
Ringkasan
Kehidupan di masa lalu yang penuh tekanan, hinaan, dan cacian dari orang-orang sekitarnya, membuat dirinya berubah sikap. Gadis cantik yang dulunya memiliki sikap yang lembut dan penyayang, kini berubah menjadi lebih pendiam dan irit bicara. Dibalik diamnya itu, dia menyimpan banyak sekali rasa sakit serta penghinaan dari orang lain. Kehilangan keluarganya akibat insiden pembunuhan di malam kelam itu, membuat dirinya menyimpan dendam serta kebencian yang mendalam. Hingga pada suatu hari dia bertekad untuk menemukan kebahagiaannya sendiri, mencari orang yang telah membunuh dengan kejam keluarganya, memberikan hukuman pada mereka yang telah menorehkan luka yang dalam padanya. Dia akan bersumpah untuk membuat orang lain bertekuk lutut di bawah kakinya, lalu mempermalukan mereka semua. DIA DATANG MENJEMPUT KEBAHAGIAAN NYA SENDIRI, MEMBALAS DENDAM DAN KEBENCIAN PADA ORANG YANG TELAH MENYAKITI DIRINYA SANGAT DALAM.
Chapter 1 Awal Pertemuan
Seorang gadis dengan pakaian jas formal berwarna hitam, berjalan dengan tegas memasuki ruangan miliknya. Di dalam sana sudah ada dua orang pria kepercayaan dirinya, mereka membungkuk hormat saat ia datang. Gadis itu hanya membalas dengan tatapan dingin dan datar, dia tidak ingin memperlihatkan kelemahannya kepada siapa saja. Dia duduk di tempat kebesarannya sambil mengetuk meja kerjanya, dengan kedua tangannya. Tatapannya beralih pada dua pria tersebut, satu-persatu penampilan bawahannya itu ia teliti. Senyuman tipis terbit dari bibir merah merona miliknya. Kedua pengawalnya gemetar hebat ketika bos nya mulai bangkit, dari kursi kebesaran miliknya. Gadis itu hanya menghela nafas panjang, melihat gerak-gerik dari kedua orang kepercayaannya tersebut.
"Kalian ini kenapa?" tanya gadis itu dengan nada tegas. Jujur dia sangat tidak nyaman dengan gerak-gerik dari kedua orang kepercayaannya tersebut.
"Kami sangat takut sekali dengan Anda," balas mereka.
Gadis itu menghela nafas panjang dan mengalihkan perhatian kearah lain.
"Jika kalian tidak mengkhianati diriku untuk apa takut!" tegas gadis itu.
"Maafkan kami," sesal mereka.
"Sudahlah tidak apa-apa. Katakan hari ini aku akan bertemu dengan siapa?" tanya gadis itu.
Salah satu dari pria itu membuka buku jadwal milik atasannya tersebut.
"Nona. Hari ini pada pukul sembilan tepat anda akan bertemu Tuan Levin. Dia adalah CEO Levine group," ujar pria tersebut.
Gadis itu hanya mengangguk.
"Di mana aku akan bertemu dengan dia?" tanya gadis itu.
"Di Perusahaan miliknya," balas pria itu dengan tegas.
"Baiklah. Persiapkan semuanya dan jangan sampai ada yang kurang sedikitpun!" tegas gadis itu.
"Baik, Nona."
Mereka berdua pun pergi.
"Semoga rapat kalian berjalan lancar," ujar gadis itu.
Tak lama kemudian datanglah kedua pria tersebut.
"Nona. Semuanya sudah kami persiapkan," ujar mereka.
"Baik. Kalian ikut denganku menghadiri rapat kali ini!" tegas gadis itu.
Gadis itu pun pergi bersama kedua pria, yang menjabat sebagai kepercayaannya.
Di sisi lain...
Jackson Levine melangkah tegas memasuki Perusahaan Levine Group miliknya. Wajah tampan dan gagah mampu membuat wanita mana saja jatuh cinta dengannya, banyak sekali yang terang-terangan menggoda dirinya tetapi dia dengan tegas menolaknya, bahkan yang lebih kejam menghabisi wanita itu.
"Selamat pagi, Tuan Levine,"
Jackson Levine hanya diam saja dan duduk di kursi kebesaran.
"Anthony. Apa dia sudah datang?" tanya Jackson.
"Siapa, Tuan?" tanya Anthony.
Jackson menatap tajam Anthony.
"Kau ini pelupa sekali. Dia adalah Elvira Sevde Elnara pemilik Perusahaan Elnara Corporation," ujar Jackson dengan nada kesal.
Anthony hanya diam dan dia hanya menghela nafas panjang.
"Maafkan sikapku, Tuan."
"Sudahlah. Aku tidak ingin membicarakan hal itu lagi," ujar Jackson.
"Tuan Levine. Nona Elvira sudah datang dan dia menunggu Anda di ruang tunggu," ujar Anthony.
"Baiklah. Aku akan menemuinya," ujar Jackson.
Jackson Levine membawa berkas-berkas, yang diperlukan untuk rapat kali ini dan pergi meninggalkan Anthony.
"Aku takut sekali saat berada dekat dengannya. Semoga saja aku tidak melakukan kesalahan yang membuat nyawaku melayang," ujar Anthony.
Anthony pun pergi.
Di sisi lain...
Gadis itu sedang menunggu kedatangan Jackson Levine di ruang khusus, sudah ada 1 jam dia duduk di sana tetapi pemilik Perusahaan Levine Group tidak kunjung datang.
"Kemana perginya Tuan Levine. Kenapa dia belum datang juga?" tanya gadis itu dengan nada kesal.
Gadis itu mengambil ponsel miliknya dan mulai memeriksa email penting yang telah masuk.
Siapa yang tidak mengenal Elvira Sevde Elnara, gadis berusia 25 tahun. Pemilik Perusahaan Elnara Corporation, yang bergerak di bidang apapun. Memiliki sikap yang tenang, tegas, dan berwibawa. Selain itu dia juga sangat dingin serta irit bicara.
Saat sedang asik bermain ponsel dan membalas pesan yang di kirimkan lewat email, tiba-tiba saja seorang pria masuk dengan langkah tegasnya. Elvira hanya menghela nafas panjang dan menatap tajam rekan kerjanya.
"Apa sudah lama anda di sini, Nona Elnara?" tanya Jackson Levine.
"Ya. Saya sudah lama sekali di sini," balas Elvira dengan nada dingin.
Jackson Levine mengernyitkan dahinya saat Elvira memalingkan wajahnya dan lebih fokus pada ponselnya.
"Baiklah, Nona. Mari kita mulai saja perbincangan penting mengenai bisnis," ujar Jackson Levine.
"Ya. Jika lebih cepat itu sangat baik," ujar Elvira.
Suasana ruangan menjadi hening seketika saat rapat mulai berlangsung.
"Baiklah, Nona Elvira. Saya sangat menyukai proposal yang kamu ajukan," ujar Jackson.
Elvira tampak tersenyum dan berjabat tangan dengan Jackson.
"Selamat, Tuan Levine. Perusahaan kita resmi melakukan kerjasama," ujar Elvira.
"Selamat juga untuk dirimu, Nona Elnara."
Elvira hanya diam dan kembali memasang wajah datarnya.
"Baiklah, Tuan Levine. Saya akan kembali ke Perusahaan karena banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan," ujar Elvira.
"Baiklah, Nona Elnara. Anthony akan mengantarkan Anda," ujar Jackson.
Elvira hanya diam dan Anthony mengantarkan dirinya pergi.
Setelah kepergian Elvira, Jackson hanya diam saja. Dia tampak memikirkan Elvira dan sikap dingin yang mengelilingi gadis itu.
"Dia gadis yang menarik. Aku belum pernah bertemu dengan gadis yang berbeda seperti itu," ujar Jackson.
Jackson hanya tersenyum tipis dan tak lama kemudian datanglah Anthony.
"Anthony. Bagaimana menurut kamu gadis itu?" tanya Jackson.
"Tuan. Aku tidak pernah menjalin hubungan apapun dengan seorang gadis. Jadi kau sendirilah yang harus mencari informasi tentang dia," balas Anthony.
"Kau benar, Anton. Aku harus mencari informasi tentang gadis itu," ujar Jackson.
Jackson melangkah tegas menuju kearah jendela kamar.
"Anthony. Jangan sebut namaku Jackson Levine, jika aku tidak bisa menemukan informasi dengan mudah," ujar Jackson.
"Tuan. Saya pergi dulu," ujar Anthony.
Jackson hanya mengangguk dan tersenyum, Anthony pun pergi meninggalkan atasannya sendirian.
Siapa yang tidak mengenal Jackson Levine, pria berusia 29 tahun. Ketua Gangster Mafia Elang Emas, sekaligus CEO Perusahaan Levine Group. Sikapnya yang tenang, tegas, dan berwibawa, membuat Jackson sangat ditakuti oleh semua orang. Sifatnya yang kejam, dingin, dan tidak berperasaan semakin menambah kesan misterius dalam dirinya.
"Gadis yang menarik. Aku harap kita bisa bertemu kembali. Mungkin dalam waktu yang sangat lama tetapi aku akan memastikan sesuatu tentang hidupmu!" tegas Jackson Levine.
Jackson mengambil ponselnya dan menghubungi adiknya Brian Levine.
[Ada apa kau menelepon aku kakak?]
[Brian. Apa kau bisa membantu diriku?]
[Bantuan apa itu kakak?]
[Mencari tahu informasi tentang gadisku,]
[Wah menarik sekali. Siapa gadis itu kakak?]
[Elvira Sevde Elnara,]
[Nama yang indah. Akan aku ceritakan hal ini pada Daddy dan Mommy,]
[Terserah kau saja. Cari informasinya dan aku memberi waktu 3 hari,]
[Kau tenang saja kakak. Brian tidak akan mengecewakan kakaknya sendiri.]
Brian memutuskan sambungan teleponnya, membuat senyum di bibir Jackson terbit.
Tiba-tiba saja pintu ruangan dibanting dengan keras.
