Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Kejutan untuk Demian

Mereka tiba di sebuah gedung yang merupakan kantor Zea.

"Kau mau ikut atau tunggu disini?" Tanya Zea.

"Kamu fikir aku supir mu yang hanya menunggu di mobil." Derren turun dan mengikuti langkah Zea.

Hanya Vino yang menyambut kedatangan Zea, karena hanya dia satu-satunya  yang mengetahui siapa sebenarnya Zea.

Derren terus mengikuti Zea, masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi kebesaran Zea, Vino coba untuk memperingatinya tetapi di larang oleh Zea.

"Sudah sejak lama aku ingin mengetahui siapa sebenarnya direktur utama di perusahaan ini, dimana dia?" Tanya Derren pada Vino.

Vino memandang tidak suka pada Derren, pasalnya Derren dengan lancang menduduki kursi milik Zea.

"Vin apa yang aku minta sudah kamu siapkan?" Tanya Zea.

"Sudah bu." Jawab Vino.

"Bagus. Oh ya, apakah Demian sudah masuk kantor?"

"Seperti nya belum, dia mengambil cuti selama satu minggu. Katanya ingin melakukan bulan madu."

"Hubungi dia suruh datang sekarang juga, jika menolak langsung pecat saja."

"Baik bu."

"Satu lagi, kumpulkan semua karyawan di ruangan meeting. Aku ingin membuka kedok Demian dihadapan seluruh karyawan."

"Baik."

Vino beranjak pergi lalu menghubungi Demian.

Derren masih tidak mengerti dengan yang di katakan Zea.

"Zea apa maksud mu? Sebenarnya siapa kamu?" Tanya Derren.

"Ternyata kulkas juga bisa kepo ya," ledek Zea.

"Berhenti memanggilku kulkas, aku memiliki nama." Kata Derren tidak suka.

"Baik kakak ipar."

"Ikutlah dengan ku nanti maka kamu akan mendapatkan jawabannya."

******

Demian dan Lusi  telah siap dengan koper di tangannya, rencananya mereka akan melakukan bulan madu ke Bali selama beberapa hari.

Tiba-tiba ponsel Demian berdering.

[Iya pak ada apa?]

[Datang ke kantor sekarang ! bos besar akan mengadakan meeting lima belas menit lagi.]

[Tapi pak, saya kan sudah mengajukan cuti selama satu minggu karena akan berbulan madu,]

[Saya tidak peduli, kau datang atau saya pecat.]

Panggilan terputus. Demian melihat ke arah Lusi, memohon pengertian untuk saat ini.

Wajah Lusi yang semula cerah tiba-tiba berubah mendung setelah mendengar percakapan Demian dengan atasannya.

"Selesai meeting aku langsung pulang dan kita akan ke Bali." Demian merayu Lusi.

"Pergilah!" Kata Lusi dengan ketus.

"Jangan marah ya, ini kamu pegang kartu kredit ku, kamu boleh shopping sesuka hatimu." Demian menyerahkan kartu kreditnya pada Lusi. Selama menikah dengan Zea ia tidak pernah menyerahkan ATM ataupun kartu kredit padanya, hanya uang bulanan yang sudah di jatahnya.

Melihat benda tipis yang di berikan Demian senyum Lusi kembali merekah.

"Makasih ya, yasudah kamu boleh pergi." Kata Lusi setelah menerima kartu kredit tersebut.

"Limitnya hanya 100 juga. Ingat itu."  Lusi mencium suaminya sebelum berangkat ke kantor.

"Yes, akhirnya aku bisa shopping."

******

Semua karyawan sudah berkumpul di dalam ruangan, tinggal menunggu satu orang lagi dan meeting akan di mulai.

Demian  tergesa-gesa berlari menuju ruang meeting, tiba-tiba tanpa sengaja ia menabrak tubuh besar di depannya.

"Derren," kata Demian.

"Ada apa kamu disini?" Tanya Demian.

"Ikut meeting. Sudah aku buru-buru." Jawab Derren.

Demian memasukkan ruangan, semua mata tertuju padanya. Lalu dia melihat ada Zea duduk di kursi yang biasa Vino gunanakan.

"Zea kamu disini?" Demian terkejut dengan kehadiran Zea.

"Selamat datang bapak manager yang terhormat, silahkan duduk !"

"Zea apa maksud kamu?" Demian masih tidak mengerti dengan maksud Zea, sampai Vino yang memerintahkannya untuk duduk.

"Apa semuanya sudah berkumpul?" Tanya Vino yang di jawab anggukan oleh semua orang.

"Baiklah kita mulai. Sebelumnya perkenalkan wanita yang berada sebelah saya ini bernama ibu Zeana Abbiya, dialah pemilik perusahaan ini."

Suara riuh dari tepuk tangan semua orang memenuhi ruangan. Hanya satu manusia yang masih diam mematung karena keterkejutannya.

"Bagaimana mungkin?" Gumam Demian.

Sedangkan Derren yang sama terkejutnya dengan Demian sudah bisa menguasai diri.

"Ibu Zeana sengaja menyembunyikan identitasnya dan mempercayakan perusahaan ini kepada saya, tetapi saya kecolongan. Ada karyawan yang berani bermain-main ku." Sambung Vino sambil menatap tajam pada Demian.

Vino menyalakan leptopnya, memperlihatkan bukti kebusukan Demian dan beberapa rekannya  pada televisi besar di hadapan mereka.

Dalam vidio yang berdurasi kurang lebih lima belas menit memperlihatkan wajah orang yang telah melakukan penyelewengan.

Zea memindai wajah pengkhianatan tersebut, ia tampak pucat. Suasana dalam ruangan mendadak sunyi, semua diam membisu.

Demian merasakan keringat dingin pada tubuhnya, badannya gemetar. Ia masih tak percaya bahwa istrinya adalah bos besar ditempatnya bekerja.

Berkali-kali Demian mencubit tangan nya tetapi tetap merasakan sakit. Ketika ia ingin meraih tangan istrinya, Zea menepisnya lalu angkat bicara.

"Menurut kalian, hukuman apa yang pantas untuk orang seperti dia?" Tunjuk Zea pada Demian.

Semua mata mengarah pada Demian, membuat laki-laki itu ketakutan setengah mati.

"Wah keterlaluan ! Pecat saja Bu dan penjarakan." Kata salah satu karyawan.

"Apa perlu saya telepon polisi?" Tanya Vino.

"Nanti saja." Jawab Zea.

Derren menyilangkan tangannya di dada, ia terlihat sangat tenang meskipun nama sang adik sedang terancam.

Berkali-kali Demian membujuk Zea agar tidak melaporkannya, tetapi wanita dengan buatan tunik warna cokelat itu terus mengacuhkan nya.

"Zea ! Aku ini suamimu, apa pantas kamu mempermalukanku seperti ini,"

Sudah habis kesabaran untuk membujuk Zea, Demian meluapkan amarahnya yang tertahan sedari tadi, wajahnya memerah dengan sorot mata mengancam.

Bukannya takut Zea justru tertawa lalu sedetik kemudian menatap tajam pada laki-laki yang masih berstatus suaminya.

"Dirumah kau memang suamiku, tapi disini akulah bos mu."

Demian terkejut,  untuk pertama kalinya Zea berani melawannya.

"Ze lebih baik kamu pulang, kita bicarakan ini di rumah nanti." Kata Demian.

"Kau memerintah ku? Kamu tahu  sedang berhadapan dengan siapa?" Zea dengan sorot mata tajam.

Demian menelan ludahnya, entahlah saat ini ia merasa seperti sedang berhadapan dengan malaikat maut.

"Bapak Demian, anda dipecat!"

"Satu lagi, aku beri waktu satu minggu untuk mengembalikan uang yang telah kau curi, jika tidak maka bersiap-siaplah mendekam di balik jeruji besi."

Terkejut? Tentu saja, Demian tak menyangka istrinya yang biasanya penurut kini berubah berani dan menakutkan dengan sorot mata seperti elang.

Ia meremas rambutnya kasar saat Zea beranjak pergi dari ruangan.

Ingin mengejar tetapi langkahnya kalah cepat, Zea, Derren dan Vino telah masuk ke dalam lift.

"Arrghhh..." Demian menendang tong sampah di sebelahnya hingga isinya berserakan kemana-mana.

"Ze biar ku antar," Kata Vino menawarkan diri saat Zea akan masuk kedalam mobil.

"Tidak perlu, sudah ada Derren yang mengantarku."

Vino hanya dapat  melihat mobil yang di kendarai Zea melaju dari hadapnya, dalam hatinya kesal karena Zea lebih memilih pergi bersama Derren dari pada dengannya.

*******

Sari sedang pergi bersama Zulfa ke pusat perbelanjaan, tidak sengaja ia bertemu dengan Lusi yang sedang memborong banyak belanjaan.

"Eh ibu mertua," Lusi meraih tangan Sari, menyalaminya lalu mendekati Zulfa. Reflek Sari mundur saat Lusi hendak mencium cucunya.

"Jangan sentuh cucu ku!" Sari mengambil tissue basah dari tas kecilnya, mengelapkan selembar tissue pada tangannya yang di sentuh Lusi.

"Apa maksud mami?" Tanya Lusi, dia tersinggung lantaran Sari mengelap tangannya setelah ia menyalaminya.

"Aku tidak ingin ada virus pelakor menempel di tanganku."

Wajah Lusi memerah mendengar perkataan Sari.

"Kamu belanja sebanyak itu memang mampu untuk membayarnya?" Tanya Sari saat melihat keranjang yang di bawa Lusi penuh dengan belanjaan.

"Tentu saja, aku memiliki suami yang kaya pastilah mampu jika hanya membayar belanjaan segini." Lusi menyombongkan diri.

"Oh ya?"

Lusi mengeluarkan kartu yang di berikan Demian tadi, memamerkannya pada Sari.

Secepat kilat Sari menyambar kartu yang di pegang Lusi.

"Mi apa-apa si," Lusi hendak merebut kembali kartu itu tetapi tangan Sari sangat lincah membuat Lusi kesulitan mendapatkannya.

"Kamu tidak pantas mendapatkan ini. Ini akan aku pergunakan untuk membelanjakan cucu dan menantu kesayangan ku."

"Tapi aku juga menantu mami."

"Jangan pernah memanggilku mami, karena aku tidak akan pernah menerimamu sebagai menantuku."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel