Sadar
"Wajah kamu antara di foto dengan yang aku lihat sekarang sangat berbeda jauh"
"Foto tersebut adalah foto aku"
"Kamu pintar berbohong"
"Aku tidak berbohong. Foto tersebut sungguh aku tetapi ketika SMP dan aku mengubah wajah polos SMP aku menjadi lelaki dewasa"
Helen melihat terus Martin dengan merasa tidak percaya.
"Jika aku menggunakan foto aku dengan wajah aku yang sekarang pasti banyak yang invite aku dan hal tersebut sangat mengganggu aku. Teman aku tidak bisa menjaga pin BBM aku"
"Apa jadi benar bahwa kamu adalah Martin?"
"Sejak awal aku sudah tahu bahwa kamu tidak percaya dengan aku" kata Martin dengan tersenyum.
"..."
"Come on. Believe me"
Martin tersenyum.
"My name is Martin" lanjut Martin meyakinkan Helen.
"Bicara dengan bahasa indonesia karena kita berada di negara kita sendiri"
"Siap, Nona. Aku sungguh Martin" kata Martin dengan tersenyum.
Helen melihat terus Martin dan Martin memegang kedua tangan Helen.
"Tanya kepada aku apapun agar kamu percaya bahwa aku sungguh Martin"
Helen melihat sebentar kedua tangannya yang dipegang.
"Pagi tadi aku sudah tanya"
"Aku tahu tetapi kamu masih tidak percaya"
"Baiklah. Aku mulai bisa percaya"
"Jika memang percaya maka jangan canggung"
"..."
"Kamu masih canggung kepada aku"
"Bagaimana mungkin aku bisa tidak canggung setelah tahu bahwa kamu sangat sempurna?"
Martin melepaskan kedua tangan Helen dan mengambil posisi duduk di sebelah Helen.
"Kamu juga sempurna untuk aku"
Martin memegang kedua lengan Helen lalu menghadapkan badan Helen kepada dirinya dan Helen melihat Martin dengan merasa heran.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan aku sempurna?"
"Menurut aku kesempurnaan adalah hati yang manis"
Helen merasa tidak mengerti dengan perkataan Martin dan Martin tersenyum.
"Aku sangat tidak mengerti maksud kamu"
"Hati dan sifat kamu manis. Hati kamu lembut dan tidak keji"
"..."
"Hal tersebut kesempurnaan dari diri kamu. Aku yakin kamu lebih bisa menilai diri sendiri"
"..."
"Jangan canggung"
Helen berpikir sebentar lalu mengangguk dan tersenyum.
"Hari ini aku anggap sebagai hari pertama kencan kita" kata Martin dengan tersenyum.
"Jika bersama Martin pasti gue merasa malu. Besar dan mungil" pikir Helen.
"Apa aku tidak bisa bersama kamu ketika malam hari?"
Helen berpikir.
"Baiklah. Baiklah. Aku mengerti"
"Kamu telepon dulu sebelum mengajak aku ketika malam hari" kata Helen dengan berhenti berpikir.
"Siap, Nona"
Pukul 16.25. Oang tua Helen dan Helen sampai di rumah sakit lalu berjalan menuju ruang rawat Erwin dan berjalan masuk. Mama Erwin menoleh dan melihat mereka. Hal yang terjadi adalah mereka saling diam sehingga suasana jadi kaku dan beliau tidak mempedulikan mereka lalu fokus dengan Erwin dan Erwin mulai menunjukkan tanda kesadarannya. Erwin membuka kedua mata dengan pelan.
"Erwin" panggil mama dengan merasa lega.
Orang tua Helen dan Helen melihat Erwin. Helen lebih merasa takut. Erwin melihat di sekitarnya dan berpikir dengan merasa bingung lalu orang yang pertama dilihat adalah Helen karena Helen berdiri agak dekat di sampingnya dan Helen semakin merasa takut.
"Siapa dia?" pikir Erwin dengan merasa heran.
Helen ingin bicara.
"Mama lega kamu sudah sadar"
Helen tidak jadi bicara dan Erwin merasa tidak mengerti yang terjadi dengan dirinya.
"Siapa dia? Apa yang terjadi dengan gue? Kenapa gue melihat orang yang tidak dikenal? Apa gue lupa ingatan? Tidak mungkin. Gue masih ingat tentang diri gue sendiri" pikir Erwin dengan merasa bingung.
Mama Erwin berdiri di dekat Erwin dan Helen berjalan minggir.
"Erwin" panggil beliau dengan merasa senang.
Erwin melihat mamanya.
"Mama. Untung saja. Gue memang tidak lupa ingatan. Gue masih ingat tentang mama" pikir Erwin.
Erwin melihat Helen.
"Siapa sebenarnya dia?" pikir Erwin dengan berpikir keras.
Helen merasa bersalah dan tidak berani lagi melihat Erwin. Beliau melihat arah mata Erwin dan melihat Helen.
"Apa kamu merasa asing dengan dia? Tentu saja"
Erwin melihat mamanya dengan pandangan bertanya.
"Dua hari yang lalu kamu mengalami kecelakaan ketika kamu akan pergi bertemu orang. Kamu terluka parah hingga tidak sadar diri. Orang yang menabrak kamu adalah dia"
Helen merasa bersalah dan takut lalu Erwin dan Helen saling melihat. Helen segera melihat ke arah lain dengan merasa takut.
"Apa sungguh dia yang menabrak gue? Badan dia mungil begitu. Menyebalkan tetapi gue tertarik" pikir Erwin.
Pukul 17.00. Dokter baru datang dan memeriksa Erwin lalu Erwin memikirkan kejadian kecelakan yang dialami dan dokter selesai memeriksa.
"Apa tidak nyaman?"
Erwin mengangguk pelan.
"Anda belum biasa. Semakin lama pasti terbiasa menggunakan gips. Nanti dengan kursi roda jangan tongkat jika kesulitan"
"Dokter, apa jadi kaki anak saya memang patah?" tanya mama.
"Benar tetapi bisa sembuh. Patah yang dialami tidak signifikan sehingga bisa sembuh tapi pantangannya memang jangan banyak gerak"
"Berapa lama?"
"Kurang lebih sebulan"
"Baiklah. Terima kasih"
Dokter berjalan keluar dan mama Erwin marah kepada Helen. Erwin juga menyayangkan karena disuruh menghentikan aktifitas sehingga sebulan pasti cukup banyak yang menunggu hasil kerjanya tetapi entah kenapa tidak bisa marah. Erwin merasa tubuh baik saja selain kaki. Erwin memang memiliki tubuh yang kuat sehingga ketika sakit segera pulih dan sudah bisa duduk di kursi roda. Erwin tanya tentang Helen kepada mamanya dan mamanya menjawab sepengetahuan beliau dengan merasa tidak senang. Pukul 18.30. Helen menceritakan semuanya kepada Martin dan Martin menenangkan Helen. Pembicaraan Martin dan Helen diakhiri karena mama Helen mengatakan bahwa Tania datang.
"Baiklah kamu harus menyambut saudara kamu. Bye" kata Martin dengan mengakhiri telepon.
Helen melihat Tania yang berdiri di dekat pintu dan Tania berjalan menghampiri Helen lalu duduk di sebelah Helen dan memulai pembicaraan.
"Apa benar korban sudah sadar?"
Helen mengangguk.
"Korban lumpuh walaupun bisa sembuh tetapi keluarga korban jadi semakin marah kepada gue. Ternyata korban orang sibuk. Gue menabrak orang yang punya tanggung jawab banyak"
"Maksud loe?"
"Pekerjaan dia sibuk. Gue diceritakan oleh mamanya bahwa korban orang yang sangat sibuk jadi jika sebulan harus istirahat total itu sangat mengganggu aktifitasnya"
"Astaga. Bagaimana selanjutnya?"
"Gue semakin takut dan tidak bisa berhadapan dengan mereka tetapi gue disuruh menjenguk korban hingga korban dinyatakan boleh pulang"
"Pasti karena loe yang menyebabkan kecelakaan tersebut"
"..."
"Bagaimana pertemuan loe dengan Martin?"
"Sangat sempurna. Foto yang ada profil BBM Martin adalah foto Martin ketika SMP. Tania, apa loe bisa membantu gue?"
"Apa?"
"Sebenarnya Martin kuliah di universitas yang sama dengan loe. Martin ambil psikologi. Gue minta tolong untuk mencari tahu informasi tentang Martin karena gue masih ragu bahwa dia memang Martin"
"Sulit karena gue berbeda fakultas dengan Martin apalagi tidak satu gedung. Gue juga baru masuk kuliah. Tentu saja gue belum kenal semua tentang mahasiswa di sana. Gue belum memiliki banyak teman"
"Benar juga. Baiklah gue bisa memahami"
"Gue bukan tidak ingin membantu loe"
"Tidak apa apa. Gue bisa mengerti. Gue lebih waspada saja terhadap Martin"
"Bukankah tetapi loe menyukai Martin?"
Helen mengangguk.
"...tetapi gue tetap harus waspada. Martin semester 5" lanjut Helen.
"Apalagi semester 5. Gue sangat sulit untuk menyelidiki Martin"
Helen mengangguk tanda mengerti.
