AKU BELUM SIAP MENGHADAPIMU 1
Gibran dan Kirana masih duduk menyelesaikan kesalah pahaman mereka
"Tapi aku ...." lirih Kirana
"Aku tau, aku akan menunggu sampai kamu betul-betul nerima aku, tapi selama itu biarkan aku tetap di sisimu dan beri aku kesempatan untuk menyayangimu dengan caraku," jelas Gibran mengelus pipi putih Kirana.
Sementara Julian manarik Parjo ke sudut ruangan dan memberi titah padanya.
" Mas Parjo inget tanpa seijin nyonya Kirana jangan ada yang tau hubungan mereka di perusahaan ini ya?" titahnya.
"Siap bos!" tegasnya memberi hormat bendera pada Julian.
" Mas Parjo kayak upacara aja pake hormat segala." Seloroh Julian.
Parjo hanya cengengesan menimpali asisten bosnya. Tak lama Gibran keluar dan mengajak Julian pergi meninggalkan tempat itu.
Keduanya bertemu klien di salah satu cafe seberang jalan gedung perusahaan Gibran.
Sementara Kirana memasuki ruangannya dengan setumpuk pikiran dan dugaan dalam benaknya bahkan ia tak sadar telah melewati begitu saja kepala devisinya pak Didi yang sejak tadi memanggil - manggil nama Kirana namun tak di hiraukan.
"Kirana! Kirana! Kirana! Ki Ra Na!" pekik pak Didi.
Kevin dan Zizi terkejut dengan suara keras Pak Didi dari arah kubikel mereka. Pada jarak yang renggang, Zizi dan Kevin saling melempar tatapan heran melihat sikap aneh sahabat mereka itu.
"Ki! Kirana ! " panggil Kevin tak dihiraukan juga.
Kirana duduk di kubikelnya dan menjatuhkan kepalanya ke atas meja sementara Zizi segera mendorong kursi kerjanya ke arah meja kerja Kirana. Ia mengetuk-ngetuk meja komputer Kirana mencoba membuat suara bising.
Dan akhirnya berhasil, Kirana kembali ke alam nyatanya dan mendapati tiga orang yang sangat familiar di hadapannya menatap penuh tanda tanya ke arahnya.
Bola mata Kirana melirik satu persatu pemilik wajah itu.
" Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian ada di sini? Pak Didi ada perlu apa dengan saya?" Kirana merengut heran.
Serentetan pertanyaan Kirana membuat ketiga manusia itu saling berpandangan secara bergantian. Tangan Zizi terjulur ke jidat Kirana
"Kamu sehat kan Ki?"
"Iyalah." Ketus Kirana menyibak tangan Zizi.
"Eh krupuk kulit kecebur kuah soto! kita dari tadi panggil lo tapi lo malah lewat gitu aja," sembur Kevin.
“Hah? Masak sih?” heran Kirana.
"Iya kamu malah lewati saya tadi Kirana? Kamu kenapa? dimarah pak Gibran ya?" Pak Didi melemparinya pertanyaan.
‘Boro-boro dimarah yang ada gue di cium tadi dan itu aneh,' batin Kirana.
"E, Iya pak, gara - gara cuti lama jadi tadi dapat khutbah panjang dan lebar," bohong Kirana. Pak Didi menggeleng dan berlalu pergi dari kubikel Kirana.
"Kamu sih, cuti pake lama," ketus Kevin berlalu menjauh begitu juga dengan Zizi.
Kini mereka kembali berkutat dengan data dan layar komputer mereka.
Lama Kirana berpikir, ia melirik ke arah Zizi yang sibuk membuat nada dengan keyboard komputernya. Kirana lalu bergeser ke dekat Zizi
"Zi, hari ini kita pulang bareng ya, gue batal nginep di bunda gue mau nginep di kos aja, mau curhat gue."
" Ya, gue siap. dah gue kerja dulu." Zizi tak memindahkan pandangannya dari layar komputer. Kirana mendesis kesal sambil menjauh dari Kubikel Zizi.
Kirana meraih ponsel yang ada di atas mejanya dan mengirim beberapa pesan chat pada nomor Gibran.
Me : Giby, malam ini aku boleh nginap di kos Zizi nggak?"
