Pustaka
Bahasa Indonesia

Obsesi Gila Leon

24.0K · Baru update
Vanilla Ice Creamm
34
Bab
157
View
9.0
Rating

Ringkasan

Satu malam di ruang ganti yang remang mengubah hidup Ivanna Ricci selamanya. Di sana, ia menyaksikan tunangannya, Matteo Romano, bercumbu panas dengan Simona Rossi—adik tiri yang selama ini ia sayangi. . Namun, Ivanna tahu ia tak bisa menghancurkan mereka sendirian. Di tengah keputusasaannya, muncul Leonardo De Luca: ia akan membantu Ivanna membalaskan dendamnya, asalkan Ivanna bersedia menyerahkan diri sepenuhnya di bawah kendalinya. . Ivanna menerima kesepakatan gelap itu. Namun, saat gairah mulai membakar logika dan rencana balas dendam mulai berjalan, Ivanna menyadari satu hal... . Bekerja sama dengan "Sang Raja Es" ternyata jauh lebih berbahaya daripada dikhianati oleh seorang kekasih. Siapakah yang akan hancur lebih dulu? . Novel "Ivanna and the Ice King" dikategorikan sebagai fiksi dewasa dengan genre Dark Romance. Harap bijak sebelum membaca karena cerita ini mengandung elemen-elemen berikut; 1. Mengandung adegan dewasa. 2. Konflik Intens 3. Moralitas abu-abu yang mungkin memicu ketidaknyamanan bagi sebagian pembaca.

RomansaMetropolitanPresdirBillionaireDewasaPerselingkuhanOne-night StandPengkhianatanTuan Muda

1. Sentuhan Tak Terduga

Lantai dansa di ballroom Armani Hotel, di Milan itu masih berdentum, tapi bagi Ivanna Ricci, dunia baru saja mati. Bayangan Matteo dan Simona di ruang ganti tadi—napas yang memburu, tangan yang seharusnya menjadi miliknya kini menyentuh kulit adiknya—terpatri seperti luka bakar di matanya.

Ivanna melangkah ke balkon yang sepi, jemarinya mencengkeram pagar besi hingga memutih. Dia ingin berteriak, tapi suaranya tertelan amarah yang membeku.

"Menangis tidak akan menghancurkan mereka, Ivanna Ricci"

Suara itu, berat, dan datang dari sudut remang-remang balkon. Ivanna tersentak. Di sana, bersandar pada pilar dengan sebatang cerutu yang apinya berpendar kecil, berdiri Leonardo De Luca. Pria yang dijuluki The Ice King di dunia bisnis.

"Apa urusanmu, Leon?" ucap Ivanna, menyeka sudut matanya dengan kasar.

Leon melangkah maju. Cahaya bulan menyapu wajahnya yang tegas, menunjukkan senyum yang sangat tipis. "Urusanku adalah melihat Matteo Romano kehilangan segalanya. Sama seperti dia membuat adikku kehilangan nyawanya."

Leon kini berdiri tepat di depan Ivanna, begitu dekat hingga Ivanna bisa mencium aroma sandalwood dan tembakau mahal. Dia tidak mundur. Justru, aroma itu memberinya kekuatan aneh.

"Aku punya tawaran," bisik Leon. Tangan pria itu perlahan naik, ibu jarinya mengusap bibir bawah Ivanna dengan gerakan yang sangat pelan, seperti sebuah kuasa sekaligus godaan. "Jadilah senjataku. Ikuti permainanku, dan aku akan memberikan kepala Matteo dan Simona di atas nampan perak untukmu."

Ivanna menatap mata gelap Leon, mencari keraguan, tapi yang dia temukan hanyalah kegelapan yang sama dengan yang dia rasakan sekarang. "Berapa harga yang harus kubayar?"

Leon menarik tengkuk Ivanna, memaksa wanita itu mendongak. Napas Leon terasa panas di kulit lehernya yang dingin.

"Tubuhmu, jiwamu, dan kepatuhanmu padaku di balik pintu tertutup," bisik Leon dengan suara beratnya yang dalam. "Aku tidak ingin uangmu, Ivanna. Aku ingin melihat bagaimana seorang Ricci hancur dalam pelukanku sembari kita membakar mereka bersama."

Tangan Ivanna yang gemetar kini mendarat di dada bidang Leon, meremas kemeja pria itu. Rasa benci pada Matteo dan daya tarik berbahaya pada Leon bercampur menjadi satu dorongan yang menyesakkan.

"Lakukan, hancurkan aku, asal mereka mati lebih dulu."

Leon tidak menjawab dengan kata-kata. Dia merenggut pinggang Ivanna, menyatukan tubuh mereka tanpa jarak, dan membungkam bibir wanita itu dengan ciuman yang tidak memiliki rasa kasihan—sebuah ciuman yang menandai dimulainya persetujuan iblis di antara mereka.

Leon membukakan pintu mobil Bugatti Chiron hitamnya dengan gerakan tenang, kontras dengan badai yang berkecamuk di dada Ivanna. Begitu mesin menderu membelah jalanan malam, suasana di dalam kabin mewah itu terasa menyesakkan oleh aroma kulit mahal dan ketegangan yang pekat.

Di balik matanya yang terpejam, Ivanna kembali dihantam visual yang menghancurkan itu.

Ruang ganti itu remang-remang, tapi cukup terang untuk memperlihatkan Matteo sang kekasih yang dipujanya sedang membenamkan wajah di leher Simona. Simona, adik tiri kesayangannya, sudah setengah telanjang, gaun sutranya meluncur jatuh ke lantai. Desahan mereka seperti racun yang menyumbat telinga Ivanna.

"Hubungan kita sudah berakhir, Matteo," suara Ivanna bergema di memorinya.

Kedua pengkhianat itu tersentak, menoleh dengan wajah pucat pasi. Ivanna menatap mereka dari atas ke bawah, bibirnya melengkung membentuk tawa sinis yang menyakitkan. "Dan kau Simona, adik yang kusayangi... kau murahan."

Dia langsung berbalik dan pergi, meninggalkan mereka yang membeku dalam kehinaan. Namun sayub-sayub suara Matteo memanggil nama Ivanna, namun Simona mencegahnya.

"Berhenti memikirkannya," suara bariton Leon memecah lamunan.

Ivanna menoleh, matanya liar dan penuh amarah. "Aku ingin melupakannya, Leon. Buat aku melupakannya!"

Tanpa menunggu jawaban, Ivanna merenggut kerah kemeja Leon. Dia mencium pria itu dengan gairah yang meledak-ledak—sebuah kombinasi antara balas dendam dan rasa haus akan validasi. Leon mengerem mobilnya dengan mendadak di bahu jalan sepi, tangannya merengkuh tengkuk Ivanna, membalas ciuman itu dengan dominasi. Napas mereka saling beradu, panas dan menuntut.

"Kau milikku sekarang, Ivanna," bisik Leon di sela ciuman mereka. "Bukan karena kontrak, tapi karena kau menginginkannya."

Begitu sampai di teras mansion megah miliknya, Leon tidak membiarkan kaki Ivanna menyentuh tanah. Dia membopong tubuh wanita itu dalam pelukan posesif. Ivanna melingkarkan lengannya di leher Leon, menyembunyikan wajahnya di sana, menghirup aroma maskulin yang seolah menjadi candu baru baginya.

Leon menendang pintu kamar utama hingga terbuka. Tanpa melepaskan tautan bibir, dia merebahkan Ivanna di atas ranjang king-size yang dingin. Namun, rasa dingin itu segera menguap.

Tangan Leon yang besar dan kasar mulai menjelajah, menanggalkan penghalang di antara mereka dengan gerakan yang tidak sabar. Ivanna mendesah, merasakan kulitnya terbakar di bawah sentuhan Leon yang buas dan lapar.

Setiap sentuhan pria itu seolah menghapus jejak pengkhianatan Matteo dari ingatannya.

Di bawah remang lampu kristal, mereka bercinta dengan intensitas yang hampir ganas. Leon bergerak dengan kekuatan yang menguasai, setiap gerakannya adalah klaim atas diri Ivanna. Di puncak gairah yang menggebu, Ivanna memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya dalam kegelapan Leon—memastikan bahwa mulai detik ini, tidak ada lagi ruang untuk Matteo atau rasa sakit di hatinya. Yang ada hanyalah Leon, gairah ini, dan rencana kehancuran yang akan mereka susun esok pagi.

****

"Sudahlah, Matteo. Bukankah ini lebih baik tanpa kita harus bersembunyi lagi seperti pencuri?" ucap Simona jengkel. Ternyata Matteo tak seperti yang selalu diklaimnya; pria itu justru merasa bersalah. Simona merapatkan tubuh ke Matteo, menyentuhkan dadanya yang terbalut baju tidur tipis, memberikan gesekan menggoda yang biasa dilakukan diam-diam tanpa Ivanna tahu. Awalnya Matteo menolak, namun akhirnya luluh juga.