Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

PERNIKAHAN KILAT

Julian yang sedang mengurus kerja sama antara Mr.Hanaki terkejut dengan pemberitahuan Gibran yang terkesan mendadak. Yang benar saja, saat ini Julian sedang berada di Jepang. Bagaimana ia bisa kembali dalam waktu singkat hanya untuk mengurus keperluan pernikahan kontrak yang mendadak itu.

"Jul, buat persiapan di kantor KUA terdekat aku dan Kirana akan menikah hari ini."

"Lo gila ya, gue lagi di Jepang sekarang bersama Mr.Hanaki. Kan lo yang-"

TUTT TUTT TUTTT

Gibran menutup telpon Julian, seakan telinganya enggan mendengar alasan panjang Julian.

Itulah dunia yang sudah ditakdirkan Ayah Julian pada keluarga Sanjaya. Yang akan mengabdikan seluruh waktu dan hidupnya tanpa mengenal batas dan ruang. Sebagai pengikut setia keluarga Sanjaya Julian harus melakukan semua perintah Gibran apapun dan bagaimanapun keadaanya. Setiap kalimat Gibran seperti Perintah bahkan TITAH mutlak yang harus ia laksanakan termasuk mempersiapkan pernikahan dadakan Gibran dan Kirana Larasati.

Hari itu Julian langsung menghubungi pengacara Gibran dan memintanya menyiapkan administrasi mereka berdua.

Finally sang pengacara pun tak kalah kagetnya dan langsung bertindak sesuai perintah Julian.

Semua berjalan sesuai yang diharapkan Gibran.

"By, pak Haris sudah menunggu di KUA, lo langsung aja ke sana." Suara Julian dari seberang.

Kirana, sejak menyepakati perjanjiannya dengan Gibran seperti terperangkap dalam dunia lain. Ya, katakanlah dunia sulap, lihat saja sepanjang bersama Gibran, Kirana tak henti- hentinya kagum dan terkejut dengan tindakan Gibran yang begitu santainya menyulap persiapan pernikahan yang berbulan - bulan menjadi beberapa jam.

‘Gila orang kaya emang deh tinggal HALO langsung deh, Tadaaa.’ hanya itu yang dipikirannya saat itu.

Kini Gibran membawa Kirana ke sebuah butik mewah. Gaun pernikahan mewah dan mahal sudah menunggunya di sana, sesampai di sana Gibran pun memeluk sosok wanita setengah tua yang menyambut kedatangannya

"Kirana ini tanteku. Tante, kuserahkan calon istriku di tanganmu." Sang tante mengerdipkan mata mengisyaratkan kesanggupannya.

Hari itu seperti dongeng cinderella di siang bolong. Kirana kini sudah siap dengan gaun pengantin dan beberapa pengawal Gibran membawakan baju dress Kirana yang dipakainya tadi bersama tas gantungnya. Wow amazing time guest. Sumpah kalau ada pemecah rekor pernikahan kilat, maka inilah jawabannya.

Bayangkan aja, Lokasi udah fix, gaun, cincin, bahkan penghulu udah fix semua. Wow pak Gibran kamu memang penyihir tokcer dah. Andai kau bisa menyihir untuk mengembalikan kedua orang tuaku sudah ku boking sampean pak Gibran.

Siang ini Kirana hanya terdiam, sepi tak berkomentar ataupun memberontak. Semua sudah terjadi saat ia mengiyakan permintaan Gibran. Kini ia hanya bisa menonton apa yang dilakukan lelaki itu kepada dirinya.

‘Sudahlah toh semua ini sudah keputusanku demi bunda. Lagipula ini hanya sandiwara, jadi aku yakin jika sudah bertemu ibunya semua sudah berakhir. Sisanya biarlah jadi kenangan.’ batin Kirana.

"Ki, bisa kasih pengawal saya KTPmu?" pinta Gibran.

Seketika Kirana merogok tasnya dan membuka dompet mini berwarna kremnya lalu mengeluarkan kartu biru kecil dari dalamnya.

Gibran langsung menyerahkan KTP keduanya kepada pengawalnya dan ya di kantor KUA sudah ada pengacara Gibran yang siap dengan berbagai dokumen.

Cicin emas belingkar berlian yang berkilau yang sudah disiapkan oleh Jeslin saat Gibran pulang kemarin langsung dikeluarkan Gibran untuk disematkan di jari manis Kirana.

Lagi-lagi Kirana terkejut dengan persiapan Gibran yang satu ini.

Ijab kabul pun dilaksanakan dengan wali hakim bagi Kirana, karena kenyataannya kedua orang tuanya sudah lama meninggal.

Sore itu semua sudah selesai. Setelah mengganti pakaian Gibran menemani Kirana untuk mengambil beberapa pakaiannya di kos- kosan. Saat itu Zizi belum pulang kantor. Setelah itu iapun meminta Gibran mengantarnya pergi ke panti asuhan.

"Pak Gibran, maaf. Bisa antarkan saya ke panti dulu, saya mau mengambil barang saya di sana."

"Baiklah, kita ke panti." titahnya pada supir pribadinya itu.

Mobil sedan BMW hitam itupun meluncur seperti roket ke lokasi panti asuhan KASIH BUNDA, tempat Kirana menghabiskan sisa masa remajannya dulu.

Mata Gibran menerawang ke sekeliling panti seolah ia membayangkan bagaimana sosok Kirana si bidadari tak bersayap menghabiskan waktu tersulitnya selama ini.

Kini Kirana tinggal di rumah Gibran, begitu sampai di rumah Gibran, mata Kirana dimanjakan dengan pemandangan yang sangat menakjubkan mulai dengan desain eksteriornya yang klasik namun elegan, belum lagi ketika ia mulai menginjakkan kaki di ruang tengah, ruang tamu dan beberapa kamar penting lainnya. Sungguh pemandangan yang tak kan habisnya untuk di puji.

"Ki itu kamar kamu." ucap Gibran menunjuk kamar tidur utama

"Terus bapak tidur dimana?"

"Saya tidur sembarang aja kok, biasanya saya menghabiskan waktu di ruang kerja." jelasnya menunjuk pintu hitam yang berada di salah satu pojok ruangan lantai satu.

Gibran membawakan koper baju milik Kirana ke kamar utama sementara Kirana segera melepas beberapa barang bawaanya yang lain.

Saat merapikan mata Gibran tertuju pada pakaian dalam Kirana, Kirana yang mendapati Gibran langsung menyulut merebut bra yang ada di tangan Gibran yang terkekeh melihat tingkah konyol Kirana.

"Bapak apa- apaan sih, ini kan, zona privasi saya bapak jangan sembarangan gitu."

"Hehe, iya- iya maaf saya yang salah. Ya udah, kamu rapiin sendiri saya permisi dulu."

Gibran memaklumi rasa malu Kirana, iapun tak mengubris sikap ketus Kirana. Ia hanya teringat akan bagaimana bahagianya sudah memiliki cinta yang ia eluh- eluhkan sejak dulu.

Malam itu Kirana tidur sendirian dan menutupi seluruh badannya dengan selimut takut Gibran mengambil kesempatan. Namun hati kecilnya menepis dugaan itu melihat Gibran juga tau persis akan dosa dan pahala.

Pagi ini mereka sarapan bersama, Kirana mengusut matanya hingga jelas melihat sosok yang sudah duduk menyantap sarapannya ditemani i-Pad di samping piringnya. Ya, laki- laki itu Gibran, CEOnya sekaligus suaminya.

Ia terlihat kikuk untuk menghadapinya pagi itu

“Selamat pagi pak Gibran!" sapanya pelan.

Gibran berhenti mengunyah ketika wanita yang sudah menyandang status istri ini memanggilnya dengan sebutan PAK.

"Eeii..? Pak?" selanya menatap ke arah wajah lesu Kirana yang ragu- ragu.

"Kirana Larasati, duduk." ucapnya menekan nama Kirana. Seketika Kirana duduk dan meraih sarapannya yang sudah disiapkan Gibran sejak tadi.

"Aku ini sekarang suami kamu jadi panggil aku Giby seperti teman-temanku memanggilku"

"Nggak bisa, saya butuh waktu," ucap Kirana datar.

"Terserah kamu aja. Tapi mulai sekarang biasakan untuk berkomunikasi dengan bahasa non formal dengan aku. Kamu mengerti?!" selanya meraih sandwitch lalu berdiri menjinjing i-Padnya. Tapi suara pekik Kirana menghentikan langkahnya.

"Saya nggak bisa pak, dan saya nggak mau. Butuh waktu dan proses lama untuk membiasakan diri saya dengan kalimat non formal. Dan saya juga tidak ingin orang -orang kantor tau hubungan kita ini jadi saya harap bapak bisa menerima privasi saya ini.”

"Kenapa harus dirahasiakan?" Gibran terheran.

"Bapak ini bagaimana sih, bapak itu idolanya wanita sejagat raya ini pak. PAJANGAN SEMPURNA, jadi saya tidak mau setiap detik hidup saya itu musibah buat saya gara- gara memakai cap ISTRI bapak." jelas Kirana menekan setiap kalimatnya.

Dalam hati Gibran senyum menggelitik , ia baru menyadari bagaimana ia menjadi idola kaum hawa sekarang ini.

"Terserah kamulah." sekedarnya dan berlalu.

Kirana menghempaskan tubuhnya kasar ke atas kursi dan menengadah menatap langit - langit rumah Gibran.

"Apa yang salah dengan ucapanku? Wajar kan, aku bikang gitu , apa dia marah ?Aaaghh ... bodo amat!" lirih Kirana.

Pagi itu, seperti Gibran, Kirana pun sudah bersiap-siap harus ke kantor. Kirana berdiri dan menyemangati dirinya.

‘Baiklah Kirana lupakan Pak Gibran yang sempurna, lupakan pernikahan kilatmu ini lupakan kisah asmara yang rumit ini mendingan kamu kerja kerja kerja, demi bunda dan panti. Go!’ batin Kirana.

Ia mulai beranjak ke kamar dan mulai mengenakan kemeja kerjanya dengan celana gucci navy yang senada dengan kemeja Gibran.

Pagi ini, Pak Didi sudah menyambut Kirana di depan pintu ruang devisi begitu juga dengan serentetan ocehannya.

"Ya ampun, Ki ... Ki, kalau cuti kira- kira dong, jangan pas lagi dikejar deadline kayak gitu, kamu kan bisa cari time yang lain." sembur pak Didi dengan gaya khasnya menghadang di depan pintu ruangannya.

"Ih si bapak, masak waktu sakit bisa kita atur seenaknya aja kayak ngatur jadwal resepsi."

"Lha kamu lihat dong, Kevin dan Zizi jadi teteran tuh,” tukas pak Didi.

Kevin dan Zizi datang bergabung dan merangkul Kirana dari samping.

"Udahlah pak, Kirana baru masuk gini bapak udah ngomel - ngomel gimana kalau dia beneran resign?” ujarnya membela sahabatnya.

“Tahu nih, Pak Didi,” sambung Kevin.

"Terserah kalian lah!" sela Pak Didi berlalu ke ruangannya.

Kevin datang ke kubikel milik Kirana dan mengetuk papan kubikelnya.

"Eh, Ki gimana keadaan bunda lo?"

"Dah operasi kok, sekarang lagi pemulihan."

Mendengar Kevin dan Kirana bergosip pagi, Zizi menggeser kursinya ke kubikel Kirana.

"Eh, kemana lo semalam kenapa nggak pulang ke kos?" bisiknya

"Ntar gue ceritain, sekarang kerja dulu oke," jawab Kirana pelan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel