Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 3 Ketua Gangster Mafia Elang Emas

Tak terasa malam telah tiba, kini waktu yang tepat bagi Gangster Mafia Elang Emas untuk menjalankan misinya. Misi menyerang lawan dan melenyapkan musuhnya, kekuasaan Gangster Mafia Elang Emas telah menguasai seluruh dunia. Malam ini mereka berada di sebuah Mansion mewah milik musuh mereka, pistol dan pisau selalu siap sedia menemani tugas mereka. Tatapan sosok 39 pria itu teralihkan saat melihat mobil mewah berwarna hitam bercampur biru, pemilik nya adalah Jackson Levine pria berusia 29 tahun. Pemimpin Gangster terkuat di seluruh dunia, yang memiliki 40 anggota inti dan Milyaran anggota lainnya. Jackson Levine adalah pemimpin terkejam dan paling ditakutkan oleh Gangster Mafia lain. Musuh terbesar Gangster Mafia Elang Emas adalah Gangster Rubah Merah.

"Kalian sudah siap?" tanya Jackson Levine.

"Tentu saja, Ketua. Tinggal menunggu perintah darimu kami akan bergerak,"

Jackson tersenyum menyeringai.

"Kalian semua kepung Mansion ini dari segala arah. Senjata kalian harus tetap bersama kalian. Jangan ada yang lengah sedikitpun!" tegas Jackson.

Anggota Gangster Mafia Rubah Merah mulai menyebar, di seluruh penjuru Mansion itu.

"Ayo teman-teman. Pengecut itu pasti sedang tidur dengan nyaman," ujar Jackson.

Jackson dan sosok 39 pria itu langsung menyebar, ada yang memecah jendela, mendobrak pintu hingga rusak, ada yang naik lewat atap, dan lainnya.

Sementara di dalam Mansion, pria yang merupakan Ketua Gangster Mafia Rubah Merah terbangun karena mereka keributan.

"Ada apa ini?" tanya pria itu.

Pria itu mengambil pistol miliknya untuk berjaga-jaga. Pria itu pun memutuskan untuk segera pergi.

***

Jackson Levine dan kelima temannya berjalan dengan langkah tegas, tatapan mereka tertuju pada pemimpin Gangster musuh.

"Musuh kita ternyata datang sendiri untuk mengantarkan nyawanya," ujar Jackson.

Pria itu pun terkejut bukan main, dia tidak menyangka musuhnya menyerang dengan cepat.

"Brengsek kau, Jackson!" umpat pria itu.

"Simpan umpatan itu untuk nanti, Michael Greyson!" tegas Jackson.

Kelima teman Jackson menodongkan pistol mereka kearah Michael. Jackson mengisyaratkan kelima temannya untuk mengikat tubuh Michael.

"Ikat dia!" tegas Jackson.

Sosok kelima pria itu langsung mengikat tubuh Michael, dengan tali tambang yang sangat besar.

"Brengsek kau, Jackson!" umpat Michael.

"Lepaskan aku!" teriaknya kencang.

"Kau tidak akan bisa selamat dari kematian, Michael. Pengawal-pengawal kau telah dihancurkan oleh anggota milikku!" tegas Jackson.

Michael terkejut bukan main dan menatap tajam Jackson.

"Sudah lemah seperti ini saja kau masih ingin menatap tajam diriku. Lihatlah apa yang aku lakukan padamu!" tegas Jackson.

Jackson melayangkan tamparan keras tepat di kedua pipi pria tersebut.

"Tamparan dirimu sama sekali tidak terasa, Jackson!" teriak Michael.

Jackson tersenyum menyeringai dan mengepalkan tangannya.

Bug!

Jackson meninju wajah Jackson dengan sangat keras, tetapi Michael malah tertawa.

"Tinju lagi!" tegas Michael.

Bug!

Bug!

Bug!

Wajah Michael sekarang tampak mengerikan, banyak luka lebam biru.

"Sudahlah, Jack. Cukup bermain-main dengannya. Kita bunuh saja dia!" tegas pria yang mengenakan setelan jas formal berwarna biru.

"Kau benar, Alex. Panggil anggota kita yang lain untuk melakukan misi penembakan!" tegas Jackson.

Alexander Rudolf pun memutuskan untuk segera pergi, memanggil teman-temannya.

Alexander Rudolf, merupakan anggota dari Gangster Mafia Elang Emas. Pria berusia 29 tahun, pemilik Perusahaan Xander Group. Sosoknya dikenal pendiam, pemarah, dan tidak memiliki belas kasih kepada orang lain. Sikapnya yang tenang, tegas, dan berwibawa, mampu membuat sisi misterius nya bangkit.

"Sebelum kau membunuhku. Aku ingin mengatakan satu hal tentang rahasiaku," ujar Michael.

Jackson mengernyitkan dahinya dan menghela nafas panjang.

"Katakan saja, Michael. Aku akan mendengarkan," ujar Jackson.

"Aku memiliki seorang istri yang putra kesayangannya telah diculik oleh Xavier, saat ini dialah ketua Gangster Mafia Rubah Merah. Xavier telah mengkhianati diriku bersama dengan anggota yang lainnya," ujar Michael dengan nada lirih.

"Baiklah. Aku akan menyelematkan putramu dan mengembalikan pada Mommy nya," ujar Jackson.

Michael tersenyum tenang dan bersiap menyambut kematiannya, hari ini dia akan menyusul putra pertamanya.

"Putra tertuaku. Daddy akan segera menyusul dirimu," ujar Michael.

Jackson menghela nafas panjang mendengar perkataan Michael.

"Aku tidak nyaman berada di situasi seperti ini. Perkataan Jackson seakan-akan menjadi kata-kata perpisahan untuk istri dan putra bungsunya," batin Jackson.

Jackson mengambil selembar kertas besar dan sebuah pena.

"Tulislah sesuatu yang akan menjadi kenangan terakhir untuk istri dan putramu," ujar Jackson.

"Kelvin. Lepaskan Michael sebentar," lanjutnya.

"Baiklah, Jack."

Kelvin melepaskan ikatan pada tubuh Michael. Michael mulai menulis sesuatu untuk kenangan terakhir istrinya dan putra keduanya.

Tak lama kemudian datanglah semua anggota inti Gangster Mafia Elang Emas.

"Kelvin, Alex, Jordan. Jangan ada yang menembak dirinya sebelum menyelesaikan tulisan yang akan menjadi kenangan terakhir bagi istri dan anaknya," ujar Jackson.

Mereka hanya mengangguk paham dan tersenyum tipis.

***

Michael telah selesai menulis sebuah surat, lalu memberikannya pada Jackson.

"Sampaikan pesan ini pada istriku yang tinggal di sebuah desa yang terletak di New York," ujar Michael.

Jackson memasukkan surat itu ke dalam amplop berwarna biru.

"Sekarang tembak aku, Jack. Lalu bakar mayat diriku beserta Mansion ini," ujar Michael.

Michael tersenyum tulus.

Jackson dan teman-temannya menodongkan pistol tepat di jantung, Michael. Jackson memejamkan matanya dan menarik pelatuknya.

"Selamat jalan, Michael."

Dor!

Dor!

Dor!

Michael terkapar di lantai dengan luka 40 tembakan.

Jackson menatap surat itu dan langsung pergi meninggalkan teman-temannya.

"Bakar saja Mansion ini!" tegas Jordan.

Mereka pun keluar dari Mansion.

Jordan menyebarkan minyak tanah di seluruh penjuru Mansion dan melemparkan korek api sehingga api besar muncul.

"Jadi, apa kau akan menyerahkan surat itu pada istrinya?" tanya Jordan.

"Ini amanah terakhir, Jordan. Aku akan pergi ke desa besok pagi," balas Jackson.

Dalam waktu 30 menit Mansion itu telah berubah jadi abu.

"Jack. Apakah abu manusia dan benda mati itu sama?" tanya Alex.

"Tentu saja berbeda. Ayo kumpulkan abu mereka dan kubur," balas Jackson.

Mereka pun mengumpulkan jasad untuk di kubur. Jackson sendiri mengumpulkan abu dari jasad Michael.

"Untuk menghormati dirimu. Aku akan mengubur abu milikmu," ujar Jackson.

Setelah selesai mereka pun memutuskan untuk segera pergi.

***

Di sisi lain...

Elvira sedang berbaring di kamar, dia sudah tidur dengan nyenyak. Elvira terkejut bukan main, kepalanya masih terasa berdenyut hebat.

"Kepala ku rasa pusing," ujar Elvira.

Tiba-tiba saja bayangan masa lalu, kembali menghantam pikirannya. Efek dari trauma itu menimbulkan keringat yang bercucuran, tubuh bergetar hebat, dan teriakkan pilu penuh rasa sakit.

"Pergi!" teriak Elvira.

Elvira melemparkan bantal, guling, dan selimut. Trauma yang besar menyebabkan ketakutan yang sangat dahsyat.

Dalam bayangan Elvira terdapat 5 pria yang ingin melecehkan nya, tetapi itu hanya ilusi semata.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel