Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11

BAB 11 Berpamitan

Tiga tahun sudah nerissa menjadi dokter spesialis di daerah terpencil juga, dan di daerah itu nerissa dikenal dengan dokter yang tanpa pamrih dan dokter yang siaga 24jam, nerissa dan dua rekan dokternya juga sudah bergabung di Yayasan tersebut hampir 2,5 tahun, dan mereka juga sudah akrab dengan semua penghuni yayasan.

Sebelumnya rekan perawat nerissa yang dipindah tugaskan ke daerah lain yaitu di bali, sekarang giliran nerissa yang Surat Kerjanya sudah beres dan dia dipindah tugaskan di rumah sakit daerah di Jakarta, sehingga dia mau tidak mau harus berpamitan untuk mengucapkan salam perpisahan kepada semua warga yang sudah seperti keluarganya, nerissa mengadakan acara salam perpisahan di balai pertemuan desa yang dihadiri hampir semua warga yang mengenal para dokter pendatang itu dengan baik.

Salam perpisahan berjalan dengan lancar, dan tentunya menumpahkan air mata orang orang yang menganggap nerissa orang baik yang menyadarkan akan pentingnya kesehatan bagi semua warga sekitar, tidak sedikit yang memberikan nerissa bingkisan sebagai kenang kenangan, istri kepala desa pun juga tak kuasa menahan tangisnya karena dia sudah menganggap nerissa sebagai putrinya sendiri, dan ibu kepala desa juga sempat mengajukan lamaran untuk menikahkan putranya kepada nerissa, tapi nerissa menolak dengan halus lamaran tersebut agar tidak menimbulkan sakit hati bagi istri kepala desa itu.

“kamu seperti orang yang habis ulang tahun sa, lihatlah dibagasi semua bingkisan milikmu itu memenuhi bagasi” kata nikol yang kemudian reza dan rekan perawat yang berada dirumah dinas itu tertawa ngakak

“karena mereka terlalu mencintai dokter volunteer kita ini nik” jawab reza

“betul aku sangat kagum dengan dia, misal aku belum punya tunangan ni za, aku rela pindah agama demi menikahi nerissa” goda nikol yang semua orang dimobil auto ketawa

“hahahahahah, mukanya nerissa seperti tomat merah sekali” celetuk reza yang sedang nyetir padahal reza tidak melihat ke arah nerissa

Setelah pamitan kepada warga sebenarnya kepergian nerissa masih dua minggu lagi, Cuma nerissa harus berpamitan kepada warga dulu dan besoknya dia membawa beberapa barangnya ke Jakarta sekalian mengambil berkas surat kerjanya di Jakarta sekalian mencari tempat tinggal di sana, karena di Jakarta dia tidak memiliki rumah dinas, jadi dia harus mencari sendiri untuk tempat tinggalnya.

Nerissa meninta bantuan sahabatnya semasa SMA untuk mecarikan tempat tinggal, kontrakan atau apartemen yang tak jauh banget dengan rumah sakit tempat dia kerja, mereka berdua muter muter dan belum menemukan harga yang cocok apalagi yang simple.

“mending kamu ke apartemenku aja deh, disana aku jarang nempatin, pake aja dari pada kosong” kata sahabatnya yang sudah hari terakhirnya nerissa di Jakarta masih belum menemukan tempat tinggal

“tapi aku enggak enak dengan kamu, ntar malah ngrepotin kamu” tolak nerissa

“lagian kalo kamu mau ngontrak rumah atau beli apartemen, kamu bakalan ribet harus beli kasur, almari dll, lama dokter cantikku, mending kita ke apartemenku sekarang lihat kondisi disana, aku jamin kamu bakalan suka” sahabatnya itu langsung menginjak gas mobilnya menuju apartemennya

“masuklah” kata sahabatnya itu yang kemudian nerissa masuk dengan menyeret kopernya “disini ada dua kamar, yang sebelah ini kamar aku, kalo mau pake silahkan, yang kamar sebelah enggak ada yang nempatin, kan tau sendiri aku tinggal sama saudara saudaraku di rumahnya papah, jadi kadang aja rumah ini aku tempati, dan setiap seminggu sekali di bersihin sama mbok” nerissa masih berfikir apakah dia harus tinggal disini atau cari lain.

“udah di sini aja, gak usah bantah, buruan bawa barangmu ke kamar, aku anterin ke bandara sudah mepet ini sa” desak sahabatnya itu mau gak mau nerissa menyetujui tawaran sahabatnya itu.

“baiklah sementara aku tempatin, seiring berjalannya waktu aku akan mencari apartemen sendiri” kata nerissa sambil membawa barangnya masuk kemarnya dan mereka saling bekerjasama untuk beresin barang barang nerissa untuk ditata.

“aku akan kembali minggu depan ra, jangan lupa jemput aku lagi ya sama nana” nerissa memeluk naira sahabatnya itu sebelum melakukan chek in, (mereka bertiga sahabatan, baca di “ My Wife is Twin)

“apakah kamu sudah mengantarkan nerissa balik ke bandara?” tanya nana setelah melihat rara masuk rumah

“sudah, dia akan balik minggu depan, dia minta kita jemput dia, jadi luangkan waktumu minggu depan kembaranku tersayang” rara langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya, sedangkan nana hanya menggeleng melihat tigkah saudaranya itu.

Serah sambut dokter baru di rumah sakit daerah itu juga berjalan dengan baik, kali ini dokter yang menggantikan nerissa adalah dokter spesialis kandungan tapi cowok dia berasal dari bandung dan tinggal serumah dengan dokter reza dan nikol, nerissa menceritakan kondisi warga disini dari awal mereka yang kurang sadar akan kesehatan dan gizi, sekarang sudah berubah, meskipun masih ada yang mendatangi dukun beranak, tapi setidaknya sudah rutin memeriksakan kondisinya untuk USG kerumah sakit ataupun puskesmas, dokter tersebut mengangguk paham, jadi dia hanya perlu meneruskan perjuangan nerissa untuk melakukan pendekatan pada warga, meskipun cara pendekatannya berbeda dengan nerissa.

Dia acara serah sambut tersebut juga sebagian para perawat dan dokter yang emang sudah dekat banget dengan nerissa juga tidak tahan untuk meneteskan air matanya, nerissa malah semakin tak kuasa melihat mereka yang menangis diruang pertemuan, termasuk ibu kepala rumah sakit juga terlihat meneteskan air matanya, karena menurutnya nerrissa lah yang siap menjadi dokter tanpa pandang waktu, apalagi yang kadang malam malam nerissa membawa warga di sekitar rumahnya melakukan operasi untuk penyelamatan bayi dan ibunya.

Nerissa sangat dipuja oleh orang orang rumah sakit, dan dia bener bener dianggap pahlawan oleh sebagian orang, tapi dengan kesepakatan nikol dan reza, mereka akan tetap membantu para warga meskipun nerissa sudah enggak menjadi rekannya, dan tetap akan open house untuk warga jika mereka membutuhkan, dampak kebaikan nerissa pun sudah menyalur ke hati rekan rekannya, dia meyalurkan aura baiknya untuk saling membantu dan mengajak sebagian temannya yang bersedia membantu orang orang tersebut.

“bukankah kamu hari ini akan ikut kita ke Yayasan?” tanya nikol yang akan berangkat ke yayasan bersama teman perawatnya, kali ini reza sedang praktik di rumah sakit daerah untuk melakukan operasi, dan reza akan menyusul karena jadwal dia ke Yayasan itu masih nanti siang setelah dari rumah sakit daerah.

“iyalah aku bareng kamu aja, aku akan bermain dengan anak anak sebentar, dan memeriksa pasienku untuk terakhir kalinya, berpamitan dengan para nenek dan kakek yang ada dipanti, saya kan disana seharian sampai jam pulang reza dari yayasan nanti” jelas nerissa

“selamat siang pak zidny, mohon maaf pak menggangu, seperti yang sudah saya sampaikan saya akan mengadakan acra hari ini di aula pertemuan untuk mengucapkan salam perpisahan" jelas nerissa ketika masuk ke ruangan pak zidny untuk menjelaskan apa yang telah disampaikan nerissa beberapa hari yang lalu melalu chat.

Nerissa berencana untuk mengadakan itu yang akan diikuti oleh semua penghuni yayasan, dan pak zidny sangat welcome banget dengan permintaan nerissa, dan pak zidny juga sudah menyiapkan camilan untuk semua orang yang akan hadir, dan makanan berat, acara itu di adakan di aula pertemuan yayasan yang sanggup menanmpung seribu orang, dan akan dihadiri semua anak panti asuhan, semua siswa paud dan TK, semua penghuni panti jompo, dan semua staff klinik yang sedang tidak bertugas, dan beberpa pasien nerissa yang bersedia hadir.

“terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya untuk bergabung di yayasan ini, dan melihat para anak anak yang tumbuh sehat, para orang tua yang masih semangat, ini adalah kesempatan yang tidak pernah akan saya dapatkan di tempat lain” nerissa menutup acara tersebut dengan rasa syukur dan terharu hingga dia meneteskan air mata ketika ada salah satu anak panti yang masih TK memberikan bunga dan gambar yang telah dia lukis sendiri di kertas gambar. Setelah acara penutupan itu mereka bersuka cita sambil memakan makanan yang sudah disiapkan pak zidny.

“pak zidny, saya pamit ya, terima kasih atas kesempatannya, dan sampaikan salam saya kepada pak reno saya sangat berterima kasih karena berkat beliau anak anak yang kurang mampu dan para orang yang membutuhkan mendapatkan kehidupan yang layak, serta memiliki tempat yang layak” kata nerissa terakhir sambil menyalami pak zidny dan beberapa rekannya di Yayasan

“semoga kita bertemu lagi dilain kesempatan dokter nerissa” kata pak zidny, dan kemudian nerissa masuk mobil bersama rekan rekannya untuk kembali pulang.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel