Bab 4 Pertemuan yang Tidak Disengaja
Minggu pagi selalu menjadi hari favorit Naira.
Tidak ada alarm.
Tidak ada rapat.
Tidak ada revisi desain mendadak dari klien yang tiba-tiba berubah pikiran lima menit sebelum tenggat waktu.
Yang ada hanya kasur, selimut, dan kebebasan untuk bangun sesuka hati.
Sayangnya, pagi itu kebahagiaannya hanya bertahan sampai pukul delapan.
Ponselnya berdering tanpa henti.
Naira yang masih setengah tertidur meraba-raba meja di samping tempat tidur.
"Hallo..."
"Kalau aku mati karena menunggu kamu bangun, siapa yang tanggung jawab?"
Naira langsung mengenali suara itu.
Keisya.
"Aku baru tidur jam satu."
"Sekarang jam delapan."
"Masih pagi."
"Untuk kamu, mungkin."
Naira mengerang.
"Ada apa sih?"
"Kita jadi ke bazar kreatif hari ini."
Naira membuka satu mata.
Bazar kreatif?
Ia hampir lupa.
Minggu sebelumnya Keisya memang mengajaknya menghadiri acara pameran desain dan UMKM yang sedang ramai dibicarakan di media sosial.
"Aku malas."
"Aku sudah di depan apartemenmu."
Naira langsung duduk.
"Apa?"
"Aku kasih waktu tiga puluh menit."
Sambungan telepon langsung ditutup.
"Pengganggu kehidupan."
---
Empat puluh menit kemudian.
Naira dan Keisya sudah berjalan di area bazar yang cukup ramai.
Puluhan stan berjajar di sepanjang taman kota.
Ada yang menjual kerajinan tangan, kopi, buku, ilustrasi, hingga makanan unik.
Suasana terasa hidup.
Musik akustik mengalun dari panggung kecil di tengah area.
Anak-anak berlarian.
Pasangan muda berjalan sambil bergandengan tangan.
Dan tentu saja...
Keisya sibuk memotret segalanya.
"Nai, berdiri di sana."
"Tidak."
"Ayo."
"Tidak."
"Kamu tidak mendukung karierku sebagai fotografer amatir."
"Kamu bahkan tidak punya kamera."
Keisya mengangkat ponselnya.
"Ini kamera."
"Itu alat gosip digital."
Keisya tertawa keras.
---
Di sisi lain kota.
Revan baru saja menerima telepon dari Damar.
"Kamu di rumah?"
"Iya."
"Keluar."
"Tidak."
"Aku sudah di bawah."
Revan memejamkan mata.
Kadang-kadang ia merasa Damar dan Keisya mungkin berasal dari spesies yang sama.
Sama-sama tidak menerima penolakan.
Satu jam kemudian.
Revan akhirnya berada di bazar yang sama.
Tanpa mengetahui bahwa seseorang yang selama ini mengisi hari-harinya lewat pesan singkat juga sedang berada di sana.
---
"Eh, lihat!"
Keisya menunjuk sebuah stan ilustrasi.
"Lucu banget."
Naira ikut melihat.
Memang menarik.
Beberapa ilustrator lokal memajang karya mereka dengan tema kehidupan sehari-hari yang sederhana namun menghangatkan hati.
Salah satu gambar menarik perhatian Naira.
Gambar dua orang yang duduk berjauhan sambil memegang ponsel, tetapi bayangan mereka saling bergandengan tangan.
Di bawahnya tertulis:
"Kadang seseorang yang jauh justru terasa paling dekat."
Entah kenapa, Naira langsung teringat pada Revan.
Senyumnya muncul tanpa sadar.
Keisya yang memperhatikan langsung menyipitkan mata.
"Kamu memikirkan dia ya?"
"Siapa?"
"Tuan Korban Tahunan."
Naira memukul pelan lengan sahabatnya.
"Jangan sembarangan."
"Tuh kan."
"Apa tuh kan?"
"Kamu tidak menyangkal."
Naira langsung terdiam.
Dan itu membuat Keisya tertawa semakin keras.
---
Sementara itu, beberapa puluh meter dari sana.
Revan sedang menemani Damar melihat-lihat stan kopi.
"Tidak ada yang memaksamu datang."
"Aku tahu."
"Terus kenapa datang?"
"Dipaksa."
"Itu benar."
Revan menggeleng.
Damar lalu menyerahkan secangkir kopi.
"Coba ini."
Revan menerimanya.
Baru saja ia hendak menyesap ketika seseorang tidak sengaja menabraknya dari samping.
"Aduh!"
Bruk.
Sedikit kopi tumpah ke lantai.
"Nah kan."
Revan menoleh.
Seorang gadis dengan rambut dikuncir berantakan sedang membungkuk meminta maaf.
"Maaf! Maaf! Aku tidak lihat."
"Tidak apa-apa."
Gadis itu kembali meminta maaf lalu buru-buru pergi.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Bahkan Revan tidak sempat melihat wajahnya dengan jelas.
Namun entah kenapa suara gadis itu terdengar menyenangkan.
"Korban lagi?"
Damar menahan tawa.
Revan mengabaikannya.
Tanpa mereka sadari...
Gadis yang menabrak Revan barusan adalah Naira.
---
Di sisi lain area bazar.
Naira sedang memegang dada.
"Astaga."
"Kenapa?"
"Aku menabrak orang."
Keisya tertawa.
"Itu bakat alami kamu."
"Untung kopinya tidak kena bajunya."
"Orangnya ganteng?"
Naira berpikir.
"Aku tidak lihat."
"Kamu ini."
"Aku fokus minta maaf."
Padahal jika ia mengangkat kepala beberapa detik lebih lama, ia akan melihat wajah pria yang selama ini mengiriminya pesan setiap hari.
---
Menjelang siang.
Matahari mulai terasa terik.
Naira dan Keisya memutuskan duduk di area taman sambil menikmati minuman dingin.
Saat itulah ponsel Naira berbunyi.
Sebuah pesan masuk.
Dari Revan.
Senyumnya langsung muncul.
Revan: Lagi apa?
Naira: Lagi di bazar kreatif.
Di tempat lain, Revan membaca pesan itu sambil mengangkat alis.
Kebetulan sekali.
Revan: Aku juga.
Naira langsung duduk tegak.
Naira: Serius?
Revan: Iya.
Naira: Yang di Taman Merdeka?
Revan: Iya.
Mata Naira membesar.
Naira: TUNGGU.
Revan: Kenapa?
Naira: Berarti kita ada di tempat yang sama?
Di sisi lain layar, Revan tersenyum.
Revan: Sepertinya begitu.
Jantung Naira langsung berdebar lebih cepat.
Entah kenapa.
Padahal mereka hanya berada di lokasi yang sama.
Belum tentu bertemu.
Namun perasaan itu tetap muncul.
Aneh.
Sangat aneh.
---
Keisya langsung heboh ketika mengetahui hal itu.
"APA?"
"Pelan!"
"Dia ada di sini?"
"Iya."
"Mana orangnya?"
"Aku mana tahu."
"Telepon dia."
"Tidak."
"Kenapa?"
Naira menggigit bibir.
Ia sendiri tidak tahu jawabannya.
Mungkin gugup.
Mungkin takut.
Mungkin karena selama ini hubungan mereka terasa nyaman justru karena tidak ada ekspektasi.
Namun sekarang semuanya terasa berbeda.
Karena untuk pertama kalinya, kemungkinan bertemu menjadi nyata.
---
Sementara itu.
Damar juga mengetahui kabar yang sama.
"Dia ada di sini?"
"Iya."
"Terus?"
"Terus apa?"
"Cari."
Revan menggeleng.
"Itu konyol."
"Tidak lebih konyol daripada chat setiap hari tanpa tahu wajah orangnya."
Revan tidak bisa membantah.
---
Selama satu jam berikutnya.
Takdir kembali memainkan permainan yang sama.
Naira melewati stan buku yang baru saja ditinggalkan Revan.
Revan duduk di bangku taman yang baru saja ditinggalkan Naira.
Jarak mereka tidak pernah lebih dari lima puluh meter.
Namun mereka tetap gagal bertemu.
Seolah ada kekuatan tak terlihat yang sengaja menahan mereka.
---
Menjelang sore.
Naira berdiri di dekat air mancur sambil meminum es kopi.
Ponselnya kembali berbunyi.
Revan: Sepertinya kita memang sulit bertemu.
Naira tertawa kecil.
Naira: Mungkin takdir sedang bercanda.
Revan: Atau kita terlalu banyak bergerak.
Naira: Itu juga benar.
Beberapa detik kemudian.
Muncul pesan baru.
Revan: Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertemu minggu depan?
Naira membeku.
Jantungnya langsung berdetak lebih cepat.
Minggu depan.
Bertemu.
Benar-benar bertemu.
Untuk pertama kalinya.
---
Keisya yang melihat ekspresi sahabatnya langsung mendekat.
"Ada apa?"
Naira menunjukkan layar ponselnya.
Keisya membaca pesan itu.
Lalu berteriak kecil.
"YA AMPUN!"
"Pelan!"
"Dia ngajak ketemu!"
"Aku tahu."
"Terus kamu jawab apa?"
Naira menatap layar.
Lama.
Sangat lama.
Lalu mengetik perlahan.
Naira: Baiklah.
Pesan terkirim.
Dan dalam hitungan detik balasan datang.
Revan: Baik.
Sesederhana itu.
Namun entah kenapa.
Senyum tidak bisa hilang dari wajah mereka berdua.
---
Malam itu.
Di apartemennya masing-masing.
Naira dan Revan sama-sama memandangi layar ponsel dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Minggu depan.
Mereka akhirnya akan bertemu.
Tidak ada lagi layar.
Tidak ada lagi imajinasi.
Tidak ada lagi rasa penasaran.
Yang ada hanya kenyataan.
Namun jauh di dalam hati mereka.
Ada kegugupan yang mulai tumbuh.
Karena bagaimana jika kenyataan berbeda dari harapan?
Bagaimana jika hubungan yang terasa begitu mudah lewat pesan ternyata menjadi canggung saat bertemu?
Dan yang paling menakutkan...
Bagaimana jika mereka tidak menyukai satu sama lain di dunia nyata?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala mereka hingga malam semakin larut.
Sementara di luar sana, takdir tersenyum diam-diam.
Karena pertemuan yang mereka rencanakan minggu depan tidak akan berjalan semudah yang mereka bayangkan.
Bahkan sebelum hari itu tiba, sebuah kejadian tak terduga akan lebih dulu mengubah arah hubungan mereka.
