Pustaka
Bahasa Indonesia

Nomor yang Salah, jodoh yang tepat

39.0K · Tamat
Gioni
35
Bab
11
View
9.0
Rating

Ringkasan

Naira Arunika tidak pernah menyangka bahwa satu kesalahan kecil akan mengubah hidupnya. Karena kesal terus-menerus ditanya kapan menikah, Naira tanpa sengaja mengirim pesan curhat panjang ke nomor yang salah. Bukannya diabaikan, pesan itu justru dibalas oleh seorang pria asing bernama Revan Adhikara. Awalnya hanya percakapan iseng antara dua orang yang sama-sama lelah menghadapi tuntutan hidup. Namun hari demi hari, pesan-pesan singkat itu berubah menjadi kebiasaan yang selalu mereka tunggu. Mereka berbagi cerita, mimpi, kegagalan, dan tawa tanpa pernah bertukar foto atau bertemu langsung. Di balik layar ponsel, keduanya menemukan kenyamanan yang tidak pernah mereka temukan pada orang lain. Tanpa mereka sadari, takdir sebenarnya telah berkali-kali mempertemukan mereka di dunia nyata. Mereka berada di gedung yang sama, mengunjungi tempat yang sama, bahkan berdiri hanya beberapa langkah satu sama lain—namun selalu gagal saling mengenali. Sementara perasaan mereka tumbuh semakin dalam, berbagai masalah mulai berdatangan. Mantan pacar Naira yang tiba-tiba ingin kembali, keluarga Revan yang telah menyiapkan calon pasangan pilihan, hingga rahasia identitas Revan yang tidak pernah diketahui Naira. Ketika akhirnya mereka bertemu, kenyataan tidak seindah yang mereka bayangkan. Kesalahpahaman, luka, dan pilihan sulit menguji hubungan yang lahir dari sebuah pesan nyasar. Akankah cinta mereka cukup kuat untuk menghadapi semua rintangan? Ataukah kisah yang berawal dari nomor yang salah akan berakhir sebagai kenangan yang salah pula? Karena terkadang, takdir memiliki cara yang unik untuk mempertemukan dua hati yang saling mencari. Dan kadang, jodoh terbaik datang dari tempat yang paling tidak terduga. Tagline "Satu pesan yang salah. Satu pertemuan yang terlambat. Dan satu cinta yang ternyata sudah ditakdirkan sejak awal."

RomansaDesainerSweetBaperCoganModern

Bab 1 - Pesan yang Terkirim ke Orang yang Salah

"Kalau bulan depan kamu masih jomblo, Mama kenalkan sama anak teman Mama."

Kalimat itu kembali terdengar di telinga Naira Arunika bahkan setelah panggilan telepon dengan ibunya berakhir lima menit yang lalu.

Ia menatap layar laptop di depannya dengan wajah datar. Kursor yang sejak tadi berkedip-kedip di sudut desain poster terasa seperti sedang mengejeknya.

Di kantor, semua orang masih sibuk bekerja. Suara keyboard beradu dengan dengungan pendingin ruangan. Namun di kepala Naira, yang terngiang hanyalah satu hal.

Jomblo.

Jomblo.

Jomblo.

"Aku baru dua puluh empat tahun, Bu," gumamnya pelan.

"Nai, kamu ngomong sama siapa?"

Naira mendongak. Keisya, sahabat sekaligus rekan kerjanya, berdiri sambil membawa dua gelas kopi.

"Sama nasib."

Keisya tertawa.

"Kenapa lagi?"

Naira menghela napas panjang.

"Mama nelpon."

"Oh."

Keisya langsung paham.

"Masalah jodoh?"

Naira mengangguk lesu.

"Beliau bilang kalau bulan depan aku masih sendiri, aku bakal dijodohkan."

Keisya hampir menyemburkan kopinya.

"Serius?"

"Serius."

"Zaman sekarang masih ada yang begitu?"

"Ada. Namanya ibuku."

Keisya kembali tertawa.

Meski kesal, Naira ikut tersenyum.

Begitulah Keisya. Ia selalu berhasil membuat suasana menjadi lebih ringan.

"Siapa tahu jodohnya ganteng," goda Keisya.

"Aku maunya kaya."

"Kamu materialistis."

"Aku realistis."

Mereka tertawa bersama.

Namun setelah itu, Naira kembali menatap layar komputernya.

Sebenarnya bukan soal dijodohkan yang membuatnya kesal.

Ia hanya lelah.

Selama dua tahun terakhir, setiap acara keluarga selalu berakhir dengan pertanyaan yang sama.

"Kapan punya pacar?"

"Kapan nikah?"

"Kapan kasih cucu?"

Seolah hidupnya tidak memiliki pencapaian lain.

Padahal ia baru saja mendapatkan promosi sebagai desainer senior di perusahaan startup tempatnya bekerja.

Namun semua itu seakan kalah penting dibanding status hubungannya.

---

Pukul delapan malam.

Naira akhirnya tiba di apartemen kecil yang ia sewa.

Begitu masuk, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

Hari itu benar-benar melelahkan.

Ia membuka aplikasi pesan dan berniat mengeluh kepada Keisya.

Sahabatnya itu sudah terbiasa menjadi tempat sampah emosinya.

Jari-jari Naira bergerak cepat di layar.

"Aku sumpah ya."

"Kalo besok ada lagi yang nanya kapan nikah, aku mau pura-pura jadi biarawati aja."

"Tiap hari ditanya jodoh."

"Memangnya pacar bisa dibeli di minimarket?"

"Lagian kalau jodoh gampang dicari, aku udah pesan satu dari tahun lalu."

"Kenapa hidupku begini banget sih?"

Setelah selesai mengetik, ia menekan tombol kirim tanpa melihat lagi nama penerima.

Lalu melempar ponselnya ke samping.

Beberapa menit kemudian, layar ponselnya menyala.

Ada balasan.

Naira mengambil ponselnya.

Awalnya ia mengira itu Keisya.

Namun saat membaca isi pesan tersebut, ia mengernyit.

"Kalau pacar dijual di minimarket, saya juga mau beli satu."

Naira membeku.

Apa?

Ia melihat nama kontak di atas.

Nomor asing.

Nomor yang sama sekali tidak dikenalnya.

Mata Naira membesar.

"Ya ampun."

Ia langsung duduk tegak.

Baru sekarang ia sadar bahwa pesan panjang tadi ternyata tidak terkirim kepada Keisya.

Entah bagaimana, ia salah memilih nomor.

Mungkin karena beberapa hari lalu ada pelanggan yang menghubunginya terkait pekerjaan freelance.

Dengan panik, Naira mengetik balasan.

"Maaf! Salah kirim pesan."

Balasan datang cepat.

"Saya juga salah nasib."

Naira berkedip.

Lalu tanpa sadar tertawa.

Untuk pertama kalinya malam itu.

Orang asing ini cukup lucu.

"Maaf benar-benar ya."

"Tidak masalah. Saya jadi tahu ada orang lain yang juga dikejar pertanyaan kapan menikah."

Naira tersenyum.

"Jadi Anda juga korban?"

"Korban tahunan."

"Saya korban harian."

"Turut berduka."

Naira menutup mulutnya menahan tawa.

Aneh.

Ia bahkan tidak tahu siapa orang ini.

Namun percakapan singkat itu terasa lebih menghibur daripada seluruh hari yang melelahkan tadi.

---

Di tempat lain.

Sebuah apartemen mewah di pusat kota.

Revan Adhikara sedang duduk di meja kerja sambil meninjau rancangan bangunan.

Seharian ia menghadiri rapat dan bertemu klien.

Biasanya malam adalah waktu favoritnya untuk bekerja dalam ketenangan.

Namun pesan nyasar yang masuk beberapa menit lalu berhasil mengalihkan fokusnya.

Ia menatap layar ponsel.

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

Jarang sekali ada sesuatu yang membuatnya tertawa.

Terlebih pesan dari orang asing yang mengeluhkan hidupnya seperti sedang menulis buku harian.

Ponselnya kembali berbunyi.

"Kalau boleh tahu, Anda siapa?"

Revan membaca pesan itu.

Lalu mengetik.

"Saya juga ingin bertanya hal yang sama."

Balasan datang hampir seketika.

"Nama saya Naira."

Revan menatap nama itu beberapa detik.

Naira.

Nama yang terdengar hangat.

"Saya Revan."

Beberapa detik berlalu.

Kemudian muncul pesan baru.

"Senang bertemu Anda, Tuan Korban Tahunan."

Revan terkekeh pelan.

Entah kenapa julukan itu terdengar lucu.

"Senang bertemu Anda juga, Nona Korban Harian."

---

Percakapan yang awalnya hanya karena salah kirim pesan ternyata terus berlanjut.

Mereka mulai membahas hal-hal sederhana.

Film favorit.

Makanan kesukaan.

Keluhan tentang pekerjaan.

Dan ternyata, keduanya sama-sama menyukai kopi.

"Saya minum kopi tiga gelas sehari," tulis Naira.

"Itu berbahaya."

"Saya tahu."

"Kenapa tetap dilakukan?"

"Karena saya suka hidup berisiko."

Revan menggeleng sambil tersenyum.

Gadis ini benar-benar unik.

---

Tanpa terasa jam menunjukkan pukul sebelas malam.

Biasanya Revan sudah menyelesaikan pekerjaannya.

Namun malam ini berbeda.

Ia justru masih memegang ponsel.

Membaca setiap pesan yang masuk.

Sementara itu, Naira juga mulai menyadari sesuatu.

Orang asing bernama Revan ini ternyata menyenangkan.

Tidak menghakimi.

Tidak sok tahu.

Dan yang paling penting...

Tidak pernah bertanya kapan ia menikah.

Sebuah kualitas langka menurutnya.

"Kalau boleh jujur," tulis Naira.

"Hm?"

"Hari ini sebenarnya hari yang buruk."

"Kenapa?"

"Karena aku kesal setelah ditelepon Mama."

"Lalu?"

"Aku merasa hidupku berantakan."

Revan membaca pesan itu perlahan.

Kemudian mengetik.

"Kalau hidupmu benar-benar berantakan, kamu tidak akan masih bisa bercanda seperti ini."

Naira terdiam.

Matanya terpaku pada layar.

Entah kenapa kalimat sederhana itu terasa menenangkan.

---

Di luar jendela apartemennya, lampu-lampu kota masih bersinar.

Naira memandang langit malam.

Lalu tersenyum kecil.

Aneh sekali.

Beberapa jam lalu ia merasa hari itu adalah hari terburuk.

Namun sekarang suasana hatinya jauh lebih baik.

Hanya karena berbicara dengan seseorang yang bahkan belum pernah ia temui.

Ponselnya kembali berbunyi.

Pesan dari Revan.

"Terima kasih sudah salah kirim pesan."

Naira tertawa.

Kemudian membalas.

"Terima kasih sudah membalas pesan orang asing."

Tak lama kemudian muncul balasan terakhir malam itu.

"Selamat malam, Nona Korban Harian."

Senyum Naira semakin lebar.

"Selamat malam, Tuan Korban Tahunan."

Setelah itu percakapan berhenti.

Namun tanpa mereka sadari, sebuah kesalahan kecil yang terjadi malam itu baru saja membuka pintu menuju kisah yang akan mengubah hidup keduanya.

Karena terkadang, takdir tidak datang dengan cara yang megah.

Kadang ia hanya muncul dalam bentuk satu pesan yang terkirim ke nomor yang salah.