Bab 5
BAB 5 Memindahkan Mereka
“Dokter mei ku tersayang, kebetulan ketemu disini” kata nerissa setelah sampai lobby melihat temannya itu “ini oleh oleh buat kamu” nerissa membelikan paperbag yang isinya baju bayi dan kue khas Surabaya
“makasih sayang” sambil melihat isi paper bag itu
“apa kamu sedang nungguin suami tercintamu ?” mei menggeleng, karena suaminya masih ada operasi, dan dia mau pulang sendiri naik grab mobil, “bareng aku aja, aku sama mamah juga mau pulang, nanti aku anterin pulang, gimana?” mei langsung setuju dengan tawaran temannya itu, dan mereka lalu menuju parkiran, karena dokter ambar sudah berjalan ke parkiran juga
“mei.. ikut pulang sa?” tanya dokter ambar yang melihat mei berhenti di depan mobilnya, mei mengangguk dan ikut masuk kedalam mobil
“ikut aku ya mei, lagi gak sibuk kan?, tapi kita anterin mamah pulang dulu” ajak nerissa yang tau pasti mei dirumah sendirian, karena suaminya belum pulang
“tente gak ikut sekalian?” tanya mei ke dokter ambar
“kalo tante ikut, pasien tante di klinik gimana? Dan tante juga harus masakin ayah sama neneknya sa sebelum ke klinik” mei hanya menjawaab dengan “O”
Setelah mengantarkan mamahnya samapi depan rumah, mei pindah ke kursi depan di sebelah nerissa, mei penasaran dia mau diajak kemana sama sa, karena nerissa hanya menjawab tunggu saja.
“alamatnya sih bener sini mei, coba aku tanya ibu itu” setelah berjalan cukup lama sesuai arahan mamahnya, karena nerissa juga belum pernah ke sini, “permisi bu, mau menanyakan dimana rumahnya udin, atau ibu tarpi” tanya nerissa ke ibu ibu yang sedang gendong anaknya, ibu itu menjelasakan kalo rumahnya masih agak keseltan nanti ada gang sempit, da nada rumah warna biru yang nanti ada phon mbilbingnya, nerissa mengikuti arahan itu dan menggandeng dokter mei agar tidak tertinggal di belakang, dan nerissa bisa ngimbangi jalannya mei
“ini deh sa kayaknya” kata mei yang melihat rumah sesuai arahan ibu tadi, dan mereka mencoba masuk dan mengetuk pintunya, dan dia dibukakan oleh anak kecil, dan anak itu mengenal dokter mei.
“dokter mei,..” sambil menyalami tangan dokter mei dan nerissa
“udin, udin sudah sehat?” tanya mei sambil berjongkok, dan udin mengangguk “kenalkan iki dokter nerissa yang menolongmu ketika kamu kecelakaan, tapi kamu tidak pernah melihatnya, iyakan” udin mengangguk dan melihat nerissa dengan tersenyum, mei gak kuat berjongkok lama lama dan meminta bantuan nerissa untuk membantunya berdiri
“dokter masuk aja, maaf rumahnya jelek” kata udin sambil mempersilahkan mereka duduk di dalam
“makasih din” kata nerissa yan kemudian duduk, “udin ini untuk kamu dan nenek” nerissa memberikan bingkisan yang sudah disiapkannya dan udin menerima sambil mengucapkan terima kasih “apakah nenekmu ada?” tanya nerissa yang tidak melihat sesosok neneknya udin
“ada dok, di dapur, udin panggilkan sebentar” udin berlalu dan meninggalkan para dokter cantik itu sendirian, dan melihat udin yang sedang menuntun neneknya untuk duduk di hadapan para dokter cantik itu
“permisi nek, perkenalkan kita dari rumah sakit untuk melihat kondisi udin, apakah sudah membaik” kata mei setelah melihat kondisi neneknya, yang emang sudah tua, dan butuh perawatan extra
“maturnuwun nggeh dok, sampun nulungi udin, matur nuwun sanget (terima kasih ya dok, sudah menolong udin, terima kasih sekali) ” kata nenek tarpi yeng menggunakan bahasa jawanya
“begini nek, selain untuk melihat kondisi udin, dokter nerissa teman saya ini mau menyampaikan sesuatu yang penting” mei menyenggol tangan nerissa untuk menyampaikan maksudnya, dan nenek tarpi sudah siap mendengarkannya, sebelumnya nerissa telah dikenalkan dahaulu kalo dia adalah dokter yang menolong udin di jalan dan membawanya ke rumah sakit.
“begini nek, mohon maaf sebelumnya, kami ke sini untuk menawarkan jika berkenan, udin agar dirawat oleh panti asuhan dan mendapatkan kasih sayang seperti anak lainnya, dan nenek juga dirawat di panti jompo agar ada yang ngurusin nenek, dan mendapatkan perawatan yang layak, karena udin kan juga harus sekolah dan belajar” kata nerissa dengan hati hati supaya nenek tarpi tidak merasa tersinggung, dan terlihat nenek tarpi itu masih berfikir, mei juga kaget dengan ide nerissa itu, tapi dia langsung mengimbangi perkataan nerissa dan ikut menjelaskannya
“nenek tetap bisa bertemu udin nek, udin akan rutin mengunjungi nenek setiap hari minggu, ketika dia libur sekolah” kedua dokter cantik itu saling menjelaskan agar udin dan neneknya sama sama paham bagaimana maksudnya, biar mereka terawatt dan mendapatkan kehidupan yang layak
“kalo itu demi masa depan udin, nenek bersedia dok” akhirnya nenek tarpi setuju, mei dan nerissa merasa lega dengan jawaban yang di dengarnya
“kalo begitu nek, insya’allah tiga hari lagi kita balik lagi ke sini untuk menjemput nenek dan udin, dan bisa mempersiapkan barang yang akan dibawa” kata nerissa, dan kemudian mereka mengobrol dan berpamiatan
“sumpah sa, aku kaget dengan tawaranmu” kata mei setelah di dalam mobil,bagaimana tidak dia tiba tiba berkata tanpa kompromi terlebih dahulu
“kamu hebat bumilku, selalu bisa mengimbangi dan tau maksudku” kata nerissa sambil tekekeh, mei hanya menggeleng kepala melihat tingkah temannya itu
“terus soal biaya bagaimana sa?” mei menanyakan itu, pasalnya panti jompo itu juga membutuhkan biaya,
“aku sudah memikirkan itu, aku sudah menanyakan ke yayasan yang biasa aku ke sana, di sana dia bisa membantu kita, karena yayasan itu juga tiap bulannya memberikan donasi ke panti jompo dan panti asuhan yang akan menampung mereka berdua” jelas nerissa dan mei menepuk tangannya, karena enggak nyangka temannya itu sudah merencanakannya dengan seksama
“aku sama suamiku akan ikut kamu untuk nganterin mereka sa, ingat jangan tinggalkan aku” kata mei dengan serius “aku bersyukur mempunyai teman seperti kamu dan peduli sama orang orang yang membutuhkan” imbuh mei
“yang penting semuanya di niati dari hati yang tulus ikhlas mei, semuanya akan lancar” jawab nerissa
“siap dokterku cantikku, dek jadilah seperti tante nerissa ya, yang selalu tulus ikhlas membantu orang” kata mei sambil mengelus perut buncitnya itu, dan mendapatkan tendangan dari anaknya, mungkin itu pertanda dari anaknya yang menyetujui kata kata mamahnya
Mereka berdua mampir makan malam dan mengobrol seputar kehamilan dengan nerissa, karena nerissa emang dokter kandungan yang merawat mei dari awal pemeriksaan, nerissa kemudian mengantarkan mei ke rumahnya dan tak lupa mei juga membelikan makan malam untuk suaminya yang pastinya dia sekarang sudah dirumah menunggu istrinya pulang.
Tiga hari kemudian seperti yang dijanjikan nerissa untuk menjemput udin dan neneknya, mereka dijemput oleh mei beserta suaminya dan tentunya nerissa yang punya gagasan tersebut, Akhirnya untuk urusan udin dan neneknya udah selesai lancar, nerissa juga sudah lega dan bahagia melihat mereka mendapatkan kehidupan dan perlindungan yang layak.
