SI PEMILIK JASMINE ROMANTIK
Siang itu, Gibran masih setia di tempat duduknya semula. Matanya masih memandang lepas ke seluruh ruangaan yang kini hanya ada dia sendiri. Elsa, Pak Didi dan Kirana sudah meninggalkan ruangan itu sejam yang lalu
‘Jasmine Romantik, akhirnya aku menemukanmu. Kirana larasati. Hm, cantik juga gadis itu. Dia cantik secantik hatinya dulu.’ Gibran membatin seraya memandangi punggung Kirana yang menjauh.
Tak lama Julian masuk dengan perasaan senang melihat sahabatnya dalam suasana hati yang baik. Senyumnya menyungging sambil menenteng pelastik kresek berisi makan siang.
"Kesambet setan apa lo?, cengengesan sendiri?"
"Julian, I'm Falling In Love."
"Gila lo, emang tu cewek siapa ?, bisa bikin lo kelepek- kelepek kayak ikan mujaer." Kedua alis Julian turun naik.
" Dia dewi penolong gue sepuluh tahun dan empat tahun lalu, Ju.” Gibran merain kotak makan siangnya dan mengambil tempat duduk untuk bersantap.
"What ?! Gue nggak salah denger, By?"
"Ya, dia cewek yang nolongin gue, waktu gue di kejar penculik dulu, dan dia juga cewek yang luka gara-gara berusaha menolong gue dari penjahat."
"Lo yakin? Secara, itu udah lama banget. Terus apa lo yakin kalau dia itu Kirana sepuluh tahun yang lalu?"
"Wangi tubuh jasmin romantik miliknya sama persis dengan wangi cewek itu."
"Hei bro, wangi parfum gituan mah banyak yang pake juga. Jadi, lo nggak bisa jadiin ukuran"
"Oke kalau gitu one way ...."cetus Gibran.
"Apa itu?" Julian tersentak.
"Bekas luka di pundak kanannya," tegas Gibran bejingkrak bangun dari kursinya
"Masyaallah! Lo mau nelanjangin Kirana maksud lo?"
"Gimana kalau kita tes aja dia, gue punya ide." Gibran mulai menceritakan rencananya pada Julian dengan harapan meminta bantuannya
"No bad ... oke gue bantu."
Zizi dan Kirana berjalan menuju meja kantin, keduanya membawa piring dan memilih makanan yang sudah tersaji di prasmanan kantin, keduanya duduk berhadapan menikmati menu yang sudah mereka pilih
"Duuh pak Giby, my CEO, my Idol plus gebetan gue," ucap Zizi semringah sendiri, Kirana mendelik geli melihat tingkah sahabatnya yang menggelikan itu.
"Norak lo Zi, segitunya ama pak Giby," sela Kirana masih asik dengan makanannya
"Lo tuh ya, peka dikit napa? Masa, pajangan sempurna gitu lo nggak ngerasa apa-apa sih?"
"Ada," ketusnya memasukkan makanan menumpuk di mulutnya.
"Nah tu kan? lo juga pasti kelepek kelepek kan?" Zizi mengacungkan telunjuknya. Kirana menggeleng dan meneguk air minumnya
"Biasa aja tuh,"
"Iih, Kirana ...?"pekik Zizi geregetan.
Kedua mata Zizi dikejutkan dengan sosok yang berdiri di dekat meja mereka, sosok laki-laki yang juga membawa piring makanannya.
Mata Zizi membelalak dan seisi kantin heboh melihat ke arah meja dua wanita itu. Kirana yang masih tenggelam dalam kelezatan makanan siangnya itu acuh tak acuh dengan sikap sahabatnya itu. Matanya masih fokus dengan santapan tempe lodeh dan sayur jengkolnya yang disikat habis dengan lahap.
Namun sesaat kemudian ia heran kenapa sahabatnya itu tidak jua menyantap makanannya dan berhenti bersuara.
"Zi ! Zizi !" panggilnya sambil menyuap namun Zizi malah menggerakkan bola matanya, memberi isyarat. Kirana semakin bingung dibuatnya.
"Lo kenapa nggak makan malah ....”
Kalimat Kirana terhenti ketika bola mata Zizi menyerep-nyerep ke arah sosok di belakang Kirana.
Perlahan Kirana memindahkan pandangannya dan menyisir tubuh bercelana panjang di sisinya. Setelah itu barulah dia sadar jika seisi kantin sedang memperhatikan mejanya.
Dia mendapati Gibran yang berdiri mematung sedari tadi.
Seketika Kirana tersendat oleh makanannya yang masih tersisa di mulutnya, sesegera mungkin Gibran meraih gelas di nampannya dan memberikannya kepada Kirana.
Tanpa menghiraukan situasi Kirana meraih gelas dan langsung meminum air yang diberikan oleh Gibran sambil menepuk nepuk pelan dadanya.
"Maaf mengagetkanmu, apa saya boleh ikut bergabung dengan kalian?" pinta Gibran dengan pelan.
"Eum ... ee, eo, oh, silahkan pak." Zizi gugup. Sementara Kirana sudah tidak karuan.
Julian mengekori Gibran ikut duduk di samping Kirana dan Zizi.
"Hai Zizi ... nama kamu bener kan, Zizi?" sapa Julian menghangatkan suasana, Zizi mengangguk seraya mengiyakan kata-kata asisten si CEO.
"Pak Gibran kenapa makan di sini?, ini tempat karyawan pak?" tanya Zizi ragu.
"Kenapa? Tidak boleh ya? Saya juga karyawan perusahaan ini," timpal Gibran dengan nada ringannya.
"Nggak salah tuh, pak? Bukannya bapak itu CEO, pemilik perusahaan ini." lanjut Zizi dan Kirana mengangguk mengiyakan ucapan sahabatnya
"Lho karyawan itu kan, pekerja. Saya juga pekerja, saya bekerja di JG Group juga kan, mengenai saya CEO dan kalian staf itu hanyalah genderisasi, intinya sama - sama bekerja untuk JG Group, jadi masih ada masalahkah?" celoteh Gibran sekenanya.
‘Skat mak ...!, sumpah demi nama ibu bapak gue, nih orang kata-katanya masuk akal dan bener juga.Gue jadi kehabisan kosa kata deh. Whoa, bravo buat pak Gibran! Kali ini gue setuju kalau dia dijuluki Pajangan sempurna.’gerutu Kirana dalam hati.
"Baiklah apakah kita bisa melanjutkan makan?" ucap Gibran memandangi satu persatu teman semejanya. Iapun menengadahkan kedua tangannya dan mulai berdoa memejamkan mata.
‘Ampun deh gue! Udah ganteng, billioner, rendah hati, alim lagi. kurang apa lagi coba. Oho pajangan sempurna ini. nggak heran semua cewek ngiler sama nih orang. gue mesti jauhin nih orang, kalau nggak gue akan menjadi keroyokan kaum gue sendiri.
Pikiran Kirana masih bermain di ujung diskusinya. Matanya mengedip ke arah Zizi seolah meminta Zizi mengomentari sikap laur biasa sang Ceo.
‘Beruntungnya cewek yang dapetin si pajangan sempurna ini.’ Batin Kirana terpana pada sosok bosnya yang kini mulai menyantap hidangan di depannya.
Julian yang menyadari isi pikiran Kirana menyikut lengan Gibran yang sedang menyantap.
Gibran pun menghentikan tangannya dan menoleh ke arah Kirana yang masih mencuri pandang sambil meneguk air minumnya
"Hati-hati minumnya Kirana nanti tersendat lagi, kan saya yang susah," celetuk Gibran.
"Susah kenapa Pak? Orang kecil kayak saya ini mau hidup atau mati gada untung ruginya bagi big bos seperti bapak kan?" jawab Kirana sekenanya
‘Karena kalau kamu kenapa napa hatiku yang hancur Ki, karena kamu bidadari hidupku, dewi penolongku,kini giliranku yang akan melindungi dan menolongmu' Gibran menjawab dalam hatinya.
"Ya adalah, saya tidak mau gedung perusahaan saya dilingkari garis polisi gara- gara karyawannya mati tersendat. Kan, saya yang malu." Gibran menjawab dan melanjutkan suapannya.
'Nah lo, kan? Kan? Kan?! Bener deh, pak CEO. kalimatnya emang nendang abis.’ Kirana terdiam dan tak meladeni lagi.
Mengalihkan topik pembicaraan, Julian segera membuka suara.
"Ki, kamu asli Indonesia kan?" tanya Julian memancing.
"Iya, emang kenapa pak?"
"Nggak, muka kamu ngingetin seseorang," ucap Julian lagi.
"Siapa pak? Pacarnya ya?" sela Zizi.
"Huss, ngawur kamu, nggak tuh," balas Julian.
"Ihh si pak Asisten masak ganteng gini belum punya pacar sih? Nggak boleh boong pak," lanjut Zizi
"Nggak, aneh aja saya seperti pernah lihat cewek kayak kamu wajahnya mirip banget di Korsel, ternyata muka kamu pasaran ya Ki," ejek Julian sengaja.
Zizi yang mendengar sahabatnya diejek langsung emosi dengan lantang iapun mengoceh tanpa peduli status orang yang diajak bicara itu
"Enak aja bapak bilang wajah temen saya ini pasaran, saya keberatan lho pak," sambut Zizi.
"Lho kenapa mesti keberatan Zi, bukannya di dunia ini banyak orang yang mirip mukanya, bahkan dalam hadist Rasull kita punya kembaran di muka bumi ini ada 44 orang lho," jawab Gibran dengan nada ringan dan tenangnya sambil mengunyah makanannya.
‘Mampus lo Zi, lo habis teori sekarang. Pak Gibran di lawan , tau big boss orangnya jenius gitu.’ gumam Kirana.
Kirana menghabiskan makanannya sementara Zizi langsung terdiam
"Iya kan Ki?" kini Gibran menoleh ke arah Kirana yang mengangguk menunduk mengiyakan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Tapi kan pak kalau Kirana saya ini gampang dikenalin kalau ilang, ada tanda goresan di pundak kanan belakangnya," ucap Zizi dengan suara merendam.
Sontak Kirana langsung menginjak kaki Zizi dan melototinya, seolah ia tak ingin rahasianya terbongkar. Zizi terkejut dan langsung diam membisu, sementara Gibran dan Julian terdiam mendengar fakta yang mereka buru selama ini. Keduanya saling berpandangan lalu melanjutkan suapannya.
Gibran berpura-pura batuk untuk mengalihkan perhatian mereka.
"E ... maaf pak Gibran saya sudah selesai saya permisi duluan, masih ada kerjaan." Kirana berdiri membawa pirong kosongnya diikuti Zizi.
