Chapter 2 Kedatangan Anggota Mafia Elang Emas
Jackson Levine terkejut bukan main karena bantingan pintu ruangan secara tiba-tiba, dia menatap marah pada salah satu anggota Mafia Elang Emas. Jackson memutari tubuh anggota miliknya, dan menjentikkan jarinya. Jackson benar-benar sangat marah pada pria dengan setelan jas formal berwarna merah, tangannya mengepal kuat seperti ingin meninju wajah tampan pria tersebut.
Gangster Mafia Elang Emas memiliki 40 anggota inti, salah satu dari mereka adalah Jackson Levine. Mereka sangat ditakuti oleh musuh dan orang-orang sekitarnya, karena tingkat kewaspadaan dan kelicikan mereka sangat besar. Dalam kelompok mereka memiliki 7 sumpah yang tidak boleh dilanggar, yaitu:
1. Jangan membunuh orang yang tidak bersalah
2. Jangan menyimpan informasi penting tentang bisnis, tanpa diketahui oleh ketua dan anggota lainnya.
3. Dilarang menyimpan rahasia Gangster Mafia lainnya.
4. Dilarang berkhianat
5. Dilarang membocorkan rahasia atau bisnis
6. Dilarang mencampuri urusan anggota masing-masing, terutama masalah keluarga
7. Dilarang menceraikan pasangannya tanpa izin dan juga pertemuan ( Rapat Anggota )
Ketujuh sumpah itu harus ditaati dan dilaksanakan dengan sangat baik. Gangster mereka memiliki ciri khas berupa tato Elang berwarna emas dipergelangan tangan.
"Ada apa, Jack?" tanya pria yang mengenakan setelan jas formal berwarna putih.
"Aku tidak apa-apa. Kalian jangan khawatirkan diriku," balas Jackson.
"Kalian duduklah. Kita bicarakan sebuah hal yang sangat penting," lanjutnya.
Mereka pun duduk bersama dalam ruangan tersebut.
"Pertama-tama aku ingin mengatakan kenapa kalian datang secara tiba-tiba?" tanya Jackson.
Sosok tiga puluh sembilan pria itu menatap Jackson dengan serius.
"Dan kau ...," tunjuk Jackson, pada pria yang mengenakan setelan jas formal berwarna merah.
"Apa kau tidak punya sopan santun dulu sebelum masuk keruangan. Apakah harus dengan cara kasar untuk membuka pintu?" tanya Jackson.
Pria yang ditunjuk oleh Jackson hanya diam.
"Jawab!" bentak Jackson.
Pria itu tersenyum menyeringai dan menatap Jackson dengan tatapan tajam.
"Aku juga seorang pemimpin, Jackson. Kau tidak bisa membentak diriku seperti itu dan rasanya seperti sebuah penghinaan!" bentak pria itu.
"Ya kau benar. Tetapi ini Perusahaan milikku kau tidak bisa berbuat sesuka hatimu!" tegas Jackson.
Pria itu hanya diam saja dan menatap teman-temannya yang lain.
"Sudah cukup!" bentak pria dengan setelan jas formal berwarna biru.
Pria itu adalah sahabat dari Jackson Levine.
Jackson menatap sahabat baiknya dan tersenyum hangat.
"Kita mulai saja rapatnya!" tegas pria dengan setelan jas formal, berwarna abu-abu.
Suasana ruangan kembali hening, ketika rapat anggota Mafia sedang berlangsung.
"Jadi mereka ingin bermain-main dengan kita?" tanya pria dengan setelan jas formal berwarna emas.
"Begitulah. Sekarang kita harus susun rencana untuk menjebaknya,"
"Ya kau benar. Tapi apa yang akan kita lakukan?"
"Bunuh dia dengan cara keji dan bom Mansion miliknya!" tegas Jackson.
"Wah, Jackson. Seperti biasa ide yang kau miliki benar-benar sangat mengejutkan,"
"Kapan kita akan menjalankan rencananya?"
"Malam ini juga!"
Mereka pun tersenyum menyeringai dan rapat akhirnya selesai.
"Jangan lupa rapat kedua di Markas kita!" tegas Jackson.
Sosok tiga puluh sembilan pria itu pun akhirnya pergi, meninggalkan Jackson seorang diri. Kepala Jackson benar-benar sangat pusing, menjadi pemimpin Gangster Mafia dan seorang CEO bukanlah hal yang mudah dikerjakan secara bersamaan.
Saat sedang asik melamun tiba-tiba saja muncul seorang wanita paruh baya.
"Kepala kamu pusing lagi nak?" tanya wanita paruh baya itu.
"Apakah Mommy memiliki kekuatan khusus sehingga bisa tahu apa yang aku rasakan?" tanya Jackson.
Wanita baya itu hanya tersenyum lembut.
"Mommy kamu ini hanya wanita biasa saja nak. Kebetulan nasibku sangat beruntung ketika menjadi istri dari Daddy. Ingatlah putraku aku memilih kekuatan ikatan batin yang kuat jadi bisa tahu segalanya," ujar wanita itu.
"Mommy memang luar biasa," ujar Jackson.
"Kita pindah ke sofa saja nak. Biar lebih enak nantinya memijat lembut kepala kamu," ujar wanita itu.
Wanita itu dan Jackson pindah duduk di sofa. Jackson menidurkan kepalanya di paha Mommy nya.
"Kamu tahu nak. Sejak kecil kamu selalu bermanja padaku," ujar wanita itu.
"Aku ingat semuanya, Mommy."
Wanita tersenyum.
"Tapi sekarang kamu sibuk Sayang. Sudah tidak ada lagi waktu untuk bermanja. Mommy rindu nak," ujar wanita itu.
Tangan kekar Jackson mengusap lembut wajah Mommy nya.
"Aku mohon jangan menangis, Mom."
Wanita itu tersenyum dan mengusap lembut rambut hitam pekat putranya.
"Mommy tidak menangis, hanya rindu saja. Bagaimana kepala kamu?" tanya wanita itu.
"Sudah membaik, Mommy. Tetaplah seperti ini aku mengantuk rasanya," balas Jackson.
Jackson pun terlelap dalam usapan penuh kasih sayang.
"Jackson tetaplah putra kecilku yang manja," ujar wanita itu.
Wanita itu pun membenarkan posisi tidur putranya. Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, lalu masuklah seorang pria paruh baya.
"Apa yang terjadi dengan Jack, Sayang?" tanya pria paruh baya.
"Seperti biasa dia hanya ingin bermanja dengan diriku," balas wanita paruh baya.
Pria paruh baya itu hanya tersenyum dan duduk di kursi kebesaran milik putranya.
"Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi Perusahaan milikku," ujar pria paruh baya itu.
"Perusahaan ini semakin besar di tangan putra kita," ujar wanita paruh baya.
"Kau benar Sayang. Aku bangga padanya tetapi semenjak dia mewarisi Gangster milikku, hidupnya sangat sibuk. Bahkan dia tidak pernah bertemu dengan kita lagi," ujar pria paruh baya.
Wanita paruh baya itu mengusap lembut rambut putranya dan mengecup keningnya.
"Anthony," panggil pria paruh baya itu.
"Iya, Tuan besar," sahut Anthony.
"Bawa putraku ke mobil. Dia harus istirahat total hari ini," ujar pria paruh baya dengan nada tegas.
Mereka pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.
***
Di sisi lain...
Elvira tampak sedang menikmati burger kesukaannya, dia berada di Restoran bersama dengan sahabatnya.
"Vira. Kau baik-baik saja?" tanya gadis itu.
Elvira hanya menghela nafas panjang.
"Ya. Aku baik-baik saja," balas Elvira.
Gadis itu menatap dalam-dalam Elvira, yang ditatap hanya memalingkan wajahnya.
"Vira. Wajahmu pucat apakah kamu sedang sakit?" tanya gadis itu panik.
Keringat dingin mulai bercucuran di seluruh tubuhnya, gadis itu panik luar biasa dan menelepon dokter pribadi Elvira.
Gadis itu membayar semua pesanannya dan cepat-cepat pergi ke dokter.
***
Sesampainya di Rumah Sakit...
Gadis itu langsung diperiksa oleh dokter wanita yang bernama Amilia, Elvira masih terpejam dan tubuhnya semakin berkeringat sangat banyak.
"Nyonya Amilia. Apa yang terjadi dengan sahabatku?" tanya gadis itu.
"Dia mengalami trauma luar biasa yang terjadi di masa lalu. Jika hari kelam itu kembali menguasainya maka ini yang akan terjadi," balas Dokter Amilia dengan nada khawatir.
"Elvira harus di rawat selama 7 hari di sini. Aku sangat yakin dia tidak pernah meminum lagi obatnya. Ya ampun anak gadis ini benar-benar sangat membuatku panik," ujar Dokter Amilia.
Dokter Amilia pun memutuskan untuk pergi dan meninggalkan gadis itu yang sangat kebingungan.
