Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Rindu

Pukul 20.30. Helen sampai di depan gang rumah dan Martin berhenti menyetir lalu Martin dan Helen saling melihat.

"Apa aku tidak antar saja hingga di depan rumah kamu?"

Helen menatap tajam Martin.

"Baiklah. Baiklah, Nonaku" kata Martin dengan tersenyum.

"Kenapa korban harus hadir di hidup gue?" pikir Helen dengan merasa sedih.

Martin mendekatkan wajahnya ke wajah Helen dan Helen merasa gugup. Martin melihat terus Helen dengan tatapan beda dan Helen masih tidak paham arti tatapan Martin lalu semakin merasa gugup dan Martin memeluk Helen. Helen merasa tidak percaya hingga akhirnya senang dan memeluk Martin.

"Astaga. Pelukan Martin nyaman dan ternyata tidak sesak padahal badan Martin besar" pikir Helen.

Helen tersenyum senang.

"Martin mengerti cara berpelukan dengan gue sehingga membuat gue nyaman" pikir Helen.

Helen menikmati berpelukan dengan Martin dan sebenarnya tidak ingin melepaskan.

"Selamat malam, Nonaku. Maaf jika aku lancang memeluk kamu" kata Martin pelan.

Helen sama sekali tidak keberatan atau bahkan marah. Dirinya terbuka untuk Martin.

"Kamu menyenangkan" kata Helen dengan merasa senang.

Martin dan Helen tersenyum.

"Aku nyaman bersama kamu" kata Helen dengan tersenyum senang.

Martin merasa senang.

"Ucapan kamu sangat manis. Sekarang kamu masuk" kata Martin dengan tersenyum.

"Apa kamu bisa janji kepada aku?"

"Apa?"

Helen melepaskan pelukan.

"Kamu tidak akan berusaha mencari tahu rumah aku"

Martin melihat terus Helen dengan seksama dan akhirnya mengangguk pelan.

"Baiklah" lanjut Martin.

"Kamu sungguh baik. Hati hati di jalan" kata Helen dengan tersenyum.

"Asal kamu nyaman dengan aku" kata Martin dengan tersenyum.

Helen keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam gang dan Martin menyetir kembali. Erwin tidak bisa berhenti memikirkan Helen.

"Kamu membuat aku merasakan kerinduan yang teramat dalam. Apa yang dilakukan kamu? Lebih baik waktu cepat berlalu agar pernikahan kita segera berlangsung. Gue tidak sabar ingin selalu berada di dekat Helen agar setiap waktu gue tahu yang dilakukan Helen. Gue juga bisa melihat terus wajah Helen dan menjaga Helen. Ke mana pun gue pergi Helen yang akan menemani gue" pikir Erwin.

Helen memikirkan kembali ketika dirinya dan Martin berpelukan lalu berbaring di atas tempat tidur dan melihat kedua tangannya yang memegang punggung Martin ketika berpelukan tetapi akhirnya Helen merasa sedih.

"Aku ingin bersama kamu. Jika kamu mengatakan ingin bersama aku..." pikir Helen.

Helen merasa bingung.

"...apa yang akan terjadi? Apa aku akan menerima kamu dengan mengatakan semuanya kepada kamu yang terjadi di diri aku?" pikir Helen.

Helen selalu mengeluh di dalam hati tentang keadaan dirinya yang harus menikah dengan Erwin. Helen sudah tidak bisa mengeluh kepada siapapun termasuk Tania. Percuma. Orang lain tidak bisa membantu dirinya. Hari lain Helen bersama Tania.

"Gue pasrah" kata Helen pelan.

Tania melihat terus Helen.

"Gue akan menghadapi dan menjalankan takdir hidup gue. Secepatnya gue akan mengatakan semuanya kepada Martin"

Helen menunjukkan foto dirinya bersama Martin kepada Tania lalu Tania melihat foto Martin dan merasa tertarik.

"Martin sangat sempurna"

"Bukan tentang fisik tetapi sifat. Martin sangat lembut sehingga bisa memperlakukan perempuan dengan baik. Martin memahami semua tentang gue. Gue berat melepaskan Martin. Bukan karena kesempurnaan tetapi lebih tentang cinta gue untuk Martin"

"Martin juga merespon loe baik jadi terlihat Martin juga mencintai loe"

Helen mengangguk pelan.

"Helen memiliki dua lelaki yang mencintainya" pikir Tania.

"Gue akan berusaha bisa menjalani semuanya" kata Helen dengan berusaha tidak sedih.

"...tetapi korban tidak kalah dengan Martin"

Helen merasa sedih.

"Gue sedih setiap memikirkan tentang korban. Martin tetap yang pertama dalam hidup gue" pikir Helen pelan.

Pukul 19.00. Helen datang ke rumah Erwin lalu satpam mempersilahkan masuk dan Helen berjalan masuk. Erwin berada di halaman depan dan melihat Helen datang lalu Helen melihat Erwin dan berdiri di hadapan Erwin.

"Dua hari kamu tidak datang ke sini. Ke mana saja?"

"..."

"Kamu harus setiap hari datang ke sini. Aku membutuhkan kamu"

"..."

"Antar aku di dekat kursi agar kamu bisa duduk" kata Erwin dengan menunjuk kursi yang sedikit jauh dari jaraknya sekarang.

Helen berjalan dan berdiri di belakang Erwin lalu mendorong kursi roda Erwin dan berjalan menuju bangku halaman. Helen berhenti mendorong di dekat bangku.

"Jangan hanya berdiri"

Helen duduk di sebelah Erwin.

"Sepertinya Helen sudah mulai terbuka untuk gue. Helen mau duduk di dekat gue walaupun masih tidak bicara" pikir Erwin.

"Kenapa kamu tidak ingin mengadakan resepsi? Om dan Tante mengatakan kepada aku"

"..."

"Resepsi juga penting agar semua orang tahu kita sudah menikah"

"..."

Erwin berpikir sebentar.

"Baiklah terserah kamu. Terutama aku bisa menikah dengan kamu"

"..."

"Aku adalah lelaki yang tidak ingin sering ditinggalkan oleh pasangan aku dalam arti pasangan aku lebih sibuk dengan teman daripada aku jadi ketika kamu sudah menjadi istri aku maka kamu harus sering berada di dekat aku"

"..."

Erwin sangat berharap Helen mau bicara kepada dirinya tetapi Helen tidak memiliki reaksi apapun jika bersama dirinya. Hal tersebut membuat Erwin merasa miris. Erwin dan Helen jadi saling diam cukup lama.

"Antar aku ke kamar"

"..."

"Baiklah tidak perlu. Kamu pulang saja"

Erwin mendorong kursi rodanya dan Helen melihat kepergian Erwin lalu berdiri dan berjalan mengejar Erwin. Helen berdiri di belakang Erwin lalu memegang dan mendorong kursi roda Erwin. Erwin berhenti mendorong. Erwin dan Helen sampai di depan kamar Erwin lalu Erwin menyuruh membukakan dan Helen membuka pintu kamar Erwin. Helen mendorong kursi roda ke dalam kamar.

"Bantu aku berbaring"

Helen merasa canggung dan ragu.

"Aku mengerti kamu merasa canggung kepada aku sehingga kamu jangan hanya diam jika bersama aku. Bicara apapun atau tanya sesuatu hal tentang aku maka aku akan menjawab. Hal tersebut merupakan awal kamu bisa mengenal aku"

"..."

Erwin menghela napas pelan.

"Baiklah kamu tidak perlu membantu aku"

Erwin berdiri dan bertumpu dengan salah satu kaki yang tidak patah lalu merasa kesakitan dan Helen merasa kasihan maka Helen segera memegang badan Erwin untuk membantu Erwin naik ke atas tempat tidur.

"Kasihan juga. Gimanapun juga korban kesulitan melakukan semua hal dengan sendiri karena kecerobohan gue" pikir Helen.

Erwin berusaha naik ke atas tempat tidur dan Helen berusaha semampu dirinya untuk membantu Erwin karena badan Erwin sangat berat apalagi kondisi Erwin yang tidak memungkinkan untuk menopang sendiri kedua kaki membuat Helen harus sepenuhnya membantu Erwin. Erwin semakin merasa kesakitan dan Helen bingung yang harus dilakukan.

"Tidak mungkin gue gendong" pikir Helen dengan merasa aneh.

Akhirnya Helen memeluk Erwin agar dirinya lebih bisa membantu Erwin. Helen mendengar suara detak jantung Erwin yang kencang dan semakin miris. Helen berpikir bahwa penyebab detak jantung kencang pasti karena sangat merasa kesakitan tetapi tidak dengan Erwin. Justru karena dirinya berdekatan dengan Helen bahkan Helen memeluk dirinya membuat Erwin bahagia sehingga memberi dampak tersebut.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel