Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

GIBRAN MENCIUM KIRANA 2

Spontan Gibran berdiri dan melihat ke pintu ruangannya. Sementara Kirana yang sudah tertangkap basah beranjak masuk sambil membawa map didadanya.

"Maaf pak, saya membawa dokumen untuk bapak tanda tangani" ucap Kirana ragu - ragu melangkah masuk dan mematung di balik pintu.

Julian menutup pintu agar tidak ada orang lain yang mengetahui pertengkaran mereka. Sementara Gibran segera beringsut menarik tangan Kirana mengajaknya ke tengah ruangan.

Kini Gibran dan Kirana berdiri sejejer di depan Fiona yang masih memasang wajah masamnya.

"Kirana, maaf aku melanggar kesepakatan kita." ujar Gibran seraya melayangkan ciuman kepada gadis yang ditarik Gibran ke dalam lingkaran cinta antara dia dan Fiona, Julian tertunduk sementara Fiona semakin garang menatap keduanya.

Kedua tangan Gibran menakup rahang wajah mungil Kirana dan melekatkan bibirnya pada bibir Kirana.

‘Tuhan, oh, siapa saja tolongin gue. Pak Gibran nyium gue? Oh dunia, matilah gue. Tapi perasaan apa ini. kenapa jantung gue berdegup kencang, perasaan gue tadi jalan aja deh, nggak lari. Kok, bisa ya? Hei jantung berhentilah berdetak. Malu tau. Tapi ciuman ini kayak pernah aku alami deh.’ Peperangan alam pikir Kirana.

Sesaat kemudian Gibran melepaskan ciumannya dan Fiona semakin murka "Inget ya, perempuan murahan gue nggak akan biarin lo ngerebut Gibran dari gue.” selanya berlalu dengan penuh amarah.

Gibran menatapi Kirana yang menunduk bisu dan tangannya tiba- tiba gemetar lalu menyodorkan map yang sedari tadi di genggamnya.

"Tunggu Kirana ... Kirana!" teriak Gibran menekan nama Kirana.

"Soal ciuman tadi aku ... aku minta maaf, aku betul - betul minta maaf, aku tau aku salah tolong kamu jangan marah, okay?"

Kirana tetap melangkah pergi tak menghiraukan panggilan Julian dan Gibran. Gibran merebahkan tubuhnya di kursi dan memijat jidatnya sementara Julian segera keluar mencari Kirana.

Kirana yang sejak tadi keluar dari ruang CEO langsung berlari bersembunyi di pantry.

Di sana ia berjongkok dan menyembunyikan wajahnya di balik tangannya yang memeluk lututnya. ia melepas luapan tangisnya sekencangnya hingga Parjo si OB yang tadinya berjalan masuk dengan tampang semringahnya kini berubah terkejut mendengar lengkingan tangis dari dalam dapurnya.

"Mbak ... mbak!” coleknya pada pundak Kirana. Perlahan Kirana mengangkat wajahnya dan kembali tenggelam dalam isakan tangisnya.

"Oalaa mbak Kirana to kirain siapa?" ucapnya menaruh baki di atas meja yang sejak tadi di tentengnya

"Mbak Kirana kenapa to? Kok nangis? Ada apa to? cerita sama Parjo mbak siapa tau saya bisa bantu." hibur Parjo, suara tangis Kirana semakin keras bahkan sampai terdengar suara paraunya meskipun tak meributkan seisi ruangan.

Tak lama Julian dan Gibran sampai di pintu Pantry dan mendapati Parjo yang juga melihat ke arah mereka.

Gibran memberikan isyarat diam dengan mengacungkan telunjuknya ke mulutnya sementara Julian mengibaskan tangannya memanggil Parjo mendekat ke arah mereka.

Sudah barang tentu Parjo yang penurut langsung menjauh dari Kirana dan Gibran beranjak mendekati wanita itu.

Ia duduk menjongkok setengah lutut dan mengusap kepala wanitanya itu.

"Ki ... Kirana." panggilnya dengan suara ringan dan pelan. Seketika isakan tangis Kirana berhenti namun masih belum mengangkat wajahnya. Tentu saja, ia tidak mau laki - laki itu melihat dia bersimbah air mata seperti anak kecil.

"Aku minta maaf ya? Please, kamu jangan nangis lagi.” Kini pelipis mata mereka tak berjarak lagi saat Kirana sudah mengangkat kepalanya dan jemari Gibran mulai mengusap airmata di pipi Kirana yang kemerah - merahan

Gibran membantu Kirana berdiri dan menarik kursi yang ada di ruang Pantry.

"Aku tau aku melanggar syaratmu tapi keberadaan Fiona memaksaku melakukan hal itu, dan lagipula ...." ucap Gibran menggantung.

"Meskipun saya istri Bapak tapi saya belum siap nerima keberadaan Bapak di hati saya. Karena ... Saya sedang menunggu seseorang ... Pak Gibran. Dan ... Ciuman tadi itu seperti sebuah sayatan di hati saya. Bapak telah menodai kesetiaan saya pada seseorang itu." Kirana melirih di sela napas tangisnya yang tersendat.

“Maafkan aku. Kalau boleh aku tahu siapa lelaki beruntung itu? Aku ingin meminta maaf dengan tulus kepadanya.”

“Kamu nggak perlu tahu siapa dia, Gibran. Tapi apa yang sudah kau lakukan kepadaku hari ini, cukup membuatku tersakiti.” Kirana kini tak sadar jika sudah berbicara dengan bahasa non formal pada Gibran. Sontak saja Gibran tersenyum geli dan membuat kening Kirana mengekrut.

"Kenapa kamu ketawa?, ada yang lucu?"

"Ini pertama kalinya kamu bicara dengan bahasa akrab kepadaku Ki, dan pertama kalinya kamu hanya memanggil namaku saja tanpa sebutan PAK lagi, aku seneng dengernya." timpal Gibran sekenanya.

Kirana tertunduk malu, pipinya mulai memerah merasakan malu pada ucapannya sendiri.

"Kamu mau dengar sesuatu nggak?” celetuk Gibran.

Gibran mengatur ulang duduknya dan semakin duduk dekat dengan Kirana.

"Apa?" suara parau Kirana.

" Aku pernah membaca dalam sebuah buku, bahwa Allah berkata :

‘Khalako lakum Min Anfusikum Azwaja Litaskum Ilaihi. Wa ja'ala Bainakum Mawaddah wa Rahmah. yang artinya: Aku menciptakan pasangan untukmu yang berasal dari bagian dirimu dan aku menciptakan kenyamanan diantara kamu agar tercipta rasa sayang dan kasih di antara kamu. sodakallahu'

‘Hei tuan sempurna jangan khutbah dulu, hatiku berkecai sekarang tidak ada hubungannya dengan dalilmu itu. Kamu bahkan menciumku tanpa aba aba,siapa yang nggak kaget coba digituin.’ jeritan batin Kirana.

"Kamu tau kenapa aku menolak untuk tidak jatuh cinta sama kamu? larangan kontak fisik bisa aku terima tapi aku tidak bisa tidak melanggarnya. Kau tau kenapa? Karena saat ini yang ada di hatiku adalah rasa sayang yang tercipta dari kenyamananku saat bersamamu. Kau terima atau tidak itulah faktanya. Jadi jangan larang aku untuk meluahkan perasaanku itu."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel