Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 5 Kebencian Aaron

Jackson telah sampai di Mansion miliknya, bersama dengan putra kecil kedua Michael. Aaron kecil tampak kebingungan melihat sekelilingnya, Jackson yang melihat hal itu hanya tersenyum dan mengusap lembut rambut hitam pekat milik anak laki-laki itu. Tatapan Jackson beralih pada luka lebam di seluruh tubuh Aaron, ada rasa marah dan emosi di hatinya. Aaron melihat reaksi penuh emosi dari wajah Jackson, lalu dia memeluknya dengan erat.

Tangan kecil itu menggenggam lembut tangan kekar milik Jackson, pria dewasa itu hanya menghela nafas panjang lalu memeluknya dengan sangat erat. Jemari kecil dan mungil itu mengusap lembut wajahnya, ia hanya memejamkan matanya dan tersenyum tipis.

"Jangan marah pada mereka, Paman. Aku sendirilah yang akan membalas dendam!" tegas Aaron.

Aaron menatap luka lebam di seluruh tubuhnya.

"Mereka semua harus membayar semuanya, pengkhianat kepada Daddy dan kematian kakakku."

Aaron tersenyum menyeringai.

"Aku bersumpah akan membuat Gangster Mafia sendiri."

Jackson tersenyum dan mengusap lembut rambut hitam milik Aaron.

"Pelayan!" teriak Jackson.

Tak lama kemudian pelayan pun datang.

"Tuan memanggil Saya?" tanya pelayan itu.

"Benar. Bersihkan tubuh Aaron dan obati luka-lukanya. Aku akan pergi dalam beberapa jam," balas Jackson.

"Hati-hati. Paman," ujar Aaron.

Jackson hanya tersenyum tipis lalu pergi.

"Ayo," ujar pelayan itu.

"Iya, Bibi."

Aaron pun pergi mengikuti pelayan itu.

***

Saat ini Jackson telah sampai di Markas E. Semua anggota telah berkumpul untuk rapat penting mereka.

"Jack. Kau sudah datang?"

"Ya. Ini rapat penting jadi ku harus datang,"

"Baiklah, Jack. Kita mulai saja rapatnya."

Jackson, Jordan, dan Axel. Sebenarnya bukanlah nama asli mereka, nama yang sesungguhnya sengaja di samarkan.

"Jadi, apa topik pembahasan kita kali ini?"

"Kau tahu pemilik Perusahaan Rick Group?"

"Tentu saja aku tahu siapa dia. Memangnya ada apa?"

"Dia tidak ingin menyerahkan Cafenya pada kita,"

"Dia memang memiliki nyali yang tinggi bahkan berani menentang kita."

"Jadi apa rencana dirimu, Jackson?"

"Aku akan membuat dia mengerti dan mendesaknya," balas Jackson.

"Itu ide yang bagus, Jack. Kami akan membantu dirimu!"

"Pembahasan pertama kita selesai."

"Alex apa yang ingin kau bahas selanjutnya?"

"Kau tahu pria yang bernama Demian?" tanya Alex.

"Demian si Ketua Gangster Mafia Blood Gold?" tanya Jordan.

"Ya benar,"

"Apa yang dia lakukan?" tanya Jackson.

"Dia bergerak dengan sangat bersih. Musuhnya bahkan tidak tahu pergerakannya sangat cepat," balas Jordan.

"Kau punya informasi tentang dia?" tanya Alex.

"Tentu saja, dia lajang saat ini. Bahkan sedang membuat sayembara untuk mencari pasangan," balas Jordan.

"Konyol sekali,"

"Bagimu itu konyol, tetapi baginya itu sangat penting," ujar Jackson.

"Jack benar. Demian pasti ingin membuat pewaris baru," ujar Jordan.

"Sudahlah. Kita tidak perlu membahas mengenai Demian. Bahas yang lain saja,"

"Oke kita lewati tentang, Demian. Pembahasan selanjutnya adalah mengenai kematian dari Aidan Trustin dan istrinya," ujar Alex.

"Siapa Aidan?" tanya Jordan.

"Aidan Trustin adalah pemimpin Perusahaan besar Trustin Groups. Tetapi sayang dia terbunuh oleh musuh-musuh yang iri dengannya," balas Alex.

"Apa yang Aidan Trustin lakukan sehingga banyak musuh yang iri padanya?" tanya Jackson.

"Aidan pernah menolong banyak orang yang kesulitan. Musuh-musuhnya sangat iri kepadanya karena dia telah membuat orang itu menjadi sukses," ujar Jordan.

Jackson dan Alex hanya diam saja, mereka sangat syok sekaligus terkejut.

"Baiklah semuanya. Apa ada lagi topik pembahasan kita hari ini?" tanya Jackson.

"Tidak ada, Jack."

"Baiklah. Rapat kali ini sampai di sini saja."

Jackson pun pergi meninggalkan teman-temannya.

"Kami pergi dulu," ujar Alex dan Jordan.

Akhirnya semua anggota Gangster Mafia Elang Emas pergi.

Di sisi lain...

~ Mansion J ~

Aaron mengambil pistol milik Jackson dan melepaskan tembakan.

Dor!

Sontak saja membuat para pelayan berlari kearahnya, Aaron menatap pelayan itu satu-persatu.

"Kalian pergilah, aku tidak apa-apa."

Pelayan itu pun pergi.

"Ketika aku besar nanti. Paman Xavier akan mati ditangan ku. Aku juga akan berjanji menjadi penjaga putra dan putri Paman Jackson," ujar Aaron.

Aaron meletakkan pistolnya kembali, dan memutuskan untuk pergi ke kamarnya.

Jackson telah sampai di Mansion miliknya, bayangan Elvira kembali memenuhi pikirannya.

"Elvira. Kenapa bayanganmu selalu saja menghantui diriku. Siapa kamu sebenarnya?" tanya Jackson.

"Namaku bukanlah Jackson dan nama asliku, hanya boleh diketahui oleh kedua orangtuaku dan juga istriku kelak."

Jackson pun akhirnya masuk.

Jackson melihat Aaron yang sedang menatap pemandangan dari jendela kamar, dengan perlahan dia mendekati anak itu.

"Kamu kenapa?" tanya Jackson.

"Aku rindu, Mommy. Tapi diriku tidak tahu alamat tempat tinggalnya," balas Aaron.

Aaron memiliki postur tubuh yang mungil, meski masih sangat kecil tetapi sangat kokoh dan kekar. Kulit nya putih bersih, sama halnya dengan Michael sang Daddy.

Jackson mengusap lembut bahu Aaron dan tersenyum.

"Paman tahu alamatnya dan kamu akan kembali pada Mommy besok," ujar Jackson.

"Benarkah?" tanya Aaron.

"Benar anak tampan. Sekarang kita makan malam dulu," balas Jackson.

Jackson dan Aaron pergi ke ruang makan.

Sesampainya di sana mereka berdua langsung duduk, para pelayan langsung melayani mereka.

"Paman. Jika aku pulang kau akan sendiri di sini," ujar Aaron.

"Benar. Jika kamu tidak pulang Mommy pasti akan rindu padamu," sahut Jackson.

"Paman telah menyelamatkan aku dari kematian. Meski Daddy sudah membunuh adikmu tetapi kamu sangat baik," ujar Aaron.

"Ayah kamu melakukan hal tersebut karena hasutan dari, Xavier. Dan sekarang dia terbunuh hanya karena pria yang bernama Xavier," ujar Jackson.

Aaron mengangguk dan dia tersenyum.

"Aku akan membalas dendam pada, Xavier. Dia harus mati di tanganku begitu pula dengan anggota Gangster Mafia Rubah Merah yang mendukungnya!" tegas Aaron.

Jackson hanya diam.

"Aku akan membuat Gangster Mafia sendiri tetapi untuk namanya akan aku rahasiakan. Aaron akan membangun Paman dan menjaga keturunan dirimu!" tegas Aaron.

Jackson hanya tersenyum tipis.

"Sekarang waktunya makan. Setelah itu kita akan tidur," ujar Jackson.

Mereka pun berdoa dan memakan Burger daging sapi dengan sangat lahap.

"Burgernya sangat enak, Paman. Dulu Daddy selalu membelinya untuk aku dan ...,"

Aaron tiba-tiba saja diam karena, teringat insiden yang mengakibatkan kakaknya meninggal.

"Kakak Aryan," ujar Aaron dengan nada lirih.

Jackson menghapus air mata Aaron.

"Jangan menangis, Aaron. Seorang ketua Mafia itu hanya boleh kuat dan tidak diizinkan untuk lemah. Musuh bisa saja memanfaatkan kelemahan itu untuk menyerang," ujar Jackson.

"Paman benar."

Jackson tersenyum dan menikmati burgernya kembali begitu pula dengan Aaron.

Di tempat lain...

Seorang gadis sedang termenung sendirian, sambil memandang foto kebersamaan dengan keluarganya. Gadis itu adalah Elvira Sevde Elnara, yang nama aslinya terkubur dalam bersamaan dengan tragedi masa lalu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel