Serius
Hari terus berlanjut. Helen sudah berhenti menangis dan kedua orang tuanya mengatakan semua kepada Helen tentang rencana pernikahan. Helen juga disuruh datang ke rumah Erwin. Pukul 15.00. Helen datang ke rumah Erwin lalu satpam membuka pintu dan melihat terus Helen dengan tatapan mengintimidasi.
"Saya ingin bertemu korban"
"Korban?" tanya satpam dengan merasa tidak mengerti.
"Maksud saya Erwin" kata Helen pelan.
"Siapa Nona?"
"Helen"
Satpam berpikir sebentar lalu menyuruh Helen menunggu dan berjalan masuk. Pikiran Helen masih kalut. Sedikit lama maka Helen melihat satpam datang.
"Mari saya antar"
Helen berjalan masuk hingga berada di ruang tamu. Erwin datang dengan pembantu mendorong kursi roda Erwin dan Helen berhenti berjalan lalu pembantu berhenti mendorong di hadapan Helen dan Erwin melihat terus Helen. Helen tidak mengatakan apapun.
"Pak, lain waktu jika Helen datang ke sini segera disuruh masuk saja. Helen akan menjadi Nyonya di sini" titah Erwin.
"Baik" kata satpam.
Satpam berjalan pergi.
"Bibi, buat minum"
"Baik, Tuan"
Pembantu berjalan pergi.
"Ayo masuk"
"..."
Erwin melihat terus Helen dengan merasa heran. Akhirnya Erwin memegang tangan kanan Helen.
"Masuk" ajak Erwin.
Helen melepaskan tangan Erwin dengan merasa tidak senang.
"Jika memang tidak ingin dipegang maka segera masuk"
Helen berjalan masuk dengan merasa enggan dan Erwin mendorong kursi rodanya lalu melihat Helen hanya berdiri Erwin menyuruh Helen duduk lalu Helen duduk dengan berat hati dan Erwin berhenti mendorong di dekat Helen. Helen berdiri lalu duduk sedikit jauh dari Erwin dan Erwin merasa miris melihat sikap Helen.
"Apa aku memiliki penyakit menular?" tanya Erwin dengan mengerutkan dahi.
"..."
Erwin merasa sebal dengan sikap Helen terhadap dirinya dan pembantu datang lalu meletakkan minuman di atas meja dan berjalan pergi.
"Minum"
"..."
"Tatapan Helen kosong" pikir Erwin.
"Kamu jangan hanya diam. Ayo minum" kata Erwin pelan.
"..."
Erwin berpikir sebentar.
"Aku serius dengan kamu. Aku serius ingin menikah dengan kamu" kata Erwin pelan.
"Loe membuat hidup gue kacau" pikir Helen.
"Walaupun nantinya kamu menjadi istri aku maka aku tidak akan menghalangi kuliah kamu. Kamu bebas melakukan apapun terhadap pendidikan kamu"
"Sok bersikap manis!" pikir Helen marah.
Erwin dan Helen jadi saling diam cukup lama maka Erwin memulai pembicaraan.
"Antar aku di halaman belakang"
"..."
"Baiklah tidak perlu lagi" kata Erwin dengan mendorong kursi roda.
Helen melihat kepergian Erwin lalu berdiri dan berjalan cepat mengejar Erwin. Helen berdiri di belakang Erwin dan memegang lalu mendorong kursi roda Erwin dan Erwin berhenti mendorong dengan melihat ke belakang. Erwin melihat terus Helen dan Helen berpura tidak tahu. Akhirnya Erwin melihat ke depan lalu Erwin memberitahu arah jalan menuju halaman belakang dan Helen menurut. Erwin dan Helen berada di halaman belakang lalu Helen berhenti mendorong kursi roda Erwin dan Erwin menyuruh Helen duduk di hadapan dirinya tetapi Helen tidak melakukan hal yang disuruh Erwin maka Erwin menoleh ke belakang. Erwin mau memegang tangan Helen.
"Beradalah di hadapan aku"
Helen segera menghindar lalu berjalan dan duduk di hadapan Erwin. Erwin melihat terus Helen.
"Helen, aku menjanjikan seluruh hidup aku untuk kamu"
Helen merasa tidak senang mendengar perkataan Erwin.
"Aku mengerti kamu tidak akan menganggap aku tetapi hal tersebut karena kamu baru tahu tentang aku"
"..."
"Bahkan aku menjanjikan jika aku ingkar dengan semua yang pernah dikatakan kepada kamu maka kamu boleh melakukan apa pun terhadap aku"
"..."
Erwin dan Helen saling diam cukup lama.
"Baiklah jika memang kamu ingin pulang maka pulanglah"
Helen berdiri lalu segera berjalan pergi dan Erwin memikirkan sikap Helen terhadap dirinya.
"Bagaimana kamu bisa kenal dan dekat kepada aku jika kamu hanya diam?" pikir Erwin.
Handphone Helen berbunyi lalu Helen mengambil handphone dari dalam tas dan melihat layar handphone. Helen berada di halaman depan rumah Erwin dan berpikir untuk menerima telepon. Akhirnya Helen menerima telepon.
"Helen, di mana saja selama ini?"
Helen berpikir keras untuk mencari alasan.
"Helen" panggil Martin dengan merasa heran.
"Aku minta maaf" kata Helen pelan.
"Aku tidak mengharapkan kata maaf dari kamu. Aku hanya ingin tahu alasan kamu tidak menerima telepon aku"
Helen mengeluarkan air mata.
"Helen" panggil Martin dengan suara lembut.
Helen berusaha menahan air mata untuk tidak keluar lebih banyak.
"Helen"
Helen berusaha berhenti mengeluarkan air mata.
"Nonaku, ayo bicara. Baiklah. Kamu tidak perlu menjawab"
"Di mana kamu? Apa kamu ada waktu? Maksud aku sekarang"
"Justru aku yang tanya hal tersebut. Apa kamu memiliki waktu luang untuk kita bertemu?"
"Aku ingin bertemu kamu"
"Baiklah. Aku jemput kamu. Di mana posisi kamu?"
"Tidak perlu. Kita janji saja di sebuah tempat"
"Baiklah"
Martin memberitahu tempat pertemuan mereka.
"Baiklah tunggu aku di sana"
"Hati hati"
"Kamu juga"
"Siap, Nona"
Martin dan Helen mengakhiri telepon. Pukul 17.30. Helen sampai di sebuah tempat yang sepi dan sudah ada Martin lalu Martin melihat kedatangan Helen dan Helen berdiri di samping Martin. Martin dan Helen bersandar di badan mobil.
"Ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu. Kamu seperti merasakan kehancuran. Bukankah begitu?" tanya Martin denagn tatapan dalam.
"Martin tahu tentang gue" pikir Helen.
"Helen, ada apa?"
Helen berusaha menyembunyikan masalah dirinya.
"Tidak apa apa"
Helen berpikir untuk mengalihkan pembicaraan.
"Apa saja yang dilakukan kamu selama tidak bersama aku?"
"Aku baru pulang dari luar kota. Aku membantu papa aku mengurus perusahaan di sana"
"Pantas saja selama 4 hari kamu tidak telepon aku"
"Kenapa jika begitu kamu tidak telepon aku?"
"Aku berpikir bahwa aku mengganggu. Mungkin saja kamu sibuk" kata Helen berbohong.
"Jika kamu yang telepon maka aku pasti menerima walaupun hanya bisa sebentar"
Helen berusaha tersenyum.
"Karena aku menganggap kamu sebagai Nonaku" lanjut Martin dengan tatapan serius.
"Martin, sebentar lagi hubungan spesial kita selesai. Kita tidak akan bisa bersatu" pikir Helen dengan merasa sedih.
"Apa kamu sudah makan?"
Helen mengangguk.
"Bagaimana kuliah kamu? Kapan kamu ada kuliah? Aku akan mengantarkan kamu"
Helen merasa bingung.
"Aku..."
Helen berpikir.
"Aku akan memberi kabar lebih lanjut"
"Baiklah. Hari sudah mulai gelap. Apa tidak ingin bicara di dalam mobil saja?"
Helen mengangguk dan Martin membukakan pintu mobil untuk Helen lalu Helen masuk ke dalam mobil dan Martin menutup pintu mobil. Martin masuk ke dalam mobil di bagian kemudi.
"Hari ini adalah hari kedua kencan kita walaupun hanya di sini" kata Martin dengan tersenyum.
"Kita hanya teman jadi tidak perlu sok bicara tentang kencan" kata Helen dengan tersenyum.
"Apa kencan hanya untuk berpacaran?"
Helen mengangguk.
"Menurut aku tidak"
Helen melihat Martin.
'"Kencan untuk orang yang mengalami pendekatan"
"Apa begitu?"
Helen tersenyum.
"Kamu menyenangkan" lanjut Helen.
Martin tersenyum senang.
"Pikiran kamu panjang dan kreatif"
"Apa begitu? Ucapan kamu sangat manis" kata Martin dengan tersenyum.
Helen tersenyum. Pukul 20.00. Helen ingin pulang dan Martin menyatakan ingin mengantarkan Helen pulang tetapi Helen menolak.
"Ayolah. Mana mungkin aku bisa membiarkan kamu pulang sendiri apalagi sudah malam?"
Helen berpikir.
"Baiklah tetapi hanya di depan gang rumah aku"
"Siap, Nona" kata Martin dengan tersenyum.
Helen berhenti berpikir dan tersenyum.
