Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6

BAB 6 Tugas Negara

Dokter mei sudah melakukan persalinan yang ditangani langsung oleh Dokter Nerissa yaitu temannya sendiri, dan bayi yang dilahirkannya adalah bayi cewek cantik yang mempunyai lesung pipi seperti mami nya.

“apakah kamu senang sudah menjadi seorang ibu?” tanya nerissa ketika mengunjungi mei diruang perawatan pasca melahirkan

“kebahagian yang tak terbendung sa, segeralah menikah dan memiliki anak sepertiku” jawab mei sambil memberikan asi ke putri mungilnya

“doakan yang terbaik untuk ku mei, agar memiliki jodoh yang soleh” nerissa tersenyum, “kondisimu dan putrimu baik baik saja, jika tidak ada halangan dan kendala kamu saya pulangkan besok” sambil mengelus baby mungil itu, “aku akan menemui mu nanti setelah visit ku selesai, ada yang mau saya bicarakan” nerissa kemudian keluar bersama dua perawatnya, karena emang dia harus visit ke semua ruangan untuk mengecek semua kondisi orang tua pasca melahirkan.

“kalo ada yang mencariku, telfon saja ke handphone ku ya, aku akan agak lama di kamarnya dokter mei” pesan nerissa kepada perawatnya setalah selesai melakukan visit pasiennya, dan kebetulan hari ini dokter mike juga sudah membuka prakteknya jadi dia tidak perlu kembali ke ruang praktek

“mei… apakah semua ibu yang meliharkan pertama kali memiliki wajah secerah itu” goda nerissa yang sedang asyik ngobrol bersama suaminya, dan saling mengagumi putrinya, mei dan suaminya hanya tersenyum melihat kedatangan nerissa

“dokter nerissa yang solehah, terima kasih telah membantu istriku dalam proses persalinannya ketika aku sedang mengoperasi pasienku” kata kata manis yang selalu diutarakan suami mei, makanya mei dulu bisa cinlok dirumah sakit ini

“suami mu bener bener bermulut manis mei” tambah nerissa dan kemudian suami dokter mei juga harus kembali bekerja

“Asimu sudah mulai lancar mei?” mei mengangguk, karena kondisi asi mei sudah lancar dari pada hari pertama pasca melahirkan

“mei, aku mau berpamitan kepadamu, hari ini aku mengundurkan diri dari rumah sakit ini” mei kaget dan meminta tolong ke nerissa untuk memindahkan bayinya di box bayi kebetulan bayinya juga sudah tertidur

“mau kemana?” tanya mei penasaran

“aku harus menjalankan tugas Negara yang yang sudah menjadi kewajibanku” mei semakin bingung

“aku diterima menjadi Dokter Pegawai Negeri Sipil mei” nerissa menjawab kebingungan mei dan kegirangan, dua duanya kelepasan berteriak karena bahagia, dan mereka kemudian ingat kalo diruangan itu sedang ada bayi yang tertidur

“apakah aku tidak mimpi sa?” tanya mei lagi

“apakah kamu mau saya pukul baru kamu percaya” goda nerissa, dan mei langsung menahan tangan nerissa

“penempatan dimana sayangku?” tanya mei yang antusias

“agak ke tempat terpencil, daerah Kalimantan” mei melongo mendengar lokasi tempat kerja nya nerissa, karena jauh dari keluarga dan beda pulau, apalagi di daerah sana terkenal dengan akses yang agak sulit

“apakah tidak apa apa sa?” memandang nerissa dengan serius

“why not mei? Pilihanku juga kesempatanku memberikan pelayanan pada orang yang membutuhkan” jelas nerissa

“baiklah, kapan terakhir di sini?” tanya mei yang tidak mau melewatkan moment terakhir berpartner dengan nerissa

“aku berangkat seminggu lagi, aku akan mengalihkan semua pasien aku ke dokter mike, setelah dokumen dokumenku yang kubutuhkan selesai aku langsung berangkat, tanggal masuk kerjanya udah ditentukan, aku tinggal nunggu surat keluar aja”

“secepat itu? Will always miss you bsa” peluk mei dengan kondisi yang masih duduk bersandar di kasur rumah sakit

“aku akan selalu mendoakan kamu dan semua keluargamu sehat selalu” mei mengangguk, “dan doakan aku bisa melewati ini semua, dan bertanggung jawab dengan kerjaanku” sambil melepaskan pelukannya mei

“aku tau kamu bisa, kamu akan selalu bertemu dengan orang baik, karena kamu juga orang yang baik sa” mereka berpelukan lagi dan nerissa meninggalkan ruangan mei

Nerissa menjadi salah satu dokter yang harus ditugaskan ke daerah terpencil, dimana, disana sangat kekurangan tenaga medis, guru dan disana pun katanya juga akses jalannya menuju rumah sakit atau pusat kesehatan juga susah.

Ayahnya nerissa sangat bangga dengan anaknya, dia menjadi seorang dokter spesialis yang bersetatus pegawai negeri, apalagi itu tugas pertamanya dia dikirimkan ke tempat terpencil, yang emang sangat membutuhkan tenaga ahli, dulu ayahnya lah yang bercita cita menjadi seorang guru di tempat terpencil dan mendidik para anak anak disana agar tidak ketinggalan dengan anak anak yang dikota besar, tapi cita cita harus diurungkan karena dia harus menikahi seorang yang dia cintainya.

Lain halnya dengan mamahnya nerissa yang masih sedih jika harus berpisah dengan anak pertamanya itu, dimana nerissa tidak pernah meninggalkan rumah dalam kurun waktu yang sangat lama, apalagi membaca penempatan yang didapatkan nerissa yaitu di daerah luar jawa yang masih sering terlibat bentrok atau perang antar suku, dimana semua akses tak semudah dikota, dan mamahnya nerissa takut kalo anaknya kesussahan dalam menegerjakan sesuatu, maklum dari kecil hingga dewasa nerissa tidak pernah jauh dari ayahnya dan mamahnya. Tapi apa mau dikata itu tugas Negara yang harus dijalankan nerissa, karena semua surat surat sudah dituliskan seperti itu, dan menjadi dokter berstatus pegawai negeri juga cita-cita nerissa sendiri.

Neneknya pun juga merasakan apa yang dirasakan mamahnya nerissa dimana dia tidak pernah jauh dari nerissa, dimana nerissa adalah cucu perempuan satu-satunya yang dia miliki, dan kesehariannya dia juga selalu bersama nerissa, tapi kembali lagi ini adalah cita cita nerissa jadi mereka harus menghargainya, dan mungkin ini adalah sebuah awal biar suatu saat kalo nerissa dibawa oleh suaminya mereka juga enggak kaget.

Nerissa menggunakan penerbangan pagi dari Airport Semarang, karena dia belum tau kondisi disana kayak gimana, sampai disana nerissa juga dijemput oleh karyawan rumah sakit yang telah ditugaskan untuk menjemput nerissa, empat perawat dan dua dokter lainnya yang ditugaskan di rumah sakit tersebut, mereka dari daerah yang berbeda, tapi mereka pernah dipertemukan sekali dan akhirnya janjian untuk berangkat bareng.

Ke enam orang tersebut juga sudah disediakan rumah dinas yang akan ditinggali mereka, dan rumah dinas itu ditinggali oleh naira dan dua perawat lainnya, sedangkan yang lainnya menempati rumah dinas satunya karena mereka berjenis kelamin pria, disana mereka juga di fasilitasi sepeda motor dan mobil dinas untuk digunakan bersama.

Sehari sebelum mereka menjalankan tugasnya, mereka melaporkan diri ke rumah sakit dulu untuk mendatangi kepala rumah sakit, dan mengecek jadwal kerja dan jadwal praktek masing masing, setelah itu mereka memanfaatkan waktu untuk mengenal lingkungan sekitar, dan tentunya beradaptasi dengan warga yang tinggal di dekat rumah dinas mereka, akan bisa saling membantu.

Apa yang dikatan orang orang ternyata benar, akses jalan menuju rumah sakit agak susah, para warga juga enggak semua orang memiliki kendaraan pribadi, dan jarak antara rumah satu dengan rumah lainnya juga agak jauh enggak seperti di kota kelahirannya yang rumahnya bersebelahan tanpa adanya celah.

Dimalam hari juga hal mereka merasakan perbedaannya, dimana setiap jam 19.00 daerah tersebut sudah sepi, taka da seorang pun yang lewat, semua rumah sudah ditutup rapat, tak seperti dikota jam 23.00 lebih saja masih rame, kendaraan dan lalu lalang orang juga masih terlihat.

Sepertinya mereka benar benar harus bekerja keras di tempat baru ini, dan memanfaatkan semua fasilitas yang ada, yang pastinya banyak kekurangan peralatan dan tenaga medis, jadi mereka harus saling gotong royong, saling membantu, untuk kesejahteraan Negara.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel