Pustaka
Bahasa Indonesia

My Tiny Love

120.0K · Tamat
Phine
108
Bab
2.0K
View
8.0
Rating

Ringkasan

Sebuah kecerobohan yang tidak pernah berharap terjadi bahkan terpikirkan membawa dampak panjang dalam hidup Helen. Helen tidak sengaja menabrak seorang lelaki muda. Terluka parah menyebabkan salah satu kaki patah sehingga harus dipasang gips. Helen tidak mampu untuk membiayai semua biaya rumah sakit korban kecerobohannya maka lelaki tersebut memberikan sebuah syarat kepada keluarga Helen. "Jadi istri saya" kata Erwin. Orang tua Helen merasa tidak menyangka bahkan Helen sangat terkejut. "Bagaimana mungkin gue bisa menikah dengan lelaki yang menjadi korban gue? Gue juga tidak kenal dia" pikir Helen.

RomansaDesainerIstriDewasaLove after MarriageCinta Pada Pandangan PertamaPernikahanMemanjakanSweet

Musibah

Helen menyetir sepeda motor dengan kecepatan tinggi dengan mendengarkan MP3 dari dalam handphone lalu mau membelok dan seketika ada sebuah mobil. Helen segera menggunakan rem tetapi terlambat. Dia terkejut lalu jatuh dari sepeda motor dan sepeda motor menabrak sisi trotoar. Helen merasa kesakitan dengan posisi duduk. Semua orang segera menolong Helen lalu lelaki yang menjadi korban tabrakan Helen terluka parah dan tidak sadar diri. Pukul 08.30. Helen sudah berada di rumah sakit bersama papa dan mamanya. Keluarga korban Helen juga sudah datang dan Helen merasa sangat takut apalagi ada beberapa polisi. Helen tidak terluka parah tetapi hanya lecet di siku kedua tangannya. Salah satu telapak tangan Helen juga lecet tetapi sudah dibalut perban oleh suster. Selesai menyelidiki polisi datang dan berdiri di hadapan orang tua lelaki tersebut.

"Selamat pagi. Kami sudah melakukan penyelidikan lebih lanjut dan...anak Anda dianggap melakukan kecerobohan sehingga mengakibatkan terjadinya kecelakaan tersebut dan memakan korban yaitu Nona yang di sana" kata polisi dengan menujuk sebentar Helen.

Semua orang yang ada di sana merasa tidak menyangka dan kedua orang tua lelaki tersebut tidak bisa menerima.

"Bagaimana bisa? Jelas dia yang menyebabkan kecelakaan tersebut"

"Benar, Pak. Saya yakin anak saya tidak akan sembarang menyetir mobil" kata mama dia.

"Berdasarkan keterangan saksi anak Anda yang salah" jawab polisi.

"Pak, Anda jangan menuduh sembarangan. Selama ini anak saya lihai dalam menyetir dan tidak pernah menyetir dengan kecepatan tinggi. Selalu berhati hati"

Helen merasa tidak enak hati.

"Bukankah sebenarnya kesalahan gue?" pikir Helen dengan merasa tidak tenang.

Polisi tetap bersikeras dengan perkataannya sehingga menjatuhkan hukuman untuk lelaki tersebut. Helen semakin merasa bersalah dan berjalan menghampiri polisi.

"Mohon maaf, Pak"

Polisi dan orang tua lelaki tersebut berhenti saling berdebat lalu menoleh dan melihat Helen.

"Pak, saya tidak ingin memperpanjang masalah. Kami akan menyelesaikan sendiri secara kekeluargaan"

"...tetapi dia sudah membuat Anda terluka jadi kami sebagai polisi hanya melakukan kewajiban kami sebagai penegak hukum"

Helen menggeleng pelan.

"Saya tidak akan menuntut dia. Kasihan. Dia terluka parah jadi saya akan memaafkan dia" lanjut Helen.

"Apa Anda yakin?"

Papa dan mama lelaki tersebut melihat Helen dengan mengerutkan dahi.

"Saya sangat yakin. Terima kasih atas keikutsertaan Bapak untuk menangani kasus kami"

"Baik jika memang hal tersebut keputusan Nona"

Helen memikirkan kondisi lelaki tersebut. Beberapa polisi tersebut berjalan pergi. Pukul 16.00. Helen memikirkan nasib lelaki tersebut dan gelisah lalu tidak bisa istirahat dengan nyenyak karena rasa bersalahnya dan papa Helen membuka pintu kamar Helen.

"Helen"

Helen menoleh dan melihat papanya lalu beliau berjalan masuk dan ada mamanya juga di belakang papanya. Beliau berdiri di hadapan Helen dengan memasang wajah marah.

"Apa yang harus dilakukan papa dan mama terhadap kamu?" kata papa.

"Aku minta maaf" kata Helen dengan merasa takut.

"Percuma kamu minta maaf. Kamu memang sering membuat masalah. Kamu baru masuk kuliah sudah membuat masalah. Papa dan mama sudah sering memberitahu kamu jangan menyetir dengan kecepatan tinggi. Mulai sekarang kamu tidak boleh kuliah dengan sepeda motor. Kamu naik angkot saja" kata mama dengan merasa geram.

Helen merasa bersalah. Mamanya mendengar suara sepeda motor di luar lalu berjalan keluar dari kamar Helen dan papanya masih sibuk menggerutu dengan Helen. Helen hanya bisa mendengarkan dengan rasa sedih. Mama Helen menyuruh Tania masuk dan Tania berjalan masuk.

"Tante"

Tania sudah mengerti yang dialami Helen. Pukul 16.45. Tania berada di dalam kamar Helen dan Helen sudah mengatakan semuanya.

"Mati gue!" kata Helen berseru dengan merasa takut.

"Loe juga yang salah. Kenapa loe selalu menyetir dengan kecepatan tinggi? Tidak hanya Om dan Tante yang mengingatkan loe tetapi gue juga"

"Gue sudah tidak boleh pergi dengan sepeda motor. Gue disuruh dengan angkot. Kecepatan angkot itu lama karena lebih banyak berhenti untuk mengangkut penumpang lain. Gue tidak sabar jika berangkat dengan angkot" kata Helen miris.

"Jika bisa ada waktu maka gue akan mengantarkan loe"

Helen menghela napas pelan.

"Bagaimana dengan lelaki tersebut?" kata Helen pelan dan merasa menyesal.

Tania melihat terus Helen.

"Gue dengar keadaannya parah. Bagaimana jika orang tua dia menuntut gue? Orang kaya tidak akan diam saja"

"Apa sangat kaya?"

"Gue melihat begitu" kata Helen pelan.

"Loe berharap saja semoga tidak"

"Memang hanya hal tersebut yang bisa dilakukan gue"

"Gue juga berharap. Gue kasihan dengan loe jika hal tersebut sungguh terjadi"

"..."

Pukul 22.00. Helen berbaring di atas tempat tidur lalu coba untuk istirahat tetapi tidak bisa karena kejadiaan kecelakaan tersebut yang membuat dia terluka parah membuat Helen tidak merasa tenang dan sangat merasa bersalah. Keesokan harinya. Pukul 08.00. Helen berangkat kuliah.

"Pulang kuliah kamu harus menjenguk dia" kata mama menegur.

"..."

"Kamu harus bertanggung jawab dengan tindakan kamu jadi jenguk dia hingga sadar" kata papa.

"Baiklah" kata Helen terpaksa.

Helen berjalan keluar hingga sampai di depan gang lalu handphone Helen berbunyi dan Helen mengambil handphone dari dalam tas dan melihat layar handphone. Helen menerima telepon.

"Hai" kata Helen dengan tersenyum.

"Selamat pagi"

"Selamat pagi" kata Helen membalas.

"Kamu pasti ingin berangkat kuliah"

"Begitulah. Bagaimana dengan loe?"

"Gue juga akan berangkat. Bagaimana jika pulang kuliah kita bertemu?"

Helen berpikir sebentar.

"Pulang kuliah gue ada urusan. Menjenguk orang" kata Helen pelan.

"Siapa?"

Akhirnya Helen menceritakan musibah yang terjadi dengan dirinya ketika kemarin.

"Gue sudah tidak boleh pergi ke manapun dengan sepeda motor" lanjut Helen.

"Apa jadi maksud loe selanjutnya ketika kuliah naik angkot?"

"Begitulah" kata Helen dengan merasa tidak bersemangat.

"Baiklah. Besok gue mengantarkan loe"

"Jangan"

Helen merasa segan.

"Gue tidak masalah jika dengan angkot" lanjut Helen pelan.

"Jangan menolak. Gue pasti akan datang ke rumah loe jadi gue tidak akan menyuruh menunggu di depan gang rumah loe atau jika sedikit keberatan maka loe mengatakan saja tempat yang bisa didatangi gue untuk menghampiri loe"

Helen berpikir.

"Bagaimana? Loe juga tidak akan penasaran terus dengan wajah gue"

"Baiklah tetapi gue juga tidak bisa loe terus mengantarkan gue. Jika loe ada waktu saja"

"Baiklah jika memang hal tersebut keinginan loe. Gue menurut saja"

Helen tertawa pelan. Pukul 12.00. Helen sampai di rumah sakit dengan membawa parcel buah. Helen merasa ragu untuk masuk tetapi akhirnya Helen memutuskan masuk saja. Helen melihat seorang perempuan melihat dirinya. Perempuan berambut keriting dan penampilannya keren. Gaya seperti perempuan tegas lalu Helen berhenti berjalan dan merasa ragu untuk berjalan lebih lanjut.

"Siapa loe?"

Benar saja. Dia adalah perempuan tegas dan berpendirian kuat terlihat dari cara melihat lalu berbicara dan Helen semakin takut.

"Gue..."

Helen melihat lelaki tersebut.

"...ingin menjenguk di..dia" lanjut Helen pelan.

Dia melihat terus Helen dengan seksama lalu Helen menunduk dan merasa tidak nyaman.

"Melihat dia ketakutan...apa mungkin..." pikir dia.

Dia terkejut.

"Gue hampir tidak percaya bahwa dia yang menabrak Erwin" pikir lagi dia.

"Gue Olive, kakak perempuan Erwin" kata dia memperkenalkan diri.

Helen mengangkat wajah dan melihat Olive.

"Apa jadi korban gue bernama Erwin?" pikir Helen.

Helen melihat Erwin.

"Dia tidak tampan, tubuh sangat tinggi bahkan besar tetapi berbentuk bagus, warna kulit cukup...tidak putih dan tidak hitam" pikir Helen meneliti tubuh Erwin.

"Saya minta maaf" kata Helen dengan merasa ragu.