Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Sirna

Tanpa mengetuk pintu Olive berjalan masuk ke dalam kamar Erwin lalu Erwin kaget dan melihat Olive. Olive berdiri di hadapan Erwin.

"Erwin!" teriak Olive.

Erwin sangat kaget dan mengerutkan dahi.

"Kak Olive tidak perlu berteriak"

Olive menuding Erwin.

"Apa maksud loe ingin menikah dengan Helen?! Padahal awalnya papa tidak setuju tetapi akhirnya setuju! Apa loe masih ingin mempermainkan perempuan?! Ternyata loe tidak pernah sadar!" kata Olive marah.

Olive berhenti menuding Erwin lalu seketika memegang dan mengambil lampu tidur yang ada di atas nakas. Olive akan memukul badan Erwin dengan lampu tersebut dan Erwin terkejut.

"Kak Olive, aku tidak mempermainkan Helen" kata Erwin segera untuk mencegah Olive.

Olive tidak jadi memukul dan melihat terus Erwin dengan marah untuk melihat kebohongan dari raut wajah Erwin.

"Aku mencintai Helen" lanjut Erwin.

"Loe jangan berbohong apalagi loe pernah mempermainkan perempuan!" kata Olive tidak percaya.

"Bukankah hanya sekali? Hal tersebut karena hanya ingin mencoba rasanya"

"Jangan dijadikan ajang mencoba! Apa loe pikir gue bisa percaya dengan semua perkataan loe?!"

Olive memukul badan Erwin dengan lampu tersebut.

"Ayo cepat bicara jujur! Apa rencana loe?! Apa?! Bukankah loe masih ingin mempermainkan perempuan?!"

Erwin merasa kesakitan.

"Kak Olive, berhenti"

"Jika loe tidak jujur maka gue tidak akan ragu membuat loe tersengat listrik!"

Erwin terkejut.

"Kak Olive. Aku sudah jujur. Sungguh" kata Erwin meyakinkan Olive.

Erwin semakin merasa kesakitan dan Darwin datang lalu melihat Olive memukul Erwin dan berlari menghampiri Olive. Darwin berdiri di samping Olive dan memegang badan Olive untuk menghentikan Olive.

"Sayang, berhenti. Jangan memukul Erwin" cegah Darwin panik.

Darwin memegang tangan Olive.

"Istriku, berhenti!" kata Darwin dengan nada tinggi.

Darwin menarik badan Olive agar menjauh dari Erwin dan Olive berhenti memukul badan Erwin dengan napas terengah tetapi masih memasang wajah marah.

"Kasihan adik kamu"

"Tidak ada kata kasihan jika tentang Erwin mempermainkan perempuan"

"Apa maksud kamu?"

"Erwin ingin menikah dengan Helen pasti ada sesuatu. Erwin ingin mempermainkan Helen"

"Tidak. Aku serius. Kak Olive yang masih tidak bisa percaya aku" kata Erwin dengan mengerutkan dahi.

"Gue memang tidak bisa percaya loe! Sejak loe kelas XII! Peristiwa loe mempermainkan perempuan! Memang hanya sekali tetapi tetap saja gue kecewa dengan loe! Loe mempermainkan perempuan juga menyakiti hati gue! Gue selalu mengajarkan dan berharap banyak bahwa loe tidak akan pernah coba mempermainkan perempuan!"

"Istriku, coba kamu memberikan kesempatan kepada adik kamu untuk membuktikan bahwa perkataan dia benar"

"..."

"Ayolah" kata Darwin memohon.

"Coba kamu pikir. Apa masuk akal Erwin mencintai Helen sementara mereka tidak saling kenal?"

"Mungkin saja. Jadi Erwin mengalami cinta pandangan pertama"

"Gue tidak akan pernah memberikan kepercayaan kepada loe hingga loe sungguh membuktikan bahwa loe tidak akan mempermainkan perempuan!"

Erwin mengerutkan dahi karena merasa sebal dengan sikap Olive.

"Sudah" kata Darwin menenangkan Olive.

Darwin memanggil pembantu hingga pembantu datang dan melihat Darwin. Darwin mengambil lampu dari tangan Olive dan meletakkan di atas nakas.

"Bantu Tuan Erwin berbaring. Berhati-hatilah karena seluruh badan Tuan Erwin sangat sakit"

"Baik"

"Ayo kita kembali ke kamar"

Darwin menggandeng tangan Olive lalu membantu Olive berjalan dan Olive berjalan dengan melihat sebentar Erwin. Olive masih marah dengan Erwin.

"Mari saya bantu" kata pembantu.

Pembantu membantu Erwin lalu Erwin berdiri dari kursi roda dan menelungkup di atas tempat tidur. Punggung Erwin sangat sakit sehingga tidak bisa telentang. Sebenarnya seluruh badan juga sakit tetapi lebih parah punggung karena punggung yang banyak terkena pukulan Olive.

"Tunggu sebentar. Saya akan membawakan balsam dan minuman"

Erwin mengangguk pelan dan pembantu berjalan keluar. Pukul 16.00. Tania datang ke rumah Helen dan sudah tahu tentang Erwin yang meminta Helen menjadi istri. Orang tua Helen cerita kepada Tania. Helen masih menangis.

"Helen, gue juga bingung dengan nasib loe dan jika gue jadi loe maka gue menangis seperti loe tetapi satu sisi loe berada di pihak salah jadi loe tidak bisa membela diri" kata Tania pelan.

"Kenapa nasib gue buruk?" kata Helen dengan merasa sedih.

"Astaga. Helen, loe tabah" kata Tania miris.

Tania mengelus pelan lengan kiri Helen. Perasaan Helen kacau. Pukul 16.00. Papa dan mama Helen datang ke rumah Erwin lalu satpam membuka pintu dan melihat terus mereka dengan tatapan mengintimidasi.

"Kami ingin bertemu dengan Erwin" kata papa Helen.

"Mari saya antar"

Satpam mengantarkan orang tua Helen hingga berada di halaman depan dan bertemu pembantu. Mama Erwin datang dan melihat orang tua Helen.

"Bagaimana keputusan kalian?"

"Baiklah. Kami bersedia"

Mama melihat satpam.

"Pak, lain waktu jika mereka datang dipersilahkan masuk saja"

"Baik"

Satpam berjalan pergi.

"Bibi, panggil Tuan Erwin" titah mama Erwin.

"Baik"

Pembantu berjalan pergi.

"Mari masuk" ajak mama Erwin.

Mereka berjalan masuk lalu mama Erwin mempersilahkan duduk dan mereka duduk. Erwin datang dan melihat kedua orang tua Helen lalu pembantu berhenti mendorong kursi roda Erwin di sebelah mama Erwin dan Erwin menyuruh pembantu membuatkan minum untuk kedua orang tua Helen. Akhirnya mereka saling bicara.

"Helen bersedia menikah dengan kamu" kata papa Helen.

Erwin melihat di sekitar orang tua Helen dan melihat sebentar ke arah luar.

"Di mana Helen? Jika Helen bersedia maka dia juga berada di sini"

Mama Erwin melihat kedua orang tua Helen.

"Helen belum bisa datang tetapi di hari lain Helen akan datang sendiri ke sini"

Erwin melihat kedua orang tua Helen dan pembantu datang lalu meletakkan minuman di atas meja dan berjalan pergi.

"Baiklah. Kapan jadi pernikahan Erwin dan Helen bisa dilaksanakan?" tanya mama Erwin.

Erwin melihat mamanya.

"Aku ingin secepatnya" jawab Erwin.

"Bagaimana? Keinginan Erwin segera" kata mama Erwin dan melihat kedua orang tua Helen.

"Kami setuju saja jika memang pihak Erwin ingin segera" kata mama Helen.

"Masih membutuhkan persiapan dan menunggu kaki Erwin sembuh" kata mama Erwin.

Mama Erwin berpikir.

"Mungkin bisa 4 bulan kemudian" lanjut mama Erwin.

"Baiklah" kata papa Helen menurut.

Mama Helen hanya mendengarkan.

"Jika sudah ditentukan 4 bulan kemudian jangan meleset. Aku tidak ingin terlalu lama" kata Erwin.

Pukul 17.00. Erwin berada di dalam kamarnya dan tertawa senang. Hati Erwin semakin bahagia karena dirinya akan memiliki Helen. Keluarga Helen sudah pulang.

"Gue senang. Gue sangat senang" pikir Erwin dengan merasa senang.

Helen semakin menangis. Hal tersebut membuat Tania tidak bisa meninggalkan Helen hanya sendiri maka Tania tidak pulang ke kost. Tania terus menghibur Helen dengan sabar.

"Helen, Om dan Tante sudah menyatakan di hadapan keluarga korban. Bagaimana? Loe sudah tidak bisa berbuat apa pun" kata Tania prihatin.

Helen menggeleng dengan merasa sedih dan Tania merasa kasihan.

"Gue takut dengan korban. Wajah dia berkarakter temperamen. Bagaimana jika tujuan dia ingin menikah dengan gue untuk balas dendam?" kata Helen dengan merasa sedih.

"Kenapa loe berpikir begitu?" tanya Tania pelan.

"Gue...yang menyebabkan kecelakaan itu dan korban...tidak bisa bekerja selama sebulan...itu membuat dia mengalami kerugian besar...dia akan menyiksa gue atas kerugiannya itu" kata Helen cerita.

"Loe berharap saja bahwa korban tidak seperti yang dipikirkan loe atau loe memiliki kekuatan untuk menghadapi korban ketika korban jahat kepada loe"

"Martin, aku diminta menjadi istri. Bagaimana dengan kita? Aku sangat mencintai kamu" pikir Helen.

"Loe menjalani saja dulu. Loe berharap semoga korban adalah lelaki yang baik"

"Kenapa jadi begini hidup gue? Gue akan menikah dengan lelaki asing dan harapan gue untuk bersama Martin sirna" pikir Helen dengan merasa sedih.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel