Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Tak ingin bercerai

Demian masih mencerna kata-kata Zea "Cerai, cerai, Zea ingin bercerai dari ku? tidak, itu tidak boleh terjadi. Zea tunggu!"

"Zea dengarkan aku, aku tidak mau kita bercerai, aku masih mencintaimu. Zea buka pintunya!" Demian terus mengetuk pintu kamar anaknya.

Setelah membawa Lusi kerumah pada waktu itu Zea tidak lagi tidur satu kamar dengannya. Awalnya Demian tak ambil pusing dengan sikap Zea, tapi ternyata perubahan sikapnya berujung petaka bagi dirinya.

"Maafkan aku Zea. Tolong buka pintunya, beri aku kesempatan menjadi suami yang baik bagi kalian. Aku tidak akan melepaskanmu Zea karena aku masih mencintai mu."

"Ze_"

Tiba-tiba ponselnya berdering, panggilan masuk dari istri kedua.

[Iya ada apa?]

[Mas tolong, aku jatuh kaki ku sakit,]

[Apa? Oke aku kesana sekarang.]

"Mungkin aku harus memberikan ruang untuk Zea agar ia bisa memikirkan kembali keputusannya." Batin Demian.

Didalam dari balik jendela kamar Zea melihat kereta besi milik Demian melaju meninggalkan kediaman mereka.

Sudut bibirnya tertarik keatas, meski ada bulir bening yang menetes di pipinya.

Meskipun Zea mencoba untuk selalu kuat, nyatanya dia juga seorang wanita yang dapat merasakan sakit hati ketika suaminya berpaling ke lain hati.

"Pergilah mas, setelah ini aku pastikan kamu tidak akan bisa kembali lagi." Kata Zea dengan mengelap pipinya secara halus.

Zea mengambil ponselnya, mencari nomor cinta pertamanya *Ayah* nama dalam kontak tersebut.

[Ayah aku rindu,]

Kata Zea saat panggilan sudah tersambung.

[Ayah juga nak, apalagi ibumu.]

Suara dari sebrang sana.

[Besok aku akan kesana,]

[Benarkah? Waah ayah senang dengarnya, kita tunggu kalian dirumah.]

[Siap ayah.]

?️?️?️?️?️

Demian membawa kereta besinya dengan kecepatan tinggi hingga sampai di kediaman nya dengan Lusi.

Dengan tergesa-gesa Demian mencari istri mudanya disetiap sudut ruangan.

Akhirnya ia menemukan orang yang dicarinya sedang berada di dapur dengan memijit kaki yang tampak bengkak.

"Kenapa bisa begini?" Tanyanya khawatir.

"Aku jatuh dari tangga ketika turun tadi." Jawab Lusi.

Demian menyentuh kaki Lusi, berniat membantunya tetapi Lusi malah menjerit.

"Sakit mas." Kata Lusi marah.

"Yaudah aku carikan tukang urut dulu untuk menangani kaki mu ini."

"Gak ! Aku gak mau di urut. Kita ke rumah sakit aja."

"Kerumah sakit butuh uang banyak, untuk saat ini aku tidak memiliki uang."

"Kamu kan manager mas, masa gak punya uang?"

"Kamu tahu, aku baru saja di pecat dan harus mengganti uang perusahaan yang telah aku ambil untuk resepsi kita kemarin. Waktunya hanya seminggu, jika tidak aku akan masuk penjara."

"Apa?" Lusi terkejut.

"Tidak mungkin, kamu kurang hati-hati sih,"

"Kamu menyalahkan ku? Ingat aku melakukan itu semua juga atas perintah kamu. Seandainya kamu mau menggelar resepsi yang biasa aja mungkin aku masih bekerja saat ini." Merasa kesal karena disalahkan Demian membentak Lusi.

"Kamu tahu siapa bos ditempatkan bekerja?"

"Siapa?" Tanya Lusi.

"Zea."

Jawaban Demian cukup membuat Lusi terkejut, ternyata kakak madu nya adalah seorang bos.

"Bukannya bagus mas jika dia adalah bos mu, jadi kamu bisa memanfaatkan dia,"

"Memanfaatkan bagaimana, jika dia saja ingin bercerai dariku." Kata Demian dengan Lesu.

Berbeda dengan Lusi yang mendengarnya, wanita muda itu tampak berseri-seri ketika mengetahui Zea meminta cerai dari Demian. Itu artinya dia akan menjadi satu-satunya dan menguasai rumah mewah yang Zea tempati.

"Yaudah biarin aja mas, kan masih ada aku." Lusi bergelayut di lengan Demian, tetapi laki-laki itu malah mendorongnya.

"Kelihatannya kamu senang kalau aku dan Zea bercerai," selidik Demian.

"Tentu saja, karena aku akan menjadi satu-satunya istri kamu."

"Aku tidak akan menceraikan Zea." Kata Demian menatap lurus ke depan.

"Mas dia yang meminta cerai, itu artinya dia sudah tidak cinta lagi sama kamu, buat apa kamu pertahankan? Kan masih ada aku yang akan yang akan melahirkan anak laki-laki untukmu."

"Cukup !" Bentak Demian, membuat Lusi terdiam seketika.

"Ini bukan tentang anak laki-laki, tapi aku masih mencintai Zea. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan nya."

Kata Demian lalu meninggalkan Lusi.

Sakit, itu yang di rasakan Lusi saat ini sebagai istri kedua. Meskipun Demian selalu mengutamakan nya, tetapi dia tetap menjadi yang nomor dua di hati Demian. Selalu Zea yang lebih unggul darinya. Itu membuat Lusi semakin membenci kakak madunya.

Tak lama Demian kembali bersama seorang pria paruh baya yang merupakan tukang pijit. Meskipun Lusi terus menolak untuk di pijit dan meminta ke rumah sakit tetapi ia tidak ada pilihan lain selain menurut atau Demian akan membiarkannya.

?️?️?️?️?️

Hari telah berganti, saat ini Zea bersama Zulfa dalam perjalanan menuju kampung halamannya, mereka pergi menggunakan supir pribadi.

Awalnya Sari menyarankan untuk Derren mengantarkan nya, tetapi Zea menolak karena melihat Derren sepertinya sedang sibuk. Terlebih beberapa hari ini dia telah banyak merepotkan nya.

Dalam perjalanan Zea mendengarkan lagu favorit nya yang di nyanyikan oleh Michael Buble.

Some day, when I'm awfully low

When the world is cold

I will feel a glow just thinking of you

And the way you look tonight

You're lovely, with your smile so warm

And your cheeks so soft

There is nothing for me but to love you

And the way you look tonight

With each word your tenderness grows

Tearing my fears apart

And that laugh that wrinkles your nose

Touches my foolish heart

Yes you're lovely, never, ever change

Keep that breathless charm

Won't you please arrange it?

'Cause I love you

Just the way you look tonight

With each word your tenderness grows

Tearing my fears apart

And that laugh that wrinkles your nose

Touches my foolish heart

Yes you're lovely, never, ever change

Keep that breathless charm

Won't you please arrange it?

'Cause I love you

Just the way you look tonight

Just the way you look tonight

Darling

Just the way you look tonight

Tiba-tiba di tengah perjalanan mobil yang di tumpanginya mengalami betus ban.

"Kenapa pak?" Tanya Zea pada supirnya.

"Bocor kayaknya bu."

Zea turun ikut memeriksa, ternyata dua ban belakangnya tertancap paku.

"Bagaimana ini Bu? Kita hanya ada satu ban serep , dan lagi bengkel masih jauh,"

Zea mengeluarkan ponselnya, berniat menghubungi Derren, tetapi ia urungkan. Mengingat jika pria dingin itu pasti akan memarahinya karena tadi menolak untuk di antarakan.

Akhirnya Zea menghubungi Vino, memintanya mengirimkan montir langganan.

Tiga puluh menit menunggu, Vino bersama seorang montir tiba di tempat.

"Ayo biar aku antar," Vino menawarkan diri.

"Tidak usah, sebentar lagi juga akan beres." Tolak Zea.

"Kamu tidak lihat cuaca hari ini mendung, sebentar lagi turun hujan kasihan Zulfa."

Setelah menimbang-nimbang tawaran Vino akhirnya Zea bersedia di antaranya.

Selama perjalanan keduanya banyak bercerita, sesekali tertawa mendengar celoteh Zulfa hingga sampai di tempat tujuan.

"Assalamu'alaikum," Zea mengucapkan salam.

"Wa'allaikum salam." Jawab ayah dan ibu Zea secara kompak.

Melihat putrinya dan cucunya datang, kedua orang itu berhamburan memeluknya. Tetapi Adam ayah kandung Zea matanya mencari seseorang.

"Kalian datang dengan Vino, dimana suamimu?" Tanya Adam.

Mendengar pertanyaan itu Zea menjadi gugup, bingung mau menjelaskan dari mana karena kedua orang tuanya hanya mengetahui jika Demian adalah menantu idaman yang baik, tanpa mereka ketahui jika menantu kebanggaan nya ternyata orang telah menyakiti putrinya.

"Sudahlah kak ceritakan saja, aku sudah tahu tentang vidio yang lagi viral itu." Zaya adik kandung Zea muncul dari belakang.

"Vidio apa? Katakan pada kami, apa kalian memiliki masalah?"

Dengan ragu-ragu Zea menceritakan masalahnya kepada orang tuanya.

"Kurang ajar !"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel