Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

GIBRAN MENCIUM KIRANA 1

Siang itu, pak Didi keluar membawa map kuning berisi dokumen yang harus ditanda tangani Gibran. Matanya membulat saat menemukan tubuh Kevin dan Zizi bergosip di kubikel Kirana.

"Ki, kita pulang bareng ya, nebeng sama Kevin mumpung dia lagi baik hati tuh," sela Zizi menunjuk Kevin dengan ekor matanya.

"Nggak bisa!" Kevin dan Zizi saling bertatapan heran, tersadar ucapannya mencurigakan.

"Maksud gue ,gue bakal pulang ke rumah sakit temenin bunda. Bunda kan baru sembuh jadi buat jaga- jaga kalau nanti kenapa – napa."

"Oooohh gitu," jawab Kevin dan Zizi serentak.

Perlahan Kirana menarik napas lega telah lepas dari kecurigaan para sahabatnya.

"Hei kalian, gosip aja!" ketus pak Didi tiba tiba menyela.

"Kirana nih, antarkan dokumen ini ke ruangan pak bos, harus ditanda tangani sekarang juga," perintahnya tegas

"Sekarang pak?" mata Kirana melebar.

"Tahun depan! Ya, sekarang to! Kamu mau perusahaan kehilangan tender gara- gara malasmu itu!? Dah, cepat pergi sana!" lagi - lagi perintah pak Didi.

Kevin dan Zizi segera bubar begitu melihat bayangan tubuh pak Didi menjauh dari kubikel Kirana.

Dengan malas Kirana beranjak pergi keluar dari ruangan dan pak Didi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kirana yang seperti anak kecil.

Dengan langkah malas ia memencet lantai 30 gedung JG Group tempat ia bekerja. Untuk pertama kalinya ia menaiki tingkat itu padahal terakhir kemarin hanya sampai di lantai 25 aula meeting saat Gibran pertama kali datang mengambil alih kekuasaannya.

TING

Kirana masih menunggu dengan sabar sampai pintu lift terbuka sempurna.

Ia beranjak ke satu ruangan yang hanya sendiri di lantai gedung itu. Ya, ruang CEO, ruangan Gibran.

Jarak satu meter dari pintu ruangan itu telinganya menangkap suara seorang wanita yang tengah berteriak keras membentak Gibran,

‘Wow drama apalagi nih, siang - siang ada film indosiar di perusahaan gue.’ Pikirnya.

Dengan penasaran ia mendapati celah pintu ruangan Gibran yang sedikit terbuka hingga bisa melihat sosok yang ada di dalamnya.

‘Wah, memang jadi orang ganteng itu susah, banyak yang disakiti. Buktinya tu cewek. Ckckck kasian bener.’ batin Kirana.

Ada Julian yang tengah berdiri di sofa tamu dan seorang wanita yang berdiri dekat dengan kursi kerja Gibran dan ada Gibran yang masih fokus pada Ipad nya

"Gibran..!" Hentak Fiona dengan suara lantangnya.

"Kamu nggak bisa kayak gini ke aku, ingat papamu sudah berjanji akan menjodohkan kita berdua dan sekarang kamu tiba-tiba nikah dengan perempuan lain lalu kau anggap apa aku ini?!" tukasnya dengan nada keras dan kesal.

"Adikku," jawab Gibran ketus dan acuh

"Dengar Fiona bagi aku kamu itu teman masa kecilku dan udah aku anggap adikku sendiri jadi maaf aku nggak bisa mencintai kamu." Gibran menuntaskan kalimatnya.

"Tapi aku cinta sama kamu, apa kamu nggak hargai perasaan aku sedikit saja Giby, sejak dulu aku tuh, cintanya sama kamu. Aku rela nungguin kamu bertahun-tahun cuma buat kamu, By.”

"Tapi aku tidak Fiona, udahlah mendingan kamu pulang dan lupain aku oke."

"Aku nggak mau!, aku mau nagih janji om ke kamu." Fiona memaksa.

"Yang bikin janji kan, papa aku ya kamu nikahi aja tuh, papa aku yang di dalam kubur," acuh Gibran.

Julian terkekeh mendengar jawaban Gibran, iapun berbalik hendak keluar namun matanya menangkap sosok Kirana yang sudah sedari tadi menguping peperangan Fiona dan Gibran dari ruangan itu.

" Kirana?" lirih Julian dengan suara kecil namun masih terdengar oleh Gibran.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel