekerja saja tanpa syarat konyol itu?"
Victor meletakkan korannya, menatap putri tirinya dengan helaan napas berat. Ia merasa permintan Ivanna masih dalam batas kewajaran seorang pemimpin perusahaan.
"Simona, Ivanna benar. Ayah tidak bisa memasukkanmu begitu saja tanpa dasar profesional, atau para pemegang saham akan mengamuk. Turuti saja kemauannya. Jika nilaimu memang seburuk itu, biar Adrianna yang mengurus perbaikan dokumennya secara diam-diam sebelum kau serahkan pada Ivanna."
Di mobilnya, Ivanna mendengarkan rekaman dari penyadap yang ia pasang di balik meja makan tadi. "Sialan, bahkan Victor Ricci malah melegalkan kecurangan! Pantas saja Simona tumbuh menjadi wanita tak berkompeten," Ia langsung menginjak pedal gas lebih dalam, memacu mobilnya membelah jalanan Milan dengan amarah.
