Bab 2 - Selamat Pagi, Orang Asing
Naira terbangun dengan senyum yang bahkan ia sendiri tidak sadari.
Selama beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit apartemennya sambil mencoba mengingat apa yang membuat suasana hatinya terasa begitu ringan pagi itu.
Lalu ingatannya kembali pada percakapan semalam.
Nomor yang salah.
Pesan yang nyasar.
Dan seorang pria bernama Revan.
Naira buru-buru meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas.
Tidak ada pesan baru.
Entah kenapa, ia sedikit kecewa.
"Tunggu dulu."
Naira langsung menepuk dahinya sendiri.
"Apa-apaan sih, Naira? Dia cuma orang asing."
Ia turun dari tempat tidur dan bersiap berangkat kerja seperti biasa.
Namun sepanjang perjalanan menuju kantor, pikirannya sesekali melayang pada percakapan semalam.
Mungkin karena sudah lama ia tidak berbincang dengan seseorang yang begitu mudah diajak bicara.
Atau mungkin karena Revan benar-benar berbeda dari kebanyakan orang yang dikenalnya.
---
Di sisi lain kota, Revan baru saja menyelesaikan olahraga paginya.
Pria itu biasanya memulai hari dengan berlari selama tiga puluh menit sebelum bersiap ke kantor.
Disiplin.
Teratur.
Dan membosankan.
Begitulah Damar sering menggambarkan hidupnya.
Revan baru saja menyeduh kopi ketika ponselnya bergetar.
Tanpa sadar, matanya langsung melirik layar.
Namun bukan pesan dari Naira.
Melainkan pengingat rapat pukul sembilan pagi.
Entah kenapa, ia merasa sedikit kecewa.
Perasaan yang aneh.
Karena biasanya ia tidak pernah menunggu pesan dari siapa pun.
---
Pukul sembilan pagi.
Kantor startup tempat Naira bekerja sedang ramai.
Tim desain baru saja berkumpul untuk presentasi proyek.
Namun fokus Naira tidak sepenuhnya berada di ruangan itu.
Pikirannya masih sibuk.
Saat rapat selesai, Keisya langsung menghampirinya.
"Kamu kenapa?"
"Hah?"
"Dari tadi senyum-senyum sendiri."
"Aku?"
"Iya."
Naira pura-pura sibuk membereskan berkas.
Keisya menyipitkan mata.
"Ada cowok?"
"Tidak ada."
"Bohong."
"Tidak ada."
"Bohong lagi."
Naira menghela napas.
Ia tahu sahabatnya tidak akan menyerah.
Akhirnya ia menceritakan kejadian semalam.
Mulai dari salah kirim pesan hingga percakapan panjang dengan orang asing bernama Revan.
Keisya mendengarkan dengan mata berbinar.
Saat cerita selesai, ia langsung berteriak kecil.
"INI ROMANTIS BANGET!"
Beberapa orang menoleh.
Naira buru-buru menutup mulut sahabatnya.
"Pelan-pelan!"
"Ini seperti awal drama romantis!"
"Ini cuma salah kirim pesan."
"Semua kisah cinta besar dimulai dari hal sederhana."
"Jangan berlebihan."
Keisya justru semakin bersemangat.
"Gimana kalau dia ganteng?"
"Gimana kalau dia botak?"
Keisya terdiam.
"Itu juga ada benarnya."
Naira tertawa.
---
Siang harinya.
Ponsel Naira bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari Revan.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia langsung membuka pesan itu.
"Selamat siang, Nona Korban Harian."
Senyum Naira langsung muncul.
"Selamat siang juga, Tuan Korban Tahunan."
Balasan datang cepat.
"Sudah ditanya kapan menikah hari ini?"
"Belum. Tapi hari masih panjang."
"Semoga selamat."
"Terima kasih atas doanya."
Naira tertawa kecil.
Seorang rekan kerja yang duduk di sebelahnya menatap heran.
"Naira, kenapa?"
"Enggak apa-apa."
Ia buru-buru kembali fokus bekerja.
Meski sebenarnya senyum itu sulit hilang dari wajahnya.
---
Sejak hari itu, percakapan mereka menjadi rutinitas.
Pagi.
Siang.
Malam.
Tidak selalu panjang.
Kadang hanya beberapa pesan singkat.
Namun cukup untuk membuat hari terasa lebih menyenangkan.
Tiga hari kemudian.
Naira sedang duduk di kafe favoritnya sambil menyelesaikan pekerjaan freelance.
Ponselnya berbunyi.
Revan: Lagi apa?
Naira tersenyum.
Naira: Lagi berusaha jadi orang kaya.
Revan: Berhasil?
Naira: Belum.
Revan: Teruskan perjuanganmu.
Naira: Terima kasih atas dukungannya.
Beberapa detik kemudian.
Revan: Aku sedang rapat.
Naira: Lalu kenapa balas chat?
Revan: Karena rapatnya membosankan.
Naira tertawa sampai hampir menjatuhkan gelas kopinya.
---
Hari-hari berlalu.
Dan tanpa disadari, mereka mulai mengenal satu sama lain.
Naira tahu bahwa Revan sangat menyukai kopi hitam.
Bahwa pria itu sering bekerja hingga larut malam.
Bahwa ia tidak suka durian.
Dan bahwa ia ternyata memiliki selera humor yang cukup mengejutkan.
Sementara Revan mengetahui bahwa Naira selalu terlambat bangun saat akhir pekan.
Bahwa gadis itu sering bernyanyi sumbang saat bekerja.
Dan bahwa ia bisa menghabiskan uang terlalu banyak hanya untuk membeli alat tulis lucu.
Semakin banyak mereka berbicara, semakin mudah percakapan mengalir.
Seolah mereka sudah saling mengenal selama bertahun-tahun.
---
Malam itu.
Naira sedang berbaring di sofa.
Televisi menyala, tetapi ia tidak benar-benar menontonnya.
Ponselnya berbunyi.
Revan: Aku baru pulang.
Naira: Capek?
Revan: Lumayan.
Naira: Aku punya solusi.
Revan: Apa?
Naira: Libur seminggu.
Revan: Tidak mungkin.
Naira: Ya sudah. Aku sudah berusaha membantu.
Revan tersenyum sendiri di apartemennya.
Ia bahkan tidak sadar sejak kapan kebiasaan itu muncul.
Tersenyum saat membaca pesan dari Naira.
Dulu hal seperti ini tidak pernah terjadi.
Namun sekarang terasa alami.
---
Keesokan harinya.
Revan sedang menghadiri makan siang bersama keluarganya.
Sayangnya, acara itu berubah menjadi sesuatu yang sudah sangat ia kenal.
Interogasi.
"Kamu kapan menikah?"
Ibunya membuka percakapan tanpa basa-basi.
Revan langsung tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Belum ada rencana."
"Kamu sudah dua puluh delapan tahun."
"Aku tahu."
"Mama kenal anak teman yang baik."
Revan menghela napas.
Lagi.
Selalu seperti ini.
Untungnya ponselnya bergetar.
Pesan dari Naira.
Naira: SOS.
Revan langsung membalas.
Revan: Ada apa?
Naira: Aku sedang dijebak.
Revan: Oleh siapa?
Naira: Mama.
Revan tertawa pelan.
Lucu sekali.
Mereka ternyata sedang mengalami hal yang sama pada waktu yang sama.
Revan: Aku juga.
Naira: Serius?
Revan: Sedang makan siang bersama keluarga.
Naira: Dan...?
Revan: Ditanya kapan menikah.
Beberapa detik kemudian muncul balasan.
Naira: Kita benar-benar senasib.
Untuk pertama kalinya sepanjang makan siang itu, Revan merasa suasana hatinya membaik.
---
Malam hari.
Keisya kembali menginterogasi Naira.
"Kalian masih chat?"
"Iya."
"Setiap hari?"
"Iya."
"Makin lama makin lama."
Naira memutar bola mata.
"Kamu kenapa sih?"
"Aku penasaran."
"Penasaran apa?"
"Kalian sudah tukar foto belum?"
Naira terdiam.
Belum.
Mereka memang sering berbicara.
Namun anehnya, tidak pernah membahas penampilan.
Tidak pernah meminta foto.
Tidak pernah video call.
Bahkan media sosial pun belum saling bertukar.
Seolah keduanya menikmati hubungan yang sederhana itu.
"Tuh kan belum."
Keisya menyeringai.
"Kalau ternyata dia om-om gimana?"
"Kalau ternyata dia nenek-nenek gimana?"
Keisya tertawa keras.
"Kamu memang tidak normal."
---
Malam semakin larut.
Naira kembali mengobrol dengan Revan.
Entah bagaimana, topik mereka malam itu beralih pada impian.
Revan: Apa impian terbesarmu?
Naira berpikir sejenak.
Lalu menjawab.
Naira: Punya studio desain sendiri.
Revan: Bagus.
Naira: Kalau kamu?
Balasan tidak langsung datang.
Beberapa menit berlalu.
Kemudian muncul pesan.
Revan: Hidup lebih santai.
Naira membaca kalimat itu dua kali.
Naira: Kedengarannya sederhana.
Revan: Sulit dilakukan.
Untuk pertama kalinya, Naira merasa ada kesedihan tersembunyi di balik jawaban pria itu.
Seolah Revan memikul sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan.
Namun Naira tidak bertanya lebih jauh.
Karena ia tahu setiap orang memiliki rahasia yang belum siap dibagikan.
---
Malam itu, sebelum tidur, Naira membuka kembali percakapan mereka.
Ia membaca beberapa pesan lama.
Lalu tersenyum sendiri.
Aneh.
Sangat aneh.
Baru seminggu.
Mereka baru saling mengenal selama seminggu.
Namun keberadaan Revan perlahan menjadi bagian dari hari-harinya.
Seseorang yang selalu ada saat ia ingin mengeluh.
Seseorang yang membuatnya tertawa setelah hari yang melelahkan.
Seseorang yang selalu mengirim pesan sederhana.
"Sudah makan?"
"Jangan lembur terus."
"Semangat kerja."
Hal-hal kecil.
Namun terasa hangat.
Di apartemennya, Revan juga sedang menatap layar ponsel.
Percakapan terakhir mereka malam itu masih terbuka.
Tanpa sadar, ia tersenyum.
Damar benar.
Hidupnya memang berubah.
Meski sedikit.
Meski ia belum pernah melihat wajah Naira.
Belum pernah mendengar suaranya.
Belum pernah bertemu langsung.
Namun gadis itu telah berhasil melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan siapa pun selama bertahun-tahun.
Membuat hari-harinya yang monoton terasa lebih berwarna.
Dan jauh di dalam hati mereka masing-masing, sebuah pertanyaan mulai tumbuh perlahan.
Pertanyaan yang belum berani diucapkan.
Bagaimana jika orang asing di balik layar itu ternyata menjadi seseorang yang jauh lebih penting daripada yang mereka bayangkan?
Namun takdir masih menyimpan banyak kejutan.
Karena sebentar lagi, tanpa direncanakan, dunia mereka yang selama ini hanya terhubung lewat pesan akan mulai bertabrakan di dunia nyata.
