Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 - Hampir Bertemu

Pagi itu, Naira terlambat bangun.

Lagi.

Alarm yang ia pasang pukul enam pagi ternyata hanya berhasil membuatnya berganti posisi tidur tiga kali sebelum akhirnya benar-benar terbangun pukul tujuh lewat dua puluh menit.

"Astaga!"

Naira langsung melompat dari tempat tidur.

Hari itu timnya harus menghadiri presentasi penting dengan calon klien baru. Jika terlambat, atasannya bisa mengomel sepanjang minggu.

Dengan gerakan secepat kilat, ia mandi, berpakaian, lalu keluar apartemen sambil menggigit roti tawar yang bahkan belum sempat diolesi apa pun.

Begitu tiba di lobi gedung kantornya, napasnya sudah ngos-ngosan.

Keisya yang sedang menunggu di depan lift langsung menggeleng.

"Kamu lagi?"

"Aku korban kasur."

"Kamu itu korban kemalasan."

"Jangan berkata kasar di pagi hari."

Keisya tertawa.

"Kamu tahu tidak? Pak Arman sudah tanya kamu dua kali."

Naira langsung memejamkan mata.

"Hari ini bakal panjang."

---

Di tempat lain, pagi Revan jauh lebih teratur.

Ia sudah tiba di kantor pukul delapan tepat.

Di ruang rapat lantai dua puluh lima, beberapa manajer sedang mempersiapkan presentasi kerja sama dengan sebuah perusahaan startup kreatif yang akan menjadi mitra proyek terbaru perusahaan keluarga mereka.

Revan membaca berkas yang diberikan asistennya.

"Nanti tim desain mereka juga hadir, Pak."

"Hm."

"Presentasi dimulai pukul sepuluh."

Revan mengangguk.

Baginya, itu hanya satu rapat dari sekian banyak rapat yang harus dihadiri.

Tidak ada yang istimewa.

Setidaknya, begitu yang ia pikirkan saat itu.

---

Sementara itu, di kantor Naira.

Semua orang sedang sibuk mempersiapkan bahan presentasi.

Pak Arman berjalan mondar-mandir sambil memastikan tidak ada kesalahan.

"Naira."

"Iya, Pak."

"Kamu yang menjelaskan konsep visual nanti."

"Baik."

"Jangan gugup."

"Saya tidak gugup."

"Kamu berkeringat."

"Karena saya lari dari parkiran."

Pak Arman menghela napas.

"Kamu memang unik."

---

Menjelang pukul sepuluh, rombongan kantor Naira tiba di gedung perusahaan klien.

Begitu turun dari mobil, Naira langsung mendongak.

Gedung tinggi itu menjulang megah di hadapannya.

"Wow."

Keisya ikut menoleh.

"Keren ya."

"Kalau aku kerja di sini, mungkin aku bakal tersesat setiap hari."

"Itu bukan mungkin."

"Itu fakta."

Mereka tertawa sambil berjalan masuk.

Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa seseorang yang selama seminggu terakhir menjadi bagian penting dari hari-hari Naira sedang berada di gedung yang sama.

Hanya berbeda beberapa lantai.

---

Di lantai dua puluh lima.

Revan sedang menandatangani beberapa dokumen.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Naira.

Senyum kecil langsung muncul di wajahnya.

Naira: Hari ini aku mau presentasi penting.

Revan: Semangat.

Naira: Kalau gagal, aku pura-pura hilang dari kota.

Revan: Itu solusi yang berlebihan.

Naira: Aku suka solusi dramatis.

Revan: Aku tidak heran.

Revan terkekeh pelan.

Asistennya yang melihat pemandangan itu sampai berkedip.

Sudah hampir tiga tahun ia bekerja untuk Revan.

Dan sangat jarang melihat atasannya tersenyum karena pesan di ponsel.

Sangat jarang.

---

Sementara itu, Naira dan timnya sedang menuju ruang rapat menggunakan lift.

Lift penuh sesak.

Ketika pintu terbuka di lantai dua puluh dua, beberapa orang masuk.

Salah satunya seorang pria tinggi dengan jas hitam yang tampak sangat tampan.

Keisya langsung menyikut lengan Naira.

"Nai."

"Hm?"

"Lihat kiri."

Naira menoleh.

"Oh."

"Cuma oh?"

"Cuma oh."

Keisya menatapnya tidak percaya.

"Pria itu seperti tokoh utama drama."

"Dan aku seperti tokoh figuran yang lewat di belakang."

Keisya hampir tertawa keras.

Untung lift segera berhenti.

Mereka keluar menuju ruang rapat.

Sementara pria tadi berjalan ke arah lain.

Tidak ada yang tahu bahwa itu adalah Damar.

Sahabat sekaligus tangan kanan Revan.

Takdir seolah sengaja mempermainkan mereka.

Membawa mereka semakin dekat.

Namun belum membiarkan mereka bertemu.

---

Presentasi berjalan lancar.

Bahkan jauh lebih baik daripada yang dibayangkan Naira.

Saat menjelaskan konsep desain, ia berhasil membuat beberapa peserta rapat mengangguk setuju.

Pak Arman yang biasanya pelit pujian bahkan terlihat puas.

Ketika acara selesai, Naira menghela napas lega.

"Aku hidup."

Keisya tertawa.

"Selamat. Kamu berhasil."

"Terima kasih."

"Sebagai hadiah, traktir kopi."

"Kamu lebih menakutkan dari klien."

---

Sore harinya, setelah semua urusan selesai, mereka memutuskan mampir ke sebuah kafe yang berada di dalam kompleks gedung.

Tempat itu cukup ramai.

Naira dan Keisya duduk di dekat jendela.

Sementara di sisi lain ruangan...

Beberapa meja dari mereka.

Revan dan Damar juga sedang minum kopi sambil membahas proyek.

Namun karena posisi duduk terhalang rak dekorasi, keduanya tidak saling melihat.

"Naira."

"Hm?"

"Kalau si Revan itu ngajak ketemu, kamu mau?"

Naira hampir tersedak kopinya.

"Kenapa tiba-tiba?"

"Jawab dulu."

Naira berpikir.

Beberapa minggu lalu, ia pasti akan langsung menjawab tidak.

Namun sekarang...

Entah kenapa jawabannya tidak sesederhana itu.

"Mungkin."

Keisya langsung tersenyum lebar.

"Nah."

"Tapi cuma mungkin."

"Itu kemajuan."

---

Di meja lain.

Damar juga sedang menginterogasi Revan.

"Kamu masih chat sama cewek misterius itu?"

Revan menyesap kopinya.

"Iya."

"Sudah lihat fotonya?"

"Belum."

Damar membelalak.

"Serius?"

"Iya."

"Zaman sekarang ada hubungan tanpa tukar foto?"

"Kami cuma teman."

Damar tertawa keras.

"Kalau cuma teman, kenapa setiap ada pesan masuk kamu langsung buka?"

Revan terdiam.

Sayangnya, Damar benar.

Beberapa minggu terakhir, ia selalu menunggu pesan dari Naira.

Sesuatu yang bahkan tidak pernah ia lakukan untuk siapa pun.

---

Takdir kembali bermain sore itu.

Saat Naira pergi ke kasir untuk membayar pesanannya, di saat yang sama Revan berdiri untuk menerima panggilan telepon di luar kafe.

Keduanya melewati koridor yang sama.

Hanya berbeda beberapa detik.

Jika salah satu berjalan sedikit lebih cepat...

Jika salah satu berhenti beberapa saat...

Mereka pasti bertemu.

Namun takdir belum mengizinkannya.

---

Malam hari.

Naira tiba di apartemen dalam keadaan lelah.

Namun perasaannya cukup baik.

Presentasi sukses.

Atasannya puas.

Dan tidak ada bencana besar yang terjadi.

Ponselnya berbunyi.

Revan: Presentasinya bagaimana?

Senyum Naira muncul.

Naira: Aku berhasil bertahan hidup.

Revan: Selamat.

Naira: Terima kasih. Sebagai hadiah, aku membeli kopi mahal.

Revan: Pantas bahagia.

Naira: Benar sekali.

Percakapan berlanjut.

Seperti biasa.

Ringan.

Menyenangkan.

Dan membuat waktu terasa berjalan lebih cepat.

---

Malam semakin larut.

Untuk pertama kalinya, mereka mulai membahas kemungkinan bertemu.

Awalnya hanya bercanda.

Naira: Kadang aku penasaran seperti apa wajahmu.

Begitu mengirim pesan itu, Naira langsung menyesal.

Terlalu langsung.

Terlalu aneh.

Namun balasan Revan datang beberapa detik kemudian.

Revan: Aku juga penasaran.

Jantung Naira berdegup sedikit lebih cepat.

Ia menggigit bibir bawahnya.

Lalu mengetik.

Naira: Bagaimana kalau ternyata kita saling kecewa?

Revan membaca pesan itu sambil tersenyum.

Revan: Aku rasa tidak.

Naira: Kenapa yakin sekali?

Revan: Karena orang yang bisa membuatku tertawa setiap hari pasti tidak mengecewakan.

Naira terdiam.

Pipinya terasa hangat.

Untuk pertama kalinya sejak mereka berkenalan, ia tidak tahu harus menjawab apa.

---

Di apartemennya, Revan juga memandangi layar ponsel lebih lama dari biasanya.

Kalimat itu keluar begitu saja.

Namun ia sadar satu hal.

Perasaannya terhadap Naira mulai berubah.

Perlahan.

Tanpa ia sadari.

Bukan lagi sekadar teman mengobrol.

Bukan lagi sekadar orang asing yang salah kirim pesan.

Naira telah menjadi seseorang yang selalu ia pikirkan.

Seseorang yang selalu ingin ia dengar kabarnya.

Seseorang yang membuat hari-harinya terasa lebih ringan.

---

Malam itu sebelum tidur, Naira memandangi percakapan mereka.

Lalu tersenyum kecil.

Mungkin Keisya benar.

Mungkin ini memang awal sesuatu.

Atau mungkin tidak.

Namun satu hal yang pasti.

Ia sudah tidak menganggap Revan sebagai orang asing lagi.

Dan tanpa mereka sadari, takdir yang selama ini mempertemukan mereka lewat layar ponsel sedang menyusun rencana yang jauh lebih besar.

Karena dalam waktu dekat, mereka tidak hanya akan hampir bertemu.

Mereka akan benar-benar bertabrakan di dunia nyata.

Tanpa mengetahui bahwa orang yang selama ini mereka cari ternyata sudah berdiri tepat di depan mata.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel