
Ringkasan
Ketika suamiku ingin menikah lagi, disaat itu pula rasa cinta ku lenyap bersamaan dengan terbakarnya hatiku. Semua orang bisa menahan sabar akibat rasa sakit hati, tapi semua orang juga memiliki batas kesabarannya masing-masing. Dan ketika kesabaran ku habis, maka akan aku tunjukan betapa menyedihkannya hidupmu tanpaku.
Calon Istri
"Zea, perkenalkan ini Lusi calon istriku."
Demian membawa seorang perempuan muda kehadapan Zea dan memperkenalkan nya sebagai calon istri.
Hati perempuan mana yang tidak hancur mendengar suaminya terang-terangan ingin menikah lagi.
Zea menatap pada calon madunya dari ujung kaki hingga kepala. Perempuan dengan balutan dress warna merah dan rambut sebahu, memiliki tahi lalat di dagunya.
"Apa katamu tadi mas? Calon istri?"
"Benar Zea, Lusi akan menjadi madumu. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan berlaku adil pada kalian berdua."
"Apa alasanmu ingin menikah lagi?"
"Aku ini laki-laki Zea diperbolehkan menikah lebih dari satu kali, apalagi aku mapan, punya jabatan yang bagus di kantor. Ku rasa aku sudah memenuhi standar untuk menikah lagi. Lagian aku juga menginginkan anak laki-laki Zea, sedangkan kamu sudah tidak bisa memberikan ku anak lagi."
Hati Zea bagaikan serpihan kaca yang hancur berkeping-keping.
Dengan mudahnya Demian mengatakan ingin menikah lagi hanya karena alasan yang tidak masuk di akal.
Bukan Zea tidak bisa memberikan anak lagi pada Demian, tetapi akibat kecelakaan beberapa bulan yang lalu membuat rahim Zea bermasalah dan sulit memiliki anak kembali.
Zea tersenyum getir menanggapi permintaan gila suaminya. Tidak ada sedikitpun air mata yang tumpah untuk seorang pengkhianat.
"Berapa usia mu?" Tanya Zea pada Lusi.
"19 tahun mbak."
"Apa kamu tahu bahwa mas Demian ini sudah memiliki istri dan anak?"
"Sudah mbak."
"Lantas kamu tidak keberatan?"
"Awalnya aku keberatan, tetapi setelah dipikir-pikir jika mas Demian bisa berlaku adil untuk apa aku keberatan,"
Luar biasa, Lusi gadis berusia 19 tahun rela menjadi istri kedua apalagi motifnya jika bukan karena harta.
Dia tidak tahu saja, jika yang kaya bukanlah Demian melainkan Zea.
Zeana Abbiya, anak seorang petani sapi yang berhasil sukses memajukan peternakan sapi orang tuanya.
Bahkan Zea juga sudah memiliki beberapa cabang perusahaan pengelola susu sapi segar.
Zea adalah orang yang rendah diri, dia tidak pernah mempublikasikan dirinya maupun orang tuanya sebagai pengusaha ternak dan susu sapi terbesar di Provinsi nya.
Bahkan Demian sendiri tidak mengetahui jika istrinya adalah bos besar di tempatnya bekerja.
Rencananya Zea akan menangangkat Demian menjadi pemimpin di perusahaan miliknya, tetapi karena Demian sering membicarakan ingin menikah lagi Zea berubah pikiran.
Benar saja Demian serius dengan kata-katanya, dia membawa perempuan untuk dinikahinya.
Apa jadinya jika Zea mencabut jabatannya di kantor, apakah Lusi masih mau menjadi istri keduanya.
"Baiklah jika kalian ingin menikah silahkan saja."
Demian terkejut mendengar jawaban istrinya.
Bukan itu jawaban yang Demian inginkan, laki-laki itu ingin Zea menangis bahkan memohon pada nya agar tidak menikah lagi. Sepertinya Demian termasuk korban sinetron ikan terbang yang dimana laki-laki ingin diperebutkan oleh wanita-wanita.
Zea melangkah meninggalkan sepasang kekasih yang sebentar lagi akan berbahagia. Tapi itu tidak akan lama, setelah Zea bertindak mungkin mereka akan menangis darah.
"Zea apa maksud kamu?"
Demian mencekal pergelangan tangan Zea saat wanita itu akan masuk kedalam kamar putrinya.
"Apa?"
"Kenapa kamu tidak marah?"
"Marah?"
"Haha... Sepertinya itu tidak perlu. Lagian meskipun aku marah dan melarang mu menikah lagi kamu tetap akan menikahinya bukan?"
Demian terdiam, sejujurnya dia tidak ingin menyakiti hati Zea, tetapi obsesinya memiliki istri lebih dari satu terlalu besar.
Tak lama terdengar suara mobil, Demian dan Lusi telah pergi meninggalkan rumahnya.
Zea merah ponselnya di atas nakas, dia mencari nomor seseorang dan menghubunginya.
"Ikuti kemana pun Demian dan perempuan itu pergi, cari tahu siapa sebenarnya perempuan itu."
******
Lusi sangat gembira karena telah mendapatkan lampu hijau dari istri pertama Demian.
Sebenarnya dia menginginkan menjadi satu-satunya istri Demian, tetapi laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu tidak mau menceraikan istri pertamanya.
Tidak ada pilihan lain selain menjadi istri kedua, baginya yang terpenting bisa memiliki suami tampan dan kaya sudah beruntung.
Lusi akan memikirkan cara untuk menyingkirkan Zea agar dia bisa menjadi satu-satunya ratu di hati dan di rumah mewah Demian.
"Mas, setelah menikah aku ingin tinggal di rumah mu saja."
Demian yang sedang menyetir menoleh kearah kekasihnya.
"Tapi di rumah itu sudah ada Zea,"
"Aku tahu. Aku hanya ingin selalu dekat dengan mu dan mengakrabkan diri dengan mbak Zea. Kamu pasti senang kan kalau kedua istrimu bisa akur,"
"Kita lihat saja nanti, aku juga harus bicara dulu dengan Zea."
Demian tidak ingin jika Zea dan Lusi berantem jika di satukan dalam satu rumah. Bagaimanapun rumah yang dia tempati bersama Zea sudah atas nama Zea.
Demian akan memberikan rumah sendiri untuk istri keduanya nanti, dia telah menyiapkan rumah untuk Lusi, ya walaupun tidak sebesar rumah yang Zea tempati.
Setelah mengantarkan Lusi pulang Demian juga langsung pulang ke rumah nya. Dia berencana meminjam uang tabungannya bersama Zea untuk menggelar resepsi pernikahan nya bersama Lusi.
Lusi meminta resepsinya di adakan sangat mewah sedangkan uang yang Demian miliki sebagian sudah digunakan untuk mendepe rumah yang akan dia hadiahkan untuk Lusi serta akan di gunakan untuk memberikan mahar pada Lusi.
"Zea diamana buku tabungan kita?"
Zea yang sedang memoleskan lipstick di bibirnya menatap dingin pada Demian dari pantulan cermin besar di hadapannya.
Damian menjadi kikuk ketika ditatap oleh sang istri.
"Maksudku dimana kamu menyimpan buku tabungan kita?"
"Untuk apa?" Tanya Zea tanpa menghentikan kegiatannya memoles wajah.
"Aku mau pinjam dulu untuk biaya resepsi pernikahanku dan Lusi."
Seketika Zea menghentikan kegiatannya. Dia berbalik dan menatap tajam ke arah Demian.
"Bukankah kamu seorang manager yang bergelimang harta, itu kan yang selalu kamu banggakan. Lalu kenapa kamu meminta tabungan kita untuk membiayai pernikahan keduamu,"
"Aku hanya meminjamnya Ze, nanti jika aku sudah ada uang akan aku ganti. Lagian uang itu kan aku yang mencarinya, jadi terserah aku mau memakainya untuk apa."
Zea menyunggingkan, senyuman yang menurut Demian sangat mengerikan. Ia khawatir jika Zea tidak bersedia memberikan buku tabungannya, dari mana lagi ia akan mendapatkan uang untuk menggelar resepsi seperti yang di inginkan Lusi.
Tanpa diduga ternyata Zea dengan suka rela menyerahkan buku tabungan mereka dan meminta Demian untuk menyimpannya sendiri.
"Terimakasih ya sayang, kamu memang istri yang sangat baik."
Demian ingin memeluk Zea, tetapi wanita itu malah mundur membuat Demian bingung.
"Kenapa?" Tanya Demian.
"Tidak, aku hanya kurang suka dengan wangi parfum yang kamu pakai." Alasannya.
Memang benar parfum yang Demian pakai wanginya tidak sama dengan biasanya.
"Oh iya, ini parfum Lusi yang memilihnya," Kata Demian.
"Oh pantas, ada bau-bau Pelakornya."
"Apa katamu?"
"Tidak ada."
Demian merasa ada yang beda dengan Zea, tetapi ia tak ingin terlalu memikirkannya. Baginya yang terpenting adalah pernikahan nya dengan Lusi bisa segera terlaksanakan.
Demian mengambil kunci mobil, rencananya ia akan pergi ke Bank untuk menarik semua tabungannya.
"Biarlah aku kuras dulu tabungan ini, lagian aku kan manager gajiku besar, pasti tabungan ini akan terisi lagi." Kata Demian dengan percaya diri.
