Viral
"Lihat, itu kan wanita yang lagi viral gara-gara merebut suami orang."
"Benar. Bahkan vidio karangan bunga dari istri sah sudah tembus jutaan penonton. Ih kok gak malu ya kelayapan."
"Pelakor mana punya malu."
"Atau jangan-jangan dia tidak tahu kalau sedang viral, kasihan banget."
"Padahal jika dilihat dari vidio tersebut masih cantikan istri sah nya loh. Kok bisa ya laki-laki nya memilih perempuan seperti itu,"
"Sekarang mah bukan masalah cantiknya, yang penting s*l*ngk*ng*n nya."
"Bener bangat."
Bisik-bisik dari para pengunjung terdengar jelas oleh telinganya Lusi dan Sari.
Rupanya ada yang memvidiokan saat Sari dan Zea memberikan kejutan kepada pasangan pengantin waktu itu.
Bahkan vidio tersebut sampai viral, sungguh menakjubkan.
Sari dan Lusi membuka ponselnya masing-masing, seketika mata keduanya melotot, wajah Lusi memerah menahan malu sedangkan Sari tampak menyunggingkan senyuman.
Semua pengunjung yang melihat Lusi mengolok-oloknya, bahkan ada yang melemparinya dengan barang apa saja di hadapan mereka.
"Mi tolong aku mi, tolong lindungi aku!" Lusi bersembunyi di balik tubuh Sari.
"Ogah !"
Wanita paruh baya itu segera menggendong Zulfa lalu menghindar agar tidak terkena lemparan.
"Mami !"
Terak Lusi saat melihat ibu mertuanya memilih pergi dari pada melindunginya.
Lusi masih menjadi sasaran kemarahan pengunjung. Walaupun mereka hanya melihat dari sebuah Vidio tetapi warga net yang notabennya anti pelakor itu menjadi geram atas tindakan Lusi dan Demian.
Penampilan Lusi sudah sangat kacau, rambutnya acak-acakan akibat jambakan dari emak-emak yang mengamuk, wajahnya juga lebab akibat tamparan yang membabi buta.
Keributan berhenti setelah scurity datang dan memisahkan mereka .
Lusi hendak pergi tetapi ditahan oleh pemilik toko.
"Eh tunggu, anda harus tanggung jawab dulu. Lihat ! harang-barang saya pada rusak akibat keributan tadi. Anda harus membayar ganti rugi sebesar lima puluh juta baru boleh pergi."
Kata laki-laki pemilik toko tersebut.
"Bukan saya yang merusaknya, enak saja saya diminta ganti rugi." Tolak Lusi.
"Memang bukan anda, tetapi akibat perbuatan anda barang-barang saya menjadi sasaran kemarahan emak-emak tadi. Pokonya anda harus ganti rugi, atau anda akan saya laporkan ke polisi."
Mendengar ancaman dari pemilik toko, Lusi menjadi ketakutan. Segera ia menghuhungi Demian untuk membantunya keluar dari masalah ini.
[Hallo mas, mas tolong aku !]
[Kamu kenapa]
[Mas kamu datang saja ke Lippo Mall Puri, aku butuh bantuan]
[Baiklah aku akan segera kesana, tunggu aku]
Dua puluh menit setelah panggilan telepon terputus Demian tiba di tempat Lusi menunggu.
Dengan tergesa-gesa karena khawatir Demian menghampiri istri keduanya.
"Ada apa dengan mu?"
Tanya Demian, ia memindai penampilan Lusi yang berantakan.
"Aku di serang ibu-ibu mas,"
Lusi terisak di hadapan Demian.
"Apa? Kenapa bisa diserang?"
"Apa kamu tidak tahu jika kita sedang viral,"
"Maksud kamu?"
Lusi mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan vidio mereka kepada Demian.
Demian membulatkan mata, terlihat ada kemarahan di wajahnya.
"Kurang *j*r ! Siapa yang berani nyebarin Vidio ini."
"Aku tidak tahu mas, yang jelas gara-gara vidio itu aku di serang hingga seperti ini, dan sekarang aku diminta ganti rugi semua barang-barang ini yang di rusak oleh mereka."
"Kenapa tidak kamu bayarkan saja, bukannya tadi aku sudah memberimu kartu kredit,"
"Kartunya di ambil sama mami kamu."
"Apa?"
Demian merasakan pusing tujuh keliling, masalah satu belum selesai ini kembali dapat masalah baru.
Dia mencoba bernegosiasi dengan pemilik toko, berharap mendapat keringat untuk membayar ganti ruginya.
Namun yang di harapkan Demian tidak berhasil, ia harus tetap membayar lima puluh juta, jika tidak maka istrinya akan dijebloskan ke dalam penjara.
Demian menghubungi Sari, berharap wanita yang merupakan ibu kandungnya itu mau mengembalikan kartu kredit miliknya.
[Hallo mi, mami dimana?]
[Mami sedang belanja sama Zulfa. Ini mami lagi di kasir.]
[Oke, mami tunggu di sana, aku akan segera kesana.]
Demian menemui Sari yang sedang menenteng beberapa paper bag dengan anak perempuan di sebelahnya.
"Ada apa kamu mencari mami?" Tanya Sari.
"Mi aku mohon kembalikan kartu kredit yang mami ambil dari Lusi,"
"Untuk apa aku mengembalikannya,"
"Mi Lusi sedang dalam masalah, dia harus membayar ganti rugi. Mami pasti tahu kan tentang yang terjadi dengan Lusi,"
"Tentu saja mami tahu, orang mami ninggalin dia disana."
"Apa? Kenapa mami ninggalin Lusi begitu saja, dia kan menantu mami,"
"Menantu ku cuma Zea tidak ada yang lain. Kamu kan menikahinya tanpa izinku jadi jangan harap aku mau menerimanya."
"Yasudah lah terserah mami, yang penting mana kartu kreditnya?"
Sari menyerahkan kartu kredit itu pada Demian.
"Mami sudah menggunakannya?" Tanya Demian.
"Tentu saja, lihat belanjaan mami,"
Sari menunjukan belanjaannya yang semuanya barang branded dan beberapa perhiasan.
"Berapa yang mami gunakan?"
Tanya Demian. Ia khawatir jika Sari telah menggunakannya mencapai limited.
"Sepertinya tadi sampai 80juta, soalnya mami juga membeli beberapa perhiasan yang harganya lumayan."
Jawab Sari dengan enteng.
"A_apa?"
Demian terkejut, lantaran Sari dengan mudahnya hampir menghabiskan isi kartu kreditnya.
"Kenapa? Dari pada kamu gunakan untuk membelanjakan j*l*ng itu lebih baik mami yang menghabiskan."
Demian terlihat frustasi, dia memikirkan bagaimana nanti membayar tagihan itu sementara dirinya telah di pecat dari kantor oleh istrinya sendiri.
Dengan terpaksa Demian menyerahkan kunci mobilnya sebagai jaminan pada pemilik toko.
******
Setelah mengantarkan Lusi pulang, Demian berniat menemui istri pertamanya. Ia ingin meminta bantuan sekaligus menerimanya kembali bekerja di kantor.
Dalam perjalanan dengan menggunakan taksi Demian terus merutuki kebodohan nya yang tidak mengetahui jika Zea adalah seorang bos.
"S*al, jika saja aku tahu Zea adalah seorang bos maka aku sudah minta jabatan yang lebih bagus dari manager, mungkin aku akan meminta menjadi CEO dengan begitu hidupku pasti enak dan aku bisa menikah lagi dari dulu. Mungkin juga aku sudah memiliki istri tiga atau empat." Batin Demian.
"Pokoknya aku harus bisa membujuk Zea, agar masalahku cepat selasai."
Tak butuh waktu lama taksi yang Demian tumpangi sudah memasuki pelataran rumah miliknya dan Zea.
Dengan percaya diri bahwa Zea pasti akan membantunya Demian melangkah masuk dengan buket bunga di tangan, ia tahu jika istri pertamanya sangat menyukai bunga, pasti Zea akan luluh dengan hanya di beri buket bunga seperti biasanya.
"Sayang papa pulang,"
Demian mendekati Zulfa lalu mencium dan memeluknya. Perbuatan yang tidak pernah Demian lakukan sebelumnya.
Sari dan Zea saling pandang melihat tingkah Demian yang tidak seperti biasa.
"Tumben," kata Sari.
"Kok tumben mi, aku kan papanya jadi wajar dong jika aku ingin mencium anak ku," Demian hendak menggendong Zulfa, tetapi gadis kecil itu malah berlari mendekati ibunya.
"Jangan di paksa mas, kamu kan tidak pernah dekat dengan dia jadi wajar jika Zulfa takut sama kamu." Kata Zea.
Demian mengakui jika dirinya tidak pernah ada waktu untuk anaknya, di tambah lagi Zulfa bukanlah anak yang ia inginkan, dia terlahir sebagai perempuan bukan yang Demian inginkan. Tetapi demi meluluhkan hati Zea dia harus mendekati anaknya.
"Zea ini bunga untuk mu," Demian memberikan buket yang di bawanya.
Zea menerimanya seperti biasa, dia sangat menyukai bunga tidak mungkin Zea akan menolaknya.
"Ze ada yang ingin aku bicarakan,"
"Katakan saja."
"Tapi hanya berdua," Demian melirik ke arah Sari, memberi isyarat agar ibunya pergi.
Setelah Sari dan Zulfa pergi Demian mulai mengutarakan keinginannya.
"Ze aku mohon jangan pecat aku, aku banyak tanggungan yang harus aku selesaikan. Bagaimana nanti aku akan menafkahimu dan Zulfa jika aku tidak bekerja,"
Zea tersenyum lalu berkata "Menafkahimu dan Zulfa atau istri barumu?" Kata Zea.
"Ya menafkahi kalian. Tolonglah Ze, kamu kan istriku kamu harus membantuku."
"Sayangnya tanpa nafkah dari mu aku dan Zulfa masih bisa hidup, apa kamu lupa siapa aku?"
Lagi-lagi Demian hanya mampu menelan salivanya saat Zea menatapnya dengan tajam.
"Aku tahu kamu mampu, tapi bagaimana dengan ku? Aku harus menafkahi Lusi, dari mana aku bisa menafkahinya jika aku tidak bekerja,"
Pertanyaan konyol Demian berhasil mengkcok perut Zea. Tidak ada lagi rasa sakit di hati Zea, perasaanya sudah benar-benar mati oleh Demian.
"Itu bukan urusan ku. Bukankah kamu sering mengatakan jika kamu mampu memiliki istri lebih dari satu, lalu kenapa sekarang mengeluh pada ku,"
"Itukan dulu sebelum kamu memecatku, sekarang masalah nya lain. Ada dua istri yang harus aku nafkahi sedangkan pekerjaan pun aku tidak memiliki bahkan hutang ku menggunung, bagaimana aku harus menyelesaikannya,"
"Carilah kerja di tempat lain. Tapi bukan di perusahaan ku."
"Zea ingat kamu masih istriku. Sudah seharusnya kamu memikirkan suamimu ini."
BRAKK...
Zea memukulkan tangan nya ke meja membuat Demian terlonjak kaget.
"Zea kamu_"
"Aku apa? Apa kamu tidak bisa sedikit saja memikirkan perasaan ku jangan terus menjadi laki-laki egois. Selama ini aku diam tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya saja memperlakukan ku. Aku sudah menemanimu dari nol, memberimu hidup enak, jabatan yang bagus tapi apa balasan mu selain pengkhianatan, tidak ada. Ketika karirmu sukses karena ku kamu malah menikah lagi, apa ini balasan mu?"
"Zea bukankah kamu sudah mengizinkannya,"
"Sejak kapan aku mengizinkannya. Kamu terus memaksa ku sampai akhirnya kamu membawa perempuan itu ke rumah ini. Disaat itu pula rasa cintaku untuk mu sudah mati."
"Ze jangan berkata seperti itu, walaupun aku menikah lagi aku tetap mencintaimu."
"Tapi aku tidak."
"Lalu apa mau mu?"
"Mauku kita cerai !"
