2. Masih Utuh
Matteo menyesap liquor dengan penuh amarah dan kecewa. Ya, Simona benar. Awalnya dia tak peduli jika Ivanna mengendus kebusukan mereka. Namun melihat mata hijau gelap yang indah itu meredup, ternyata tak hanya Ivanna yang terluka, tapi juga dirinya.
Matteo memejamkan mata, membiarkan Simona kembali menjeratnya dalam gairah. "Diamlah, Simona. Nikmati saja kemenanganmu malam ini sebelum Ivanna benar-benar menghancurkan kita."
****
Di dalam kamar yang hanya diterangi keremangan kota, suasana terasa semakin panas dan menyesakkan. Ivanna tidak lagi memikirkan pengkhianatan Matteo; sosok Leon di hadapannya telah menghapus setiap inci rasa sakit itu dengan gairah yang menuntut.
Leon bergerak dengan ritme yang dalam dan dominan, memastikan Ivanna merasakan setiap detik kekuasaannya. Punggung mulus Ivanna melengkung, jemarinya mencengkeram sprei sutra hingga kusut.
"Tatap aku, Ivanna," bisik Leon. "Katakan siapa yang memilikimu sekarang."
"Hanya... kau, Leon," desah Ivanna dengan napas terputus-putus. "Buat aku lupa segalanya."
Leon menyeringai gelap, sebuah smirk iblis yang membuat bulu kuduk Ivanna meremang sekaligus memicu gairah yang lebih hebat. "Kau tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya menjadi milikku."
Ketegangan itu memuncak hingga ke titik didih. Ivanna merasakan gelombang gairah yang dahsyat menghantam seluruh tubuhnya.
Matanya mulai sayu, pandangannya mengabur saat dunia seolah meledak di sekelilingnya. Kaki jenjangnya mengejang hebat, otot-ototnya menegang saat badai gairah itu melumpuhkan sarafnya.
Belum sempat Ivanna menghirup oksigen kembali, Leon menyusul dengan geraman rendah yang maskulin. Dia membenamkan wajahnya di leher Ivanna, menggigit kecil kulit sensitif itu hingga memberikan tanda klaim yang permanen.
"Tidakkah ini jauh lebih nikmat daripada cinta picisan tunanganmu itu?" bisik Leon tepat di telinga Ivanna yang masih gemetar.
Ivanna hanya bisa mendesah pasrah, membiarkan dirinya tenggelam dalam dominasi sang Raja Es yang kini telah mencairkan sekaligus membakar jiwanya.
Setelah badai gairah itu mereda, Leon menarik tubuh Ivanna ke dalam dekapannya. Mereka berbaring bersisian, hanya terbungkus selimut sutra yang berantakan, sisa napas yang memburu perlahan menjadi teratur di bawah cahaya lampu kota yang masuk melalui jendela.
"Jadi, Nadia dulu kekasih Matteo saat masih SMA?" Ivanna memecah keheningan, Ia menopang dagu di dada bidang Leon yang masih hangat. "Kenapa saat itu keluargamu tidak mencarinya? Kalian sangat kaya, Leon. Bisa saja kalian mengejarnya hingga ke Inggris atau ke ujung dunia sekalipun."
Leon terdiam sejena, Ia mengusap bahu polos Ivanna ada rasa bersalah yang lama terpendam.
"Ayahku adalah pria yang menjaga reputasi di atas nyawa. Baginya, kehamilan Nadia adalah aib, bukan kejahatan Matteo. Saat aku punya kuasa untuk mengejar, dia sudah terlalu jauh bersembunyi di balik ketiak orang tuanya. Tapi sekarang, tidak ada lagi tempat baginya untuk lari."
"Lalu, apa langkah pertama kita?" tanya Ivanna lagi, jemarinya kini bermain di bekas luka kecil di lengan Leon.
Leon menunduk, mencium kening Ivanna. "Besok, kita akan membuat mereka merasa paling bahagia di dunia, sebelum aku menarik karpet dari bawah kaki mereka dan membiarkan mereka jatuh ke dalam lubang yang paling dalam."
"Tapi, Leon. Jika kau ingin berinvestasi pada perusahaan Matteo, bukankah itu akan mengingatkan bahwa nama belakang keluargamu dengan Nadia itu sama?" tanya Ivanna sambil meraih gelas air putih di nakas dan meminumnya.
Leon menarik sudut bibirnya membentuk senyum miring yang menyimpan rahasia kelam, sementara jemarinya mengusap dagu dengan tenang.
"Nadia memakai nama ibu kami di sekolah. Matteo takkan pernah menyadari bahwa malaikat yang ia hancurkan adalah adikku."
"Baiklah, aku paham. Kalau begitu, aku pulang dulu malam ini, meski di rumah aku akan bertemu dengan Simona. Maukah kau mengantarkanku pulang? Jika tidak, tak masalah, aku akan naik taksi."
"Jangan konyol. Tak ada taksi untuk wanitaku. Pakai bajumu, aku akan memastikan kau sampai ke depan pintu rumahmu."
"Baiklah. Terserah kau saja," ucap Ivanna menyerah.
Leon berganti baju dengan kaus polo warna gelap dan memberikan sebuah mantel dari jenama terkenal Italia untuk Ivanna.
"Mantel perempuan? Punya keka—"
"Ini milik ibuku," potong Leon cepat.
Mobil Leon membelah jalanan Milan yang lengang. Ivanna terdiam dengan pikiran berkecamuk; bagaimana jika ayah dan ibunya marah? Seharusnya dia pulang dengan Matteo, bukan pria lain. Sesekali dia menggigit bibir bawahnya karena cemas.
"Leon, ayahku sedikit konservatif. Apa yang harus kukatakan jika aku pulang denganmu? Seharusnya aku bersama Matteo."
"Katakan saja aku adalah calon investor barumu. Biar aku yang menghadapi ayahmu di sana."
"Bicara soal konservatif, kau termasuk anak yang patuh pada ayahmu, ya?"
"Maksudmu?"
"Kau masih perawan, kan?"
"Dari mana kau tahu? Memang terasa berbeda? Tapi aku tadi tidak mengeluarkan darah sedikit pun, Leon."
Ivanna menoleh, menatap profil samping Leon yang sedang fokus mengemudi. Ada sedikit rasa malu sekaligus penasaran yang membuncah di dadanya. Leon hanya terkekeh rendah, suara beratnya mengisi kabin mobil yang mewah itu.
Leon melirik singkat ke arah Ivanna dengan tatapan tajam yang seolah bisa menelanjangi rahasia terdalam wanita itu sekali lagi.
"Darah bukan tolok ukur, Ivanna. Reaksi tubuhmu yang kaku namun pasrah tadi sudah memberikan jawaban yang sangat jelas bagiku."
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Aku malu," Ivanna membuang muka ke arah jendela untuk menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya.
"Itu sebuah kehormatan bagiku, Iv. Dan karena aku yang mendapatkannya, itu berarti kau milikku selamanya," ucap Leon
Ia meraih tangan Ivanna, membawa jemari lentur itu ke bibirnya. Kecupan itu terasa hangat dan intim. Gesekan halus dari stubble—bulu-bulu tipis di dagu Leon—memberikan sensasi geli yang menggelanyar, membuat jantung Ivanna berdesir hebat saat menyadari betapa posesifnya pria di sampingnya ini.
