ATM kosong, perhiasan palsu
"Maaf pak saldonya kosong,"
"Apa? Tidak mungkin kosong, kemarin ada 200 juta disitu."
Demian masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh teller bank tersebut. Pasalnya setiap bulan Zea selalu mengatakan menyimpan uangnya di bank.
"Ini beneran kosong, jika bapak tidak percaya silahkan cek di cabang bank yang lain."
Demian pergi dengan perasaan kesal dan marah, ia akan membuat perhitungan dengan Zea yang telah mempermalukannya.
Melangkah menuju kamar putrinya untuk mencari keberadaan Zea, biasanya di jam siang segini Zea menghabiskan waktunya bersama dengan anaknya.
Brukk!!!
Demian membuka pintu dengan cukup keras, membuat penghuni dalamnya menoleh.
Ia terkejut lantaran di dalam ada Sari ibu kandungnya.
"Ada Dem?" Tanya Sari.
"Aku ingin bicara sama Zea,"
"Ada apa mas?" Tanya Zea.
Demian melirik ke arah Sari, takut-takut salah bicara maka ia akan habis kena omel olehnya.
"Kita bicara di luar aja!"
"Kenapa harus diluar? Disini aja, mami juga pengen dengar."
"Iya mas disini saja."
'Aduh gimana ini, mami kan gak tahu kalau aku mau menikah lagi. Tapi siapa tahu mami setuju kan Zea juga sudah memberi izin.' Batin Demian.
"Itu em... Kenapa buku tabungan kita kosong?"
Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian Demian bertanya perihal buku tabungan.
Zea tampak berfikir sejenak "Oh iya aku lupa bilang, kemarin mami meminjam uang, karena aku tidak memiliki simpanan jadinya aku pinjamkan tabungan kita." Kata Zea se-enaknya.
Demian beralih ke sang ibu, meminta penjelasan mengenai uang tersebut. Pasalnya ibunya yang seorang single parents itu tidak pernah kekurangan uang. Setiap bulan Demian dan kakaknya tidak pernah telat mengirimkan uang bulanan.
Sari yang terus dilihatin oleh Demian berdiri dan menatap putra bungsunya "kenapa? Tidak suka mami meminjam uang kalian, dari pada uangnya kamu pergunakan untuk menikah lagi lebih baik mami amankan." Kata Sari.
Demian membulatkan mata, rupanya Sari telah mengetahui rencananya untuk menikah lagi.
"Mi tolong restuin aku menikah lagi dengan Lusi, aku akan berlaku adil pada Lusi dan Zea," Demian memohon.
"Berlaku adil katamu? Sekarang saja kamu sudah berat sebelah bagaimana nanti." Kata Sari.
"Mi, Laki-laki itu boleh memiliki istri lebih dari satu kali. Bahkan Zea saja sudah setuju." Demian masih membela diri.
"Zea setuju karena kamu terus memaksanya. Ingat Demian papi mu dulu ninggalin kita karena menikah lagi, apa kamu mau mengikuti jejak papimu,"
Demian terdiam, benar yang di ucapkan Sari, dulu suaminya meninggalkannya dan kedua anaknya karena menikah lagi. Sari berjuang sendirian untuk membesarkan anak-anaknya. Oleh karena itu Sari sangat menentang anak-anaknya untuk melakukan poligami.
Demian meremas rambutnya, pernikahannya tinggal beberapa hari tetapi untuk biaya belum ia dapatkan.
"Zea maafkan mami karena kelakuan anak mami kamu harus merasakan sakit hati." Kata Sari merasa bersalah.
"Ini bukan salah mami. Lagian perasaan Zea untuk mas Demian udah mati saat dia membawa perempuan itu. Maafkan Zea mi kalau nanti Zea tidak bisa menjadi menantu mami lagi."
Zea memutuskan untuk berpisah dengan Demian, setegar-tegarnya ia di hadapan Demian tetap saja dia tidak mau di madu.
"Sebenarnya mami sangat menyayangimu dan dan Zulfa nak, tapi mami tahu bagaimana perasaan mu, mami juga pernah ada di posisi kamu. Mami tidak memaksa jika kamu ingin berpisah dari Demian. Tapi kamu tetap jadi anak mami ya?"
Sari sangat menyayangi Zea seperti anak sendiri, bahkan dia lebih menyayangi Zea daripada Demian.
Zea mengangguk. Dia juga menyayangi Sari seperti ibunya sendiri.
Sementara Demian saat ini tengah pusing, barusan Lusi menghubunginya meminta uang untuk mendepe MUA yang akan di gunakannya. Tak tanggung-tanggung Lusi memilih MUA yang biasanya merias para artis, tentu itu bayarannya tidak sedikit.
Terpaksa Demian mencari perhiasan milik Zea untuk di jualnya. Dia menemukan satu set perhiasan di dalam lemari.
Dengan buru-buru Demian mengambilnya dan pergi untuk menjualnya.
"Pasti jika perhiasan ini di jual harganya mahal. Tapi dari mana Zea mendapatkan perhiasan dengan permata merah seperti ini? Perasaan aku tidak pernah memeberikan nya uang lebih." Damian memandangi perhiasan di hadapannya.
"Peduli apa dia mendapatkan perhiasan ini dari mana, yang terpenting pernikahan ku berjalan dengan lancar."
Demian mendatangi toko perhiasan, ia menyerahkan satu set perhiasan milik Zea.
Dengan senyum merekah Demian menunggu dengan tidak sabar.
"Perhiasan ini palsu."
Demian terkejut, ia tak menyadari bahwa perhiasan yang ia curi adalah perhiasan palsu.
"S*al !" Umpatnya dalam hati" harusnya sudah dari tadi aku ngeh kalau Zea tidak mungkin memiliki perhiasan semahal itu."
Tanpa berkomentar apa-apa Demian langsung pergi dari toko tersebut.
Ia macu kereta besinya dengan cepat, wajahnya sudah memerah menahan amarah.
Sementara Zea dan Sari saat ini tengah bermain dengan Zulfa, anak perempuan buah cinta Zea dan Demian yang berusia tiga tahun itu sangat mengemaskan. Sayang, selama tiga tahun Demian tidak pernah bermain ataupun menggendong nya.
"Udah mau sampai ya? Yasudah kita siap-siap sekarang." Sari menerima telepon dari Derren anak sulungnya.
"Siapa mi?" Tanya Zea.
"Derren, mami tadi menelponnya untuk datang kesini menjemput kita."
"Memangnya kita mau kemana?"
"Ketempat yang bisa bikin Demian klepek-klepek lagi sama kamu."
Zea membulatkan matanya, dia tidak pernah berfikir ingin membuat Demian tergila-gila lagi padanya. Baginya percuma, toh sifat asli Demian memang seperti itu suka se-enaknya sendiri.
"Untuk apa mi? Memangnya Zea kurang cantik?"
"Kami itu cantik luar dalam Ze, cuma apa salahnya membuat Demian tergila-gila dulu sama kamu sebelum kamu jatuhkan dia."
Sari benar, apa salahnya membuat Demian melambung tinggi sebelum dia menghempaskan nya ke lapisan bumi terdalam.
Tak lama orang yang mereka tunggu telah sampai, Sari, Zea dan Zulfa dijemput menggunakan Alphard oleh Derren.
Derren dan Demian sama-sama anak kandung Sari, tetapi keduanya memiliki sifat yang jauh berbeda.
Demian memang memiliki sifat yang ramah dan hangat, tetapi ia juga egois dan tidak bisa setia.
Sedangkan Derren cenderung kasar dan dingin. Masalah percintaan Derren adalah orang yang susah di tebak. Entah tak memiliki kekasih atau apa tetapi di usianya yang hampir sudah kepala tiga laki-laki itu masih betah menyendiri.
Mereka bertiga pergi saat Demian kembali, mobil yang di kemudikan Derren berpapasan dengan Demian.
Sepanjang jalan Derren lebih sering mengobrol dengan Sari, sedangkan Zea dan Zulfa tak di hiraukan nya.
"Apa kamu tau Der jika adikmu mau menikah lagi?" Tanya Sari.
Tiba-tiba Derren menginjak rem, dia menatap tak percaya pada ibunya.
"Mami serius?" Tanya Derren memastikan.
"Ya serius."
"Om hati-hati dong, atu tadet." Kata Zulfa.
