Pustaka
Bahasa Indonesia

Naughty Kiss My CEO

51.0K · Tamat
Anglinhua
78
Bab
2.0K
View
8.0
Rating

Ringkasan

Kirana Larasati tidak menduga jika pria yang berstatus CEO sekaligus suaminya itu adalah orang yang pernah mengambil ciuman pertamanya. Gibran Deka Sanjaya kembali ke indonesia untuk menggantikan posisi sang ayah sebagai pemimpin perusahaan sekaligus mencari pemilik Jasmin romantik yang sudah menolongnya sebanyak dua kali. Bagaimana pertemuan mereka?

RomansaBillionaireCinta Pada Pandangan PertamaWanita CantikPernikahanBaperSweet

PROLOG

Panti Asuhan KASIH BUNDA, dunia kecil namun penuh dengan keceriaan dan kasih sayang. Setidaknya itulah pandangan Kirana Larasati yang sudah melanjutkan kehidupannya di panti itu. Sejak kejadian sepuluh tahun lalu saat tangan Tuhan sudah bertindak merenggut kedua orang terpenting dalam hidupnya, Kirana memiliki dunia baru, tumbuh bersama wajah baru yaitu bunda Mutia dan Zizi. Dua sosok yang sudah mengembalikan ruh dalam raganya hingga bisa hidup normal setelah trauma dalam akibat kecelakaan yang dialaminya dulu.

"Ki, jadi kamu nginep?" kata bunda Mutia kepada Kirana yang baru saja selesai bermain dengan adik- adik pantinya.

"Nggak jadi bun, barusan Zizi telpon besok big bos mau datang ke perusahaan, katanya sih, bakal lama bun. Jadi aku mesti balik ke kos biar nggak telat ke kantornya." tutur Kirana di sela kunyahannya.

Ya, sejak Kirana dan Zizi bekerja di sebuah perusahaan Jaya Graha Group, mereka memutuskan untuk hidup mandiri dan tinggal di sebuah kos-kosan kecil. Setiap akhir pekan ritual wajib Kirana mengunjungi adik-adiknya ke panti asuhan. Uang gaji yang didapatnya ia sumbangkan sebagian ke panti untuk membiayai hidup adik- adik pantinya.

Sudah empat tahun selama ia bekerja di perusahaan terbesar se-Asia itu ia dan karyawan lain tidak pernah melihat CEO asli perusahaan itu. Yang ada hanya pak Julian yang selalu mengkoordinir kerja mereka.

Mentari menjemput suasana pagi ceria, hati Kirana dan Zizi yang sudah siap penuh semangat menyambut aktifitas berat.

Suara guyuran air keran masih melengking dalam kamar mandi Zizi, sementara Kirana sudah berpose di depan kaca merapikan jas hitam dan rok span pendek selutut hitamnya.

"Gue bisa bayangin kalau big bos kita itu, gendut, bulet, dan pendek." Suara Kirana yang cemprang menerka ciri- ciri fisik big bos yang berkarat dipersembunyinya itu.

"Hahaha, bisa aja lo Ki, siap- siap aja di semprot sama si big bulet itu," timpal Zizi di balik kamar mandi.

Baiklah ladies, acara persiapan sudah selesai, saatnya going to office. Keduanya beranjak pergi menelusuri jalan setapak gang kos- kosannya. Sesekali Kirana melirik jam arlojinya dan menenteng beberapa tumpukan map kuning plastik di tangan kanannya.

"Lo, nggak lupa kan, bawa dokumen laporannya?, " tanya Kirana masih berdiri di Halte bis.

" Udah kelar sih, cuma belum diprint," tutur Zizi saat bus langganan mereka berhenti tepat di hadapan mereka. Keduanya segera naik dan mengambil tempat duduk ternyaman mereka.

" Oke, berangkat yuk!" ajak Kirana.

Bis pagi pun datang keduanya bergegas naik, takut terlambat sampai di kantor. Namun dalam perjalanan tiba-tiba mereka harus menghadapi kemacetan Jakarta yang tak biasa pagi itu. Dengan cemas keduanya melirik jam tangan yang melekat di pergelangan tangan mereka

" Aduhh, kok, pake acara macet segala sih, nggak biasanya deh," gerutu Zizi

" Sabar neng, namanya juga musibah. Siapa yang tau kalau hari ini ada kecelakaan, kita tunggu aja dulu." Kirana masih dengan pandangannya ke luar jendela bis

" lo mah enak, kerjaan dah beres lah gue, file gue masih ngarem di komputer, ciiinn."

" Ya, lo ngomel ngomel di sini juga nggak ada gunanya, Zi.”

Thank god ! Akhirnya bus jalan lagi dan begitu sampai di depan kantor, mereka langsung berlarian dan menerobos para karyawan yang lain agar tidak ketinggalan lift.

TING

Pak Didi sudah pasang ekspresi killernya menyambut kami di depan pintu ruangan

" Kalian tau jam berapa ini?" serbunya menunjuk jam tangan miliknya dengan mata melotot

" Maaf, Pak. Tadi kami kena macet ada kecelakaan di jalan," jawab Kirana dengan wajah menunduk.

"Iya, Pak. Yang dikatakan Kirana benar.” Zizi membenarkan.

"Sudah diam kalian! Banyak alasan," hentak pak Didi "Kamu Zizi mana laporan kamu?" Sambungnya sambil bertolak pinggang

"Anu pak ... anu ... ma-masih belum di print." Zizi tarbata-bata menjawab.

Pak Didi sontak melotot lagi, seakan bola matanya hampir copot. Pria berperawakan tinggi itu menggeleng- gelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Kini ia melihat ke arah Kirana

" Kamu mana Ki?!”

"Sudah beres pak tinggal presentasi aja." Kirana menunjuk tumpukan map yang dibawanya sejak tadi.

"Bagus...! Sekarang kamu ikut saya ke ruang meeting dan kamu Zizi cepat siapkan sana!"

Zizi segera menyiapkan filenya sementara Kirana sudah mengekor jauh bersama pak Didi menuju ruang meeting yang berada di lantai 25.

TING

Suara Lift berhenti. Pak Didi dan Kirana segera menuju meja oval panjang itu. Semua devisi dan staf mereka sudah duduk rapi di tempat mereka masing masing.

Tak sengaja kelopak mata Kirana dan Gibran bertemu meski dari kejauhan. Kirana segera mengalihkan pandangan dan pikirannya karena takjub dengan kejutan imajinasinya.

‘Wow, sejak kapan perusahaan JG GRoup punya bintang korea super ganteng kayak gini. kalau gini mah gue betah kerja di sini. Kikikk ... Kikikk,’ pikiran Kirana.

Gibran berdiri dan melepas pandangannya ke semua staf yang sudah berjejer menatap lekat ke arah Gibran

"Pagi semua!" sapa Gibran

"Pagi pak!" jawab serempak.

"Nama saya Gibran Deka Sanjaya, putra sulung bapak Deka Sanjaya. Saya akan mengambil alih kepemimpinan perusahaan jadi mohon kerja sama semuanya." Pidato singkat Gibran yang membuat kaum hawa dan adam terhipnotis oleh pesona dan kelembutan suaranya.

"Dengan senang hati pak Gibran."

"Apapun untukmu pak Gibran."

"Ouh pak Gibran suaramu seksi."

"Pak Gibran emang SESUATU.”

"Gila, gue cowok normal tapi pak Gibran bikin gue terpesona man.”

Deretan pujian staf semua devisi untuk sang pemimpin yang penuh pesona pagi itu.

Tidak dengan Kirana, ia malah tenggelam dengan file di depannya, dan meneliti beberapa isi dari datanya.

Gibran terdiam, indera penciumannya menangkap sebuah aroma yang sangat ia sukai sejak dulu, Jasmine ROMANTIK.

‘What, apa iya gadis ini yang nyelametin gue sepuluh tahun dan empat tahun lalu. Aroma ini, parfumnya gue kenal, parfume pemilik orang yang udah nyelametin nyawa gue dulu,’ jeritan batin Gibran.

Mata Gibran menjurus pada sosok Kirana yang masih acuh dan tak sesemringah staf yang lain yang tenggelam memuji pesona sang CEO.

"Baik sekarang tim Perencanaan silahkan memberi laporan." Suara Julian yang menjadi moderator meeting pagi itu.

Pak Didi menyiku Kirana dan menyadarkan gadis itu dari dokumennya. Kirana terperanjat dan matanya menerawang ke seluruh anggota rapat bahkan ke arah Gibran yang masih memasang wajah dingin ke arahnya.

Kirana menghela napas dalam kemudian berdiri dan membuka file dokumennya. Tak lama Zizi muncul dari balik pintu dan mengambil posisi di dekat kursi Kirana yang kosong.

Semua mata peserta meeting itu tak beralih. Mereka bukannya menyimak Kirana, malah masih hanyut dengan puji pujian hati mereka. Julian menyengir geli membayangkan bagaimana gadis- gadis di perusahaan Gibran ingin menyerbu tubuh Gibran sejadinya.

‘Wah Giby, lihatlah wanita- wanita bodoh itu seperti singa betina yang kelaparan, tuh lihat tuh air liur mereka ngiler tuh. Ugh, jijik gue bayanginya,' batin Julian menatap ke sekeliling stafnya. Gibran masih fokus pada Kirana lalu menoleh kepada Julian. Bola matanya bergerak menuntun Julian untuk melihat ke arah Kirana.

Julian mengikuti arah pandangan Gibran. Dia tahu jika lelaki yang duduk di dekatnya itu sedang memberitahunya hal penting. Detik berikut Julian menatap Gibran kembali yang sudah menganggkukkan kepala.

“Dialah orangnya,” ucap Gibran dengan bahasa kode.