MEMBUAT KESEPAKATAN
Sejak percakapan dengan Kirana dan Zizi siang itu, Gibran menghilang. Acara keakraban pun tak sempat dihadiri. Terpaksa hanya Julian yang mewakili dan juga pak Didi. Tidak terasa dua hari berlalu sudah.
Hari ini, jam 3 pagi Julian segera menancap gas mobilnya ke bandara dan untuk menjemput sahabatnya.
Ya cuma butuh waktu dua puluh menit bagi dia untuk sampai di bandara Soekarno-Hatta dan setiba di sana ia berdiri pintu Foreignt Departure, tak lama sosok tubuh Gibran dengan long coat hitam dipadukan syal yang melingkari lehernya melambai- lambai ke arah Julian.
Keduanya berpelukan dan Julian membawa Gibran ke salah satu resto di luar bandara itu
"Apa yang terjadi Ju? Dua hari lo gue tinggal lo kayak kebakaran jenggot gitu." Gibran melempari Julian dengan sederetan pertanyaan yang menyindir.
"Diem lo, ini gara-gara lo, tuh Kirana dah dua hari nggak masuk kerja ,gue teteran dibuatnya."
"lho, kan, ada pak Didi sama sahabatnya Kirana."
"Mereka nggak secerdas Kirana Giby.” Untuk sesaat keduanya terdiam dan Gibran mulai mengintrogasi Julian. Mengambil tempat duduk di sebuang stand coffee di Bandara, Julian dan Gibran berbincang sebentar.
"Kirana kenapa Ju?" tanyanya meneguk kopi cappucino granue miliknya.
"Dua hari dia nggak masuk gara-gara ibu asuhnya sakit dan dia butuh biaya operasi."
"Berapa?"
"Tiga ratus juta."
"Kalau gue kasi dia mentah-mentah di hadapannya gue yakin seribu persen dia akan nolak, kalau gue ngasi dia lewat orang lain dia pasti akan curiga."
"Terus mau lo gimana?" tanya Julian serius
"Besok gue ada kunjungan ke Jepang untuk teken kontrak hotel dengan Mr. Hanaki, lo wakilin gue. Gue mau urus Kirana, kali ini gue nggak peduli tanggapan dia seperti apa. Dan sebaiknya dia nggak usah tau tentang gue dulu, itu lebih baik."
"Lo yakin?"
"Gue nggak ada pilihan Ju, lebih baik kami memulai lembaran cerita yang baru sebagai orang asing yang tidak pernah saling bertemu atau mengenal sebelumnya. Kirana tidak sesederhana yang gue tebak selama ini ... Dia berbeda, Ju. Dia nggak kayak cewek lain yang langsung ngiler lihat cowok tajir melintir. Itulah yang membuat gua merasa tertantang."
"Terus gimana kalau dia tiba-tiba inget lo?"
" Itu urusan gue nanti, yang penting sekarang gue harus tolongin dia dan jagain dia ... Sebagai CEOnya. Bukan lelaki yang merenggut kedua orang tuanya atau membuatnya luka seperti dulu."
"Ya udah, kalau itu keputusan lo gue akan siapin semuanya."
***
Kirana masih duduk di tepi ranjang rumah sakit tempat bunda Mutia terbaring lemah menahan sakit. Dengan sisa tenaga yang ada ia mencoba berbicara dengan Kirana
"Kenapa kamu nggak masuk kerja Ki?"
"Nggak Bun, kesehatan bunda lebih penting, aku di sini jagain bunda dan temenin bunda sampai sembuh."
"Nanti bos kamu marah lho, kamu bisa di pecat." Suara bunda Mutia yang terdengar parau.
"Biarin aja Bun, aku bisa cari kerjaan lain."
"Kamu tuh, ya, keras kepala kayak ibumu."
Kirana melempar senyum singkat ke arah sang bunda.
Pagi itu Kirana yang sudah tiga hari menemani bundanya di rumah sakit tanpa pernah pulang dan melihat keadaan panti. Ia beringsut ke kantin dan membeli secangkir kopi creamy latte kesukaannya.
Saat menikmati paginya tiba-tiba nada ponsel chatnya berdering ia pun merogok saku jaket parkanya dan membuka layar ponsel
My CEO : Kirana, temui aku di cafe Billboard, aku kirimi GPSnya
DEG
Jantung Kirana langsung berdetak hebat. Matanya semakin melebar membaca deretan chat yang dikirim oleh si big bos. Bahkan kopi creamy lattenya tak jadi mendarat di mulut. Dengan perasaan tak menentu, Kirana mencoba menjawabi sang big bos.
Me. : Ya pak, tapi saya siap-siap dulu mungkin agak lama
My CEO. : OK , penting
Me. : Baik pak. Read
Kirana senyum sendiri, entah kenapa ada rasa bahagia yang tak bisa ia jelaskan dalam hatinya. Jantungnya berdegup tak beraturan, hatinya cenat- cenut memikirkan pertemuan mereka nanti.
‘Hei jantung ada apa denganmu, kenapa kau begitu senang bertemu dengan pak Gibran. Ingat Kirana dia itu bosmu. Dan idola seisi kantor. Untukmu yang ada cuma tanda close. lupain deh.’ Kirana meracau sendiri dalam hati. Gadis itu cukup lama menekan dadanya supaya kembali pada ritme yang normal.
"Siapa tau kali ini dia bakal pecat gue gara kelamaan cuti kerja." Lirih Kirana akhirnya.
Kirana berpamitan kepada bundanya dan segera pulang ke kos- kosannya untuk mengganti pakaiannya. Dres sifon berwarna black -white motip bunga pendek selutut membalut tubuh ramping Kirana, dengan karet pinggang yang terpasang dalam jahitan dress itu menambah pesona lekuk tubuh Kiran, rambutnya disisir rapi dan di biarkan tergerai dengan hanya diberi jepit hitam di ujung kepala menancap lekat agar poninya tak berkelebat di wajah melankolisnya.
Rambut ikal Kirana yang panjang sepinggang itu bergerai begitu saja, ia nampak cantik dan dewasa namun tak menghilangkan kesan chubby-nya
Lima belas menit iapun sampai di tempat yang ditentukan Gibran. jarak dua meter matanya sudah menangkap tubuh Gibran yang masih setia dengan kemeja lengan tiga perempat menutupi sikunya berkecibaku dengan i-Pad nya.
"Maaf pak membuat bapak lama menunggu."
suara Kirana yang menyadarkan Gibran dari dunia onlinenya akan bisnis.
Sejenak mata Gibran menyisir tubuh wanita yang berdiri di sampingnya itu dari ujung kaki hingga rambut.
‘Subhanallah maha indah ciptaan tuhan yang satu ini, kamu benar- benar bidadariku Kirana sayangnya kamu tak bersayap dan sebentar lagi aku akan memberimu sayap itu agar hidupmu sempurna meskipun aku terpaksa dengan menggunakan cara ini. Maaf Kirana larasati’ puji Gibran dalam hati.
Kirana masih mematung berdiri di samping Gibran dengan tingkah tak karuan.
Gibran segera terbangun dari lamunannya dan mempersilahkan Kirana duduk lalu ia menjeltikkan jarinya memanggil pelayan resto.
Tak butuh waktu lama, pelayan itu datang mendekat dengan membawa pulpen dan notebook kecil miliknya
"Kamu pesan apa?" selanya dengan suara datar
"Creamy latte aja."
"Ada yang lain?"
Tawar Gibran lagi namun Kirana menjawabinya dengan gelengan.
Pelayan itu segera pergi dan menyiapkan pesanan. Sambil menunggu dan menghangatkan suasana Gibran sengaja menyinggung Kirana dengan kealpaannya di kantor
"Aku dengar kamu dah tiga hari nggak masuk kerja Ki termasuk hari ini. Bisa kamu berikan penjelasanmu?"
Mampus dah lo Kirana, bakal dipecat deh ini, berakhir dah dunia gue, kiamat. Mana bunda sakit terus sekarang gue kehillangan pekerjaan gua. Ya Tuhan cukup sampai disinikah jalan rezeki yang kau berikan.’ celoteh Kirana dalam hati.
pembicaraan mereka terhenti ketika pelayan datang membawakan kopi pesanan Kirana.
Kirana terlihat canggung, tanpa buang- buang waktu ia langsung meneguk kopinya dan meringis kepanasan. Kirana langsung meraih tisu di depannya untuk menyeka sisa kopi di mulutnya.
Gibran hanya memandangi gadis itu dengan tatapan datar namun dalam hati ia tertawa geli juga cemas ketika melihat ekspresi gadis itu. Kirana menghela napas berat. Ia sedang mengumpulkan segenap keberanian dan mentalnya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Maaf, Pak. Itu karena bunda saya sedang sakit keras," jelasnya menunduk takut.
"Sakit apa?"
Iapun menarik napas dan mengangkat wajahnya menatap Gibran serius. Jari-jari Kirana saling bertaut untuk mengumpulkan kekuatan dalam dirinya.
"U ... Usus bu ... Buntu. Dan harus segera dioperasi."
"Berapa biayanya?"
"Tiga ratus juta."
"Kamu dah, dapet uangnya?"
Kirana menggelengkan kepala pelan. Sejujurnya dalam hati, Kirana merasa malu untuk membuka masalah pribadinya di hadapan sang big bos. Namun karena senua sudah terlanjur diketahui ditambah ia dengan polosnya menjawab, Kirana pasrah.
Gibran pun mengalihkan pandangannya ke arah lain, kemudian memperbaiki lagi posisi duduknya.
"Ki, kalau saya bilang, saya mau membantumu dengan ikhlas apa kamu terima?"
"Maaf pak meskipun sulit keadaanya saya tidak bisa berhutang budi pada orang."
Seperti yang sudah diduga Gibran. Untuk sesaat Gibran terdiam lalu tersenyum. Iapun melanjutkan kalimatnya.
"Kalau begitu bagaimana kalau begini, saya bantu kamu sebagai balasannya kamu bantu saya, bagaimana?"
Gibran menatap serius ke arah Kirana yang masih bingung arah pembicaraan Gibran
"Emangnya orang kayak saya bisa bantu bapak? Maksud saya kenapa bapak butuh bantuan kepada orang seperti saya?"
"Karena cuma kamu yang memenuhi syarat."
"Syarat? Syarat apa?" Kirana semakin terlihat bingung. Terlihat jelas sudah berapa kali mata gadis itu melebar dan mengerjap.
"Syarat untuk membantu saya."
‘Buset! Masak iya orang perfecsionist kayak pak Gibran butuh bantuan sih, jangan- jangan bantuan yang dimaksud jadi wanita simpanannya nih, ogah deh gue' gumam Kirana dalam hati.
"Kamu tau kenapa saya pulang ke Indonesia?"
Kirana menggeleng dan masih memasang tampang seriusnya menatap si CEO ganteng
"Mommy saya ingin saya menikahi wanita yang licik dan matrealistis tapi saya tidak mau jadi saya bilang saya akan mendapatkan istri yang lebih baik dari wanita pilihannya itu dan akan saya bawa ke hadapan beliau."
"Lalu apa yang bisa saya lakukan pak? Itu kan, urusan pribadi bapak."
"Menikahlah dengan saya Kirana Larasati."
"Me ... me ... menikah? Dengan bapak?" Kirana semakin terkejut hebat. Jantungnya terasa akan keluar.
"Ya dengan membawa seorang istri maka Mommy saya tidak kan mengganggu privasi saya lagi." Kirana membungkam. Ia tidak tahu harus berbuat apa mendengar ucapan Gibran.
‘Ampun deh ... apa gue sedang di lamar nih, kok jantung gue mau copot gini sadar Kirana, banguj lo, bangun lo.’ batinnya seraya menepuk dadanya dan mengatur ulang napasnya.
"Tapi pak kenapa mesti saya?"
"Kenapa ? kamu ada pilihan lain?" Ya, Gibran berhasil, jangan tanya saat ini otak Kirana tidak bisa bekerja dengan baik semua serba mendadak.
"Kalau kamu setuju hari ini juga kita ke KUA saya akan atur semua dalam hitungan menit."
"Ha? Se ... Sekarang? Ha ... Hari ini?"
Gibran hanya mengangguk mengiyakan setiap perkataan Kirana. Sesaat Kirana membisu dan lima menit kemudian ia menarik napas panjang dan dalam. Otak Kirana sudah benar -benar tidak berfungsi dengan baik. Apalagi dj rumah sakit, Bundanya sedang membutuhkan biaya pengobatan dengan segera. Ia pun pasrah. Dan menerima pilihan yang diberikan Gibran.
"Baik pak tapi dengan syarat, tidak ada kontak pisik dan tidak ada jatuh cinta. Bagaimana?"
"Kontak pisik saya terima tapi kalau jatuh cinta, maaf Kirana saya menolak syaratmu yang kedua."
‘Jangan larang saya mencintaimu Kirana, saya tidak bisa karena sebelum bertemu kamu saya sudah jatuh cinta bahkan sangat cinta hingga tidak ruang bagi wanita lain di dalam hati dan pikiran saya' gerutu batin Gibran
"Tapi pak ...."
"Kita menikah saja, apa kamu mau kita kumpul kebo? Lagian kita tidak tau akan seperti apa perjalanan hubungan kita nanti. Jadi urusan perasaan biarlah sambil jalan, yang penting kita sah dulu, sehingga kita tidak akan terganggu dengan dosa. Benar kan?" Kirana mengangguk perlahan dan menyetujui permintaan Gibran.
Seketika Gibran menelpon Julian dan menyiapkan semua yang dibutuhkan.
"Ju, buat persiapan di kantor KUA terdekat aku dan Kirana akan menikah hari ini.
Sepanjang bersama Gibran, Kirana tak henti- hentinya terkagum dan terkejut dengan tindakan Gibran yang membuat persiapan yang berbulan - bulan menjadi beberapa jam. Gila orang kaya emang deh hanya itu yang dipikirannya saat itu.
