3. Ciuman Panas
Malam itu di rumah...
"Simona, kenapa kamu pulang hanya berdua dengan Matteo? Di mana Ivanna?"
"Huft, akhirnya sandiwara melelahkan selama bertahun-tahun ini usai. Dia memergoki saat aku bermesraan dengan Matteo, Bu. Jadi sekarang kita tidak perlu berpura-pura baik lagi padanya."
"Apa? Bagaimana jika dia mengadu pada Victor, ayahnya? Kita bisa diusir, Simona!"
"Ibu jangan khawatir, itu tidak akan terjadi. Bukankah Ayah sangat ketergantungan pada Ibu? Dia itu bucin dan bodoh. Hampir dua belas tahun aku memasang topeng kepalsuan ini demi Ibu. Bayangkan, dari usia sepuluh tahun hingga aku sekarang dua puluh dua tahun?"
"Tapi ingat, Simona, Victor tidak sebodoh yang kau kira jika menyangkut putri kandungnya," bisik Adriana cemas.
"Ibu, dengar. Ivanna itu lemah. Dia lebih memilih menangis daripada melawan," sahut Simona sombong sambil mengoleskan masker wajah, matanya berkilat penuh kemenangan. "Lagipula, Matteo sudah sepenuhnya dalam genggamanku."
Suara deru mesin mobil mewah yang berhenti di depan rumah memutus percakapan mereka. Simona menyibak tirai, ekspresinya seketika berubah saat melihat Ivanna turun dari mobil yang bukan milik Matteo.
Simona tertegun, ponsel di tangannya hampir jatuh melihat sosok pria dominan yang membukakan pintu untuk Ivanna dengan sangat protektif.
"Ibu, lihat! Siapa pria itu? Sejak kapan Ivanna punya nyali mendekati pria yang terlihat jauh lebih berkuasa daripada Matteo?"
Di bawah, Ivanna yang tahu sedang diintip dari jendela kamar Simona malam ini, sengaja beraksi. Dengan gerakan penuh percaya diri, dia menarik kerah baju Leon dan menciumnya singkat.
CUP!
"Hei, ada apa ini? Kau semakin berani, ya," gumam Leon seraya menarik pinggang Ivanna ke pelukannya. Tangan besarnya mengusap punggung halus Ivanna yang tadi sempat ia beri kecupan posesif.
"Ciuman untuk terima kasih. Jangan lupa telepon aku."
Leon tidak langsung melepaskannya. Ia justru menyeringai tipis, lalu menunduk untuk mengunci bibir Ivanna dalam lumatan yang menuntut dan mendalam.
"Ciuman singkat tadi tidak cukup untukku. Tidurlah, mimpikan aku, dan biarkan saudaramu itu mati penasaran melihat apa yang kumiliki sekarang."
Ivanna masuk dengan percaya diri, bukan menangis seperti tadi. Gila, dunia seolah baru saja menjungkirbalikkan hidupnya, tetapi ia bisa berdiri tegak kembali dengan mudah berkat Leon.
"Wow, si Nona Cinderella pulang terlambat diantar dengan Bugatti Chiron, ya, Kakakku?" ucap Simona tanpa rasa bersalah atau takut sedikit pun, meski telah berhasil mencuri Matteo dari kakak tirinya.
Ivanna berhenti melangkah, menatap Simona dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan meremehkan seolah sedang melihat gundukan kotoran.
"Matteo hanya kerikil kecil, Simona. Ambil saja bekasku itu, karena seleraku sekarang sudah jauh berada di atas levelmu." ucapnya santai.
"Kau kenal Leon dari mana, hah? Kau pasti merayunya di pesta saat patah hati tadi, kan? Mana mungkin secepat itu?"
"Pria seperti Leon tidak perlu dirayu, Simona. Dia tahu mana berlian asli dan mana yang hanya imitasi murahan sepertimu."
Suara dehaman Victor Ricci yang berjalan menghampiri Adrianna, ibu Simona, terdengar. "Kau baru pulang, Ivanna? Adikmu tadi pulang tepat waktu dengan tunanganmu. Kamu dari mana?" Senyum puas terulas dari bibir Simona, menunggu saat Victor memarahi kakaknya. Selama ini, jika Victor menegurnya, Simona akan pura-pura membela dan jujur itu memuakkan sekali.
"Matteo sudah bukan tunanganku sejak dia memilih bermain kotor dengan Simona, Ayah. Jadi, mulai sekarang jangan menanyakan pria tidak berguna itu."
Victor mengerutkan kening, menatap Adrianna dan Simona bergantian. "Apa maksudmu, Ivanna? Jangan bicara sembarangan soal adikmu."
"Tanya saja pada mereka, Ayah. Simona lebih tahu bagaimana rasanya mencicipi milik orang lain," balas Ivanna.
"Ivanna! Jaga bicaramu!" bentak Adrianna pura-pura terluka. "Simona hanya ingin menghibur Matteo karena kau terlambat datang ke pesta tadi."
Ivanna tertawa sumbang, mengeluarkan ponselnya lalu melemparkan beberapa foto kemesraan Simona dan Matteo di atas meja ruang tamu.
"Menghibur sampai ke hampir telanjang? Ambillah Matteo, Ayah. Aku sudah menemukan pengganti yang jauh lebih berkelas dari pengkhianat itu."
"Aku mau tidur dulu. Besok ada anak baru masuk agensiku. Dan kau, Simona... untungnya sejak dulu aku selalu berpikir ulang untuk mengajakmu bergabung di Luxe Agency sebagai salah satu direksi. Ternyata keraguanku selama ini terbukti nyata. Instingku tidak berbohong."
Wajah Simona seketika memerah padam karena harga dirinya tersinggung, apalagi ayahnya sedang mendengarkan kegagalannya masuk ke agensi bergengsi itu.
"Aku tidak butuh agensimu! Dengan Matteo di sampingku, aku bisa membangun kerajaanku sendiri tanpa bantuan belas kasihan darimu!"
Ivanna menoleh lagi ke belakang. "Kau tidak tahu, ya? Ah, iya... saat bersamamu dia pasti hanya bersenang-senang tanpa pernah membahas hal serius seperti saat bersamaku." Ivanna menjeda sambil menatap Victor, Adrianna, dan Simona. "Perusahaan keluarga Romano seperti telur di ujung tanduk. Mereka sedang mencari investor karena hampir pailit. Minta saja padanya. Kau tahu? Matteo Romano itu aslinya pelit."
Dia lalu membalikkan badan dengan tertawa kecil dan menggelengkan kepala. Ada rasa geli saat menyadari Simona hanya mendapatkan ampasnya saja.
Simona mematung dengan mulut ternganga, matanya bergetar hebat antara rasa tidak percaya dan amarah yang mulai membakar dadanya karena telah tertipu.
"Kau bohong! Kau hanya iri karena dia memilihku! Matteo kaya raya dan dia sangat mencintaiku, tidak mungkin dia bangkrut secepat itu, Ivanna!"
Adrianna mendekat, mengusap bahu Victor dengan lembut, mencoba meredam suasana yang sempat memanas.
"Victor, Sayang, dengar dulu. Mengenai Luxe Agency, bukankah kau pemilik sah perusahaan itu? Ivanna hanya CEO yang menjalankan perintahmu," bujuk Adrianna dengan suara manis yang manipulatif seperti biasa.
