Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 - Sebuah Rahasia yang Terlalu Besar

Senin pagi datang lebih cepat dari yang diinginkan Naira.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Biasanya ia membenci hari Senin.

Hari penuh rapat, revisi, dan kopi yang tidak pernah cukup.

Tapi pagi ini, saat membuka mata, hal pertama yang muncul di pikirannya bukan pekerjaan.

Melainkan pesan dari Revan.

Atau lebih tepatnya...

Rencana pertemuan mereka minggu depan.

Naira menutupi wajahnya dengan bantal.

"Aku kenapa sih?"

Ia bahkan tidak pernah segugup ini saat presentasi di depan klien besar.

Namun memikirkan bertemu seorang pria yang selama ini hanya dikenalnya lewat pesan membuat jantungnya berdebar aneh.

---

Di kantor, Keisya langsung menangkap perubahan itu.

"Kamu senyum lagi."

"Aku memang ramah."

"Kamu sedang kasmaran."

Naira hampir tersedak kopinya.

"Kasmaran apanya?"

"Kamu bahkan pakai lip balm ke kantor."

"Itu supaya bibirku tidak pecah."

"Alasan."

Naira memutar bola mata.

Percuma berdebat dengan Keisya.

Sahabatnya itu sudah memutuskan teori sendiri dan tidak akan mengubah pendapatnya.

---

Di sisi lain kota.

Revan sedang menghadiri rapat mingguan.

Di layar besar, berbagai grafik dan laporan keuangan ditampilkan.

Semua orang fokus.

Semua orang serius.

Namun perhatian Revan sesekali teralihkan ke ponselnya.

Sebuah kebiasaan baru yang mulai ia sadari.

Saat rapat berakhir, Damar langsung mendekat.

"Kamu sedang menunggu pesan ya?"

"Tidak."

"Bohong."

"Aku tidak bohong."

"Kamu membuka ponsel enam kali dalam tiga puluh menit."

Revan terdiam.

Damar tersenyum puas.

"Akhirnya."

"Akhirnya apa?"

"Kamu terlihat seperti manusia normal."

---

Siang hari.

Ponsel Naira bergetar.

Revan: Bagaimana hari Seninmu?

Naira langsung tersenyum.

Naira: Masih hidup.

Revan: Syukurlah.

Naira: Bagaimana denganmu?

Balasan datang beberapa menit kemudian.

Revan: Baru selesai rapat.

Naira: Menyenangkan?

Revan: Tidak ada rapat yang menyenangkan.

Naira tertawa kecil.

Salah satu hal yang ia sukai dari Revan adalah kejujurannya.

Pria itu jarang berbicara berlebihan.

Namun selalu berhasil membuatnya tersenyum.

---

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.

Namun semakin dekat dengan hari pertemuan mereka, suasana hati Naira mulai berubah.

Ia menjadi lebih sering melamun.

Lebih sering memeriksa ponsel.

Dan yang paling parah...

Lebih sering memikirkan seperti apa wajah Revan sebenarnya.

Sore itu, saat sedang bekerja, ia membuka aplikasi pesan.

Jarinya mengetik sesuatu.

Lalu menghapusnya.

Mengetik lagi.

Menghapus lagi.

Keisya yang melihat dari meja sebelah langsung penasaran.

"Kamu sedang apa?"

"Tidak apa-apa."

"Kamu mau tanya sesuatu ke Revan?"

Naira langsung menatap sahabatnya.

"Kok tahu?"

"Karena wajahmu seperti orang yang sedang menyusun surat cinta."

Naira menghela napas.

"Sebenarnya aku penasaran."

"Penasaran apa?"

"Dia kerja apa."

Keisya berkedip.

"Cuma itu?"

"Iya."

"Kamu bahkan belum tahu pekerjaannya?"

Naira menggeleng.

Mereka memang sering berbincang.

Namun anehnya, banyak hal pribadi yang belum pernah dibahas secara detail.

Termasuk pekerjaan masing-masing.

---

Malam harinya.

Naira akhirnya memberanikan diri bertanya.

Naira: Aku baru sadar kita tidak pernah membahas pekerjaan secara detail.

Beberapa menit kemudian.

Revan: Benar juga.

Naira: Jadi sebenarnya kamu kerja apa?

Balasan tidak langsung datang.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Naira mulai berpikir mungkin Revan sedang sibuk.

Namun akhirnya sebuah pesan muncul.

Revan: Aku bekerja di perusahaan keluarga.

Naira membaca pesan itu.

Sederhana.

Sangat sederhana.

Namun terasa seperti ada sesuatu yang sengaja tidak dijelaskan.

Naira: Sebagai?

Kali ini balasan datang lebih cepat.

Revan: Manajemen.

Naira mengangguk pelan.

Masuk akal.

Meski tetap terasa samar.

Namun ia tidak memaksa.

Karena setiap orang punya batas privasi.

---

Yang tidak diketahui Naira adalah...

Di apartemennya, Revan sedang menatap layar ponsel dengan perasaan bersalah.

Bukan karena ia berbohong.

Namun karena ia tidak sepenuhnya jujur.

Ia memang bekerja di perusahaan keluarga.

Namun ia tidak mengatakan bahwa dirinya adalah calon direktur utama.

Bahwa keluarganya termasuk salah satu keluarga bisnis terbesar di kota.

Bahwa hidupnya jauh lebih rumit daripada yang terlihat.

Revan tidak pernah berniat menyembunyikan semuanya.

Ia hanya...

Menikmati keadaan sekarang.

Keadaan di mana Naira berbicara dengannya sebagai Revan.

Bukan sebagai pewaris perusahaan.

Bukan sebagai calon direktur.

Hanya sebagai dirinya sendiri.

---

Dua hari kemudian.

Masalah mulai muncul.

Revan baru saja tiba di rumah orang tuanya ketika ibunya memanggil.

"Revan."

"Iya, Ma."

"Minggu depan kamu kosong?"

Pertanyaan sederhana itu langsung membuat instingnya waspada.

"Kenapa?"

"Mama ingin mengenalkanmu dengan seseorang."

Nah.

Ini dia.

Lagi.

"Ma."

"Dengar dulu."

"Aku tidak tertarik."

"Kamu bahkan belum bertemu dengannya."

Revan menghela napas.

Sudah bertahun-tahun pembicaraan ini selalu berakhir sama.

Namun kali ini berbeda.

Karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang membuatnya tidak ingin dijodohkan.

Seseorang yang membuatnya ingin mencoba memperjuangkan perasaannya sendiri.

Meski hubungan itu bahkan belum memiliki nama.

---

Sementara itu.

Naira juga sedang menghadapi masalahnya sendiri.

Saat pulang ke rumah ibunya untuk makan malam, ia disambut pertanyaan yang sangat familiar.

"Naira."

"Iya, Bu?"

"Minggu depan ada acara keluarga."

Naira langsung curiga.

"Oh."

"Datang ya."

"Iya."

"Lalu ada anak teman Mama yang juga datang."

Naira memejamkan mata.

Tebakannya benar.

"Bu..."

"Cuma kenalan."

"Kata-kata itu selalu berakhir buruk."

Ibunya tertawa.

Namun Naira tidak ikut tertawa.

Karena minggu depan ia sudah punya rencana.

Pertemuan dengan Revan.

---

Hari Jumat akhirnya tiba.

Hanya tinggal dua hari lagi.

Naira sedang berada di apartemen sambil memilih pakaian.

Keisya yang datang berkunjung langsung terkejut.

"Tunggu."

"Apa?"

"Kamu sedang memilih baju?"

"Iya."

"Untuk bertemu Revan?"

Naira diam.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

Keisya langsung menjatuhkan diri ke sofa.

"Aku tidak percaya."

"Apa?"

"Naira Arunika yang biasanya pakai kaus apa saja sekarang bingung memilih baju."

"Aku cuma ingin terlihat rapi."

"Kamu ingin terlihat cantik."

Naira melempar bantal ke arahnya.

---

Di waktu yang sama.

Revan sedang berdiri di depan lemari pakaiannya.

Damar yang kebetulan datang langsung tertawa.

"Tidak mungkin."

"Apa?"

"Kamu juga?"

"Aku cuma memilih kemeja."

"Kamu punya lima puluh kemeja."

"Itulah masalahnya."

Damar tertawa sampai hampir jatuh dari kursi.

---

Malam itu.

Percakapan mereka terasa sedikit berbeda.

Lebih hati-hati.

Lebih gugup.

Seolah keduanya sama-sama menyadari bahwa hubungan mereka akan segera memasuki babak baru.

Naira: Gugup?

Pesan itu muncul tiba-tiba.

Revan tersenyum.

Revan: Sedikit.

Naira: Aku juga.

Revan: Syukurlah.

Naira: Kenapa syukurlah?

Revan: Karena berarti aku tidak sendirian.

Naira tersenyum kecil.

Lalu mengetik.

Naira: Bagaimana kalau kita ternyata canggung?

Revan: Kita sudah mengobrol setiap hari selama hampir sebulan.

Naira: Tetap saja berbeda.

Revan: Kalau begitu kita canggung bersama-sama.

Naira tertawa.

Dan untuk sesaat, semua kegugupan itu menghilang.

---

Namun jauh di balik semua perasaan hangat itu, sebuah rahasia masih berdiri di antara mereka.

Rahasia yang belum diketahui Naira.

Rahasia tentang siapa Revan sebenarnya.

Dan rahasia itu akan segera muncul ke permukaan.

Karena dunia mereka ternyata jauh lebih dekat daripada yang mereka bayangkan.

Perusahaan tempat Naira bekerja dan perusahaan milik keluarga Revan sedang bersiap mengumumkan kerja sama besar.

Sebuah kerja sama yang akan membuat nama Revan muncul di hadapan seluruh karyawan.

Termasuk Naira.

Dan ketika hari itu tiba, Naira akan menyadari satu hal yang mengejutkan.

Pria yang selama ini ia kenal sebagai teman sederhana di balik layar ponsel ternyata menyimpan identitas yang sama sekali tidak pernah ia duga.

Sementara pertemuan pertama mereka tinggal menghitung hari.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel