Rencana jahat Lusi
Disebelah karangan bunga terlihat Zea dan Sari menyunggingkan senyum saat melihat ekspresi Lusi dan Demian.
"Kalian menikah kenapa tidak mengundang kami? padahal aku sudah ikhlas jika suamiku diambil wanita lain." Zea memasang wajah sedih untuk menarik simpati semua orang.
"Zea kamu_" Demian tidak dapat menyelesaikan kata-katanya ketika orang tua Lusi keluar.
"Ada apa ini? Siapa mereka?" Tanya Dena ibunda Lusi.
Sari maju selangkah, menjabat tangan wanita yang telah menjadi besannya itu.
"Perkenalkan saya Sari ibu kandung Demian, dan ini Zea menantu saya istri sah Demian."
"Apa? Kalian jelaskan ini semua !" Kali ini ayah Lusi yang angkat bicara.
"Yah ini...ini ti...tidak seperti yang ayah dan ibu fikirkan, aku_"
PLAK
Satu tamparan dari Dene mendarat di pipi mulus Lusi.
"Aku tidak pernah mengajarkanmu. merebut milik orang lain. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu_" Dena memegangi dadanya lalu jatuh tak sadarkan diri.
"Ibu..."
"Jangan sentuh ibumu ! Anak tidak tahu di untung." Ayah Lusi mengangkat tubuh istrinya, Zea yang merasa kasihan menawarkan untuk mengantar mereka ke rumah sakit.
Sementara Lusi menangis dengan posisi terduduk, cibiran-cibiran dari para tamu di lontarkan untuk mereka.
[Dasar Pelakor !]
[L*nt*]
[Lakinya juga t*l*l, udah di kasih bidadari surga yang sangat cantik malah memilih kerikil kali]
[Istri sahnya tegar banget, kalau jadi aku udah tak racunin keduanya]
Masih banyak lagi cibiran-cibiran yang ditujukan untuk mereka.
"AKU BUKAN PELAKOR !" teriak Lusi. Pesta yang diharapkannya kini telah hancur.
"Mas ayo kita kerumah sakit, aku takut ibu kenapa-kenapa,"
Lusi dan Demian menyusul ibunya ke rumah sakit. Lusi masih mengenakan gaun dan riasan yang sudah berantakan.
Tiba di rumah sakit Lusi bisa bernafas lega setelah mengetahui kondisi ibunya baik-baik saja. Ia melihat Zea lalu menghampirinya, sebuah tamparan Lusi layangkan untuknya.
PLAK
"Kau pantas mendapatkan ini j*l*Ng karena sudah membuat ibuku berada disini." Kata Lusi.
Zea tak membalas, justru sebuah senyuman ia berikan pada Lusi.
"Aku j*l*ng ?" Tunjuk Zea pada dirinya sendiri.
"Lalu sebutan apa yang pantas untuk orang seperti mu?" Zea maju selangkah demi selangkah mendekati Lusi, sedangkan Lusi yang mendapatkan tatapan tajam dari Zea terus mundur hingga menyentuh tembok.
Saat Lusi hendak menarik rambut Zea, Sari dengan sigap mencekal tangannya,
Sari juga menarik kuat-kuat rambut Lusi.
"Berani kamu sentuh menantuku akan aku b*n*h kamu." Kata Sari.
"Ma sudah ma, kasihan Lusi." Demian mencoba melerai.
Sari menghempaskan rambut Lusi hingga wanita itu jatuh tersungkur.
"Kau kasihan padanya tetapi tidak kasihan pada Zea. Ini sekalian kamu rasakan ini juga." Sari juga menarik rambut Demian.
Zea tersenyum puas melihat penderitaan dua sejoli yang baru saja sah menikah itu, tak perlu mengotori tangannya sendiri karena Sari dengan sikap bar-barnya telah memberi pelajaran bagi mereka.
"Zea berhenti menghasut mami !" Teriak Demian pada Zea.
"Mohon tenang, ini rumah sakit. Jika ingin ribut sana keluar!" tegur seorang perawat.
Laki-laki itu menyeret tangan Zea untuk keluar dari rumah sakit, tiba-tiba Derren datang dan melayangkan tinju pada Demian.
BUGH
"B*r*ngs*k ! Berani kamu sama perempuan, rasakan ini !"
Bugh
Bugh
Bugh
Pukulan bertubi-tubi Derren berikan, Demian hendak melawan tetepi kalah cepat dengan Derren.
Badan Derren yang tinggi besar mempermudah nya menghajar Demian yang memiliki postur tubuh kecil.
Setelah puas menghajar Demian hingga tak berdaya, Derren menarik tangan Zea menjauh dari tempat itu.
"Terimakasih," kata Zea.
"Tidak usah GR, aku menolong mu karena mami yang meminta." Derren berkata dengan dingin.
Tak ambil pusing karena Zea sudah terbiasa dengan sikap kakak iparnya yang dingin seperti kulkas.
"Dasar kulkas!" Gumam Zea.
"Apa katamu?" Derren menatap tajam padam wanita di hadapannya.
Zea hanya nyengir kuda dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Lusi sedang berdebat dengan ayahnya, beberapa kali ayah Lusi mengusirnya dan Demian tetapi wanita keras kepala itu tetap tidak mau beranjak.
"Yah kami saling mencintai, apa salahnya jika kami menikah." Kata Lusi dengan memeluk kaki laki-laki paruh bayah yang di sebutnya ayah.
"Aku memang sudah beristri yah, tetapi aku juga mencintai Lusi, aku akan berbuat adil pada mereka, tolong maafkan kami," pinta Demian.
"Pergi kalian ! Sampai kapan pun aku tidak akan menerima menantu hasil merebut seperti mu. Pergi ! Kamu bukan anak ku lagi."
Lusi tersungkur setelah mendapat tendangan dari ayahnya.
Demian membawa Lusi untuk pergi, melewati Zea dan Sari dengan tatapan tidak suka.
"Aku akan membuat perhitungan dengan mu." Bisik Lusi pada telinga Zea.
"Aku tunggu." Jawab Zea, membuat wajah Lusi semakin memerah.
Setelah kedua pergi, Sari dan Zea berpamitan untuk pergi.
Orang tua Lusi terus mengucapkan permintaan maaf akibat berbuatan anak semata wayang nya.
"Tidak perlu meminta maaf, ini bukan salah bapak dan ibu." Kata Zea.
"Bu Sari, nak Zea saya serahkan anak saya pada kalian terserah mau kalian apakan, kami sudah terlanjur kecewa." Kata ibunya Lusi.
Senyum merekah di bibir Sari dan Zea, jika orang tuanya sudah tidak peduli lagi maka akan memudahkan Zea untuk menghancurkan mereka.
*****
Saat ini Demian membawa istri mudanya ke rumah yang telah dia siapkan.
"Loh kok kesini mas?" Tanya Lusi.
"Iya, ini rumah hadiah untuk kamu," Jawab Demian dengan merangkul pinggang istri barunya.
"Aku gak mau." Lusi menolak.
"Aku mau tinggal di rumah yang kamu tempati bersama istri tua mu, rumah itu lebih besar dari ini."
"Tidak bisa sayang, rumah itu sudah atas nama Zea, tidak mungkin aku membawamu kesana."
"Yasudah kalau gitu aku mau rumah yang sama dengan Zea."
"Sabar ya, nanti akan aku belikan rumah yang sama besarnya dengan rumah Zea. Sekarang kita masuk dulu, aku sudah sangat lelah."
Dengan terpaksa Lusi mengikuti suaminya masuk kedalam. Rumah yang dibeli untuk Lusi sebenarnya sudah besar, tapi tidak sebesar rumah yang ditempati Zea.
Lusi membantu mengobati lebam di wajah Demian akibat pukulan dari Derren.
"Mas bagaimana kalau kita menginap di rumah mu,"
"Kan sudah ku bilang tidak mungkin aku membawamu kesana."
"Hanya menginap beberapa hari saja mas, aku ingin mendekatkan diri dengan istrimu serta mengambil hati mami."
Demian tampak berpikir, lalu mengannguk.
"Baiklah, tapi aku bicarakan dulu dengan Zea."
Lusi tersenyum bahagia, berbagai rencana jahat telah ia siapkan untuk menyingkirkan Zea.
Zea ditemani dengan Derren mendatangi pengadilan agama, keputusannya sudah bulan untuk menggugat Demian.
Setelah selesai urusan di kantor pengadilan Zea ingin pergi ke kantornya, ia akan menyelesaikan masalah dengan Demian di kantor. Mungkin juga dia akan memecatnya.
"Mau kemana lagi?" Tanya Derren.
"Ke kantor."
"Kantor mana?" Derren binggung.
Zea lupa jika dia tidak pernah membuka identitas nya.
"Nanti juga kamu akan tahu."
Tak ada percakapan lagi di antara mereka, sepanjang jalan hanya kesunyian yang menyelimuti keduanya. Derren tetap fokus menyetir, Zea merasa bosan hanya memandang keluar jendela.
Derren melirik ke arah Zea dalam hati tersenyum.
"Jika Demian menyakitimu maka aku yang akan melindungimu." Batin
