Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Karangan bunga

Derren melihat kebelakang, memastikan keponakannya itu baik-baik saja.

"Maafin om ya," kata Derren yang di balas senyuman oleh Zulfa.

Derren kembali melajukan kereta besinya, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya lagi.

Tibalah di sebuah salon langganan Sari, wanita paruh baya itu segera meminta karyawan untuk melayani Zea.

Zea menikmati pelayanan di salon ini, sudah sangat lama Zea tidak di sentuh oleh tangan-tangan handal itu.

******

Demian tiba di rumah nya, ia melihat mobil Derren baru saja meninggalkan kediamannya bersama Sari dan Zea.

"Aku harus mencari sesuatu yang bisa menghasilkan uang, jika tidak pernikahan ku bisa gagal."

Demian mencari di brankas tempatnya menyimpan barang-barang berharga termasuk sertifikat rumah yang mereka tempati. Namun hasilnya nihil, brankas itu telah kosong.

Lanjut ia mengobrak-abrik lemari pakaiannya dan juga Zea, tapi hasilnya masih sama.

"S**l, dimana Zea menyembunyikan barang-barang berharga itu." Kata Demian dengan mengacak-acak rambutnya sendiri.

Tiba-tiba ada panggilan masuk dari Lusi.

"Ya ada apa?" Kata Demian.

"Ih mas kok jutek gitu sih," sungut Lusi.

"Iya maaf, ada apa?" Demian melembutkan suaranya.

"Aku bikin kue buat mami kamu, nanti malam temani aku ke rumah mami kamu ya, aku mau mendekatkan diri dengan calon mertua." Kata Lusi.

Ada secercah harapan bagi Demian, jika Lusi berhasil mengambil hati ibunya otomatis ia tak akan pusing memikirkan dari mana biaya pernikahan mereka, karena pasti Sari yang akan mengeluarkan biayanya.

***

Malamnya Demian menjemput Lusi untuk bertemu Sari "Loh mas kok ke rumah kamu?" Tanya Lusi.

"Iya, mami lagi tinggal disini sementara." Jawab Demian.

Keduanya memasuki rumah, Lusi menuju dapur mengambil piring untuk tempat kue.

Lusi takjub dengan perabotan dapur yang Zea miliki, semuanya tambak bagus dan tertata rapi.

"Waah perabotannya lengkap banget, bagus-bagus lagi. Aku harus bisa menyingkirkan Zea dari rumah ini bagaimanapun caranya."

Lusi menata rapi kue yang dia beli dari toko tadi sebelum Demian datang menjemputnya.

Saat keduanya tengah asik bercengkramaan, Zea, Sari dan Derren datang.

"Wah ada tamu rupanya." Kata Sari dan menjatuhkan bobotnya di sofa.

"Mi kenalin ini Lusi calon istri Demi," Demian memperkenalkan Lusi pada ibunya. Saat Lusi mengulurkan tangannya hendak bersalaman dengan calon mertua Sari malah membuang mukanya membuat tangan Lusi menggantung di udara.

Sementara Darren hanya duduk diem dengan menatap tajam pada adiknya.

"Ee Zea tolong buatkan minuman ya," perintah Demian.

"Tidak usah !" Cegah Sari.

"Zea duduk sini aja dekat mami," Sari menepuk kursi di sebelahnya membuat Lusi merasa tidak suka.

"Ini Lusi buatkan kue untuk mami, silahkan di cicip mi," Lusi memberikan piring berisi kue yang ia bawa tadi.

Sari mengamati kue yang di berikan Lusi, lalu mengambil satu dan memakannya.

"Bagaimana kue buatan Lusi mi?" Tanya Demian.

"Enak."

Mendengar itu Lusi dan Demian tersenyum bahagia.

"Tapi kamu tidak bisa membohonginya saya, kue ini dari beli kan?" Sari meletakan kue yang tersisa di tangan nya.

Wajah Lusi memucat, degup jantungnya berirama.

"Mi, Lusi udah capek-capek buatnya loh kok mami tega sih bilang seperti itu." Sungut Demian.

"Lusi buat sendiri kok mi," kata Lusi ketakutan.

"Demian Demian, kami ini sangat b*d*h . Kue ini bahkan hampir setiap hari saya makan, jadi saya tahu dari mana kue ini berasal."

Lusi semakin gelisah. "S*al ketahuan."

"Lebih baik kamu pergi, sampai kapan pun saya tidak akan pernah merestui kalian untuk menikah. Menantuku cuma satu, Zea. ingat itu !"

Sari bangkit dengan menggandeng tangan Zea, membuat gemuruh di hati Lusi.

Lusi menghentakkan kaki nya "ini pasti istri kamu yang menghasut mami kamu untuk tidak merestui kita. Dia pasti cemburu dan tidak mau tersaingi." Lusi mengomel.

"Sabar yank, mungkin sekarang mami masih belum menerima hubungan kita. Tapi suatu saat pasti mami menyukai kamu. Sabar ya !" Demian mencoba menenangkan Lusi.

Tak ada jawaban apapun dari Lusi, gadis itu segera pergi tanpa memperdulikan Demian.

Demian ingin mengejar Lusi, tetapi tangannya keburu dicekal oleh Derren.

"Mau kemana? Dulu aku sudah mengalah untuk kamu, tapi jika kamu masih seperti ini aku tidak akan segan-segan mematahkan lehermu !" Kata Derren, lalu dia pergi setelah puas membuat Demian mati kutu.

Didalam kamar Zea melancarkan aksinya, tidak ada salahnya mengikuti ide dari ibu mertuanya. Dia mematut diri dicermin, wajahnya tampak lebih segar dari sebelumnya. setelah melakukan perawatan seharian.

Demian masuk kedalam kamar "Zea!" Ia diam menatung dengan menelan salivanya.

Zea mengenakan kimono, memperlihatkan belahan dada serta pahanya yang mulus. Sedikit polesan makeup membuatnya terlihat cantik dan sexy.

"Ada apa mas?" Tanya Zea dengan lembut.

Demian mendekati Zea, ia memeluknya dari belakang.

"Kamu cantik sekali malam ini," gairah lelakinya muncul, Demian membawa Zea keperaduan.

"Maaf mas, aku lagi halangan."

Demian menjadi lemas, wajahnya menerah lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Kamu kira setelah apa yang kamu lakukan aku masih mau melayanimu mas, jangan harap !" Gumam Zea, wanita itu tersenyum puas.

*****

"Ze ada yang ingin aku bicarakan," kata Demian saat melihat Zea tengah menikmati secangkir cokelat di pagi hari.

"Apa?" Kata Zea datar.

"Apa kamu menghasut mami untuk tidak merestui hubungan ku dengan Lusi?"

Zea mengehentikan aktivitasnya, meletakan cokelat panas yang di tangannya ke atas meja. Ia menatap tajam ke arah laki-laki yang masih bergelar suaminya.

"Kamu menuduhku mas?"

Demian gelagapan "Bukan begitu, em... Yaudahlah lupakan."

"Zea,"

"Apalagi?"

"Dimana kamu menyimpan sertifikat rumah ini?" Tanya Demian.

Untuk kedua kalinya Zea menatap tajam pada Demian.

"Untuk apa kamu menanyakannya?"

"Aku ingin menggadaikan nya sebentar untuk biaya pernikahan ku dan Lusi." Kata Demian tanpa rasa berdosa.

"Pernikahan mu itu urusan kamu, jangan libatkan aku."

"Ini juga rumah ku, aku punya hak atas rumah ini karena aku yang membelinya." Demian masih tak mau menyerah.

"Tapi rumah ini sudah menjadi milik ku, kamu tidak punya hak apapun."

"Kalau begitu tolong bujuk mami agar mau memberikan ku uang."

"Sudah ku katakan jangan libatkan aku dalam masalah mu dan calon istrimu. Bukankah aku sudah mengizinkan mu menikah lagi, lalu kenapa kamu masih mengusik ku?"

"Karena kamu istriku." Jawab Demian.

Zea tersenyum, miris sekali mendengar Demian menyebutnya istri.

"Yasudah kalau begitu mari kita bercerai agar aku tidak menjadi istrimu lagi."

Demian terkejut mendengar kata-kata Zea, bukan ini yang dia inginkan.

"Zea kamu bicara apa, aku tidak akan pernah menceraikan mu. Aku mencintaimu Ze." Demian meraih tangan Zea.

"Cinta kamu bilang? Jika cinta tidak mungkin kamu mendua." Zea melepaskan tangan Demian yang menggenggam tangannya.

"Aku mencintaimu Ze, aku juga mencintai Lusi. Aku janji akan adil pada kalian."

Tidak memperdulikan lagi Demian yang terus memohon, Zea melangkah pergi meninggalkannya. Moodnya pagi ini telah di hilang oleh Demian.

Demian mengacak rambutnya frustasi, jika Sari dan Zea tidak bisa membantunya entah ia harus mencari uang dari mana lagi. Sementara pernikahannya semakin dekat.

***

Hari ini Zea pergi ke kantor, seperti biasa ia tidak akan menunjukan indentitas nya agar tidak ada yang mengetahui bahwa ia adalah bos besar sampai waktu yang ditentukan.

"Bagaimana penjualan bulan ini?"

Zea mengecek laporan akhir bulan.

"Seperti yang kamu lihat." Kata Vino asisten pribadi Zea.

"Kenapa pendapatnya menurun drastis seperti ini?" Kata Zea setelah membaca hasil laporan.

"Kau tahu jika suamimu itu telah melakukan korupsi besar,"

"Apa?" Zea terkejut.

"Makanya segera aku minta kamu untuk membuka identitas mu, aku sudah lelah pura-pura menjadi bos." Vino menjatuhkan bobotnya pada kursi di depan Zea.

"Bersabarlah, sebentar lagi kamu akan istirahat."

"Urus masalah ini ! kumpulkan semua bukti kebusukan Demian di perusahaan, setelah waktunya tiba nanti dia akan aku depak dari sini."

"Apa kalian akan bercerai?" Tanya Vino.

"Tentu saja, untuk apa aku mempertahankan parasit seperti dia."

Vino tersenyum dalam hati, sudah sejak lama ia menyukai Zea tetapi kalah cepat dengan Demian.

"Ada apa dengan mu?" Selidik Zea ketika melihat wajah Vino berseri-seri.

"Ah tidak."

*****

Waktu telah berlalu, hari ini Demian menggelar pernikahan keduanya. Pernikahan mereka diadakan begitu mewah di sebuah gedung, namun hanya di hadiri oleh keluarga Lusi karena Sari dan Derren tidak pernah menyetujui pernikahan mereka.

"Nak Demian, keluarga kamu dimana?" Tanya ibunya Lusi.

"Mereka tidak bisa hadir bu, mendadak mami sakit jadi keluarga tidak ada yang datang." Bohongnya.

Orang tua Lusi tidak mengetahui jika Demian telah memiliki istri dan anak, Lusi meminta pada Demian untuk merahasiakan statusnya yang asli, karena jika sampai keluarganya mengetahui dia menjadi istri kedua pasti juga tidak akan merestui.

Beruntungnya sampai ijab kabul selesai, baik Zea ataupun Derren tidak ada yang datang, jadi semuanya berjalan mulus.

Tiba saatnya resepsi, semua tamu telah datang. Lusi dan Demian sibuk menyambut tamu yang ingin bersalaman.

Tiba-tiba ada yang melapor jika mereka mendapat kiriman karangan bunga.

Lusi dengan bangga menggandeng lelaki yang telah sah menjadi suaminya untuk melihat kedepan.

Lusi terkejut melihat tulisan di karangan bunga tersebut.

[ SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU UNTUK SUAMI DAN MADUKU TERTANDA ISTRI SAH. ]

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel