Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Kesepakatan Gelap

Begitu sampai di kantor, Ivanna melangkah dengan tenang menuju ruangannya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok pria yang sangat ia kenali sedang duduk santai di kursi kebesarannya.

Matteo Romano bangkit dengan senyum yang dulu menurutnya menawan, meski di mata Ivanna pria itu kini tak lebih dari sekadar benalu.

"Kau lama sekali, Ivanna. Aku sudah menunggumu hampir satu jam, kau bahkan telah memblokir nomor telponku" ucap Matteo tanpa rasa bersalah, seolah pengkhianatannya semalam tidak pernah terjadi.

Ivanna tetap berdiri di ambang pintu, melipat tangan di dada dengan tatapan acuh, sementara matanya menyapu penampilan Matteo yang kini terlihat "murah" di matanya.

"Keluar, Matteo. Ruangan ini hanya untuk orang yang punya masa depan, bukan untuk pria bangkrut yang datang hanya untuk mengemis belas kasihan."

Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Leon melangkah masuk dengan aura yang begitu mendominasi, langsung memotong ketegangan di ruangan itu.

​"Pagi, Sayang. Kau membiarkan sembarang orang masuk ke ruanganmu?" sapa Leon sambil mengecup pelipis Ivanna secara terang-terangan di depan Matteo.

​Matteo terlonjak kaget. Jantungnya serasa berhenti melihat pemandangan itu. Pria di depannya adalah Leon, penguasa industri yang sedang ia incar untuk memberikan suntikan dana bagi perusahaannya yang nyaris kolaps.

​Leon menoleh sedikit, menatap Matteo dengan pandangan meremehkan seolah pria itu hanya debu di jas mahalnya.

"Ivanna, —"

Leon memotong pembicaraan. "Oh, Matteo Romano? Kebetulan sekali. Aku baru saja akan menandatangani surat penolakan investasi untuk perusahaanmu. Ternyata kau lebih sibuk mengganggu gadisku daripada mengurus utangmu yang menumpuk itu."

"Tunggu, Leon, sejak kapan kalian? Dan soal investasi itu, tolong ditinjau lagi."

"Sejak semalam! Sejak aku memergoki Simona telanjang dan mengulum milikmu yang kecil itu!" potong Ivanna.

Wajah Matteo seketika merah padam, bukan hanya karena malu rahasia ranjangnya dibongkar di depan calon investornya, tetapi juga karena harga dirinya sebagai pria diinjak-injak di depan Leon.

Leon tertawa lepas, sebuah tawa mengejek yang terdengar sangat merendahkan hingga menggema di seluruh ruangan.

"Kecil, ya? Pantas saja kau butuh suntikan dana besar, ternyata kau memang kekurangan di segala aspek, Matteo. Sekarang keluar, sebelum aku memutuskan untuk mempercepat kebangkrutanmu sore ini juga."

Matteo jatuh terduduk, nyaris berlutut di depan meja kerja Ivanna. "Leon, aku mohon. Jangan tarik investasimu. Perusahaanku akan hancur dalam semalam jika kau melakukan itu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik, jangan bawa urusan pribadi ke bisnis."

Leon menatap Matteo yang tampak sangat menyedihkan.

"Kau ingin aku meninjau ulang? Baiklah," ucap Leon. "Serahkan seluruh saham pribadi milikmu dan keluargamu sebagai jaminan. Semuanya. Tanpa sisa."

"Tapi... nilai saham itu bahkan tidak ada separuhnya dari jumlah investasi yang aku minta, Leon! Itu tidak masuk akal!" seru Matteo panik.

Leon tersenyum miring,

"Memang tidak sebanding, tapi itu harga untuk kesombonganmu. Ambil tawaranku sekarang atau keluar dari sini dan saksikan namamu membusuk di koran bisnis besok pagi. Pilihanmu, Matteo."

"Ivanna, tolong bujuk Leon agar tidak menjadikan saham sebagai jaminan. Kau tahu sendiri bagaimana perjuangan keluargaku membangun bisnis itu," rintih Matteo dengan suara bergetar.

"Maaf, Matteo. Meskipun Leon kekasihku, kami sepakat untuk tidak saling mencampuri urusan bisnis masing-masing," jawab Ivanna. Ia berjalan pelan mengelilingi meja kerjanya. "Tapi menurutku, lebih baik ambil saja tawaran itu. Bukankah kau sudah mencoba meminta bantuan pebisnis lain, tapi mereka semua menolak karena risiko berbisnis denganmu terlalu besar? Itu yang selalu kau katakan padaku setiap kita diskusi dulu, kan?"

Matteo terenyak, wajahnya yang tadi pucat kini berubah pasi. Ia baru menyadari betapa bodohnya dirinya selama ini; setiap keluh kesah dan kelemahan perusahaan yang ia ceritakan pada Ivanna, kini menjadi senjata yang menyerangnya kembali. Ivanna baru saja membuka kotak pandora yang selama ini ia kunci rapat.

"Kau... kau menggunakan semua rahasia yang aku percayakan padamu untuk menghancurkanku? Ivanna, aku tidak menyangka kau bisa sekejam ini hanya karena masalah Simona!"

"Kejam?" Ivanna tertawa, "Kau salah istilah, Matteo. Ini namanya pengembalian investasi. Aku sudah membuang waktu bertahun-tahun mendengarkan keluhanmu, sekarang aku hanya menagih bayarannya."

Leon yang sejak tadi hanya menonton, kini bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Ivanna. Ia merangkul pinggang wanita itu dengan protektif, memberikan tekanan psikologis tambahan bagi Matteo yang semakin tersudut.

"Waktuku habis, Matteo. Tanda tangani dokumen jaminan saham itu di kantor pengacaraku dalam satu jam, atau aku pastikan bank akan menyita rumah orang tuamu sore ini juga."

Tubuh Matteo gemetar hebat. Ia menatap Ivanna dengan tatapan benci sekaligus memohon, namun tidak menemukan setitik rasa kasihan di mata mantan tunangannya itu. Ia menyadari bahwa pilihannya hanya dua: kehilangan segalanya sekarang, atau menjadi pion di bawah kaki Leon.

"Baik... aku akan melakukannya. Tapi ingat, Ivanna, jika suatu saat kau jatuh ke tanganku lagi, aku tidak akan memberikan ampunan yang sama padamu!"

"Sayangnya," sela Leon sambil membuka pintu ruangannya, "dia tidak akan pernah jatuh lagi, karena aku yang memegang tangannya. Sekarang, keluar."

"Oke, aku ambil, Leon."

"Bagus, karena hanya aku yang bisa membantumu. Aku ingin bermesraan dengan kekasihku, sekarang pergilah." ucap Leon sembari mengibaskan tangannya seperti sedang mengusir ayam.

Begitu Matteo pergi, Ivanna merasa geram. "Menjengkelkan sekali! Ingin rasanya aku mencakar wajahnya. Kenapa tidak kulakukan saja semalam saat ada Simona juga? Aku malah pergi dengan menangis."

Leon menarik pinggang Ivanna hingga tubuh mereka merapat, lalu mengangkat dagu wanita itu agar menatap langsung ke matanya yang tajam namun penuh gairah.

"Menangis itu manusiawi, tapi membalas dendam seperti ini jauh lebih elegan, Sayang. Simpan tenagamu untuk mencakar punggungku saja nanti malam, bukan wajah pria tak berguna seperti dia."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel