Syarat
Take me to your heart, take me to your soul
Give me your hand before I'm old
Show me what love is, haven't got a clue
Show me that wonders can be true
Take me to your heart, take me to your soul
Give me your hand and hold me
Show me what love is, be my guiding star
It's easy, take me to your heart
(MLTR - Take Me To Your Heart)
***
Keesokan harinya. Pukul 09.00. Helen tidak ada kuliah sehingga datang ke rumah sakit bersama kedua orang tuanya. Helen disuruh menjenguk lebih dulu karena orang tua Helen bertemu teman sehingga masih saling bicara. Helen berdiri di depan ruang rawat Erwin dan berjalan ke sana ke sini bagai seterika karena ragu untuk masuk. Helen terlalu takut untuk berhadapan dengan keluarga Erwin. Erwin melihat ada bayangan orang di balik pintu lalu menjalankan kursi roda hingga di depan pintu Erwin membuka pintu dan Helen berhenti berjalan. Helen melihat Erwin dengan sedikit terkejut dan Erwin melihat terus Helen dengan seksama. Helen jadi takut karena dalam pandangan Helen wajah Erwin bengis lalu Erwin dan Helen jadi saling melihat sedikit lama.
"Masuk saja" kata Erwin dengan menjalankan kursi roda hingga ke dalam ruang rawat.
Helen berjalan masuk dengan pelan.
"Siapa nama loe?" tanya Erwin dengan berhenti menjalankan.
Helen berhenti berjalan dan Erwin menghadapkan kursi roda di hadapan Helen sehingga dirinya berhadapan dengan Helen lalu melihat Helen dengan pandangan bertanya dan Helen merasa ragu untuk menjawab.
"Hel..."
"Helen" jawab mama Erwin yang datang secara tiba-tiba.
Erwin melihat mamanya lalu kedua orang tua Helen dan beliau tersenyum kepada Erwin. Erwin menunjukkan sikap sopan.
"Kami minta maaf atas semua yang dilakukan anak kami" kata mama Helen.
"Kami ingin minta pertanggungjawaban untuk membayar semua biaya rumah sakit"
Kedua orang tua Helen lalu Helen sangat terkejut dan Erwin melihat Helen tanpa sepengetahuannya.
"Bukankah kalian memahami bahwa kaki anak saya patah karena Helen?"
Helen merasa sedih lalu terbeban dan Erwin tidak mengalihkan pandangan sekalipun dari Helen. Pukul 10.00. Kedua orang tua Helen dan Helen pulang. Papa Erwin sudah berada di rumah sakit dan Erwin masih memikirkan Helen.
"Di mana Kak Olive?" tanya Erwin.
"Jam segini masih kerja" jawab papa.
"Papa, mama sudah menyuruh mereka untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Helen dengan membayar semua biaya rumah sakit" cerita mama Erwin.
"Bagaimana selanjutnya?" tanya papa Erwin.
"Sepertinya mereka kesulitan"
"Apa bisa membayar semuanya? Sepertinya keadaan ekonomi keluarga mereka berada di bawah kita"
"Sebenarnya tidak tetapi karena Helen baru masuk kuliah dan adik Helen masih SMA jadi mereka keberatan. Mama tidak peduli"
"Benar kata mama. Mereka memang harus bertanggung jawab"
Erwin memikirkan percakapan kedua orang tuanya tentang kondisi keuangan orang tua Helen. Helen tidak bisa menerima telepon Martin karena memikirkan kedua orang tuanya yang harus menanggung semua biaya yang disebabkan kesalahan dirinya. Helen semakin merasa bersalah dan mimpi buruk tersebut terjadi. Keluarga Erwin menuntut dirinya. Keesokan harinya. Pukul 07.00. Keluarga Helen datang ke rumah sakit dan tanya biaya rumah sakit Erwin di bagian administrasi. Erwin keluar dari ruang rawat dengan menjalankan kursi roda. Erwin sangat bosan dan merasa tubuh lebih baik sehingga nekat berada di luar ruang rawat lalu melihat keluarga Helen dan Helen berbicara dengan suster di bagian administrasi. Erwin melihat reaksi wajah kedua orang tua Helen.
"Astaga. Sangat mahal. Dari mana kita mendapatkan uang segitu banyak?" kata papa Helen dengan merasa tidak menyangka.
Mamanya melihat Helen.
"Semua karena kamu. Kamu memang selalu membuat masalah sehingga membuat uang papa dan mama habis. Kamu sangat ceroboh. Seharusnya mengerti bahwa kamu harus menjaga kestabilan ekonomi keluarga kita. Kamu baru masuk kuliah. Uang masuk kuliah kamu mahal dan Gian juga butuh uang untuk membayar SPP dan daftar ulang"
Helen menunduk dengan merasa takut.
"Kenapa kamu harus menyetir dengan kecepatan tinggi? Kebiasaan" kata papanya marah.
Erwin melihat terus Helen. Papa dan mama Helen masih menggerutu bahkan marah kepada Helen. Pukul 15.30. Papa dan mama Erwin, Olive berada di ruang rawat Erwin. Seak tadi Olive menyindir Erwin tetapi Erwin tidak melawan. Erwin memang tidak berusaha melawan jika dimarahi oleh Olive selama dirinya salah. Hal tersebut cara Erwin menghormati kakak perempuannya.
"Hal tersebut hukuman loe karena mempermainkan perempuan sehingga loe ditabrak oleh seorang perempuan. Biar tahu rasa"
"Olive, jangan bersikap begitu kepada Erwin" kata papanya.
Olive mengangkat bahu dan berjalan keluar dengan mengerutkan dahi.
"Biar saja" pikir Olive.
"Sudahlah. Papa. Mama. Aku ingin bicara" kata Erwin.
Papa dan mamanya melihat Erwin dengan merasa ingin tahu.
2 hari kemudian
Pukul 09.30. Kedua orang tua Helen dan Helen datang ke rumah sakit karena ditelepon mama Erwin. Kedua orang tua Helen gelisah karena belum tahu cara membayar semua biaya rumah sakit sehingga memiliki rencana untuk memohon. Mereka tiba dan berjalan masuk ke dalam ruang rawat Erwin. Erwin sudah boleh pulang sehingga bersiap.
"Kami minta maaf. Kami belum mendapatkan uang untuk membiayai. Bagaimana jika kami hutang dulu maka setiap bulan kami akan menyicil hutang itu?" tanya papa Helen memohon.
Erwin selesai bersiap.
"Om dan Tante tidak perlu membayar biaya rumah sakit saya dengan satu syarat"
"Apa syarat dari kamu?" tanya mama Helen.
Helen melihat Erwin dengan merasa ingin tahu.
"Menjadikan Helen sebagai istri saya"
Helen terkejut dan Erwin melihat Helen. Papa dan mama Helen merasa tidak percaya.
"Hal tersebut permintaan Erwin" kata papa Erwin.
"Anak saya mencintai Helen. Bagaimana keputusan kalian?" tanya mama Erwin.
"Om. Tante. Saya menginginkan Helen. Asalkan Helen menjadi istri saya maka Om dan Tante tidak perlu membayar semua biaya rumah sakit saya dan tentu saja saya akan menjaga hidup Helen. Saya mencintai Helen"
Helen merasa tidak percaya dengan pernyataan Erwin. Helen tidak percaya cinta pandangan pertama. Helen berpikir bahwa Erwin ada maksud jahat menjadikan dirinya istri tetapi beda dengan pemikirkan orang tua Helen. Orang tua Helen melihat ketulusan Erwin kepada Helen dari raut wajah Erwin maka beliau saling melihat untuk berpikir. Pukul 10.45. Kedua orang tua Helen dan Helen pulang. Mereka belum memberikan jawaban kepada keluarga Erwin. Mereka sudah sampai di rumah dan berada di ruang keluarga lalu kedua orang tua Helen melihat terus Helen dan firasat Helen tidak enak.
"Mama ingin kamu menerima Erwin sebagai suami kamu"
Helen merasa tidak menyangka dengan permintaan mamanya.
"Kita memang tidak akan pernah bisa membayar semua biaya rumah sakit Erwin" kata papanya setuju.
Helen mengeluarkan air mata.
"Aku tidak menyangka bahwa papa dan mama bisa setuju"
"Hal tersebut juga salah satu tanggung jawab kamu dengan bersama Erwin karena kamu membuat salah satu kaki Erwin patah" kata papanya.
"...tetapi korban tidak lumpuh selamanya. Tidak adil untuk aku. Korban bisa sembuh sementara aku harus bersama korban hingga selamanya"
"Semua juga karena kamu sehingga ada permasalahan tersebut" kata mamanya.
"...tetapi..."
Helen berhenti mengeluarkan air mata.
"Papa. Mama. Aku mohon jangan setuju dan bantu aku. Aku tidak bisa menikah dengan korban. Aku tidak mengenal semua tentang korban. Bagaimana jika sifat korban buruk bahkan pernah memiliki masa lalu yang kelam? Hidup aku akan sengsara. Apa papa dan mama rela?"
Papa dan mama Helen tidak bisa menjawab apapun. Helen merasa bahwa papa dan mamanya memang akan merelakan dirinya menjadi istri Erwin. Akhirnya Helen berjalan menuju kamar dengan merasa sedih lalu masuk dan menangis.
