Bab 9
BAB 9 Jika Berkenan
Hari ini dokter nikol, reza dan Nerissa, serta beberapa dokter lainnya sedang makan siang bareng dikantin rumah sakit, mereka sedang membahas pertemuan bulanan atau bisa dibilang semacam arisan setiap bulan yang di adakan untuk semua dokter di rumah sakit tersebut, dan pertemuan itu selalu diadakan di ruang pertemuan rumah sakit.
“apakah ada yang tau tempat yayasan bakti yang terkenal itu?” celetuk nerissa di sela sela mereka mengobrol.
“aku tau, setiap hari aku melewati yayasan itu jika akan berangkat dan pulang kerja” jawab salah satu dokter anak tersebut
“sepertinya aku pernah mendengar nama yayasan yang kamu sebutkan dimana ya sa” jawab reza yang merasa tidak asing, nerissa hanya melihat reza, dan reza masih sambil berfikir “nanti aku fikirkan lagi, tapi aku yakin pernah denger itu”
“apakah kamu punya waktu buat mengantar saya ke yayasan tersebut” tanya nerissa ke dokter anak itu
“bisa sih, tapi enggak minggu ini sampai minggu depan, kan tau sendiri aku masih mempersiapkan pernikahanku” jawab dokter itu sambil senyum senyum, nerissa hanya mengangguk dan memakluminya. Dan mereka lalu melanjutkan makannya sebelum jam istirahatnya selesi, maklum baru kali ini bisa ngumpul makan siang bareng, karena biasanya mereka akan sibuk ngurusin pasiennya masing masing, makan siang pun gak bakalan serame hari ini.
“pasti kamu suka” kata reza yang sampai depan rumah nyodorin kartu nama, iya kartu nama dari Yayasan Bakti Abi Jaya, nerissa kaget menerima itu
“kenapa kamu bisa dapat ini?” tanya nerissa, sambil membaca kartu nama itu yang tulisannya ada nama Kepala Yayasan dan nomer telfonnya
“kapan hari ini orang ini datang, dan dia nanya nanya apakah aku termasuk dokter yang ada di rumah dinas ini, dan tanya tanya tentang warga juga, terus ninggalin kartu nama gitu aja” karena pas itu reza harus segera melakukan operasi karena ada pasien kecelakaan dan harus mendapatkan penanganan operasi saat itu juga
“ya ampun za, makasih banget, apakah kamu mau menemaniku kesana?” tanya nerissa, dan terpnacar dari wajah nerissa yaitu wajah ceria semacam anak kecil yang menemukan mainannya yang hilang selama berhari hari.
“baiklah weekend ya, sekalian sama nikol, dan kita jalan” jawab reza sambil berlalu masuk rumah
“selamat siang bapak zidny, perkenalkan saya nerissa salah satiu dokter di rumah sakit daerah, apakah saya bisa bertemu bapak??” nerissa memastikan untuk janjian dengan orang yang kontaknya ada dikartu nama itu dan dia menngirimkan pesan tersbut agar lebih menghormati
“siang juga dokter nerissa, apakah anda dokter yang sering mengisi sosialisasi gratis untuk warga dibalai kelurahan itu?” pak zidny membalas pesan tersebut
“benar pak, saya salah satu dari mereka. Apakah saya bisa bertemu bapak?” tanya nerissa ulang
“bisa dok, apakah sabtu besok anda bisa?” nerissa membalas bisa, dan kemudian memastikan ke reza bahwa mereka bisa berangkat besok sabtu dan sudah janjian sama kepala yayasannya.
“Selamat siang pak zidny kita ketemu lagi” sapa reza sambil menyalami tangan pak zidny, dan ikuti oleh nikol dan nerissa
“saya sudah menunggu untuk bertemu dan berbincang bincang dengan kalian” jawab pak zidny dengan antusias
“sebenarnya saya telah mendengar dari beberapa pengurus sini, kalo di rumah sakit daerah ada beberapa dokter yang peduli dengan warga, dan bahkan memberikan pelayanan gratis dirumah dinasnya, apalagi sampai mau mendatangi pasiennya ketika malam hari” jelas pak zidny “itu adalah suatu kebaikan yang hanya dimiliki orang orang terntentu” imbuh pak zidny sambil memancarkan senyumnya dan mereka yang mendengarkan juga hanya tersenyum
“sebenarnya pak zidny itu semua ide dokter nerissa, tanpa dia kita berdua tidak pernah memiliki pikiran itu, dan dokter nerissa yang menyadarkan kita bagaimana pun kita harus saling membantu” jelas reza, dan diberikan anggukan oleh nikol
“jangan dengarkan mereka pak, mereka berdua emang selalu begitu, selalu menggodaku dengan mulut manisnya” kata nerissa yang agak malu, dan malah diketawain zidny
“begini, sebenarnya saya kemarin itu mau berbincang dengan dokter reza untuk menyampaikan niat saya, tapi dokter reza sedang sibuk, ini kebetulan sekali dokter nerissa menghubungi saya duluan, sehingga saya bisa menunggu kalian semua” mereka bertiga masih setia mendengarkan
“jadi niat saya itu ingin mengajak kalian bergabung di yayasan ini, disini ada klinik kesehatan, ada panti asuhan, ada panti jompo, ada pusat pendidikan, da nada pusat UMKM, untuk pusat kesehatan kita tidak memiliki banyak departemen, kita hanya memiliki beberapa yang emang dibutuhkan oleh orang orang, seperti dokter spesialis kandungan, dokter spesialis anak, dokter spesialis penyakit dalam, dokter umum dan UGD, untuk yang lainnya kami masih mencari dokter yang bersedia bergabung di sini” jelas pak zidny
Pasalnya di yayasan itu baru berdiri sekitar 1 tahun yang lalu dan awal nya mereka membuka sebuah pusat pendidikan dan panti asuhan untuk anak yang tidak mampu, karena donator terus bertambah, dan laba perusahaan milik owner nya semakin melesat akhirnya bisa membuka pusat kesehatan, dan panti jompo, dana dari yayasan ini di dapat dari 15% laba milik perusahaan owner nya, dan pak zidny ditugaskan di sini untuk mengelolanya, pak zidny juga bukan orang sini, dia juga orang asli Jakarta yang emang sudah kenal baik dengan pemilik yayasan ini bahkan masih saudara jauh tapi bisa dipercaya.
Para dokter perawat dan semua pegawai yayasan ini juga mendapatkan gaji, dan semua dokternya juga dokter dari rumah sakit atau puskemas yang ada di daerah itu, para guru paud dan TK nya juga seperti itu, mereka dari sekolah lain yang bersedia bergabung di sini diwaktu luangnya karena emang sekolahnya dijam siang hari dan itupun seminggu Cuma 3hari, kebanyakan untuk yang sekolah TK dan Paud dari panti asuhan sendiri, untuk yang sekolahnya sudah SD SMP dan SMA mereka kami sekolahkan di sekolah daerah tersebut.
Untuk UMKM itu didirkan oleh mahasiswa beberapa bulan yang lalu, mahaiswa dari kota yang ingin membenahi perekonomian di sini dengan cara mengajari berbagai kreasi makanan dan souvenir, peserta yang datang dari semua kalangan, dan untuk modalnya di danai dari yayasan dan untuk perbulannya nanti mereka akan memberikan ke yayasan sebesar 15% dari pendapatan mereka tiap bulannya, jadi tidak pernah mematok dan sukarela mereka.
“jika para dokter berkenan, saya bisa langsung membuatkan surat kontraknya, anda bisa nego gaji ke saya juga” goda pak zidny, mereka bertiga bersedia untuk bergabung, dan pak zidny langsung menelfon asistennya untuk membikinkan kontrak sesuai form yang telah di isi oleh ke 3 dokter tersebut.
“mereka bertiga memutuskan untuk tidak nego gaji, dia mengikuti pasaran yang ada karena ini adalah yayasan untuk orang orang yang benar benar membutuhkan, untuk nerissa dia benar benar menolak untuk menerima gaji itu, dan dia berjanji jika waktu luang dia kan datang ke yayasan ini untuk membantunya, sedangkan untuk reza dan nikol dia hanya bersedia menerima 20% gaji dari gaji yang semestinya dia dapatkan.
Karena kesepkatan mereka bertiga pak zidny akhirnya memberikan surat pernyataan yang menyatakan ketersedian mereka untuk nimonal gaji. Pak zidny emang selalu menyediakan form itu karena emang ada beberapa yang bergabung itu tidak menerima penggajian alias mereka tulus ikhlas membantu, dan sebagian orang seperti dokter reza dan nikol hanya menerima berapa persen dari gaji sesunguhnya, pak zidny juga memaklumi itu karena semua orang memiliki kebutuhan masing masing.
“selamat bergabung para dokter yang baik hati, kalian bisa menyesuaikan jadwal kalian dengan yang ada ditempat kerjaan kalian, kalian akan membuat schedule sendiri, dan bisa dikirmkan ke saya” kata pak zidny
“dan karena ini baru pertama ada dokter anastesi saya akan meminta ke pihak owner untuk alat alat medisnya biar makin lengkap” karena selama ini dokter anastesi atau ada operasi besar langsung dilarikan di rumah sakit swasta di kota.
