KEDATANGAN CEO
Sejak tadi Gibran tak sedikit pun memalingkan pandangannya dari Kirana yang begitu dengan ringan dan fasihnya menjelaskan laporannya.
"Selamat pagi semuanya, saya akan menjelaskan projek perencanaan jangka panjang dan jangka pendek. Saya akan mulai dengan projek perencanaan jangka pendek dulu. Untuk jangka pendek sebaiknya kita fokuskan aktivitas ekspor imor pada negara India, Cina dan Singapore juga Brunai." Suara keras Kirana yang sedang membaca laporannya.
Gibran dan Julian juga Pak Didi menyimak dengan jeli setiap rincian rencana yang dibacakan Kirana. Ada rasa bangga dalam diri Gibran mendengar penjelasan Kirana yang begitu detail dan jeli dalam membuat sebuah projek bahkan mampu menjelaskannya dengan bahasa yang lugas.
"Kenapa kita menjadikan keempat negara itu untuk masuk di kategori jengka pendek?" tanya Gibran mulai merespon laporan Kirana.
Dan seketika seisi ruangan mulai berubah haluan melirik ke arah Kirana dengan wajah tegang. ‘Mampus lo Kirana sekarang, sok kepinteran lo,' batin mereka
Kirana kembali mengambil napas dan dengan tenang memberikan jawaban dari pemimpinnya itu.
"Baiklah, pertama jumlah populasi mereka yang tinggi. Semakin tinggi jumlah populasi suatu negara maka peluang untuk produk kita terjual habis akan besar. Kedua, peraturan pasar juga tidak begitu menuntut dan ketiga minat pasar sering berubah seiring perkembangan trending," jelas Kirana.
" Apa keuntungan yang kita dapatkan selain produk yang laku keras di pasar?" Gibran menekuk tangannya dan menopang dagunya, sesekali senyum manis terlukis di wajah dinginnya, tentu sikapnya itu membuat karyawati yang lainnya seperti tersihir oleh pesonanya, jangankan kaum hawa bahkan staf pria yang dibilang gantengpun masih kalah emot dari Gibran. Sungguh lukisan Tuhan yang sempurna.
"Di bidang kuliner dengan bahan kekayaan alam yang kita miliki dan kualitas yang sudah tidak di ragukan lagi kita cukup membuat varian terhadap produk kita Jadi kita bisa menekan biaya produksi dan meraih keuntungan yang sebesarnya, dan bidang investasi emas dan perhiasan lainnya saya sangat merekomendasikan keempat negara tersebut kenapa?, investasi di bidang ini sangat menjanjikan pak, harga saham perhiasan melonjak naik pak."
Gibran mengangguk bangga seketika sepontan ia melayangkan tepuk tangan keras dan diikuti oleh karyawan yang lain, ada aura puas tercipta di wajahnya. Kirana melirik ke arah Kevin yang mengacunginya dua jempol dan pak Didi yang tadinya sangar berubah drastis menjadi bangga pada kerja Kirana.
Dengan sikap berdiri bangga, Gibran mengulurkan tangannya untuk mengucapkan selamat pada Kirana , Kirana yang masih berkecipu dengan setumpuk perasaan tak karuannya hanya merespon seketika tanpa ekpresi istimewa kepada laki- laki itu.
"Selamat Kirana, kamu memang hebat, projekmu memang luar biasa." ucapnya dengan memegang tangan Kirana sangat kuat. Tiba-tiba hati Kirana berdegup kencang ,berdebar-debar saat Gibran semakin memperkuat salamannya kepada Kirana.
‘Hei ada apa denganku kenapa aku ke GEERan gini sih, ni lagi ni orang kuat banget remas tangannku sampai- sampai tubuhku kayak kesetrum ... ouh, sadar Ki! Sadar Ki!’ pergelutan batin Kirana.
"Baiklah devisi keuangan dan devisi perencanaan tetap di ruangan ini sedang yang lainnya sudah boleh bubar, meeting selesai hari ini.” Suara lantang Gibran.
Semua karyawan lain bangkit dari kursi mereka dan segera melangkah ke pintu keluar, kecuali Kevin yang masih menempel pada Kirana yang duduk tenang dengan dokumennya.
"Gila lo Ki, gue nggak nyangka lo jenius gitu, gue pikir pak Gibran bakalan sangar, eh, malah berjabat tangan dengan lo, gue cemburu loh." bisik Kevin menepuk pundak Kirana.
"Apaan sih lo, kesambet lo?, kalau lo naksir pak bos ntar gue comblangin deh, kita saingan," ledek Kirana
"Enak aja, gue masih waras Ki."
Gibran mengkrem ketika mendapati wajah Kevin dekat dengan telinga Kirana, cemburu?, pastinya. Bagi Gibran Kirana adalah sebuah kejutan untuk kedatangannya pertama kali di perusahaan sang ayah.
“Ehem!”
keduanya sontak melerai dan Kevin segera beranjak pergi.
"Pak Didi tolong dokumen projek Kirana berikan ke saya. Oh ya, Elsa siapkan saya ceklist anggaran biaya kegiatan jamuan keakraban untuk staf Jaya Graha Group saya ingin mengundang semua karyawan JG Group untuk bersantai sejenak, kasihan mereka selama ini sudah bekerja keras untuk perusahaan," pinta Gibran tegas
"Baik, Pak, akan saya siapkan. Tapi dimana rencana akan diadakan pak?"
"Di sini di perusahaan ,besok hari minggu. " Mata Gibran masih segaris dengan lembaran laporan Kirana. Tangannya begitu lihai membolak balik lembaran dokumen itu.
Elsa si wanita idola JG Group, cantik, proporsional, putih dan perfesionist juga fashionable, berpendidikan dan tajir sudah pasti PAKET KOMPLIT , itulah julukan untuknya. Namun siapa yang menduga kalau Elsa adalah sepupu Gibran yang sengaja ditempatkan di devisi keuangan untuk mengawasi roda pertumbuhan perusahaan selama masa transisi jabatan ayahnya dulu.
Ya sejak kematian Deka Sanjaya, Perusahaan JG Group seperti rumah tak bertuan selama setahun. Itulah kenapa Elsa berada di sana.
Gibran meminta Julian untuk membawakan beberapa dokumen kerjasama dengan beberapa negara Asia dan internasional
"Julian telpon pak Reno suruh handel perusahaan di LA dan minta pak Baskoro untuk handel yang di Eropa, kalau yang di Inggris biar nanti aku telpon Mommy"
"Baik, Pak." Julian sekretaris sekaligus sahabat Gibran selama dia di LA, Julian kerap membantunya dalam segala hal terutama kisah asmaranya dengan beberapa wanita dan urusan perusahaan sepeninggal ayahnya. Julian ibarat Diary bernyawa bagi Gibran.
Gibran kembali menatap Kirana, kini mereka berada di ruang kerja CEO hanya bertiga bersama pak Didi sementara Julian segera keluar melaksanakan permintaan Gibran.
"Baik Kirana bisa kamu jelaskan untuk projek jangka panjangmu?" pintanya dengan suara berat dan tenang
‘OMG, mulai deh suara pak Gibran ibarat mantra sihir yang siap melahap gue, sadar Ki ... sadar... fokus ... fokus,' batin Kirana
"Baik pak, untuk investasi jangka panjang jika perusahaan ingin mengembangkan usaha dalam bidang tourism maka pilihan saya adalah Jepang dan Dubai."
"Bisa kamu jelaskan lagi," ucap Gibran mengerutkan kening seolah berusaha mencerna maksud Kirana
" Begini pak Jepang adalah tujuan destinasi internasional dan Dubai adalah pusat prekonomian dunia, kenapa? Karena Dubai surganya mata uang Dolar, semua keajaiban jagat raya ini ada di sana, Pak. Jadi untuk waktu yang tanpa batas, investasi di bidang ini saya bisa pastikan tidak ada istilah gulung tikar, kita bisa membangun hotel pencakar langit di sana dengan desain interior dan eksterior yang berbeda."
Kirana masih mencuri pandang ke arah Gibran, tentu Gibran menyadari akan hal itu. Meskipun ekspresi wajahnya datar saja tapi dalam hatinya sedang tersenyum kagum kepada Kirana.
Wah ada nggak ya readers orang yang kayak pak Gibran, lain di luar lain di dalam. Ekspresinya itu lho. Ouh ouh.
"Masuk akal juga prediksimu Kirana," komentar Gibran menunduk menutupi rona senyum di wajahnya.
"Lantas, Pak, bagaimana kita memulai pelaksanaannya? karena ini projek pertama bapak setelah menggantikan almarhum Pak Deka?" tanya pak Didi sejak tadi hanya diam karena semua kemampuannya sepertinya sudah di lumat habis oleh Kirana.
"O ... ya, Pak Didi benar, baik saya akan memeriksa beberapa koneksi papi di timur tengah dan Jepang terus mungkin saya akan melakukan perjalanan bisnis setelah acara Open House akhir pekan ini. Tentunya dengan membawa karyawati cermat ini." Gibran menyerepkan pupil matanya kepada Kirana seraya sibuk melipat lengan kemeja navy-nya.
" Eh ... maaf, Pak. Saya beribu maaf, tidak bisa." Kirana menyela pembicaraan.
Gibran tersentak menatap lurus kepada Kirana, lalu kemudian kepada pak Didi.
"Kenapa kamu tidak bisa?" ucap Gibran dingin
Kirana dan pak Didi hanya saling bertatapan. Lelaki lajang itu memahami ketakutan Kirana menolak acara keakraban yang akan dilaksanakan minggu ini.
Iapun berinisiatif melakukan pembelaan untuk Kirana dengan memberikan Gibran penjelasan.
"Eumm ... Begini Pak, setiap minggu Kirana ada kegiatan ritual pak, dan itu tidak bisa ditolerir apapun alasannya. Saya aja pernah kebingungan gara - gara menelantarkan pekerjaan dan berniat membuatnya lembur. Tapi ya itulah Kirana kalau sudah tidak, ya, tidak," tutur Pak Didi dengan dialeg kental khas jawanya.
Sontak pak Didi melotot ke arah Kirana karena memaksanya mengatakan kalimat penolakan untuknya itu. Sementara Kirana hanya mendelik kusut menanggapi Pak Didi.
"Kamu gimana sih, Ki. Ini kesempatan kamu untuk karir kamu. Mumpung Pak Gibran lagi baik hati," bisiknya tapi masih bisa didengar Gibran.
"Yaaah si bapak kayak nggak tau aja, dimana-mana seluruh keluarga di dunia itu berakhir pekan untuk rileks alias istirahat alias Me Time," sahut Kirana dan Gibran hanya menunduk sambil mengkekeh tertawa
"Emang kamu udah berkeluarga,? kawin aja belum," sekak Pak Didi tak mau kalah.
Gibran menengahi keduanya yang hanyut dalam adu mulut mereka.
"Sudah ... sudah, Pak Didi, nggak apa-apa Kirana benar. Akhir pekan itu adalah hari untuk waktu keluarga dan diri sendiri, maaf saya yang terlalu berlebihan," ucapnya tenang.
"Tu pak Gibran aja pengertian masak bapak nggak bisa ngertiin sih pak, makanya bapak buruan kawin biar punya yang namanya weekend." Kirana melempar senyum paksa ke arah Gibran dan wajah kecut ke arah Pak Didi.
"Kamu tu ya, ngeselin, apa hubungan saya kawin dengan weekend, saya juga punya me time kayak kamu," ketus pak Didi.
"Ya, me time sama kertas bertumpuk," timpal Kirana sekenanya.
Kirana hanya menyengir ketawa sambil menutup mulutnya namun sontak ia terdiam ketika dia dan mata pak Gibran sambil melempar senyum geli menertawakan pak Didi yang kusut.
Kirana dan Pak Didi pamit undur dari ruangan Gibran, bayangan tubuh mereka hilang dari balik pintu, Gibran langsung merebahkan tubuhnya di sandaran kursinya sambil tertawa manis mengingat senyum Kirana yang manis dan lucu.
