Chapter 4 Sisi Lain Elvira
Elvira berhasil ditenangkan oleh para pelayan yang menjaganya, mereka sangat setia kepada nona muda mereka. Bibi Raya adalah orang kepercayaannya Tuan Aldrickh Wilson dan Almira Wilson. Raya sangat menyayangi Alice dari bayi hingga dewasa, Raya juga yang telah menyelamatkan Elvira dari malam pembantaian tersebut.
Raya memerintahkan pelayan lainnya, untuk memasak air hangat untuk mengompres kening Elvira.
"Putri kesayangan Mommy harus kuat ya," ujar Raya.
Raya menciumi pipi Elvira dengan penuh cinta. Tubuh Elvira sangat hangat, membuat Raya panik luar biasa. Raya memutuskan untuk menelepon Nyonya Amilia.
[Salam, Nyonya Raya. Ada yang bisa ku bantu?]
[Salam, Nyonya Amilia. Nona Elvira kembali dihantui rasa traumanya,]
[Saya akan kesana bersama. Kompres kening Elvira untuk meredakan demamnya,]
[Baiklah, Nyonya. Saya tutup dulu perbincangan kita,]
Dokter Amilia memutuskan sambungan teleponnya.
Tak lama kemudian datanglah kedua pelayan yang membawa air hangat dan kain.
Bibi Raya dengan telaten mengompres kening Elvira, tubuh gadis itu mulai menggigil hebat.
"Sayang sadarlah nak," ujar Raya.
Raya menangis karena keadaan Elvira yang menyedihkan.
Tak lama kemudian datanglah Dokter Amilia dengan dua suster.
"Bagaimana mungkin bisa terjadi?" tanya Amilia.
"Putriku selama ini tidak pernah meminum obat itu lagi," balas Raya.
Amilia terkejut bukan main dan menggelengkan kepalanya.
"Gadis ini sungguh keras kepala. Harus ada pendamping hidup yang terus menjaganya," ujar Amilia.
Raya setuju dengan perkataan dari Dokter Amilia. Tak lama kemudian Elvira pun sadar dan menatap bingung kearah Raya, Dokter Amilia, serta pelayan yang lainnya.
"Kalian kenapa ada di sini?" tanya Elvira.
Dokter Amilia sangat gemas dengan tingkah Elvira.
"Keponakan aku ini sangat keras kepala ya. Kenapa kamu tidak mau minum obat?" tanya Dokter Amilia dengan nada tegas.
Elvira hanya diam dia sedikit takut dengan sikap Bibi kandungnya atau adik dari Mommy nya.
"Kalau sampai kamu tidak meminum obatnya lagi. Bibi akan gantung kamu di pohon toge," ujar Amilia.
Elvira terkejut bukan main dan langsung memeluk erat tubuh mungil Amilia.
"Aku sangat menyayangimu, Bibi. Jadi jangan gantung di pohon toge ya," ujar Elvira.
Raya hampir saja tertawa terbahak-bahak, sikap Elvira yang takut kepada Bibi nya itu sangat lucu.
"Hesti. Ambilkan air hangat untuk keponakanku. Dia harus minum obatnya," ujar Amilia.
"Baik, Nyonya."
Wanita bernama Hesti pun memutuskan untuk pergi.
"Kamu harus teratur minum obatnya. Bibi akan kemari setiap hari untuk mengontrol dirimu," ujar Amilia.
Amilia mengusap lembut rambut hitam pekat milik keponakan tercintanya.
Tak lama kemudian Hesti pun datang, dan menyerahkan segelas air untuk Elvira.
"Cepat minum!" tegas Amilia.
Elvira hanya mengangguk dan meminum obatnya.
"Sekarang kamu istirahat lagi. Bukankah besok siang kamu ada rapat dengan klien bisnis?" tanya Amilia.
"Bibi di sini saja ya. Temani aku tidur," ujar Elvira.
"Anak manja. Baiklah karena permintaan keponakan tersayang. Bibi akan membuatmu tidur nyenyak malam ini!" tegas Amilia.
Amilia duduk di tempat tidur dan Elvira tidur dipangkuan wanita lembut itu.
Elvira tidur dengan nyenyak dipangkuan Amilia.
"Raya. Ambilkan ponselku dan aku akan mengirimkan pesan pada suamiku," ujar Amilia.
Raya pun menyerahkan ponsel itu pada Amilia.
Amilia mencari nomor suaminya lalu meneleponnya.
[Kau di mana, Baby?]
[Aku ada di Mansion Vira. Dia sangat manja hari ini dan tidak ingin ditinggalkan,]
[Apa dia mengalami trauma lagi?]
Suara tegas khas pria dewasa itu membuat Amilia kaget.
[Tumben kamu khawatir pada keponakan aku, Devian. Jangan-jangan kamu berniat ingin membunuhnya.]
[Astaghfirullah. Perkataan kamu apa tidak bisa di kontrol Sayang. Mana mungkin aku ingin membunuh Vira. Sikap cuek diriku padanya karena ku sayang padanya.]
[Maafkan aku Sayang. Jika kamu mau kita bertemu di Mansion kakak ku,]
[Tunggu aku di sana Sayang,]
Devian pun memutuskan sambungan teleponnya. Amilia menyandarkan kepalanya di bantal lalu terlelap.
***
Jackson Levine sudah kembali dari desa, saat ini dia sedang berkumpul bersama Alex dan Jordan.
"Jack, bagaimana? Apa kau berhasil menyerahkan surat itu pada istrinya Michael?" tanya Jordan.
"Ya aku berhasil dan istrinya sangat syok mendengar kabar kematian suaminya," balas Jackson.
"Apa dia membenci dirimu?" tanya Alex.
"Sama sekali tidak. Hanya saja dia memintaku untuk mendapatkan kembali putranya," balas Jackson.
"Xavier pasti sedang berpesta saat ini karena saingannya telah tiada," ujar Jordan.
"Kau benar. Si licik itu bahkan rela melakukan segala cara untuk menjadi pemimpin. Sungguh dia benar-benar pengecut," ujar Alex.
"Aku mempunyai sebuah rencana," ujar Jackson.
"Katakan saja, Jack. Kami akan membantu dirimu," ujar Alex.
"Kita lakukan peperangan dengan Gangster Rubah Merah," ujar Jackson.
"Langkah yang bagus, Jack. Kita pulang dan persiapkan segalanya," ujar Alex.
Jackson pun mengajak kedua sahabatnya untuk pergi ke Markas E.
***
Di sisi lain...
Xavier, Ketua Gangster Mafia Rubah Merah uang yang baru sedang asik berpesta ria. Minuman beralkohol, rokok, dan obat-obatan terlarang selalu mereka nikmati.
"Xavi. Bagaimana kabar putra kedua dari Michael? Apa kau menyiksanya selalu?" tanya pria itu.
"Tentu saja. Aku ingin membunuhnya," balas Xavier.
Xavier meminum alkohol miliknya lagi.
Glek!
Glek!
Glek!
Pria disebelahnya hanya tersenyum menyeringai, dan menepuk bahu Xavier pelan.
"Minum yang banyak, Xavier. Aku senang melihat dirimu bahagia," ujar pria itu.
Xavier membuang alkohol di wajahnya untuk mendinginkan pikirannya.
"Pasti sekarang Michael telah dihabisi oleh Jackson. Michael pembunuh adik perempuannya," ujar Xavier.
Hahaha....
Dari kejauhan tampak seorang anak kecil, anak itu adalah putra kedua Jackson yang diculik oleh Xavier.
"Jadi ini alasanku di culik oleh, Paman Xavier. Daddy telah membunuh adik perempuan Paman Jackson," ujar anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itu penuh luka lebam dan memar biru.
"Aku haus tetapi harus segera kabur dari sini. Paman Xavier sedang lengah dan mabuk," ujar anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itu pun memutuskan untuk lari dari Xavier.
Saat sedang asik mabuk-mabukan, tiba-tiba saja muncul seorang wanita seksi. Melihat kecantikan wanita itu, Xavier memaksanya untuk ikut dengannya.
***
Di sisi lain...
Jackson Levine sedang mengemudikan mobilnya, tiba-tiba saja seorang anak laki-laki berlari kearah mobil. Jackson kaget bukan main, dia akhirnya berhenti mendadak.
Jackson langsung turun dari mobilnya dan melihat anak laki-laki itu ketakutan, tubuhnya bergetar hebat. Jackson terkejut bukan main saat melihat wajah anak itu, mirip sekali dengan Michael.
"Michael," ujar Jackson.
"Namaku, Aaron. Michael adalah Daddy aku," ujar Aaron.
"Aku adalah Jackson Levine," ujar Jackson Levine.
Aaron kecil terkejut bukan main dan dia semakin ketakutan.
"Paman adalah kakak dari anak perempuan yang di bunuh Daddy. Pasti sekarang Daddy sudah tiada di tanganmu," ujar Aaron.
Jackson menghela nafas panjang dan memeluk erat Aaron.
"Ikut dengan Paman ya nak," ujar Jackson.
Aaron kecil hanya mengangguk dan masuk ke mobil Jackson.
